Pintar vs Cerdik

Dalam liburan akhir tahun lalu, salah satu permainan yang cukup menyita perhatian adalah rubik. Tentu sahabar sudah tahu permainan rubik tersebut bukan? Permainan ini sudah cukup lama, namun tetap menarik untuk dimainkan sampai kapan pun juga. Sampai sekarang, aku masih belum bisa memainkannya.

Satira yang pertama kali memulai kehebohan ini di rumah. Secara mengejutkan, ia menunjukkan keahliannya bermainan mainan berbentuk kubus tersebut. Tidak kurang dari tiga menit, ia sudah berhasil menyusunnya. Ternyata, di pesantrennya, permainan ini lagi ngehits. Hampir semua teman-temannya memainkannya. Senang juga melihat jari-jarinya dengan lincah memutar dan membolak-balikkan kotak-kotak kecil warna-warni itu.

Penasaran, aku pun menanyakan trik memainkannya. Dengan penuh semangat, Satira bersedia mengajarkannya. Pelan-pelan kuikuti instruksinya. Wuiih… ternyata rumit juga. Ada rumusnya, rupanya. Dan rumus itu, lumayan rumit. Perlu keseriusan dan ketekunan untuk bisa menghafalkan dan mengaplilkasikan rumus-rumus itu dalam permainan tersebut.

rubik

Baru kupahami sekarang, bahwa permainan itu ternyata ada rumus yang musti dipahami agar bisa berhasil. Selama ini, kukira hanya permainan biasa tanpa ada rumus. Benar juga kata orang-orang bijak bahwa segala sesuatu itu ada ilmunya. Tanpa ilmu, kita akan tersesat di belantara ilmu pengetahuan. Untuk itu, menjadi pintar adalah sebuah keniscayaan. Dengan ilmu, seseorang akan menjadi pintar. Ah.. ternyata aku kalah pintar dengan anak-anakku sendiri. Yo wis, rapopo.. 🙂

Ajib dan Fatih pun giat berlatih untuk bisa menyaingi kemampuan Satira.

“Ayo, siapa yang bisa ngalahin Uni, bisa kurang dari 3 menit, tak kasih hadiah”.

Ditantang seperti itu, tentu membuat semangat mereka menggelora. Namun, lama-lama mereka pun mulai bosan dan beralih ke permainan yang lain. Ah… dasar anak cowok, nggak sabaran.. 😀

Tetiba Fatih mendekatiku dan membisikkan sesuatu. Akupun setuju dengan apa yang dimintanya. Maka, jadilah video seperti ini..

Di video ini, Fatih menunjukkan kalau dia berhasil menyelesaikan permainan tersebut kurang dari satu menit!

Mau tahu reaksi Satira demi melihat video ini? Tentu saja dia tidak percaya.

“Masak sih Fatih bisa secepat itu?”

“Ya bisalah… kan pinter…”, jawab Fatih dengan ekspresi tabokable. 😀

Satira pun penasaran. Dicobanya menyelesaikan rubik itu dengan cepat. Namun, tetap saja belum bisa kurang dari satu menit. Rasa penasarannya terus bertambah. Dia coba lagi, lagi dan lagi. Akhirnya akupun kasihan melihatnya.

“Udah lah Tira.. Nggak usah penasaran gitu napa?”

“Abis geregetan melihatnya. Kok bisa Fatih secepat itu”

“Hehehe… dengerin ya Tir.. Jadi pintar memang perlu, tapi kita juga harus cerdik. Sebab, seringkali orang pintar dikalahkan oleh orang cerdik”

“Maksud Papa, Fatih itu cerdik?”

“Iya.. dia kan pakai aplikasi reverse di tab Papa”

“Apaan tuh?”

“Itu lho, aplikasi merekam video, kemudian memutarkan dengan cara terbalik, yakni dari belakang ke depan. Jadi, tadi itu, dia memulai dengan rubik yang sudah tersusun rapi, kemudian dia acak-acak. Dengan aplikasi itu, videonya diputar mulai dari belakang; dari yang acak-acakan sampai ke bagian depan yang sudah tersusun rapi. Begitu…”

“Oalaaaaah…. Dasar Fatiiih….”. 😀 😀 😀

“So.. biar nggak gampang dikacangin, di samping jadi pintar, kita pun harus cerdik ya…”

Gembos Membawa Nikmat

“Jika kau temukan kendala, jangan buru-buru merutuki keadaan. Yakinlah, itu cara Tuhan memperlihatkan keindahan dengan cara yang berbeda. Syukuri saja..”

Turun dari Embung Nglanggeran, hari sudah gelap. Beberapa pengunjung masih lagi bertahan di sana. Mereka sekedar duduk-duduk di warung-warung yang berjejeran di jalan turun dari embung. Makanan penyangga perut semacam mi instan ataupun gorengan, terlihat menggoda. Ada sedikit niat untuk mampir sejenak, tapi buru-buru kutepis, karena teringat rencana kami hendak nongkrong di Bukit Bintang menjelang pulang nanti.

