Segerakan Taubat

#day4 #ramadan1438 #puasa2017

Menunda-nunda pekerjaan adalah perbuatan yang tidak baik. Termasuk menunda permohonan ampunan kepada Sang Maha Kuasa. Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. AmpunanNya terbuka luas bagi setiap makhluk yang sungguh-sungguh memintanya. Menyegerakan permohonan ampunan kepadaNya adalah bentuk kesungguhan kita akan hal tersebut.

Surga adalah hadiah yang disediakan Allah bagi hambaNya. Untuk meraihnya, banyak hal yang perlu kita lakukan. Di antaranya, melakukan kebaikan kepada sesama. Bilamana ada kesempatan untuk melakukannya, segerakan, jangan pernah ditunda-tunda.

Ali Imran 133

Maka, jangan pernah menunda memohon ampunan dariNya dan melakukan segala kebaikan untuk meraih surgaNya. Selagi kesempatan itu ada, lakukanlah. Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi semenit kemudian dalam hidup.

Selamat berpuasa
Semoga bermanfaat

Amalmu Untukmu

#day3 #ramadan1438 #puasa2017

Setiap kebajikan yang kita lakukan, pahalanya adalah untuk kita. Tidak bisa kita “menghadiahkan” pahala untuk orang lain. Begitu juga dengan keburukan yang kita kerjakan, kitalah yang menanggung dosanya. Maka, tidak ada yang namanya dosa warisan dalam Islam.

aljatsiyah 15

QS. Al-Jatsiyah ayat 15 ini menegaskan bahwa diri kita sendirilah yang menikmati pahala kebaikan yang dilakukan, juga sekaligus bertanggungjawab atas dosa yang diperbuat

Selamat berpuasa

Semoga bermanfaat

Rukuklah Bersama Orang-orang Yang Rukuk

#day2 #ramadan1438 #puasa2017

Rukuk adalah salah satu gerakan dalam salat. Yakni, membungkukkan badan dengan tangan menopang di lutut, membentuk sudut siku-siku. Dalam gerakan ini, dibaca kalimat tasbih, memuji kebesaran Ilahi Rabbi.

Bila dihayati secara lebih mendalam, rukuk bermakna tunduk. Yakni, menundukkan diri di hadapan Sang Maha Kuasa, Allah swt. Ketundukan ini menunjukkan kelemahan makhluk di hadapan Sang Khalik.

albaqarah 43

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 43 ini, Allah memerintahkan kita untuk rukuk (tunduk) kepadaNya bersama orang-orang yang rukuk (tunduk). Artinya bahwa hendaklah kita ikut dalam golongan orang-orang yang senantiasa tunduk kepada perintah Allah, dengan setulus hatinya. Bukan mengikuti golongan orang-orang yang pongah pada aturan Ilahi.

Dengan demikian, tidaklah susah bagi kita menentukan pilihan, dengan siapa kita bermakmum. Kualitas ibadah dan tingkat ketundukannya kepada Allah, dapat menjadi ukuran bagi kita.

Selamat berpuasa

Semoga bermanfaat

Taqwa dan Kebaikan

#day1 #ramadan1438 #puasa2017

Tujuan berpuasa adalah menjadikan diri kita sebagai orang yang bertaqwa, yakni orang yang percaya kepada Allah dan mengindahkan segala aturanNya. Ketaqwaan akan semakin sempurna bila diikuti dengan kebaikan

Kebaikan itu sangat universal. Ia bisa dilakukan oleh siapa saja dan kepada siapa saja. Coba simak hadis berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah ra.: Rasûlullâh saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah mendapatkan ampunan. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dipinggir sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan, (melihat ini) si wanita pelacur itu melepas sepatunya lalu mengikatnya dengan penutup kepalanya lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya itu dia mendapatkan ampunan dari Allâh Azza wa Jalla. (HR. Bukhari)

 IMG_20170527_115750_660

Kebaikan yang dilakukan dengan segala keikhlasan, akan meningkatkan ketaqwaan. Dan Allah senantiasa bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik tersebut.

Semoga bermanfaat

Selamat berpuasa.

 

Jaga Lisan

Para tetua kita, telah mempertuahkan untuk menjaga ucapan. Sebab, luka hati yang ditimbulkan karena ucapan, sungguh tak terperikan. Tidak jarang, pelakunya menuai kehancuran oleh karenanya.

Melalui QS. Albaqarah ayat 263 ini, Allah membandingkan antara perkataan yang baik dengan sedekah. Dimana, perkataan yang baik dan meneduhkan itu dipandang jauh lebih baik ketimbang bersedakah namun sambil memaki. Sedekah, meski sangat dianjurkan, namun jika diberikan dengan disertai ungkapan yang menyakitkan, dianggap tidak ada gunanya.

