Jaga Lisan

Para tetua kita, telah mempertuahkan untuk menjaga ucapan. Sebab, luka hati yang ditimbulkan karena ucapan, sungguh tak terperikan. Tidak jarang, pelakunya menuai kehancuran oleh karenanya.

Melalui QS. Albaqarah ayat 263 ini, Allah membandingkan antara perkataan yang baik dengan sedekah. Dimana, perkataan yang baik dan meneduhkan itu dipandang jauh lebih baik ketimbang bersedakah namun sambil memaki. Sedekah, meski sangat dianjurkan, namun jika diberikan dengan disertai ungkapan yang menyakitkan, dianggap tidak ada gunanya.

Albaqarah ayat 263

Ucapan adalah ekspresi dari isi hati dan pikiran. Seseorang yang suka berkata buruk, menandakan kalau isi hati dan pikirannya juga buruk. Demikian pula sebaliknya. Maka, agar bisa berkata yang baik, kita pun mustilah mampu menjaga kebersihan hati dan pikiran.

Ungkapan kuno, “mulutmu harimaumu”, agaknya relevan di sepanjang masa.

 Semoga bermanfaat

 

Sabar dan Salat

Setiap kita, mestilah memiliki masalahnya masing-masing. Selagi nyawa dikandung badan, persoalan akan selalu menghampiri. Itulah dinamika kehidupan.

QS. Albaqarah ayat 45, mengajarkan kepada kita untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah dalam menghadapi permasalahan hidup. Caranya, dengan terus bersabar dan mendirikan salat. Namun, hanya orang-orang yang khusyu’ lah yang dapat merasakan nikmatnya kesabaran dan salat tersebut.

QS. Al Baqarah ayat 45

Siapakah orang-orang yang khusyu’ itu? QS. Albaqarah ayat 46 menjelaskannya:

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.

Sabar adalah upaya menahan diri dari luapan emosi dan salat adalah wujud penghambaan diri kepada Allah. Kesadaran penuh akan hal ini, membuat setiap persoalan akan terasa ringan, insya Allah.

Semoga bermanfaat

 

Garing

Bercanda adalah naluri manusia. Bahkan, kita butuh untuk bercanda, agar urat syaraf tidak terlalu tegang. Bercanda juga merupakan salah satu bentuk relaksasi. Terlalu serius dalam menjalankan kehidupan, malah tidak baik. Bercanda memang sangat kita butuhkan

Hanya saja, bercanda tetap ada batasannya. Berlebihan dalam bercanda, bisa fatal akibatnya. Nabi Muhammad SAW juga bercanda. Dalam salah satu riwayat dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa ia berkata: “Orang-orang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab: ‘Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) ” (HR. Tirmidzi nomor 1991)

Dalam hadisnya yang lain, Nabi Muhammad saw. sangat mengecam orang yang sengaja melakukan kedustaan hanya demi mendapatkan gelak tawa dari orang lain yang mendengarkannya. Hadis tersebut berbunyi:: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” [HR. Abu Daud Nomor 4338]

Saat ini, aplikasi chatting di telepon pintar sangat banyak. Kita akan dengan mudahnya ngobrol dengan siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Termasuk bercanda. Namun, menurutku, ada satu becandaan yang tidak lucu alias garing. Coba perhatikan gambar berikut ini:

broadcast wa tentang gaji guru

Postingan yang banyak dikirim melalui WA group seperti di gambar di atas, adalah sebuah becandaan yang tidak lucu. Para guru memang mengharapkan peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Haruskah itu semua dijadikan lelucon? Mungkin sulit merasakannya bagi yang tidak berprofesi sebagai guru. Tapi.. Ketika harapan tersebut dijadikan bahan olok-olokan, sungguh menyakitkan.. 😦

Seperti yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis beliau di atas, bahwa sengaja melakukan kebohongan agar dapat mengundang tawa, adalah perbuatan yang sangat dibenci. Oleh karenanya, tidak perlu bukan menyebar pepesan kosong seperti gambar di atas? 🙂

2016… Yeay..!

