batik adalah kita

Seorang rekan dosen menautkanku ke foto yang diunggahnya di laman Facebook:

batik adalah kita-01

Gegara colekan ini, aku jadi teringat kicauanku di Twitter beberapa hari yang lalu. Kicauan itu kutujukan kepada seseorang  yang lumayan nyinyir di Twitter. Orang tersebut menuliskan kira-kira begini: “Bagus, semua menteri digiring sederhana…… semuanya pakai batik di istana“.

Tweet itu ditulis tidak lama setelah pelantikan para menteri oleh Presiden Jokowi. Sejujurnya aku sangat tertarik dengan pelantikan waktu itu. Ada nuansa yang berbeda dari pelantikan-pelantikan menteri di kabinet-kabinet yang lalu. Perbedaan yang mencolok adalah pakaian yang digunakan. Yak, semua kita tahu, mereka mengenakan batik. Dan aku sangat salut dengan gebrakan tersebut.

Lantas, apa hubungannya dengan tweet tersebut?

Tweet tersebut menyebutkan bahwa para menteri digiring untuk berlaku sederhana dengan cara mengenakan batik. Aku sama sekali tidak setuju dengan pernyataan ini. Menurutku, batik bukanlah simbol kesederhanaan. Karena sederhana artinya adalah bersahaja; tidak berlebih-lebihan. Dengan kata lain, cukup sesuai kebutuhan.

Sebagai contoh, pesta pernikahan dengan anggaran puluhan milyar rupiah, adalah sesuatu yang berlebih-lebihan. Sebab, bisa saja dilaksanakan dengan biaya hanya puluhan juta rupiah. Toh, esensinya sama saja. Maka, sederhana bisa kita maknai dengan sesuatu yang murah, namun bukan murahan, tetap ada makna yang terkandung di dalamnya.

Oleh karenanya, mengidentikan batik dengan sederhana yang berarti murah, tentu tidak pas. Sebab, pakaian batik seperti yang kita tahu, harganya sangat variatif, mulai dari puluhan ribu rupiah, hingga ratusan juta rupiah. Artinya, kita tidak bisa menjamin bahwa pakaian batik yang dikenakan para menteri itu adalah pakaian dengan harga yang murah. Mungkin saja mereka mengenakan pakaian batik dengan harga yang sangat mahal. Dan itu tentu tidak sederhana, bukan? Sebaliknya, jas dan dasi, tidak pula bisa diidentikan dengan kemewahan. Sebab, tidak sedikit jas dan dasi yang berharga puluhan ribu rupiah saja.

Maka, aku lebih setuju untuk mengatakan bahwa batik adalah identik dengan Indonesia. Berbatik sangat mencirikan keindonesiaan kita. Dan kupikir, inilah yang ingin ditonjolkan dalam acara di istana negara tempo hari yang lalu itu.  Sama sekali aku tidak melihat kesederhanaan di situ. Justru yang terlihat adalah sebuah kegiatan formal yang “mahal” harganya.

Secara pribadi, sejak beberapa tahun belakangan ini, aku setiap hari mengenakan batik kalau ke kampus. Aku sangat nyaman mengenakannya. Ada semacam kebanggaan ketika memakainya. Dan lebih bangga lagi, ternyata saat ini, banyak sekali mahasiswa yang juga mengenakan batik ketika kuliah.

So.. kenakanlah batik dengan penuh kebanggaan. Karena ia bukanlah wujud dari kesederhanaan. Ia adalah cara kita untuk menunjukkan identitas sebagai orang Indonesia. Batik adalah Indonesia. Indonesia adalah kita. Maka… BATIK ADALAH KITA.. 🙂

4 thoughts on “batik adalah kita

  1. Benar, memakai batik bukan ukuran kesederhanaan karena harga batik ada yang jutaan..
    Batik adalah milik bangsa oleh karena itu selayaknya dilestarikan dan dimasyarakatkan terus agar rakyat gemar memakai batik.
    Salam hangat dari Surabaya

    Like

  2. kadang pemilihan kata2 bisa jadi salah memang ya uda..
    mungkin maksud si penulisnya itu dengan pakai batik jadi lebih meng-indonesia atau merakyat… gitu kali ya?

    Like

  3. Setuju dengan pernyataan batik termasuk identitas bangsa Indonesia, harus bangga dalam memakainya. Batik itu mahal bukan hanya harga saat transaksinya tetapi prosesnya juga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s