manjalang mintuo

Perjalanan Hati #7

Setelah prosesi akad nikah dan baralek gadang di rumah anak daro, acara yang harus dijalani oleh adikku selanjutnya adalah mengajak istrinya ke rumah kami. Kedatangan anak daro ke rumah orangtua marapulai disebut dengan manjalang mintuo, atau dalam tradisi Jawa disebut sebagai ngunduh mantu.

Acara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Januari 2013 yang lalu tersebut adalah dalam rangka memperkenalkan istri adikku tersebut kepada seluruh keluarga besar dan kerabat kami yang lainnya. Tradisi semacam ini umum dilaksanakan di Ranah Minang. Namun, masing-masing nagari memiliki kekhasannya tersendiri.

Salah satu yang khas di Magek dalam acara manjalang mintuo ini adalah pemberian sejumlah uang kepada anak daro oleh kaum perempuan dari keluarga marapulai. Uang yang diberikan, jumlahnya ditentukan. Yakni, yang tertinggi adalah dari ibu si marapulai (mertua si anak daro), kemudian di bawahnya adalah dari para ibu-ibu yang berada pada level ibu, yakni etek (tante) dan maktuo (bude), dan setelah itu yang berada pada level kakak atau adik dari marapulai.

Pemberian uang tersebut tujuannya adalah sebagai ungkapan “selamat datang” dari kaum perempuan keluarga marapulai buat anak daro. Jumlahnya tidaklah besar, namun masing-masing level harus sama jumlahnya dan tidak boleh melebihi level di atasnya.

Cara pelaksanaannya adalah, para ibu-ibu tersebut duduk melingkar di depan anak daro. Kemudian, Mamaku membentangkan selembar saputangan dan meletakkan selembar uang seratusribuan di atasnya. Kemudian diikuti oleh para maktuo dan etek yang masing-masing meletakkan selembar uang limapuluhribuan. Terakhir oleh para kakak dan adik (istriku masuk dalam level ini), masing-masing meletakkan selembar uang duapuluhribuan.

Β Welcome to the club, buat anak daro.. πŸ™‚

Setiap kali meletakkan uang tersebut, Mamaku menyebutkan siapa nama dan status dari masing-masing ibu-ibu tersebut kepada si anak daro. Setelah semuanya selesai, saputangan tadi diikat dan diserahkan kepada anak daro sebagai simbol bahwa dia sudah masuk dalam keluarga besar kami.

Β Keluarga besarku, minus si bungsu..Β 

Rangkaian kegiatan hari itu ditutup dengan membawa anak daro ke rumah bako kami. Bako adalah istilah yang digunakan di Ranah Minang untuk menyebut keluarga besar dari pihak ayah. Jadi, ke rumah bako yang dimaksud di sini adalah mengajak istri adikku tersebut ke rumah keluarga besar dari Papaku. Karena rumah bako kami masih di Nagari Magek juga, maka acara tersebut dapat dilaksanakan pada hari yang sama.

Tujuan dari acara ini adalah sama dengan yang dilaksanakan seperti yang kuceritakan di atas tadi, yakni mengenalkan menantu baru ke seluruh keluarga besar kami dari pihak Papa. Acaranya simpel saja, yakni makan bersama dengan menu yang tentu membuat perutku semakin maju saja… πŸ˜€


Berkunjung ke rumah bako

Dengan berakhirnya kegiatan di rumah bako ini, maka berakhir pulalah rangkaian baralek yang kami gelar selama tiga hari berturut-turut tersebut. Kami sangat bersyukur acara tersebut dapat terselenggara dengan baik. Persiapannya memang sangat panjang dan lumayan melelahkan. Namun, karena dijalankan dengan gembira dan didukung oleh seluruh keluarga besar, maka kelelahan terebut sudah tidak berarti sama sekali. Semuanya tergantikan dengan senyum bahagia. Semoga kebahagiaan tersebut, senantiasa menyelimuti keluarga yang baru saja dimulai oleh adikku.


Saatnya melompat dan teriak “horeeeee….” πŸ˜€Β 

Pernikahan bukan sekedar menyatukan dua individu saja, namun juga dua keluarga besar. Pesta pernikahan, yang dalam Islam dikenal sebagai walimatul ‘ursy, bertujuan untuk mengumumkan bahwa dua individu tersebut sudah disatukan dalam sebuah pernikahan, agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Maka, pernikahan yang diselenggarakan secara diam-diam, sebaiknya dihindari, sebab, akan banyak dampak sosial yang negatif yang akan ditimbulkan olehnya.