2015 sudah kita lalui dengan segala dinamikanya, alhamdulillah..
2016 akan kita jalani dengan segala optimistis, bismillah.. 🙂

happy new year 2016-01

Selamat tahun baru 2016, sahabat..
Selamat menjemput keberkahan dan kesuksesan yang semakin gilang gemilang.. 🙂

Shalat Idul Fitri 1436 H di Altar

CeritaLebaran #1

Sejak tinggal di Kweni, belum sekalipun kami melaksanakan shalat Idul Fitri di tempat lain. Rasanya, ingin juga sesekali merasakan shalat di luar Kweni. Setidaknya, bisa merasakan nuansa yang berbeda. Maka, setelah kami diskusikan beberapa hari jelang Idul Fitri tiba, akhirnya kami sepakat untuk menunaikan shalat ‘Id kali ini di Altar, alias Alun-alun Utara Yogyakarta.

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat dari rumah. Sebab, berdasarkan pengumuman dari panitia, jamaah sudah diminta untuk bersiap pada pukul 06.30. Di samping itu, aku sudah dapat membayangkan betapa ramai dan macetnya lalu lintas ke sana nanti. Maka, berangkat lebih pagi tentu lebih baik.

Tidak sampai 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di lokasi. Terlihat jamaah sudah mulai memadati alun-alun kebanggaan warga Yogyakarta tersebut. Dengan sedikit bergegas, akhirnya kami pun bisa mendapatkan shaf di barisan-barisan depan. Selang beberapa menit saja setelah itu, jamaah benar –benar sudah memadati lapangan yang sangat luas tersebut.

jamaah shalat id di altar

Aku tidak mengenali tokoh-tokoh penting siapa saja yang hadir di situ. Yang kutahu hanya Sri Sultan dan Pak Din Syamsuddin yang kebetulan menjadi khatib pada hari itu. Pak Din inilah yang menjadi salah satu motivasi kami untuk bershalat ‘Id di sana.

Isi khutbah Pak Din menurutku cukup menarik. Ada banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

din syamsuddin khutbah di altar

Beberapa hal yang dapat kucatat antara lain:

  1. Idul Fitri merupakan momentum yang tepat untuk kembali kepada kesucian dan kekuatan. Kembali kepada kesucian artinya adalah kembali kepada kemurnian diri, tanpa dosa, tanpa tendensi apapun dalam hidup, hanya berharap kepada keridhaan Allah semata. Dan kekuatan maknanya adalah mengembalikan segala upaya kepada Sang Maha Kuasa dan tunduk pada aturanNya. Jika dua hal ini disatukan, maka kemenangan yang hakiki akan kita raih.

  2. Ibadah puasa sesungguhnya adalah ajang untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri itu tergambar dalam perilaku kita yang disebut dengan akhlak. Ada pepatah yang mengatakan:

اِنَّمَا الاُمَمُ الاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

 “Dengan akhlaq, suatu bangsa akan teguh. Bila akhlaqnya rusak, mereka pun rapuh

Saat ini, nilai-nilai moral bangsa Indonesia sudah banyak yang tergerus. Yang dulunya ramah, kini menjadi gampang marah. Kita sangat gampang tersulut emosi. Hanya dengan sedikit isu, kita pun saling beradu. Semangat kegotongroyongan yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini, sekarang tak lagi dapat dibanggakan. Kepentingan individual terasa begitu kentalnya. Sehingga, alih-alih membela kepentingan bangsa, justru kita terjebak dalam fanatisme buta.

  1. Kebanggaan kita, terutama generasi muda pada bangsa ini sudah memudar. Kita justru bangga dan mengagungkan bangsa lain. Banyak yang merasa malu dengan identitasnya sendiri. Ini tentu tidaklah baik. Untuk maju, suatu bangsa harus bangga dengan identitasnya. Dengan kebanggaan tersebut, kita akan mampu berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa lain.

Tiga hal dari banyak poin yang disampaikan dalam khutbah Pak Din tersebut di atas, menurutku patut untuk direnungkan sebagai bahan muhasabah bagi kehidupan kita kedepannya. Semoga saja setelah nilai-nilai puasa yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin dapat terus terimplementasi dalam keseharian kita. Amiin…

Setelah selesai semua prosesi ibadah shalat Idul Fitri tersebut, kami pun bubar dan kembali ke rumah. Namun, ada pemandangan kurang sedap terlihat pasca shalat tersebut. Koran-koran bekas yang tadinya digunakan sebagai alas sajadah, berserakan di mana-mana. Padahal, panitia sudah menyediakan tempat khusus untuk membuangnya, bahkan dengan menempelkan tulisan besar-besar di situ.

koran kebas di altar tempat pembuangan koran bekas di altar

Ah… ternyata, kebersihan masih belum menjadi bagian dari keimanan kita.. Sayang sekali.. 😦

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

 

selanjutnya:

Sederhana Bukan Berarti Miskin

Sepanjang Ramadhan 1436 H ini, Om Nh melalui blog The Ordinary Trainer milik beliau, mempublis kutipan-kutipan ayat al-Quran setiap hari. Aku mengikutinya terus, meski tidak membubuhkan sepatah dua patah komentar di sana. Pada hari ini, 14 Juli 2015, beliau memposting QS. Al-a’raf ayat 31.

