puasa lahir batin

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa banyak  orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahagaArtinya, puasa yang dijalani tidak mendapatkan pahala apapun dari Allah SWT.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Penyebabnya adalah karena kita menjalankan ibadah puasa baru sebatas puasa lahir. Yakni, sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan seksual di siang hari.

Lantas, puasa seperti apakah yang bisa bernilai ibadah di sisi Allah?

Jawabnya adalah, puasa lahir batin.

puasa lahir-batin-01Yakni, menjalankan ibadah puasa dengan tidak makan, minum dan melakukan hubungan seksual di siang hari serta diikuti dengan menjaga indra, hati dan pikiran dari perbuatan-perbuatan buruk yang dapat merusaknya. Perbuatan buruk tersebut antara lain seperti dusta, berkata kasar, fitnah, bersaksi palsu, berpikiran jahat terhadap orang lain, serta hasad dan dengki.

Secara hukum, perbuatan buruk tersebut memang tidak membatalkan puasa. Namun, nilai ibadah yang semestinya didapat dari puasa, berkurang atau bahkan hilang karenanya. Dengan demikian, ibadah puasa yang dijalankan menjadi sia-sia saja.

Di Indonesia, Ramadhan kali ini akan terasa istimewa. Sebab, insya Allah pada 9 Juli 2014 nanti, di tengah-tengah menjalankan ibadah puasa, rakyat Indonesia akan memilih pemimpinnya yang baru. Pemimpin yang akan menjadi lokomotif perubahan dan perbaikan kehidupan berbangsa selama lima tahun ke depan.

Melihat perkembangan kampanye jelang pemilihan presiden yang akan datang, aku merasa khawatir dengan ibadah puasa umat Islam Indonesia kali ini. Sudah menjadi pengetahuan kita semua bahwa serangan fitnah, caci maki, olok-olokan dan bahkan hujatan antara kedua kubu pendukung calon presiden, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK sudah benar-benar melewati puncak “keterlaluan”. Tidak sekedar mengorek kebobrokan masing-masing lawan, para pembela itu juga sangat sering mengaitkan dengan terma-terma agama, terutama Islam. Bagaimana bila hal ini terus berlangsung di tengah-tengah ibadah puasa yang kita lakukan?

Sangat disayangkan rasanya bila seorang muslim yang tengah berpuasa terus gencar menebar berita-berita pembelaan terhadap salah satu Capres dan menghujat calon yang lainnya. Sudah tentu orang yang seperti ini hanya akan mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja dari puasanya, karena batinnya tidak ikut berpuasa.

Mari simak status Facebook yang ditulis Nechan Imelda Coutrier:

“….. Semoga dengan mulainya bulan Ramadhan, hujatan dan komentar juga bisa direm, bisa berpuasa sambil mendoakan agar negara kita benar-benar bisa dipimpin orang yang tepat …. “

Aku sangat setuju sekali dengan pendapat ini. Mengapa kita harus menghabiskan energi untuk menebar segala hujatan dan komentar terhadap calon presiden kita? Mengapa tidak kita ganti saja dengan terus berdoa agar Allah menunjukkan kepada kita siapa yang paling tepat untuk kita pilih nanti? Karena petunjuk untuk memilih itu datangnya dari Allah, tentulah itu merupakan petunjuk yang paling tepat, bukan? Petunjuk yang menggugurkan segala bentuk “petunjuk” dari berbagai link yang bertebaran di dunia maya.

Untuk itu, mari kita siapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan 1435 H kali ini dengan mensucikan hati dan pikiran. Mari jadikan puasa sebagai tameng diri kita dari melakukan berbagai perbuatan buruk yang akan merusaknya. Rasulullah SAW bersabda:

الصِّياَمُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كاَنَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah, ‘Saya sedang berpuasa’.” [Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim].

Selamat beribadah puasa 1435 H, saudaraku.. Semoga kedamaian benar-benar dapat kita rasakan melalui ibadah puasa lahir batin yang kita jalani nanti, dan semoga Allah SWT menunjukkan hati kita untuk memilih pemimpin yang tepat bagi bangsa dan negara kita tercinta, Indonesia..

Salam damai..
Mohon maaf lahir dan batin.. 🙂

Sumber gambar: ickypic

dua status @pepatah

Aku memiliki akun di Facebook sudah cukup lama, yakni sejak tahun 2007. Sepanjang kurun waktu lebih kurang 7 tahun tersebut, tentu sudah banyak sekali yang kualami bersamanya. Dari yang awalnya hanya sekedar nyetatus gak jelas, kemudian berlanjut menjadi media buat jualan, sampai akhirnya sekarang lebih banyak untuk membagi foto dan link blog.