Albaqarah ayat 263

Ucapan adalah ekspresi dari isi hati dan pikiran. Seseorang yang suka berkata buruk, menandakan kalau isi hati dan pikirannya juga buruk. Demikian pula sebaliknya. Maka, agar bisa berkata yang baik, kita pun mustilah mampu menjaga kebersihan hati dan pikiran.

Ungkapan kuno, “mulutmu harimaumu”, agaknya relevan di sepanjang masa.

 Semoga bermanfaat

 

Sabar dan Salat

Setiap kita, mestilah memiliki masalahnya masing-masing. Selagi nyawa dikandung badan, persoalan akan selalu menghampiri. Itulah dinamika kehidupan.

QS. Albaqarah ayat 45, mengajarkan kepada kita untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah dalam menghadapi permasalahan hidup. Caranya, dengan terus bersabar dan mendirikan salat. Namun, hanya orang-orang yang khusyu’ lah yang dapat merasakan nikmatnya kesabaran dan salat tersebut.

QS. Al Baqarah ayat 45

Siapakah orang-orang yang khusyu’ itu? QS. Albaqarah ayat 46 menjelaskannya:

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.

Sabar adalah upaya menahan diri dari luapan emosi dan salat adalah wujud penghambaan diri kepada Allah. Kesadaran penuh akan hal ini, membuat setiap persoalan akan terasa ringan, insya Allah.

Semoga bermanfaat

 

3 Catatan dari Film Iqro

Ada tiga hal yang ingin kubagikan di sini, selepas menonton Iqro, Petualangan Meraih Bintang, sebuah film yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, yaitu:

1. Review

Ini merupakan film anak-anak yang layak tonton. Berikut sinopsisnya yang kukutip dari laman resmi film tersebut:

iqro posterAqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an.  Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha.

Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, Kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Boscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat: Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya.

Saat di rumah kakeknya Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Al Qur’an dengan metode Iqro, yang fun, berirama dan dibawakan secara ringan

Pengalaman Aqila belajar Al Qur’an dan teladan dari kakeknya Inilah yang menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta

Film ini sarat informasi dan pengetahuan yang patut diketahui oleh kita semua, terutama anak-anak. Dialog-dialog yang cerdas dan bernas terlontar dengan manisnya. Sebagai contoh, ketika sang Oma (Neno Warisman) menjelaskan kepada Aqila (Aisha Nurra Datau) hubungan bangun subuh dan kecerdasan. Dengan bahasa anak-anak, sang Oma pun mengatakan bahwa di pagi hari, otak kita masih segar, sehingga dengan mudah bisa menerima pengetahuan. Belajar di subuh hari, akan mendapat lebih banyak pemahaman, ketimbang siang hari. Jika ingin lebih pintar, maka rajin-rajinlah bangun pagi.

Materi yang disampaikan sang Oma mungkin terasa biasa bagi kita. Tapi, akan lain rasanya, bila kita melihat bagaimana cara Oma menyampaikannya. Agaknya, ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita para orangtua, bagaimana berdialog yang baik dengan anak. Kata orang-orang bijak, metode lebih penting daripada materi. Seberat apapun materi pembelajaran, bila disampaikan dengan cara yang menarik, akan terasa ringan. Film ini mengajarkan kita akan hal tersebut.

Secara keseluruhan, film ini menarik dan bagus. Hanya saja, jalan cerita terasa lambat dan konfliknya kurang gereget. Tapi, menurutku itu sah-sah saja, karena yang disasar adalah anak-anak. Bila konfliknya terlalu berat, tentu akan sulit untuk dicerna oleh mereka. Namun, bila dibandingkan dengan Petualangan Sherina, film ini masih belum bisa disejajarkan.

Yang menarik juga adalah para aktor kawakan yang membintangi film ini. Ada nama-nama besar seperti Cok Simbara, Neno Warisman, dan Meriam Bellina. Jam terbang mereka memang tidak diragukan lagi. Akting mereka benar-benar top markotop. Dan, sebagai pendatang baru, akting Aisha Nurra Datau yang berperan sebagai Aqila, juga patut diperhitungkan.

2. Impresi

Meski konflik di dalam film ini tidak terlalu berat, namun ada beberapa adegan yang memberikan kesan mendalam bagiku. Salah satunya adalah ketika Profesor Widodo, Opa-nya Aqila yang diperankan Cok Simbara, mendapat sandungan berat dalam karirnya sebagai Kepala Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Pemerintah Pusat memutuskan untuk menutup observatorium tersebut karena sudah tidak produktif lagi menghasilkan penelitian di bidang astronomi. Karena tidak imbang antara anggaran yang disediakan dengan output yang dihasilkan, maka fasilitas penelitian bintang tersebut selayaknya ditutup.

