Sukses Menjadi Mak Comblang

Melalui fasilitas timeline memories-nya, Facebook mengingatkanku akan sebuah tulisan yang kuturunkan persis di hari ini, 13 Januari 2015, setahun yang lalu. Tulisan tersebut berjudul “Menjadi Mak Comblang“. Yakni tulisan mengenai upaya kami sekeluarga untuk “menjodohkan” dua sosok berbeda bangsa dan tentunya berbeda jenis kelamin, agar mereka bisa bersatu dalam sebuah ikatan cinta. #halah 😀

Laporan dari Facebook tersebut membuatku tersadar, kalau aku belum menceritakan hasil dari sidejob sebagai mak comblang tersebut. Mau tau kan hasil kerja kami setahun yang lalu itu? Hahaha…

Emangnya siapa sih yang dicombaling?

Ini mereka…

kucing persia

Kucing…?

Iya, kucing…  😀

Paddington si kucing Persia dan Kitten si kucing kampung, kami pertemukan untuk bisa saling memiliki satu sama lain. Cukup sulit di awalnya, karena mereka malu-malu kucing gitu.. (kan emang kucing.. 😉 ). Namun ternyata, si Paddington berhasil menaklukkan Kitten. Itu terbukti dengan lahirnya anak-anak kucing ini..

kucing persia

Imut dan menggemaskan bukan?

Dari kelima anaknya tersebut, ada dua ekor yang persis seperti Paddington, yakni yang berwarna keemasan. Kami menamakan keduanya dengan Ari dan Zona, kalau digabung menjadi Arizona. Terilhami dari novel yang ketika itu aku tengah baca, “Zona @Tsunami” yang menceritakan tentang kisah anak kembar bernama Ari dan Zona. Sementara yang belang tiga diberi nama Mona, yang putih Snowy dan hitan-putih Peezo.

Anak-anak kucing tersebut memang tidak kami kurung dalam kandang. Kami biarkan mereka bermain bebas di halaman rumah. Pada sore hari baru dimasukkan ke dalam kandang. Namun, kami lupa kalau kucing-kucing tersebut ternyata cukup cantik dan bernilai jual tinggi. Zona dan Mona tetiba menghilang ketika usia mereka sudah memasuki 3 bulan. Kami coba mencarinya ke mana-mana, sama sekali tidak ditemukan. Sampai pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa kemungkinan besar keduanya diambil orang. Semoga saja niat orang tersebut untuk memeliharanya, bukan untuk kemudian menjualnya ke pasar hewan.

eye spyZona yang menghilang

Sekarang mereka sudah mulai besar. Dan di antara ketiga anak kucing yang tersisa, Ari nyaris memiliki kemiripan dengan Paddington. Cukup unik bentuknya. Wajah seperti kucing lokal kebanyakan, tapi tubuh dan bulunya seperti kucing persia lainnya.

And this is it, kucing ras baru; Ras Kweni.. 😀

arizona

Demikianlah postingan geje kali ini. Semoga bermanfaat.. 😀

dealova

Ahad, 7 September 2014 yang lalu, diselenggarakan Konser Amal Peduli Palestina di XT Square Yogyakarta dengan menghadirkan Opick sebagai bintang utama. Ada beberapa lagu yang dilantunkan Opick. Hampir semuanya aku suka, dan yang paling mengena di hati adalah Dealova.

Entah sudah berapa kali kudengarkan lagu ini. Tapi tetap saja merasuk ke dalam kalbu setiap kali mendengarkanya kembali, apalagi menontonnya secara live oleh sang penyanyi sekaligus penciptanya.

Just enjoy the video, my friends… 🙂

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati telah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oo bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang ku hela kau selalu ada
Kau selalu ada, kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi, sepi..

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang ku hela kau selalu ada

Kau selalu ada, kau selalu ada
Kau selalu ada, kau selalu ada

ini bukan soal waktu..!

Sabtu pagi, saat yang paling dinikmati oleh Bardi, karena ia bisa bersantai di pagi hari, hal yang tidak mungkin dia lakukan pada hari-hari kerja. Duduk manis di teras belakang rumah ditemani secangkir teh dari Purwakarta dan beberapa potong snack untuk sarapan, menjadi momen paling mengasyikkan baginya.