16 thoughts on “manjalang mintuo

  1. acara pai ka rujmah bako terlaksana sudah.. dan om Ayay beserta keluarga telah menyelesaikan rangkaian acara yang melelahkan tapi manis itu.

    membayangkan rangkaian acara buat Satira kelak, Insya Allah bundo jadi panitia. :))

    Like

    • Alhamdulillah, Bundo.. Semuanya selesai dengan manis.. Tapi, serial perjalanan hati belum selesai lho, hehehe.. πŸ™‚

      Sebelum menjadi panitia alek Satira, bagaiaman kalau Bundo pemanasan dulu jadi panitia alek anak gadih yang dari Koto Tuo itu.. πŸ˜‰

      Like

  2. Acara pemberian uang pada anak daro itu juga sebagai simbol untuk memulai hidup baru secara mandiri ya Nyiak..Karena setelah ini anak daro bertanggung jawab terhadap makan minum suaminya saat dia pulang ke rumah..Tapi tradisi kalau siang menetap di rumah ibu, malam saja pulang ke rumah istri sudah gak berlaku di Magek . Sekarang suami menetap sepanjang hari di rumah istri..:)

    Like

    • Iya Uni.. ada banyak makna dalam tradisi pemberian uang tersebut.. πŸ™‚

      Tentang tradisi si suami menetap di rumah ibunya di siang hari dan pulang ke rumah istrinya di malam hari, sepertinya sudah tidak ada lagi ya Uni. Barangkali masyarakat kita memandang bahwa tradisi semacam itu sudah tidak relevan lagi, sehingga pelan-pelan ditinggalkan.

      Like

  3. Baru mengikuti dari belakang Uda. Ternyata panjang ya Da rangkaian adatnya. kalo orang surabaya bilang istilahnya biar gak kepaten obor. Nyala api persaudaraan biar terus terjaga,

    Like

    • Sebetulnya, rangkaian adat yang paling panjang itu ada di rumah anak daro (pengantin wanita), Dan.. Sebab, acara utama ada di sana. Kalau di tempat kami (pengantin pria), itu belum seberapanya..

      Namun, yang namanya adat, itu bisa sangat fleksibel. Tergantung kesiapan kita menjalankannya. Bila mampu menjalani semuanya secara total, ya bagus. Tapi kalau bisanya sedikit, ya tidak apa-apa.

      Like

    • Acara baralek utamanya di rumah anak daro, Kak. Yakni sehari setelah akad nikah, Sabtu 12 Januari 2013. Dalam acara tersebut, anak daro menggunakan suntiang gadang (besar). Ini penampakannya πŸ™‚

      Anak daro datang ke rumah kami (manjalang) sehari setelahnya. Karena jarak yang jauh (lebih kurang 2 jam perjalanan), maka diputuskan anak daro mengenakan suntiang ketek (kecil) saja. Kasian kan, kalau selama dua jam lebih harus menjunjung suntiang besar itu selama perjalanan.. πŸ™‚

      Nah.. ini dia penampakan dari dekat, suntiang ketek yang dikenakan anak daro ketika manjalang kemarin itu, Kak..

      Makasih Kak sudah menanyakannya, sehingga saya bisa menjelaskan lebih detail plus numpang nampang (lagi), haha.. πŸ˜€

      Karena sudah kadung pajang foto-foto baralek, maka biar lengkap, nih tak kasi sekalian foto pasca akadnya…

      Eiylekhan khan….???? πŸ˜€ #ditimpukrendangsepanci

      Like

      • waah, terima kasih da…. eylekhan banget memang
        suntiang ketek juga anggun sekali..
        nanya ini karena ingat di ruang etnografi Museum Gudang Ransum baju pengantin di beberapa daerah di SumBar itu beda2 sih..

        Like

  4. Semua perhelatan ini …
    didasari oleh kalimat-kalimat di paragraf terakhir ya Uda …
    Bahwa … ini adalah semacam “audiensi” … atau pengumuman … permakluman …
    agar … saling menjaga dan terjaga (begitu kata Abi sabila)

    Tak lupa saya mengucapkan …
    selamat berbahagia untuk kedua mempelai … semoga sehat-sehat selalu …

    Salam saya Uda

    Like

  5. And BTW Da …
    dulu waktu kami baralek … sepertinya tidak selengkap ini acaranya …

    namun ada satu acara yang saya sangat terkesan …
    yaitu “Buka Kado” Da … dan ini disaksikan oleh sanak keluarga … terbuka …

    Saya tidak tau apakah ada acara ini atau tidak … di tempat uda …

    Salam saya Da

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s