Profesor Widodo dan timnya bukan tidak memiliki alasan. Masalah utama yang mereka hadapi adalah sudah semakin parahnya polusi cahaya di sekitar Boscha. Yakni, gemerlap lampu yang dihasilkan mulai dari rumah-rumah penduduk sampai konser musik yang menembakkan cahayanya ke langit Lembang. Hal tersebut, membuat pengamatan bintang jadi terhalang. Suasana yang gelap, sangat dibutuhkan untuk menghasilkan pengamatan bintang yang maksimal.

Ini pun semakin diperparah dengan didirikannya sebuah hotel berbintang yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Boscha. Secara aturan, pembangunan di sekitar situ memang dilarang. Tapi, apa yang tidak bisa dilakukan bila penguasa dan pengusaha bersekongkol? Ilmu pengetahuan, sama sekali tidak berdaya bila berhadapan dengan dua kekuatan ini.

Kemarahan dan kesedihan yang ditunjukkan oleh Profesor Widodo ini ngena banget. Sebagai akademisi, aku paham betul bagaimana rasanya sebuah idealisme yang lahir dari ilmu pengetahuan, tidak memiliki arti apa-apa ketika berhadapan dengan kepentingan pengusaha dan penguasa. Keserakahan dan kesewenang-wenangan, melumat habis semuanya.

Film ini dengan apiknya mempertontonkan ini semua.

3. Nobar

Awalnya, aku tidak mengetahui adanya film ini. Sepertinya film ini digarap dengan dana minim, sehingga nyaris tidak ada iklan di media massa. Aku justru tahu dari istriku yang rada sibuk mengurusi nobar (nonton bareng) film ini. Ada dua kali kegiatan nobar yang dilaksanakan. Pertama, nobar Fatih dan teman-teman sekelasnya (kelas 6 SDIT Al-Khairaat Yogyakarta), plus orangtua/wali murid, serta guru-guru. Kedua, nobar bagi anak-anak yatim yang didanai secara patungan oleh beberapa donatur.

nobar film iqro

Nobar dengan Fatih dan teman-temannya benar-benar bikin repot, sekaligus seru. Betapa tidak? Mereka adalah sekelompok anak kelas 6 SD yang mulai beranjak remaja. Energi mereka tidak ada habisnya. Mereka bergerak terus kian kemari. Pokoknya suasana bioskop dibikin heboh. Dan yang paling seru adalah, ketika film sudah berjalan separuh, Mereka yang tadinya duduk manis menonton, satu persatu mulai bikin keributan. Entah apa yang dibicarakan.

Mulanya satu-dua orang anak, kemudian menular ke yang lain, dan akhirnya hampir semua mereka sibuk ngobrol sendiri-sendiri. Tentunya hal tersebut membuat suasana bioskop sedikit gaduh dan mengganggu penonton yang lain. Aku jadi geli sendiri melihat itu semua. Seolah ada dua film yang tengah kutonton; film Iqro dan film keusilan Fatih dkk… 😀

nobar-02

Kalau nobar kedua, justru meninggalkan keharuan di hati. Kami mengajak anak-anak yatim yang berjumlah 60 orang. Mereka sangat tertib. Ibu panti benar-benar telah mendidik mereka dengan baik. Aku salut sekali. Anak-anak dengan beragam usia dan latarbelakang itu, bisa dengan mudah diatur, tidak berkeliaran ke sana kemari.

Namun, ada satu adegan yang cukup mengharukan. Seorang anak yang berusia sekitar 4 tahun, menangis di gendongan salah seorang guru pembina. Setelah kutanya, rupanya si anak kepengen bermain di arena permainan yang ada dekat bioskop tersebut. Beberapa anak yang berusia sedikit lebih besar, membantu menenangkan.

Duh.. makjleb banget rasanya. Anak-anak itu begitu sadar akan keterbatasan mereka, namun hasrat bermain sebagaimana anak-anak yang memiliki orangtua lengkap pun tetap ada. Rasanya aku ingin mengajak anak itu bermain ketika itu juga. Namun, langsung aku urungkan niat itu. Bagaiaman perasaan anak-anak yang lain jika hanya satu anak itu saja yang kuajak? Kalaupun yang lainnya juga kuajak, danaku tidak memungkinkan untuk itu. Ah.. semoga suatu saat kami bisa mengajak mereka bermain.. Aamiin..