Untuk menambah kesempurnaan aksi leyeh-leyeh-nya itu, Bardi pun mulai berselancar di jagat maya melalui tablet pc ukuran 7 inch yang dibelinya dari menyisihkan sebagian gajinya. Bagi Bardi, uang akan semakin mempesona bila ia bisa dimanfaatkan secara baik dan benar, salah satunya dengan menabung dan memanfaatkannya untuk memenuhi gaya hidup atau berwisata ke tempat-tempat yang diminatinya.

“Hei, Bung.. ke mana saja, Kau?”, sebuah pesan masuk ke inbox facebook-nya.

Kening Bardi berkerut, dia tidak kenal dengan nama si pengirim.

“Goldy Sang Petualang..! Ah.. siapa pulak ini..! Tapi, dari caranya menyapa, sepertinya ia orang yang kukenal”, bisik Bardi.

Bardi pun menempelkan jari telunjuknya ke nama sang pengirim pesan tadi dan dalam sekejap halaman facebook “Goldy Sang Petualang” pun muncul. Ia perhatikan satu persatu status dan foto yang diunggah di sana, senyum Bardi pun merekah. Dengan sigap ditekannya nomor ponsel seseorang yang sangat ia kenal.

“Woiii Ghofur… sejak kapan kau berganti nama menjadi Goldy?”

“Hahaha… Dasar kudet..”

“Apaan tuh kudet?”

“Kurang update.. hahaha…”

“Hahahaha..! Emangnya lagi terdampar di mana dirimu sekarang?”

“Di Lampung.. Kemarin aku habis mengunjungi Museum Lampung, melihat berbagai peninggalan sejarah di sana, termasuk diorama meletusnya Gunung Krakatau beberapa ratus tahun lalu itu”.

“Enak ya, jalan-jalan terus kerja kau”

Belum sempat Ghofur alias Goldy menjawab, tiba-tiba sebuah suara memanggil Bardi dari dalam rumah.

“Bardi, kemari sebentar, tolong Ibu”

Bardi pun memutuskan hubungan teleponnya dengan Ghofur dan berjanji akan melanjutkan lagi obrolan mereka nanti. Panggilan sang ibu tentulah jauh lebih penting dari obrolan asyik dengan sahabatnya tersebut. Apalagi di rumah tersebut hanya tinggal Bardi dan sang ibu. Bagi Bardi, apapun untuk ibu, ia akan lakukan dengan sepenuh hati. Tidak ada istilah “NO TIME” untuk beliau.

 “Ada apa, Bu?”

“Tolong kamu timba air dari sumur ya, Ibu mau masak rendang kesukaanmu”

“Lho, memangnya pompa air kita rusak, Bu?”

“Enggak.. cuma listriknya padam”

“Oalah.. Masa di Hari Pelanggan Nasional begini listrik masih padam juga? Hadeh..!”

Selesai membantu ibunya, Bardi pun melanjutkan kembali obrolannya dengan Ghofur.

“Fur.. sampai kapan kau terus berpetualang? Tidak letihkah kau dengan semua ini?”

“Entahlah, Bar.. Aku hanya mencoba mencari keasyikan tersendiri dengan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga pengalaman pahit antara aku dan dia, pelan-pelan dapat kulupakan”

“Ayolah Fur.. Sudah hampir 4 tahun kau melewati ini semua. Sudah saatnya kau lihat ke depan kalau mau maju. Masa lalu tidak akan pernah bisa kau ubah, tapi masa depan, sangat bisa kau tentukan”.

“Hehe.. Tenang aja, Bung.. Sepertinya petualanganku ini akan segera berakhir”.

“Ah yang benar? Setahun yang lalu Kau juga bilang kayak gitu”

“Kali ini aku serius”

“Hmmm…”

“Beberapa bulan yang lalu aku mengunjungi Taman Sari, salah satu tempat wisata terkenal di Jogjakarta. Di sana aku berkenalan dengan seorang perempuan. Obrolan kami nyambung, karena kami sama-sama suka travelling. Cuma, karena dia pramugari udara, dia bisa berkunjung ke luar negeri secara gratis. Di antara tempat yang dia paling suka adalah Yokohama dan Los Angeles. Kami sudah menemukan kecocokan antara satu sama lain, dan berencana akan segera menikah”

“Wawww… co cwiiittttt…”

“Apaan sih…”

“Fur.. Aku senang mendengar ceritamu. Aku jadi paham sekarang, bahwa untuk menyembuhkan luka hatimu, bukan seberapa banyak waktu yang kau butuhkan, tapi seberapa besar usahamu untuk menuntaskannya. Semoga pilihanmu ini adalah jawaban dari doa-doamu selama ini. Aku mendukungmu.. Jaga kesehatanmu ya.. Sebab, sehat itu ternyata nikmat“.