Aku tertarik untuk membahas ayat ini lebih jauh, karena ayat ini bisa menjadi semacam mengingat buat kita di penghujung Ramadhan ini. Sebab, demi merayakan kegembiraan di Idul Fitri, kita sering terlupa akan batas kita dalam hal berpakaian, makanan maupun minuman.

Selengkapnya ayat ini berbunyi:

al-araf 31

Dalam Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam (manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu di setiap memasuki dan berada di masjid, baik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal, enak, bermanfaat lagi bergizi, dan berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan, tidak juga mengganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikian juga dalam makan dan minum atau apa saja, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.

Perintah makan dan minum yang tidak berlebih-lebihan, yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang, boleh jadi telah dinilai melampaui batas atau belum cukup buat orang lain. Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas: “Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.”

Selain itu, dengan mengutip riwayat dari Ibn Zaid, al-Thabari menafsirkan kata لاتسرفوا   dengan “tidak boleh memakan sesuatu yang haram”. Ia menjelaskan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batasan-Nya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaliknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya. Demikian itu merupakan keadilan yang Dia perintahkan.

Terkait dengan konsumsi, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan adanya larangan sikap berlebih-lebihan dan memperlihatkan kesombongan, tidak hanya dalam hal makan dan minum, tetapi juga dalam hal berpakaian dan bersedekah. Larangan sikap berlebih-lebihan ini juga berdasarkan beberapa hadis yang dikutip oleh Ibn Katsir, yaitu:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah, tanpa disertai kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya memanfaatkan nikmat-nikmat-Nya”.
  2. Hadis yang juga diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri”.
  3. Hadis yang yang diriwayatkan oleh al-Miqdam ibn Ma’di Karib al-Kindi, bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perutnya, cukuplah anak Adam makan dengan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang tubuhnya. Kalaupun ia harus melakukannya (memenuhi perutnya), maka hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan”.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlaku “sederhana”. Keserderhaan yang dimaksud di sini adalah proporsional. Yakni sesuai dengan batas kewajaran, tidak terlalu mewah dan tidak pula terlalu berkekurangan. Yang terpenting adalah sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya. Misalnya: bila dengan baju seharga seratus ribu kita sudah terlihat rapi dan pantas, mengapa pula harus mengenakan pakaian dengan harga satu juta?.

Aku sangat ingat dengan pesan Kyai kami ketika di pesantren dulu. Kalimat yang sering dilontarkan kepada kami adalah, “Sederhana Bukan Berarti Miskin”. Artinya adalah berlaku sewajarnya, tidak melebihi batas kepatutan.

Selamat mempersiapkan Hari Kemenangan, sahabatku. Mari kita tetap menjaga puasa kita dengan tidak mengumbar emosi dalam berbelanja jelang Idul Fitri ini. Berlakulah sederhana, sebagaimana yang Allah sabdakan dalam QS. Al-A’raf ayat 31 tersebut.. 🙂

batik adalah kita

Seorang rekan dosen menautkanku ke foto yang diunggahnya di laman Facebook:

batik adalah kita-01

Gegara colekan ini, aku jadi teringat kicauanku di Twitter beberapa hari yang lalu. Kicauan itu kutujukan kepada seseorang  yang lumayan nyinyir di Twitter. Orang tersebut menuliskan kira-kira begini: “Bagus, semua menteri digiring sederhana…… semuanya pakai batik di istana“.

Tweet itu ditulis tidak lama setelah pelantikan para menteri oleh Presiden Jokowi. Sejujurnya aku sangat tertarik dengan pelantikan waktu itu. Ada nuansa yang berbeda dari pelantikan-pelantikan menteri di kabinet-kabinet yang lalu. Perbedaan yang mencolok adalah pakaian yang digunakan. Yak, semua kita tahu, mereka mengenakan batik. Dan aku sangat salut dengan gebrakan tersebut.

Lantas, apa hubungannya dengan tweet tersebut?