Ketika Pakde Cholik membuat tantangan menuliskan sebuah artikel yang berdasarkan dua status kita di Facebook, aku agak sedikit kebingungan memilih yang mana. Bukan karena kebanyakan status yang kubuat, tapi justru karena aku sudah lama sekali tidak membuatnya. Meski timeline-ku cukup aktif, namun isinya didominasi oleh foto dan link blog. Terakhir kali aku menulis status pada tanggal 14 Januari 2014, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Untuk menjawab tantangan Pakde tersebut, aku pun membongkar lagi status-status yang pernah kubuat, dan menemukan dua status yang kutulis pada bulan November 2012. Cukup lama bukan? 🙂

Dua status tersebut kutulis dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dan keduanya kuambil dari quote yang dikirim oleh akun Twitter @pepatah. Aku mengikuti akun ini karena suka dengan kutipan-kutipan yang dikirimkannya. Kebetulan di bulan November 2012 yang lalu itu, ada sesuatu yang kualami bersama kawan-kawan di sebuah komunitas. Untuk melampiaskan apa yang kurasakan ketika itu, maka kutulislah status di Facebook dengan mengambil kutipan dari @pepatah.

Pada tanggal 28 November 2012, aku menulis: “Jangan pikirkan mereka yang membencimu, karena sebenarnya mereka tak peduli denganmu, mereka hanya peduli dengan diri mereka sendiri. @pepatah

Secara detail aku tidak hendak menceritakan apa yang terjadi. Tapi, secara umum yang bisa kugambarkan adalah, bahwa ketika itu, aku sering dipersalahkan atas apa yang kuperbuat dalam komunitas tersebut. Padahal, apa yang kubuat itu adalah hasil keputusan bersama.

Awalnya aku tidak habis pikir. Sesuatu yang kulakukan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula, tetap dianggap tidak benar oleh beberapa kawan. Ketika coba kutelusuri lagi, ternyata pangkalnya ada pada rasa tidak suka atau kebencian seseorang kepadaku dan itu kemudian merembet kepada kawan yang lain. Aku tidak tahu mengapa dia seperti itu. Cukup lama aku memikirkannya dan dibuat tidak nyaman oleh karenanya.

Di saat hati gundah gulana seperti itu, tanpa sengaja kutemukan quote tersebut yang sudah kusimpan dalam folder note Blackberry-ku. Rasanya pas sekali dengan apa yang tengah kurasakan. Maka, untuk menghibur diri sendiri, kutulislah quote ini di dinding laman Facebook-ku. Ada rasa sedikit nyaman ketika itu sudah kutuliskan. Sepetinya aku baru saja selesai curhat dengan seseorang.

Apa yang kutuliskan tersebut mendapat respon dari beberapa sahabat. Di antara yang paling berkesan adalah komentar yang disampaikan oleh Akbar Zainudin, “Pikirkan saja mereka yang menyayangimu…

Meski singkat, tapi komentar dari sahabatku ini sangatlah mengena di hati. Aku seolah tersadar dari kekeliruan. Sepertinya aku sudah menghabiskan banyak energi untuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukaiku, sementara aku luput dari orang-orang yang menyayangiku yang ternyata jauh lebih memberi energi positif.

Setelah menuliskan status tersebut dan mendapat masukan dari sahabat, aku pun merasakan kelegaan yang luar biasa dan bisa berpikir dengan lebih jernih lagi hingga Tuhan kemudian menunjukkan sebuah peristiwa yang membuatku paham dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Peristiwa itu menjelaskan dengan detail mengapa kawan itu membenciku. Aku bisa saja mengkonfrontasikan hal tersebut kepadanya. Namun kupikir itu tidak perlu. Di samping akan semakin menghabiskan energi, pun pula tak akan menyelesaikan masalah.

Maka, untuk menunjukkan sikap, aku pun menuliskan status yang kedua, sehari setelah status yang pertama di atas. Pada 29 November 2012, aku pun menulis: “Terkadang kita memilih tuk diam, bukan karena tak tahu apa-apa, namun karena diam lebih baik daripada memperkeruh suasana… @pepatah

Status ini sebetulnya kutuliskan semata untuk mempertegas sikapku bahwa aku tidak hendak terlibat dalam perdebatan tak berkesudahan. Meladeni pembicaraan yang menurunkan semangat, pikirku tak patut untuk diteruskan. Diam adalah pilihan terbaik. Dan aku pun memutuskan untuk pelan-pelan menarik diri dari komunitas tersebut.

Namun, sebuah komentar dari Zaldy Chan membuatku tertegun. Dia menuliskan, “bicara memilih diam tetap bukan diam, kan? Or penegasan sikap diam, tdk diam jg, kan?“.

Ah… benar juga kawan satu itu. Kalau memang aku memilih untuk diam, mengapa harus mengungkapkannya dalam sebuah tulisan yang bisa dibaca banyak orang? Artinya, aku juga tidak sedang diam bukan? Bolak-balik kupikirkan kata-kata kawanku itu, sehingga akhirnya kubalas komentarnya dengan mengatakan, “ini semata soal pilihan.. yakni sebuah sikap “mengalah” untuk sebuah kearifan“.