“Terima kasih, Bardi.. Kau memang sahabat sejatiku.. Kau harus hadir kalau kuundang nanti ya”

“Tenang saja.. Aku pasti datang dengan sebuah kado istimewa”

“Kado apaan?”

Gendongan bayi…!”

“Bwahahaha…”

Bardi pun menutup obrolannya dengan Ghofur. Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Akhir pekan yang benar-benar istimewa.. 🙂

 

PS. Tulisan GeJe!, don’t try it at your blog..! 🙂

jam berapa sekarang?

Iseng-iseng kuperhatikan jam dinding di rumah. Ternyata, antara jam dinding yang di kamar dan ruang tengah berbeda. Kucoba lihat lagi jam di ponsel, juga berbeda dengan kedua jam dinding tersebut. Maka, kunyalakan komputer. Rupanya jam di komputer sama persis dengan jam di ponsel.

Lantas, mana yang benar?

Kalau menurut keterangan yang kubaca, jam di ponsel dan komputer biasanya akurat, karena diupdate secara otomatis. Namun, untuk membuat semakin yakin, iseng kucoba caritau dari inyiak gugel. Walhasil, ketemulah dengan website timeanddate.com.

Nah, bagi sahabat yang memerlukan keakuratan waktu, bisa lihat ke website itu, atau cek saja waktu di bawah ini:

Waktu Indonesia Barat (WIB):

http://free.timeanddate.com/clock/i3rq0loi/n108/tlid/fcfff/tcf90/pc9f0/ftbi/tt0/th1

Waktu Indonesia Tengah (WITA):

http://free.timeanddate.com/clock/i3rq0loi/n653/tlid/fcfff/tcf90/pc9f0/ftbi/tt0/th2

Waktu Indonesia Timur (WIT):

http://free.timeanddate.com/clock/i3rq0loi/n759/tlid/fcfff/tcf90/pc9f0/ftbi/tt0/th1

Semoga bermanfaat.. 🙂

logika anak kecil

Sahabatku bercerita tentang logika anaknya yang baru duduk di kelas 4 SD. Meski terkesan lucu, tapi patut juga untuk menjadi perhatian kita, terutama bagi para penggiat dunia pendidikan dasar, yakni para guru. Jangan sampai kita melestarikan kesalahan dan menganggapnya menjadi kebenaran.

Begini..

Kita tentu sering mendengar pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak“, bukan?

Pepatah tersebut lebih kurang mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan aib diri sendiri dan berusaha memperbaikinya. Jangan sampai kita sibuk dengan urusan orang lain. Segala keburukan orang kita sangat tahu, sementara keburukan diri sendiri, malah luput dari pengetahuan kita. Pengibaratan dalam pepatah di atas menunjukkan bahwa aib orang lain yang sangat kecil pun kita bisa sangat tahu, sementara aib besar yang ada pada diri kita sendiri, kita tidak menyadarinya. Ini sangat berbahaya.

Lantas, apa yang menjadi masalahnya?

Bagi anak sahabatku itu, pepatah tersebut aneh.

Di mana letak anehnya?

Simak penuturannya…

“Yang benar itu adalah, semut di seberang lautan tampak, bukan kuman. Sebab, jangankan di seberang lauutan, meski terletak di depan mata kita sekali pun, kuman tetap saja tidak kelihatan.!”