30 Hari Bercerita

Sepanjang Januari 2017 kemarin, aku posting satu gambar dengan caption yang lumayan panjang di instagram. Ini demi memenuhi tantangan ngeblog selama 30 hari berturut-turut lewat event #30haribercerita yang diselenggarakan oleh pemilik akun @30haribercerita. Sampai tulisan ini diturunkan, aku sama sekali tidak tahu, siapa orang-orang yang ada di balik akun tersebut. [ sok misterius.. haha.. 😀 ]

Yang menarik bagiku adalah bahwa ini bukan lomba. Ini hanya tantangan rutin menulis setiap hari. Dengan demikian, tujuannya benar-benar menantang diri sendiri untuk rutin menulis, bukan mengejar sepaket hadiah. Ini penting bagiku yang sudah mulai menurun intensitas menulis di blog tercinta ini.. 🙂

Karena tidak ada aturan yang ditetapkan dalam rangka mengejar hadiah, maka aku pun menulis dengan apa yang terpikirkan di saat itu saja. Tulisan-tulisan yang kuturunkan pun tidak beraturan. Mulai dari cerita perjalanan, sampai kepada tulisan reflektif. Yang terpenting, menulis.

Hingga kemudian, aku membaca postingan penutup di hari ke 31 oleh sang admin. Di salah satu paragrafnya, mereka menulis: “Kami juga punya daftar nama-nama yang jangan di-regram lagi karena tanpa sadar sudah kami regram lebih dari 3 kali“. Spontan kutengok postingan-postinganku tersebut, dan ternyata, aku sudah 4 kali di-regram. Dengan demikian, aku adalah salah satu dari nama-nama yang “diblokir”, alias tidak boleh lagi di-regram. 😀 #bangga

Ini dia keempat postingan yang di-regram tersebut:

1. Hari ke 8

View this post on Instagram

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1708 #30hbcsma @30haribercerita . SUNAN KUDUS & SAPI . "Perlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan". . Pesantren tempatku nyantri dulu, punya tradisi mengajak siswa kelas akhir (3 SMA) untuk melakukan kunjungan ke beberapa sentra industri skala kecil maupun menengah di daerah-daerah sekitar pondok. Ketika itu aku mendapat kesempatan di Kota Kudus Jawa Tengah. . Dalam suatu kesempatan, guru pendamping kami bertanya, "Tahukah kalian kalau di Kudus ini tidak ada soto sapi?". Hampir serentak kami menjawab, "Tidaaaaak". . Guru kami itu pun menceritakan bahwa masyarakat muslim di Kudus, dari dulu dilarang oleh Sunan Kudus untuk menyembelih sapi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun Idul Adha. Hal tersebut dilakukan demi menjaga perasaan masayarakat Hindu yang menjadikan sapi sebagai hewan suci mereka. Makanya, di Kudus yang disembelih adalah kerbau ataupun kambing ketika Idul Adha. . Jujur, aku kagum dengan sikap Sunan Kudus tersebut. Beliau berusaha menghargai orang lain, dan tetap konsisten dengan ajaran agama yang dianutnya. Kekagumanku itu semakin bertambah ketika melihat Masjid Menara Kudus yang arsitekturnya memadukan aneka budaya. Perbedaan yang disatukan dalam sebuah harmoni, tanpa harus menghilangkan jati diri, sungguh terlihat indah di mata dan di hati.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

2. Hari ke 12

View this post on Instagram

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30hbc1712 @30haribercerita . TUGAS ANAK (?) . "Pak, bakiaknya bisa nyampai paling lambat Rabu? Soalnya, itu buat tugas anak saya di sekolah, Kamis harus dikumpul". . Entah sudah berapa kali kudapatkan pertanyaan semacam itu dari pelanggan @mainan.bocah , aku sudah tak ingat lagi. Sering banget soalnya. . Sebagai penjual, tentu aku tidak perlu peduli apa tujuan dari pelanggan membeli produk mainan dan alat peraga edukatif yang kami jual secara online di www.mainanbocah.com bukan? Tapi, hati kecilku tidak setuju dengan cara orangtua yang seperti itu. . Tugas dari sekolah, tentu bertujuan untuk memberi latihan bagi anak, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bila kemudian orangtua yang sibuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, dan bahkan membelinya, apakah ada gunanya tugas sekolah tersebut? . Belajar adalah soal proses, bukan semata hasil. Oleh karenanya, biarkan anak-anak kita berproses. Bila harus membantu, berilah bantuan secukupnya, bukan justru mengambil alih.. #pendidikan #mainananak #mainanbocah #anakmandiri #edutoys #alatperagaedukatif