Begitulah… Ternyata sebuah tulisan, dapat memberi dampak besar bagi diri sendiri ataupun orang lain, meski itu hanya sekedar sebuah status di dinding Facebook kita. Apa yang kualami di atas sedikit banyaknya memberikan pembelajaran dan pencerahan untukku. Komentar dari sahabat, bisa memperkuat argumenku dan tidak jarang pula yang kemudian mengkritiknya. Namun, apapun itu, tetap tujuannya satu. Yakni, memperkaya pengalaman batin untuk mencapai kebijaksanaan.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp.

manusia dan alam

Jumat, 14 Februari 2014 yang lalu, setelah shalat Subuh, sebuah pemandangan yang tidak biasa terlihat di halaman rumah kami. Seluruh permukaannya tertutup abu berwarna putih yang terus turun dari langit seperti hujan deras. Aku langsung paham kalau itu adalah efek dari erupsi gunung Kelud, karena sesaat sebelum tidur, aku sempat membaca running text di televisi bahwa gunung tersebut meletus pada pukul 22.50 WIB. Abu dari letusan itu ternyata diterbangkan angin dan sampai di Jogja pada pagi harinya.

Awalnya kupikir hujan abu tersebut tidak akan begitu besar dampaknya. Sebab, dari pengalaman erupsi Merapi sebelumnya, kami hanya merasakan abu yang tipis saja. Ternyata, menjelang shalat Jumat, hujan abu masih belum berhenti. Abu yang menutup jalanan, terasa cukup tebal. Dan melalui media televisi, aku mengetahui kemudian bahwa bandara Adi Sutjipto ditutup karena tebalnya abu yang menutupi landasan terbangnya.

Berita tersebut sedikit membuatku khawatir. Sebab, rencananya pada Sabtu 15 Februari 2014 pukul 06.50 wib, aku akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang ke Jakarta untuk kemudian pada hari Minggu akan melanjutkan ke Bengkulu. Bila keadaan ini masih berlangsung, bisa jadi penerbanganku dibatalkan.

Dugaanku benar. Sabtu pagi, ketika sudah berada di bandara, pihak Angkasa Pura mengumumkan secara resmi bahwa bandara Adi Sutjipto ditutup hingga Senin, 17 Februari 2014. Oleh karenanya, semua penerbangan menjelang itu dibatalkan.

Satu sisi aku sangat paham dengan kondisi tersebut, tapi di sisi lain aku gusar, sebab kehadiranku di Jakarta sudah ditunggu oleh beberapa sahabat. Aku ada pertemuan pada Sabtu malam itu. Dengan dibatalkannya penerbangan pada pagi itu, tentu kecil kemungkinan aku akan bisa sampai pada sore hari di Jakarta.

Dengan ditemani Afif, aku memacu sepeda motor, menerobos kepulan debu vulkanik yang menutupi pandangan mata, menuju stasiun Tugu guna mencari tiket kereta api pada pagi itu. Sesampai di stasiun, aku harus menelan kekecewaan karena tiket kereta api sudah habis terjual hingga hari Minggu.

Dengan sisa semangat yang ada, aku pun segera menuju terminal, berharap bisa mendapatkan satu tiket untuk hari itu. Sebetulnya perjalanan menuju terminal itu sudah sangat biasa aku lalui, tidaklah terlalu berat. Tapi dalam kondisi jalanan penuh debu seperti itu, semuanya menjadi sangat berat. Dan alhamdulillah, perjuangan itu pun membuahkan hasil. Aku mendapat satu tiket bus menuju Jakarta pada pukul 15.00 wib.

Segera kuhubungi sahabat yang di Jakarta, mengabarkan kondisi yang ada. Mereka sangat memakluminya dan bersedia memundurkan pertemuan pada Minggu pagi. Jadilah akhinya pada sore hari itu aku berangkat ke Jakarta dengan perasaan campur aduk. Satu sisi aku senang bisa berangkat ke Jakarta, tapi di sisi lain aku sedih harus meninggalkan keluarga dalam kondisi alam yang penuh debu itu. Aku pasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa, karena Dialah tempat bergantung yang paling tepat dalam keadaan apapun.

Selama perjalanan, aku mencoba merenungi semua peristiwa yang terjadi belakangan ini di Indonesia. Beberapa bulan terakhir, negara kita dihadapkan dengan bencana alam yang beruntun, yakni banjir di beberapa daerah dan meletusnya gunung Sinabung dan Kelud. Sungguh, itu sebuah fenomena yang patut jadi perenungan kita semua tentang bagaimana berinteraksi dengan alam.

Alam dan segala isinya ini diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam menjalankan kehidupannya. Hal ini terlihat dalam firman-Nya surat Thaha ayat 53-54 yang berbunyi:

الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى * كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِى ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّأُولِى النُّهَى

Artinya: Dialah Allah Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis tumbuhan. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

Ayat ini secara lugas menyatakan bahwa kita diberi hak penuh oleh Allah Sang Pencipta alam ini, untuk memanfaatkan segala yang ada di dalamnya. Segala yang ada di daratan dan lautan memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan demikian, alam harus kita manfaatkan dengan bijak, agar kita dapat hidup dengan baik di dalamnya.