Haha…  Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan anak sahabatku tersebut. Kuman bukannya hanya bisa dilihat menggunakan kaca pembesar atau mikroskop? Meski ditempel di depan mata kita, ya tetap saja tidak kelihatan. Ah, cerdik juga tuh anak.. 😀

.

makelar surat cinta

Rasa rindu yang membucah kepada emak dan adik semata wayangku sudah mencapai titik kulminasinya. Tiga tahun tidak bertemu, rasanya sudah tak kuat lagi bagiku untuk menahannya. Maka, begitu pintu rumah sederhana kami dibuka, langsung kupeluk erat tubuh seorang gadis yang sudah beranjak remaja yang membukakan pintu bagiku. Kami berpeluk erat, saling melepas rindu. Kerasnya hidup di Jakarta, benar-benar telah membelengguku untuk bisa selalu berada bersama orang-orang terkasih.
Emak di mana, dik?”, tanyaku.
Masih di rumah Bu Prapto, Mas
Kamu masih suka membantu emak bekerja di rumah Bu Prapto?
Masih, mas.. Sore hari aku menyetrika pakaian mereka sekeluarga“.
Semenjak kepergian bapak ke haribaan Sang Khalik untuk selamanya, emak harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecil kami, dan itu pulalah yang menjadi alasanku hingga terdampar di Jakarta.

Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah, dan mataku tertumpu pada setumpuk surat bersampul coklat di atas bufet butut di salah satu sudut rumah kami. “Apa itu, dik?”, tanyaku. Narti gelagapan dan dengan terbata-bata dia pun menjawab,
Itu adalah surat-surat cinta yang tidak pernah kukirim kepada Mas Abdul, Mas“.
Mas Abdul, anak Bu Prapto yang perwira itu? Kamu jatuh cinta padanya?
Iya Mas. Tapi kamu pasti tahu, cintaku takkan mungkin berbalas. Maka, surat-surat ini kusimpan saja dan nikmati sendiri, sebagai pelipur lara“.
Boleh kubaca?
“Mmmm… Boleh.. tapi jangan ditertawakan ya.. Malu aku..

Tak dapat kubendung aliran hangat di sudut mata setiap membaca bait demi bait surat cinta yang ditulis adikku untuk sang pujaan hati. Pandai benar dia merangkai kata-kata indah. Andai aku dikirimi surat seperti itu oleh seorang gadis, pastilah aku sudah melayang jauh terbang tinggi bersama mimpi, terlelap dalam lautan emosi..
Dik, surat-suratmu aku pinjam ya..
Untuk apa, mas?
Ini tidak boleh disia-siakan..
Maksudmu..?
Aku menyeringai, tersenyum penuh arti, sebuah rencana besar tersusun rapi di benakku…

*************************

Dering telepon di meja, mengagetkanku. Lamunanku buyar. Aku nyaris terjatuh dari kursi yang kududuki. Aku buru-buru mengangkat telepon tersebut.
Halo.. Dengan biro surat cinta “Kapten Bhirawa” di sini.. Tidak berhasil menggaet pasangan, uang kembali… Ada yang bisa dibantu?“, ujarku membuka pembicaraan sambil berpromosi.
Saya berminat menggunakan jasa situ untuk membuatkan surat cinta ke seseorang, Mas
O tentu bisa.., dengan sangat senang hati…. Maaf, ini dengan siapa?”
“Saya Hafiz, Mas..”
“Boleh tau, untuk siapa, Mas?”
“Narti…  
Azizah Sunarti di Surabaya….
Gubraaakkkk….!!! Aku benar-benar terjatuh dari kursi yang kududuki..

.

.

(postingan super geje dan maksa untuk disambung-sambungkan dengan postingan Om Nh yang lagi tertambat pada sebuah papan nama kios dan Orin yang termangu di hari kelima dan samasekali tidak layak diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest:Senandung Cinta)

mosasaurus

Aku tengah serius-seriusnya membaca artikel-artikel yang ikut dalam kontes Indonesia Bersatu bertajuk Cara Mencegah dan Menanggulagi Tawuran yang diadakan Pakde Cholik untuk memberi penilaian, tiba-tiba terganggu oleh suara tawa dua bocah kecilku, Ajib-Fatih. Mereka tampak sedang memainkan sesuatu dan terlihat asyik sekali. Suara tawa mereka yang lepas, menggodaku untuk memperhatikan.

“Eh, kok gak belajar sih Ajib, Fatih..?”

“Lha.. ini lagi belajar”

“Belajar apaan? Papa lihat kalian ketawa-ketawa terus dari tadi”

“Hayyah Papa ni gak gaul.. Kita tu lagi main eat bulaga tauk..”