Tweet tersebut menyebutkan bahwa para menteri digiring untuk berlaku sederhana dengan cara mengenakan batik. Aku sama sekali tidak setuju dengan pernyataan ini. Menurutku, batik bukanlah simbol kesederhanaan. Karena sederhana artinya adalah bersahaja; tidak berlebih-lebihan. Dengan kata lain, cukup sesuai kebutuhan.

Sebagai contoh, pesta pernikahan dengan anggaran puluhan milyar rupiah, adalah sesuatu yang berlebih-lebihan. Sebab, bisa saja dilaksanakan dengan biaya hanya puluhan juta rupiah. Toh, esensinya sama saja. Maka, sederhana bisa kita maknai dengan sesuatu yang murah, namun bukan murahan, tetap ada makna yang terkandung di dalamnya.

Oleh karenanya, mengidentikan batik dengan sederhana yang berarti murah, tentu tidak pas. Sebab, pakaian batik seperti yang kita tahu, harganya sangat variatif, mulai dari puluhan ribu rupiah, hingga ratusan juta rupiah. Artinya, kita tidak bisa menjamin bahwa pakaian batik yang dikenakan para menteri itu adalah pakaian dengan harga yang murah. Mungkin saja mereka mengenakan pakaian batik dengan harga yang sangat mahal. Dan itu tentu tidak sederhana, bukan? Sebaliknya, jas dan dasi, tidak pula bisa diidentikan dengan kemewahan. Sebab, tidak sedikit jas dan dasi yang berharga puluhan ribu rupiah saja.

Maka, aku lebih setuju untuk mengatakan bahwa batik adalah identik dengan Indonesia. Berbatik sangat mencirikan keindonesiaan kita. Dan kupikir, inilah yang ingin ditonjolkan dalam acara di istana negara tempo hari yang lalu itu.  Sama sekali aku tidak melihat kesederhanaan di situ. Justru yang terlihat adalah sebuah kegiatan formal yang “mahal” harganya.

Secara pribadi, sejak beberapa tahun belakangan ini, aku setiap hari mengenakan batik kalau ke kampus. Aku sangat nyaman mengenakannya. Ada semacam kebanggaan ketika memakainya. Dan lebih bangga lagi, ternyata saat ini, banyak sekali mahasiswa yang juga mengenakan batik ketika kuliah.

So.. kenakanlah batik dengan penuh kebanggaan. Karena ia bukanlah wujud dari kesederhanaan. Ia adalah cara kita untuk menunjukkan identitas sebagai orang Indonesia. Batik adalah Indonesia. Indonesia adalah kita. Maka… BATIK ADALAH KITA.. 🙂

hijrah, momentum peningkatan ibadah

Untuk seluruh sahabat, terkhusus yang Muslim, aku ucapkan:

tahun baru 1436 H

Hijrah tidak semata perpindahan Nabi Muhammad saw. beserta pengikut-pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, tapi ia juga menjadi titik tolak perubahan dalam bentuk dakwah Rasul Allah tersebut. Hal tersebut ditandai oleh para ulama dengan membagi surat-surat dalam al-Qur’an kepada dua kategori besar, yakni Makkiyah dan Madaniyah.

Makkiyah adalah ayat-ayat al-Qur’an yang turun sebelum Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah. Sementara Madaniyah adalah ayat-ayat al-Qur’an yang turun setelah beliau berhijrah. Dengan demikian, yang menjadi patokannya adalah momentum hijrah. Pembagian kategori ini bukan tanpa maksud. Salah satu aspek yang sangat mencolok yang membedakan keduanya adalah, Makkiyah lebih banyak berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, sementara Madaniyah berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah (sosial).

Dengan demikian, terlihat perbedaan yang sangat mendasar dalam bentuk dakwah yang dilakukan Rasulullah sebelum dan sesudah hijrah. Yakni, sebelum hijrah beliau lebih terfokus pada pemantapan aqidah (keimanan), dan setelah hijrah beliau sudah beranjak maju kepada perwujudan aqidah dalam bentuk ibadah.

Maka, momen tahun baru Hijriyah ini menurutku ada baiknya kita belajar dari perkembangan dakwah Rasulullah tersebut. Yakni menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah swt. dengan semakin memperbanyak ibadah kepadaNya. Ibadah adalah bentuk aktualisasi keimanan seseorang kepada Sang Khaliq. Semakin baik ibadahnya, tentu semakin baik kadar keimanannya tersebut.