Meletusnya gunung memang menyisakan penderitaan yang tidak sedikit. Namun, bila kita bijak memanfaatkan sisa letusan tersebut, tentu akan memberikan manfaat yang luar biasa. Hanya saja, banyak dari kita yang tidak berlaku bijak. Kita justru memanfaatkan alam ini dengan membabibuta. Kita luput dari kesadaran akan bahaya yang mengancam jika kita semena-mena terhadapnya. Bukan sekedar tidak sesuai dengan natur kita, tapi juga bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam pandangan Islam, lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari keimanan seseorang terhadap Tuhan. Dengan kata lain, perilaku manusia terhadap alam lingkungannya merupakan manifestasi dari keimanan seseorang. Menjaga alam dan memelihara lingkungan, sama halnya dengan menjaga dan memelihara keimanan, dan hukumnya wajib bagi siapapun seperti wajibnya mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji.

Semoga kejadian ini semakin membuat kita sadar untuk terus bijak dalam berinteraksi dengan alam.

(postingan edisi telat ikutan Titik)

lebaran sebentar lagi

Tidak terasa, Ramadan 1434 H tinggal beberapa hari lagi. Dengan demikian, ibadah puasa akan segera berakhir dan Idul Fitri pun akan segera kita rayakan. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di penghujung Ramadan seperti sekarang ini, tentulah sudah selayaknya kita lakukan. Sebab, kita tidak pernah tahu, apakah akan bisa bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan atau tidak.

Kali ini, aku ingin menyampaikan dua catatan kecil tentang tradisi jelang lebaran yang lazim kita lakukan. Semoga bisa sedikit memberi manfaat. Dua hal tersebut adalah:

1. Tulisan “minal aidin wal faizin”

Jelang lebaran, kita sering membaca –entah di media sosial, blog, pesan singkat melalui ponsel, spanduk atau bahkan di media televisi–tulisan “Minal ‘Aidin Wal Faizin”, yang menjadi sambungan dari kalimat, “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Tulisan aslinya adalah: من العائدين والفائزين, yang artinya adalah “semoga kita termasuk golongan orang-orang yang kembali suci dan meraih kemenangan”.

Yang sering kita dapati adalah tulisan seperti ini: “minal aidzin wal faidzin“. Transliterasi seperti ini adalah salah. Karena “aidzin” tidak sama dengan “aidin“, begitu juga “faidzin” berbeda dengan “faizin“. Kata aidin menggunakan huruf dal ( د ), bukan dzal ( ذ ), begitu juga kata faizin menggunakan huruf zay ( ز ), bukan dzal ( ذ ).

Dari segi makna, tentu berbeda; ‘aidin berarti orang yang kembali, sementara aidzin bisa dimaknai sebagai orang yang mencari perlindungan; faizin berarti orang yang menang, sementara faidzin tak (belum) ditemukan maknanya dalam perbendaharaan kosakata Arab.

Persoalan titik dalam bahasa Arab memang cukup menentukan perubahan makna. Mungkin di antara sahabat ada yang pernah menonton sinetron Para Pencari Tuhan saban sahur sepanjang Ramadan ini. Di salah satu adegannya digambarkan bagaimana kata Ar-Rahim yang dilambangkan dengan الرحيم,  tanpa sengaja bertambah titik pada huruf h sehingga menjadi الرجيم (ar-rajim), yang mana maknanya menjadi berubah jauh, yakni dari Yang Maha Penyayang berubah menjadi Yang Maha Terkutuk. Persoalan yang tidak sepele bukan?

So, bila nanti sahabat akan menuliskan ucapan selamat lebaran, hendaknya menulis “Minal ‘Aidin wal Faizin” ya.. 🙂

2. SMS/BBM Lebaran

Sudah menjadi kelaziman bahwa kita akan mengirim ucapan selamat lebaran ke handai taulan setiap jelang lebaran melalui SMS maupun BBM. Tidak ada yang salah dengan tradisi baru tersebut. Hanya saja, belakangan terkesan bahwa tradisi itu sekedar basa-basi, tidak ada sentuhan personal di dalamnya. Bukankah maksud pengiriman pesan itu untuk memintakan maaf atas segala kesalahan. Jika hanya sambil lewat, tentu terasa tidak sungguh-sungguh bukan? Hasilnya, sang penerima sms atau bbm itu pun menjawabnya asal lewat juga.

Maka, untuk menghindari kesan tidak tulus, aku sarankan agar ketika mengirimkan sms/bbm itu untuk membubuhkan nama kerabat yang kita tuju dalam pesan tersebut.

Contoh:

Slmt Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Mhn maaf atas segala kesalahan. Minal ‘aidin wal faizin, smg kita menjadi pemenang sejati.

Akan terasa kesan yang sangat berbeda jika menjadi seperti ini:

Aslmkm.. Om Nh, selamat lebaran ya.. Mhn maaf atas segala kesalahan. Minal ‘aidin wal faizin, smg kita menjadi pemenang sejati (vizon)

Bagi pengguna Blackberry, kalau bisa dihindari mengirim pesan massal (broadcasting). Sangat terasa ketidaksungguhannya. Memang benar bahwa ketulusan itu hanya kita yang tahu, namun sesungguhnya, pesan yang disampaikan secara tulus ataukah asal jadi, itu cukup bisa dirasakan dari bentuknya.