Ouw.. ternyata mereka sedang bermain tebak kata seperti di sebuah acara televisi bernama Eat Bulaga Indonesia. Dalam salah satu segment-nya, ada acara bernama Indonesia Pintar. Di situ, ada dua peserta yang duduk berhadapan, mereka mengenakan helm yang di atasnya tertulis sebuah kata. Secara bergantian mereka akan menebak kata yang tertulis di atas helm mereka masing-masing dengan menanyakan clue-nya kepada kawan di depannya. Kira-kira seperti ini penampakannya:

Eat Bulaga Indonesia. (gambar dipinjam dari sini)

Nah, Ajib dan Fatih memainkan permainan ini. Tentu tanpa helm.. 🙂 Menebak kata dengan berbagai petunjuk tersebutlah yang mereka katakan sebagai “lagi belajar”, hehe..

Tertarik dengan keceriaan mereka, akupun ingin ikutan.

“Papa ikut main dong..”

“Ayokk.. siapa takut.. Tapi kalau kalah gak boleh nangis lho..”

“Enak aja..”

“Ayok.. sekarang Papa duluan yang kasi tebakan”

Maka, mulailah kami bermain. Seru juga rupanya. Ajib dan Fatih berdua melawan aku sendirian. Secara bergantian kami melontarkan tebakan. Ada yang tertebak dan ada yang tidak. Paling seru adalah ketika waktu hampir habis. Semakin heboh menjawabnya..

Hampir satu jam kami bermain, tiba-tiba Fatih muncul isengnya. Kulihat dia membisikkan sesuatu ke telinga Ajib. Sambil cekikan mereka saling berbisik. Bikin penasaran…!

“Ayo.. sekarang giliran Papa yang nebak..”

“Oke… “

“Mulai, Pa…”

“Makanan?”

“Tidak”

“Tumbuhan?”

“Tidak”

“Hewan?”

“Iya”

“Ada di kebun binatang?”

“Tidak”

“Ada di rumah kita?”

“Adaaaa….” (di sini mereka tertawa yang sangat mencurigakan)

“Kucing..!”

“Bukaaaan…”

“Apaan dong? Di rumah kita tidak ada lagi hewan selain kucing”

“Hahaha… Adaaaa…. Banyak malah…” (semakin mencurigakan)

“Kalian ngerjain Papa ya…”

“Enggak kok… Ayolah coba Papa pikirkan lagi baik-baik.. hahaha…”

“Hahaha… Kecoak…”

“Itu seranggaaaa….”

“Ya ampuuun…!” *tepok jidat*

“Ayo nyerah..!”

“Ya udah, nyerah… Jadi, hewan apaan yang ada di rumah kita selain kucing?”

“Mosasaurus…!!!”

“Hah…? Mosasaurus..? Hewan apaan tuh?”

“Papa mau tau…? Bentar ya..!”

Fatih pun bangkit dari duduknya dan beranjak menuju rak buku yang tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Diambilnya sebuah buku ensiklopedi anak. Sejenak, sudah terbentang di hadapanku sebuah halaman dari buku tersebut, terdapat di dalamnya sebuah gambar hewan purbakala.

“Ini dia mosasaurus itu, Pa..!”

Tampaklah sebuah hewan purba bernama mosasaurus. Yakni seekor hewan purba berbentuk kadal laut raksasa. Hewan ini memiliki rahang besar memanjang. Panjangnya mencapai 15 meter dan beratnya hingga 10 ton. Hidup sekitar 70-65 juta tahun yang lalu. Namanya berarti “kadal Meuse”, karena binatang ini ditemui didekat sungai Meuse (Latin Mosa + Yunani sauros kadal).

“Oalaaaah… ini kan gambar.. bukan hewan yang ada di rumah kita”

“Kan betul dia ada di rumah kita.. Nih, masih banyak lagi kawan-kawannya”, kata Fatih sambil membolak-balikkan halaman buku tersebut.

Hahaha… aku tak bisa membendung tawa lagi. Kami bertiga tertawa lepas. Benar-benar kena aku dikerjain dua bocah ini.

Sebetulnya itu tidak seberapa. Kalimat Fatih yang satu ini yang bikin aku tertawa kecut. Mau tau apa katanya?

“Makanya Pa… Kalau punya buku itu, dibaca… !”

Hahaha… ampuuunnn….. 😀