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

3. Hari ke 19

View this post on Instagram

#regram from @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1719 #30hbcbahagia @30haribercerita . BAHAGIA . There is only one happiness in this life, to love and be loved (Goerge Sand) . Daniel Mahendra, pernah menulis dalam salah satu novelnya, "berbahagialah dia yang tahu arti kata pulang". Sebagai penulis kisah-kisah perjalanan, tentu kalimat itu bukan sekedar kutipan pemanis tulisannya saja bukan? . Aku akuri kalimat novelis yang menggelari dirinya sebagai Penganyam Kata tersebut sepenuhnya. Ya… bagiku, bahagia adalah ketika kita punya tempat pulang. Pulang dalam arti sesungguhnya. Berada bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Menikmati segala lara bersama, dan melalui kegembiraan tanpa paksa . Kata kunci dari definisi bahagia adalah cinta. Mengapa setiap orang merindukan pulang? Karena di sana ada cinta. Dan cinta itu tumbuh atas dasar cinta pada Sang Maha . Bagaimana bila cinta itu tiada? Tentu, takkan ada bahagia dalam kata pulang.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

 4. Hari ke 20

View this post on Instagram

Regram dari @hardivizon : #30haribercerita #30HBC1720 @30haribercerita . LUNGSURAN . Pernah dapat lungsuran? Minimal sekali dalam hidup, tentulah kita pernah mendapatkanya, entah dari kakak atau orangtua. Ada beragam rasa ketika menerimanya; senang atau malah kesal. Kesal karena keseringan dapat lungsuran, jarang dapat yang baru, hehe . Beberapa waktu lalu, aku melungsurkan sebuah jas buat putraku. Jas itu dibuat pada tahun 1988, ketika aku masih lagi duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak terasa, hampir 3 dekade usianya, jauh lebih tua dari usia putraku . Aku cukup surprise begitu mengetahui bahwa jas itu masih tersimpan rapi dan awet. Ibuku telah menyimpannya dengan sangat baik. Ada haru ketika melihat jas itu dikenakan putraku. Bukan semata karena dia terlihat gagah, tapi lebih karena ada cinta Ibuku di dalamnya . Huft… mendadak mataku berembun..

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

Entah apa yang menjadi pertimbangannya, sehingga admin @30haribercerita tersebut me-regram keempat postinganku ini. Yang jelas, aku cukup senang. Penghargaan kecil semacam ini, cukup besar dampaknya. Setidaknya,aku tetap ingin mengikuti program tersebut hingga akhir.

Semoga, semangat update blog, bisa tetap terjaga setelah ini.. Amiin.. 🙂

Garing

Bercanda adalah naluri manusia. Bahkan, kita butuh untuk bercanda, agar urat syaraf tidak terlalu tegang. Bercanda juga merupakan salah satu bentuk relaksasi. Terlalu serius dalam menjalankan kehidupan, malah tidak baik. Bercanda memang sangat kita butuhkan

Hanya saja, bercanda tetap ada batasannya. Berlebihan dalam bercanda, bisa fatal akibatnya. Nabi Muhammad SAW juga bercanda. Dalam salah satu riwayat dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa ia berkata: “Orang-orang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab: ‘Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) ” (HR. Tirmidzi nomor 1991)

Dalam hadisnya yang lain, Nabi Muhammad saw. sangat mengecam orang yang sengaja melakukan kedustaan hanya demi mendapatkan gelak tawa dari orang lain yang mendengarkannya. Hadis tersebut berbunyi:: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” [HR. Abu Daud Nomor 4338]

Saat ini, aplikasi chatting di telepon pintar sangat banyak. Kita akan dengan mudahnya ngobrol dengan siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Termasuk bercanda. Namun, menurutku, ada satu becandaan yang tidak lucu alias garing. Coba perhatikan gambar berikut ini:

broadcast wa tentang gaji guru

Postingan yang banyak dikirim melalui WA group seperti di gambar di atas, adalah sebuah becandaan yang tidak lucu. Para guru memang mengharapkan peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Haruskah itu semua dijadikan lelucon? Mungkin sulit merasakannya bagi yang tidak berprofesi sebagai guru. Tapi.. Ketika harapan tersebut dijadikan bahan olok-olokan, sungguh menyakitkan.. 😦

Seperti yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis beliau di atas, bahwa sengaja melakukan kebohongan agar dapat mengundang tawa, adalah perbuatan yang sangat dibenci. Oleh karenanya, tidak perlu bukan menyebar pepesan kosong seperti gambar di atas? 🙂