So.. Bila nanti sahabat mau mengirimiku SMS atau BBM lebaran, jangan lupa sebut namaku ya.. (yang mau ngirim siapaaa…?) 😀

Begitulah catatan kecil yang selalu kurasakan setiap kali Hari Raya Idul Fitri akan menjelang..
Semoga bermanfaat..

.

mengukur ketulusan

Seorang sahabat melontarkan pertanyaan lebih kurang seperti ini:

“…apakah tolak ukur kualitas permohonan maaf? agar maaf itu senantiasa tulus, bukan karena kultur, formalitas sebuah moment, atau sekedar menu utama Idul Fitri, bahkan rutinitas jelang Ramadhan?…”

Secara bercanda, aku jawab seperti ini:

“…tolok ukurnya adalah hati si pemohon maaf itu sendiri.. dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati, siapa yang tahu? bagi saya, mau tulus atau tidak, mau karena kultur atau bukan, jika ada orang yang meminta maaf, berikan saja, toh gratis ini.. 🙂 “

Permintaan maaf adalah hak setiap manusia. Dalam terminologi Al-Quran, kata maaf diterjemahkan melalui kata “al-‘afwu (العفو). Kata tersebut terulang sebanyak 34 kali dalam ayat-ayat al-Quran, antara lain:

Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syura [42]: 40)

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24): 22).

Menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, “Tiada maaf bagimu”, karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt.

Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa ketulusan bukanlah syarat yang patut dipertanyakan dari seseorang yang meminta maaf. Ketulusan berada pada wilayah abu-abu yang sulit untuk kita lihat dengan mata telanjang. Ia merupakan bahasa hati dan hanya akan dirasakan oleh hati juga.

Dewasa ini, permohon maaf di kalangan umat Islam menemukan bentuk baru. Pada momen-momen seperti menjelang Ramadhan atau di hari raya Idul Fitri dan belakangan juga menjelang malam Nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), umat Islam di negara kita ramai-ramai menyampaikan permohonan maaf kepada handai taulan, sanak keluarga dan sahabat-sahabat di mana saja berada. Caranya banyak macam, dan yang ngetrend saat ini adalah melalui sms massal, BBM broadcasting atau menulis di status Facebook. Sebuah cara yang tentu praktis dan bisa menjangkau banyak kalangan hanya dengan satu klik.

Salahkah cara demikian?

Menurutku, tidak ada yang salah. Sebab, itu hanyalah cara, bukan esensi. Inti dari permohonan maaf adalah ekspresi yang benar-benar keluar dari hati. Dan yang bisa mengetahui kadarnya, apakah tulus atau sekedar mengikuti trend, itu hanya si pengirim pesan yang tahu. Oleh karenanya, aku sangat menyarankan agar ketika kita mengirimkan pesan permohonan maaf melalui aneka media tersebut, hendaklah diikuti dengan ketulusan hati. Dengan demikian, insya Allah permohohan maaf kita tidak berlalu dengan sia-sia dan dianggap orang sebagai rutinitas belaka.

Karena ketulusan tersebut hanya kita yang tahu, maka untuk mengukurnya juga hanya kita yang bisa. Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita jadikan untuk mengukur ketulusan kita dalam melontarkan permohonan maaf tersebut, yakni:

  1. Disampaikan dengan sungguh-sungguh, copy-paste adalah indikasi ketidaksungguhan.
  2. Tidak mengharapkan balasan apapun dari manusia, balasan yang diharapkan hanyalah pahala dari Allah SWT.
  3. Dilakukan dengan ikhlas, tanpa tendensi apapun, tidak ada paksaan maupun niat terselubung di baliknya, dorongannya adalah dari dalam diri sendiri, bukan dari yang lainnya.

So.. apakah masih enggan memberi maaf kepada orang lain dan terus mempertanyakan ketulusannya? Maafkan sajalah, tidak ada ruginya, bukan? 🙂

sks, jangan ditiru..!

Meski tidak suka, tapi aku sering sekali melakukan SKS, yaitu sistem kebut semalam alias mengerjakan sesuatu pada detik-detik terakhir batas waktu yang ditentukan. Apa yang dikerjakan secara terburu-buru tersebut biasanya memang jadi, tapi hasilnya tidak maksimal. Selalu saja ada kekurangan di sana-sini. Penyebabnya, tentu kurangnya waktu untuk mengevaluasi hasil pekerjaan tersebut.

Sebagai contoh paling anyar adalah ketika aku berpartisipasi dalam giveaway yang diadakan oleh Uni Evi beberapa waktu lalu. Tulisan berjudul “Dengarkan Curhatku“, adalah hasil dari SKS ini. Aku mengerjakannya sangat kilat, karena baru mengetahui event tersebut di hari terakhir penyelenggaraan melalui postingan di blog Bundo Adel berjudul “Batang Anau di Belakang Rumah“. Terengah-engah aku menyelesaikan tulisan tersebut dan setelah submit, ada rasa tidak puas dengan hasilnya.

Nah, satu lagi hasil kerja SKS ini yang baru saja aku lakukan adalah mengirim tulisan untuk diikutkan dalam proyek buku warung blogger yang digagas Pakde Cholik. Meski informasi tentang proyek buku ini sudah dikumandangkan sejak  bulan Februari 2013 yang lalu, namun aku baru mengirimkannya kemarin, tanggal 27 Mei 2013, padahal batas akhirnya adalah 31 Mei 2013. Benar-benar sebuah perilaku yang tak patut untuk ditiru.