Ibadah dalam Islam tidak semata yang menjadi kewajiban, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Tapi segala hal yang berkaitan dengan kebaikan yang kita lakukan dengan dilandasi keimanan, juga dipandang sebagai ibadah. Membuat tulisan di blog yang dapat memberi manfaat bagi pembacanya, merupakan salah satu bentuk ibadah tersebut. Seperti yang dikatakan Pakde Cholik, ngeblog untuk ibadah, adalah benar adanya.

Meski energiku untuk ngeblog tidak sebanyak dulu lagi, namun insya Allah aku akan berusaha untuk tetap menulis di sini. Karena aku yakin, seremeh apapun yang kita tulis dalam blog, pasti ada hikmah yang bisa didapat oleh orang lain, dan semoga itu menjadi ibadah untukku.

Selamat tahun baru, sahabat…
Selamat terus beribadah melalui blog.. 🙂

menangis di arafah

Sebagai muslim, aku sangat merindukan mendapat kesempatan untuk dapat melaksanakan ibadah haji. Selalu ada rasa yang tak terkatakan setiap kali melihat tayangan di televisi tentang pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut, terutama ketika pelaksanaan wukuf di Arafah. Entah mengapa, selalu saja ada butiran hangat yang mengalir tanpa kusadari dari sudut mata, setiap melihat itu semua.

Penamaan tempat wukuf itu dengan Padang Arafah sepertinya memiliki makna yang sangat dalam. Secara harfiah, “arafah” berarti mengetahui atau mengenal. Bila dikaitkan dengan ibadah haji, maka ‘arafah bisa dimaknai sebagai tempat untuk hening sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk mengidentifikasi diri sendiri tentang apa yang telah dilakukan selama hidup.

Oleh karenanya, kegiatan yang dilakukan oleh para jamaah di saat itu adalah memperbanyak zikir dan doa. Tak jarang kita lihat, jamaah yang membanjiri wajahnya dengan air mata. Barangkali karena mereka tengah mengingat dosa-dosa dan kesalahan di masa lampau dan memohonkan ampun kepada Allah atas semua itu.

Aku selalu terlarut dalam keharuan setiap kali melihat tayangan itu di televisi. Dan keharuanku semakin menjadi ketika membaca salah satu bab dalam buku terbarunya Pakde Cholik, Dahsyatnya Ibadah Haji, Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah. Bab tersebut berjudul “Menangis di Arafah“.

1412308319076

Buku terbaru Pakde Cholik ini merupakan catatan perjalanan ibadah haji beliau beberapa tahun silam. Gaya bercerita beliau di buku ini, tidak jauh beda dengan gaya beliau menulis di blog; ringan, renyah namun bernas. Tips-tips dalam melaksanakan haji, terpaparkan dengan apik. Guyonan khas beliau, akan mampu membuat pembaca terpingkal-pingkal. Dan, akupun ikut larut dalam alur cerita beliau itu.

Namun, ketika sampai pada bagian tengah buku dengan judul bab “Menangis di Arafah” tersebut, seketika kesan guyon itupun hilang, berganti dengan permenungan yang sangat mendalam. Aku benar-benar larut dalam penghayatan yang tengah diceritakan Pakde dalam bab itu. Tak terasa, airmataku menetes dengan kencangnya, seolah aku sendiri yang tengah mengalami kejadian itu. Ah.. Pakde benar-benar telah meruntuhkan egoku sebagai lelaki yang pantang meneteskan air mata.

Penjelasan dari para ulama tentang hakikat wukuf di Arafah dan ditambah dengan cerita Pakde Cholik di buku terbaru beliau ini, semakin memperdalam pemahamanku tentang salah satu rukun haji tersebut. Rasanya ingin segera bisa merasakan seperti yang pernah dirasakan oleh Pakde. Semoga Allah mempermudah semuanya..

Sahabat.. Tanpa bermaksud berlebih-lebihan dalam memuji, aku sangat merekomendasikan kita semua membaca buku ini. Pembelajaran di dalamnya sungguh banyak manfaat dan inspirasinya. Bagi yang pernah melaksanakan ibadah haji, buku ini akan bisa menjadi semacam memorabilila dan bagi yang belum, yakinlah buku ini akan membuat kerinduan untuk mengunjungi baitullah akan semakin membuncah. Aku tengah mengalaminya..