Udara cukup dingin ketika kami mulai menelusuri jalan turun. Gerimis yang turun, semakin menambah rasa dingin itu. Jalanan yang kami lalui cukup mulus. Sepertinya pemerintah menaruh perhatian cukup besar terhadap obyek wisata tersebut, sehingga akses jalan dibuat cukup baik dan mulus. Entah karena jalanan yang mulus atau suasana yang gelap, kami sedikit kurang awas.

Tiba-tiba motor yang dikendarai Afif terkena lubang yang membuatnya terhenyak cukup keras. Dan tidak lama setelah itu, ban motornya mengalami kebocoran. Daerah asing dan gelap seperti itu, membuat kami sedikit kebingungan. Tidak tahu di mana ada tukang tambal ban. Maka, kami pun bersama-sama berjalan sambil menuntun sepeda motor.

Di sebuah pertigaan yang sedikit terang, kami bertemu sesosok pemuda tengah duduk santai.

“Mas, tukang tambal ban masih jauh dari sini?”

“Masih, Pak.. Tapi, kalau Bapak mau, saya bisa bantu telponkan, siapa tau dia bersedia datang kemari”

“Wah.. boleh juga tuh. Monggo pakai hape saya saja”

Sejenak kulihat pemuda tersebut terlibat dalam obrolan dengan seseorang di seberang sana melalui perangkat komunikasi yang kuberikan.

“Bisa, Pak. Sebentar lagi orangnya datang kemari. Bapak tunggu saja di sini”

“Dia nambal di sini?”

“Iya, dia bisa nambal di sini. Dia bawa alat-alatnya”

“Alhamdulillah…”, kutarik napas lega, bersyukur bahwa ada bantuan datang di saat kami benar-benar membutuhkannya. Sungguh, sebuah kesyukuran yang tiada tara rasanya.

Sambil menunggu tukang tambal ban datang, kami pun duduk-duduk dekat pemuda tadi.

“Mas ngapain di sini?”

“Saya tukang parkir, Pak”

“Markir apa di tempat sepi seperti ini?”

“Restoran itu, Pak”, jawabnya sambil menunjuk ke seberang jalan.

Akupun mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk. Terlihat sebuah plang restoran yang tidak terlalu mencolok. Lampu yang menerangi plang itu tidak terlalu terang, sehingga bila tidak diperhatikan benar, kita tidak akan tahu kalau itu sebuah restoran.

“Eh, ada restoran tho di sana. Kayaknya boleh juga nih buat nunggu”

“Monggo, Pak. Dilihat dulu”

Akupun segera berjalan ke arah yang ditunjuk. Awalnya terlihat temaram saja gang menuju ke dalam. Tapi, begitu sampai di dalam, terlihat halaman yang cukup luas untuk parkir kendaraan dan sebuah restoran yang tertata apik. Restoran tersebut terletak di bibir tebing, menyajikan pemandangan lepas ke seluruh kota Jogja dari ketinggian. Lampu-lampu yang menerangi rumah-rumah penduduk, terlihat bagaikan bintang bertaburan dari restoran tersebut.

Ahai… sepertinya ini tempat yang tepat buat kami beristirahat, sambil makan dan menikmati suasana indah malam itu. Dan jadilah akhirnya malam itu kami habiskan di restoran tersebut.

embung-09embung-22 embung-20 embung-21

Kalaulah bukan karena ban yang gembos, tentu kami tidak akan mengetahui resto dengan pemandangan indah tersebut, bukan?

Etapi.. begitu sampai di rumah, aku baru sadar. Ternyata aku tidak tahu apa nama restoran tersebut… 😀

Nglanggeran Yang Bikin Geregetan

Sudah lama aku mendengar soal Gunung Nganggelaran. Yakni sebuah gunung purba yang terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Gunung ini terbentuk dari pembekuan magma yang terjadi lebih kurang 60 juta tahun yang lalu. Gunung ini tersusun oleh batuan beku berupa andesit, lava dan breksi andesit.

Menurut informasi yang kubaca, keindahan Yogyakarta dapat dilihat dari puncak gunung ini. Kata kawan-kawan yang pernah ke sana, tidaklah terlalu sulit untuk mencapai puncak gunung tersebut. Diperlukan sekitar 1-1,5 jam perjalanan kaki untuk sampai ke puncaknya. Jika beruntung, kita akan bisa melihat matahari terbenam di kala sore yang sangat indah.

Maka, kesempatan libur akhir tahun tempo hari kami manfaatkan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Sedari pagi kami sudah bersiap. Namun sayang, cuaca tidak mendukung. Hujan yang turun di Yogyakarta saat itu, membuat kami terpaksa mengurungkan niat mendaki. Bagaimana bisa melakukan pendakian dalam cuaca seperti itu.

Selepas Ashar, cuaca terlihat cerah. Hasrat berpetualang ke Nglanggeran kembali membara. Tentu sudah tidak mungkin untuk mendaki. Tapi, tetap tidak salah rasanya bila tetap ke sana. Karena, ada satu spot yang juga tidak kalah menariknya di kawasan Nganggelaran tersebut, yakni Embung Nglanggeran.