Oya.. Apakah teman-teman sudah ikutan dalam proyek buku tersebut? Atau malah belum mengetahuinya? Info selengkapnya bisa dibaca di: http://proyekbukuwb.wordpress.com. Kalau mau ikutan, masih ada waktu lho.. 🙂

Sesungguhnya, aku sudah sangat berusaha agar perilaku SKS ini tidak kulestarikan, namun entah kenapa, selalu saja ada cela untuk melanggarnya.

Apakah sahabat juga punya kebiasaan SKS? Yuk kita mulai kurangi dari sekarang.. Pekerjaan yang direncanakan dengan baik dan kemudian dieksekusi dengan tenang, pastilah hasilnya akan paripurna, bukan? “)

*postingan ini sengaja dibuat sebagai pelecut bagi diriku sendiri*

dear papa-mama

Sahabat masih ingat dengan buku Dear Papa dan Dear Mama yang digagas oleh Lala Purwono dan Meity Mutiara beberapa waktu yang lalu, bukan? Bagi yang belum tahu, sila baca tulisanku dengan judul Surat Untuk Papa dan Surat Untuk Mama. Yak.. Kedua buku tersebut merupakan buku keroyokan dari banyak penulis yang berisikan surat cinta dari seorang anak kepada Papa dan Mamanya.

Dear Papa terdiri dari 6 seri (sekitar 300 surat) dan Dear Mama terdiri dari 10 seri (sekitar 500 surat). Buku-buku tersebut, diterbitkan dan dijual secara resmi oleh penerbit indie, nulisbuku.com.

Beberapa bulan setelah kedua buku tersebut diluncurkan, tiba-tiba Lala dan Meity menghubungiku via email dan mengatakan bahwa buku Dear Papa dan Mama dilirik oleh penerbit Gradien Mediatama. Mereka berencana akan menerbitkan kembali kedua buku tersebut namun mengompresnya menjadi masing-masing satu buku saja. Oleh karenanya, ratusan tulisan yang ada di kedua buku itu akan disaring menjadi 38 tulisan untuk Dear Papa dan 50 tulisan untuk Dear Mama. Alhamdulillah, kedua tulisanku terpilih untuk berada di dalam kedua buku tersebut.

Dan… beberapa hari yang lalu, Meity memberitahukan bahwa kedua buku tersebut sudah resmi diluncurkan dan beredar di toko-toko buku seluruh Indonesia, terutama di jaringan toko buku Gramedia. Ini dia penampakannya…

 

Senang..? Tentu saja.. 🙂

Bagiku pribadi, ini sebuah persembahan spesial yang bisa kuberikan kepada keduaorangtuaku. Ekspresi cintaku kepada mereka, terdokumentasikan dengan baik dalam sebuah buku yang bisa mereka baca setiap saat. Melihat kedua buku tersebut bersanding, aku seperti melihat Papa dan Mamaku duduk berdua dengan senyum penuh kebahagiaan.

Terlepas dari pendapat pribadiku tentang buku ini, aku sangat menyarankan sahabat semua untuk bisa memilikinya. Sebab, sebagaimana niat awal dari penerbitan yang dulu, buku ini pun tetap bertujuan amal. Yakni, seluruh royaltinya akan disumbangkan ke yayasan sosial. Secara berkala, royalti buku-buku tersebut dilaporkan melalui blog Dearbooks Project.

So… mari miliki kedua buku ini. Sambil belanja kita beramal. Cuma Rp. 40.000 untuk Dear Papa dan Rp. 48.000 untuk Dear Mama. Tidak merobek kantong kan? 🙂

selamat datang 2013

Selamat Datang 2013

Meski sayapku kecil
Meski kapalku tidak seberapa besar
Meski puncak masih terlihat jauh
Namun dengan semangat dan kerja keras
Kuyakin kan sampai di tujuan
Tidak seberapa lama
Lagi…

Tahun baru, Semangat terbarukan..

Selamat Tahun baru 2013, sahabat
Kita songsong hari yang baru
Dengan semangat baru…

🙂 🙂 🙂

menjadi benar, bukan merasa benar

Seringkali BBM broadcasting yang masuk tak kuindahkan, karena isinya kebanyakan hoax semata. Seperti yang pernah kuceritakan dalam tulisan bertajuk, “Beragama dengan Ilmu“. Tapi kali ini, ada sebuah broadcating yang menarik perhatianku dan sangat mengena sekali di hati. Mari kukutipkan untuk sahabat semua:

Kisah Nyata Polisi Yang Menilang Sahabatnya

Priiiiit..!! Tolong tunjukkan SIM STNK.nya..!!!, kata Polantas’.