Terima kasih, Pakde untuk inspirasinya..

pesan ramadhan

#CeritaLebaran 1

Idul Fitri 1435 H sudah lewat beberapa hari. Namun, belum terlambat untuk mengucapkan selamat lebaran bukan? 😀

Selamat Idul Fitri 1435 H sahabat narablog sekalian. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang terjadi dalam pergaulan kita selama ini. Semoga Allah meridhai setiap amal ibadah kita dan memberkahi persahabatan indah yang terjalin antar kita semua dan semoga kita dapat terus menebar manfaat bagi semesta ini.. 🙂

lebaran 2014-02

Tentu ada banyak cerita yang kita alami selama lebaran kali ini. Aku pun demikian. Aku akan bagi cerita-cerita tersebut dalam beberapa postingan ke depan. Semoga teman-teman berkenan menyimaknya..

========================

Kali ini, aku mendapat amanah dari pengurus Masjid An-Najwa, tempat aku tinggal sekarang, untuk menjadi imam dan khatib dalam shalat Idul Fitri 1435 H yang dilaksanakan di lapangan pedukuhan Kweni, Kelurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Ini merupakan kali kedua aku diberi kepercayaan seperti ini. Pertama kalinya dulu pada tahun 1428 H, tujuh tahun yang lalu.

lebaran 2014-590x339

Dalam khutbah kali ini, ada beberapa hal yang kusampaikan, utamanya adalah tentang pesan-pesan yang ditinggalkan Ramadhan untuk kita semua agar dapat diteruskan di bulan-bulan selanjutnya. Tiga hal di antaranya:

1. Pesan Moral

Ramadhan melatih kita untuk taat pada aturan yang Allah tetapkan. Segala sesuatu yang biasanya dihalalkan, malah selama menjalankan puasa, diharamkan. Di antaranya, makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari. Dengan landasan keimanan yang kuat, semua aturan tersebut akan bisa kita lalui dengan baik dan menyenangkan.

Sejak manusia dilahirkan, ada tiga naluri yang dibawa serta. Yakni. naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiganya, naluri syahwat lah yang paling sulit dikendalikan. Ada banyak orang yang jatuh ke dasar jurang kenisataan paling dalam, hanya karena ia tak mampu mengendalikan syahwatnya.

Karena telah terlatih mengendalikan syahwat selama Ramadhan, maka akan mudah bagi kita mengendalikannya di luar Ramadhan nanti. Dengan kemampuan tersebut, moral kita tentulah akan terjaga dengan baik.

2. Pesan Sosial

Di penghujung Ramadhan, sebuah pemandangan indah terlihat nyata di hadapan kita semua. Betapa setiap muslim menunaikan kewajibannya mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan bagi delapan golongan yang telah ditetapkan, terutama untuk fakir-miskin.

Di sini tampak bagaimana tali silaturrahim serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi serta tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan, tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah telah melahirkan kesadaran untuk tolong menolong antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan.

Kepedulian semacam ini, mestilah dilestarikan di luar Ramadhan. Bila itu terjadi, sungguh akan terasa indah sekali hidup dan kehidupan ini.

3. Pesan Jihad

Jihad hendaklah jangan dipahami dengan maknanya yang sempit; berperang. Sesungguhnya, jihad memiliki makna yang luas, yakni mengeluarkan segala kemampuan untuk menegakkan kebenaran di muka bumi dengan tujuan mendapat keridhaan dari Allah SWT.

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa, untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri sendiri dari perilaku dan tindakan yang akan merugikan sekeliling kita.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera, serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan Ramadhan ini bangsa Indonesia telah melakukan sebuah perhelatan besar, yakni pesta demokrasi, memilih presiden untuk periode 2014-2019 mendatang. Pergolakan politik ini menghiasi ibadah puasa kita. Berbagai intrik dan strategi politik dipertontonkan kepada kita semua. Dan nyaris membuat kita larut dalam perdebatan tak berkesudahan tersebut.

Namun, alhamdulillah, proses tersebut sudah kita lalui. Presiden baru pun sudah terpilih. Semoga dengan pemilihan yang kita lakukan di tengah ibadah puasa tersebut, benar-benar diberkahi oleh Allah SWT, sehingga hasil yang telah kita dapatkan sekarang ini, tidak justru menjadi pemicu pada perpecahan hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karenanya, mari kita menjernihkan hati dan pikiran. Jangan sampai mudah terpancing oleh isu-isu politik yang akan berakibat terpecahbelahnya kita sebagai bangsa yang besar. Puasa telah mengajarkan kita untuk menahan diri dari emosi dan amarah. Maka, pelajaran itu hendaknyalah kita praktekan dalam keseharian kita, di luar Ramadhan. Inilah jihad kita untuk negara tercinta ini.

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.