Dengan wajah kesal si pengemudi berkata, “Maaf pak, saya tahu telah menerobos lampu merah, tapi tolong pak jangan ditilang, saya buru-buru karena anak saya ulang tahun”. Sambil cemas pengemudi yang bernama Ari itu menatapi wajah polisi tersebut, yang ternyata adalah teman SMA-nya, ” Lho.. kau kan si Tono, kita teman SMA dulu”, sambut Ari dengan nada lega. Tapi Tono hanya senyum sambil tetap bersikukuh meminta SIM-STNK si Ari.

Dengan wajah kecewa Ari pun memberikan SIM-STNK-nya kemudian langsung masuk ke dalam mobil & menutup kaca pintunya rapat-rapat. Sementara Tono menulis sesuatu di kertas.

Beberapa saat kemudian, Tono mengetuk kaca pintu mobil Ari sembari memandangi wajah Tono penuh kecewa. Ari pun membuka kaca pintu mobilnya yang hanya  cukup untuk selipkan kertas tilang saja. Kemudian Tono memberikan kertas lewat kaca yg terbuka hanya sekitar 2 cm itu, lalu ia pergi tanpa kata.

Dengan kesal, Ari membuka kertas tersebut. Tapi, “Hei, apa ini?”, bertanya Ari dalam hati, “Kenapa SIM-STNK saya dikembalikan dan ini kertas apa..?”

Ari lalu membuka kertas pemberian Tono tersebut dan ternyata Tono tidak menilangnya, tapi justru menulis surat yang isinya:

“Hai Ari, dulu saya punya anak satu-satunya, tapi kini dia telah meninggal ditabrak oleh penerobos lampu merah. Pengemudinya dihukum 3 bulan. Setelah bebas, ia dapat berkumpul dengan keluarganya dan memeluk anaknya. Sementara saya, tidak dapat lagi melihat apalagi memeluk anak saya. Maafkan saya Ari, kau hati-hati di jalan, titip salam buat keluargamu dan selamat ulang tahun buat anakmu!”

Langsung Ari keluar dari mobilnya hendak menjumpai Tono tapi Tono sudah pergi.

Sepanjang jalan mengemudi, rasa menyesal pun menghantui, Ari berharap salahnya dapat termaafkan… 

Tak selamanya pengertian kita sama dengan pengertian orang lain. Terkadang suka kita justru duka buat orang lain. Mari saling menghargai sesama hidup..

Terlepas dari cerita di atas apakah hoax atau bukan, tapi aku sepenuhnya setuju dengan inti cerita tersebut.

Secara natur, manusia memang memiliki pandangan yang terbatas, ia hanya mampu melihat apa yang ada di depan matanya. Namun, Allah menganugerahinya mata hati yang mampu menerobos berbagai tembok pembatas. Tingkat ketajaman mata hati itu sangat tergantung dari kerendahan hati dan kedalaman ilmu seseorang. 

Seseorang dikatakan arif bijaksana bila ia memiliki ketajaman mata hati. Menjadi benar itu penting, tapi merasa benar itu tidak perlu. Kearifan akan membuat seseorang menjadi benar, bukan merasa benar. Ari dalam cerita di atas adalah gambaran orang yang merasa benar.

Sahabat.. Mari terus memperbaiki diri untuk bisa menjadi benar, agar tidak selalu merasa benar.. 🙂

the power of we

“Bersama, kita bisa”, adalah slogan yang biasa kita baca dan dengar. Makna dari slogan tersebut, sangatlah benar, namun apakah sudah kita laksanakan dan buktikan dalam kehidupan sehari-hari? Tentu hanya kita sendiri yang tahu jawabannya. Aku sendiri, sudah sering melihat dan mengalami bukti dari slogan tersebut. Setidaknya, ada 3 moment penting yang pernah kualami berkaitan dengan hal ini, yakni:

1. Mushalla Al-Jamaah

Sebagian sahabat mungkin pernah membaca tulisanku berjudul Pulkam6: Pekanbaru. Di situ aku menceritakan tentang sebuah mushalla di daerah Rumbai, Pekanbaru, Riau yang didirikan oleh masyarakat secara bergotong-royong pada tahun 1998-1999. Aku, sebagai bagian dari warga komplek tersebut ketika itu menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat bahu membahu mewujudkan sebuah mushalla kecil di lingkungan mereka.

Kerjasama yang dibina terwujud dalam semua hal, mulai dari mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk pembelian sepetak tanah sampai sumbangan berupa tenaga tukang bangunan. Pendeknya, semua komponen masyarakat memberikan apa yang mereka miliki, materi maupun tenaga. Hasilnya, seperti yang bisa sahabat semua baca dalam tulisanku tersebut, sebuah mushalla kecil bernama “Al-Jamaah” berdiri dengan gagahnya.

Sebagaimana namanya, al-Jamaah berarti “bersama”, mushalla tersebut merupakan representrasi dari nilai-nilai kebersamaan yang dimiliki oleh masyarakat tempat tinggalku dulu itu.

2. Panti Asuhan An-Najwa

Di Kweni, Bantul-Yogyakarta, tempat tinggalku sekarang ini, terdapat sebuah panti asuhan yang juga didirikan berkat kerjasama apik dari warganya. Tentang panti tersebut, ada beberapa tulisan yang pernah kuturunkan di blog ini, di antaranya yang berjudul Yatimkah Dia?.

Kerjasama tersebut sangat nampak kekuatannya ketika pertama kali rencana pendirian panti tersebut diluncurkan. Ketika itu, pengurus masjid An-Najwa menyampaikan kepada jamaah bahwa ada sebidang tanah di belakang masjid yang akan dijual. Harganya sekitar Rp. 250.000.000. Pengurus berniat membelinya dan akan mendirikan di atasnya sebuah panti asuhan.

Rencana tersebut mendapat sambutan baik dari jamaah. Dalam hitungan bulan, uang untuk pembelian tanah tersebut sudah terkumpul dari sumbangan para jamaah. Dan tanah seluas 1200 m itu pun bisa dimiliki masjid untuk kemudian didirikan sebuah panti asuhan bagi anak yatim dan dhu’afa di sana.

Sekali lagi, kebersamaan yang dibangun oleh masyarakat melahirkan sebuah kekuatan besar yang jika dikerjakan sendiri akan terasa berat serta menghabiskan waktu yang cukup lama.

3. Classic Cash

Dari beberapa organisasi kealumnian yang aku ikuti, organisasi kealumnian Pondok Modern Gontor angkatan 1991 (Classic’91) adalah yang sangat menginspirasi menurutku. Bukan karena itu adalah angkatanku, tapi karena kebersamaan yang mereka bina patut untuk disimak.

Sebuah motto yang dipatri dalam sebuah prasasti ketika yudisium pada 1 April 1991 yang lalu, memberi pengaruh besar dalam persahabatan kami. Coba lihat dalam gambar ini:

Prasasti bersejarah dan motifatif

“Tak ada aku, yang ada kita”, sebuah kalimat motifatif yang terus mewarnai persahabatan kami hingga saat ini. Dan kalimat itu terbukti ampuh, ketika sekitar awal 2011 yang lalu kami meluncurkan sebuah gagasan untuk menyantuni anak-anak yatim dari sahabat-sahabat kami yang sudah berpulang ke haribaan Sang Khaliq, langsung mendapat respons positif dari kawan-kawan sesama alumni Gontor angkatan 1991.

Idenya sebetulnya sederhana, yakni ingin ikut sedikit meringankan beban keluarga dari sahabat-sahabat yang sudah almarhum tersebut. Anak-anak yatim tersebut, kami panggil sebagai “ponakan” yang jumlahnya ada 23 orang. Kami berniat ingin memberi sedikit “uang jajan” setiap bulan bagi masing-masing mereka. Dari mana sumbernya? Tentu dari urunan kawan-kawan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara. Kegiatan ini, kami beri judul “Classic Cash”.

Poster profokatif yang disebar melalui facebook

Awalnya muncul keraguan akan keberlangsungan program ini. Benar bahwa di awal peluncuran, ada banyak sumbangan yang kami peroleh, namun apakah ia akan terus konsisten setiap bulannya? Sementara, kita berharap agar santunan tersebut terus berlangsung setiap bulan, tidak terputus sama sekali.

Keraguan itu alhamdulillah sampai saat ini tidak terbukti. Sejak Mei 2011 yang lalu, secara konsisten, sumbangan dari kawan-kawan terus berdatangan, sehingga cadangan dana untuk santunan bagi para ponakan kami tersebut dapat terus diwujudkan. Kami bergerak sesuai kemampuan yang dimiliki. Sebagai contoh, kami pernah mendapat sumbangan cukup besar dari salah satu BUMN lantaran salah seorang dari kami bekerja di situ.

Selepas Idul Fitri 1433 yang lalu, dalam acara Halal bi Halal, yang kami laksanakan di Kota Tua-Jakarta, sebagian ponakan kami tersebut datang beserta Ibu mereka. Kebahagiaan dan keharuan bercampur aduk menjadi satu dalam acara tersebut. Namun, dari semuanya, kami semakin menyadari, bahwa sebuah rencana besar akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama.

 Halal bi Halal Classic’91 di Kota Tua, Jakarta

Begitulah.. Dari apa yang kualami tersebut di atas, aku semakin tahu akan makna sebuah kebersamaan. Seberat apapun beban, jika dipikul bersama-sama, akan terasa ringan. Kebersamaan akan melahirkan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Sejarah bangsa kita pun mencatat kekuatan kebersamaan ini. Berkat kekuatan itu lah bangsa kita bisa merdeka dari penjajahan pada 1945 yang lalu, dan berkat kekuatan bersama itu pulalah kita bisa bebas dari tirani yang berkuasa selama 32 tahun pada 1998 yang lalu.

Hanya saja, entah mengapa, “the power of we” saat ini diartikan bukan sebagai “kekuatan kita” tapi “kekuatan kami”. Ya.. saat ini, komponen bangsa ini, berjuang untuk kelompoknya masing-masing, bukan untuk bangsa ini secara utuh. Aku sering bertanya dalam hati, apakah perlu kita dijajah dan diperbudak lagi oleh bangsa lain sehingga kita bisa kembali bersatu dan melahirkan kekuatan yang maha dahsyat yang bernama kebersamaan itu?

Entahlah…

 Tulisan ini dipersembahkan untuk “Blog Action Day 2012