Embung Nglanggeran adalah telaga buatan yang fungsi utamanya adalah untuk mengairi kebun buah di sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran. Selain sebagai sumber pengairan, Embung Nglanggeran juga difungsikan sebagai obyek wisata.

Diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada bulan Februari 2013, Embung Nglanggeran langsung menyedot perhatian wisatawan. Hal ini dikarenakan lokasinya yang unik dan pemandangannya yang ciamik. Embung Nglanggeran terletak di pinggang Gunung Api Purba Nglanggeran. Lokasi embung dulunya merupakan sebuah bukit yang kemudian dipotong dan dijadikan telaga buatan.

Dengan mengendarai sepeda motor, kami pun berangkat menuju lokasi wisata tersebut. Dari Kweni, kami menuju jalan Wonosari terus hingga melewati Bukit Bintang. Ada petunjuk jalan yang sangat jelas menuju lokasi, sehingga tidak terlalu sulit bagi kami untuk menemukannya. Lebih kurang 45 menit perjalanan, kami pun sampai. Terlilhat dari kejauhan Gunung Purba Nglanggeran yang tertutup kabut senja. Tampak eksotis sekali. Sungguh geregetan mellihatnya. Semoga suatu saat bisa mendaki gunung api purba tersebut.

embung-01

Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun segera menuju embung. Ada puluhan anak tangga yang berkelok-kelok yang musti dilalui. Tidak terlalu tinggi sih, sehingga tidak akan membuat kaki begitu pegal. Begitu tiba di puncak, terlihat telaga buatan yang sangat indah. Gugusan batu raksasa yang membentuk Gunung Nglanggeran terlihat cukup jelas dari situ. Di sisi lain terlihat lembah menghijau yang menyejukkan mata.

embung-02 embung-03

Andai cuaca cerah dari siang, tentu akan terlihat semakin indah tempat itu. Tapi, tetap saja kami terkagum-kagum dibuatnya. Aku sangat pujikan upaya pemerintah membangun tempat tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengairan, tapi juga menjadi obyek wisata yang sangat menawan.

embung-07 embung-06 embung-05

Cukup lama kami berada di sana hingga senja menjelang. Karena tidak mungkin mendapatkan momen matahari terbenam yang indah, kami pun segera  turun untuk kembali pulang.

Meski tidak maksimal bisa menikmati keindahan kawasan tersebut, tapi aku cukup puas. Kesan yang ditinggalkan tetap tertanam indah di hati dan pikiranku. Aku bertekad akan kembali lagi suatu saat, dalam kondisi cuaca yang cerah tentunya, sehingga tidak perlu lagi merasa geregetan seperti sekarang ini.. 🙂

Tidak Bisa Ke Wakatobi, Umbul Ponggok Pun Jadi

Hasrat hati ingin liburan ke Wakatobi, menikmati pemandangan bawah laut yang sungguh luar biasa. Apa daya, kemampuan dan kesempatan belum berpihak kepada kami. Namun, keinginan untuk menikmati pemandangan bawah air secara langsung, tetap menggelora.

Informasi tentang sebuah sumber mata air di Klaten, yang kabarnya memiliki pemandangan bawah air yang lumayan menarik, mengusik keingintahuanku. Kucari informasi lebih lanjut tentang itu. Dan, akhirnya kutemukan juga informasinya. Namanya adalah Umbul Ponggok.

Umbul Ponggok adalah sebuah sumber mata air yang terletak di desa Ponggok, kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, propinsi Jawa Tengah. Beberapa tahun yang lalu, kami pernah berkunjung juga ke sebuah sumber mata air di Klaten tersebut, yakni Umbul Cokro. Rupanya, penduduk Klaten cukup arif memanfaatkan sumber daya alam pemberian Sang Pencipta dengan menjadikannya obyek wisata. Sebuah upaya yang patut dipujikan.

Baca: Umbul Cokro

11 Juli 2016, pukul 7 pagi, kami berangkat dari Jogja, berharap bisa sampai di lokasi sekitar pukul 8. Sebab, sebelumnya aku sudah menghubungi seorang fotografer yang memang menyediakan jasa memotret di bawah air Umbul Ponggok. Aku mendapatkan informasinya dari website yang dia buat. Kami sepakat bertemu pada pukul 8 pagi di lokasi. Pemilihan jam tersebut memang atas rekomendasi si fotografer. Katanya, cuaca dan suasa di jam segitu sangat bagus untuk berfoto-ria di bawah air.

Ternyata jalanan Jogja-Solo pada hari itu cukup ramai, sehubungan dengan arus balik mudik lebaran yang masih berlangsung, sehingga kami cukup lama tersendat di perjalanan. Akibatnya, kami baru sampai di lokasi pada pukul 9. Walhasil, si fotografer sudah menganggap bahwa bookingan kami batal dan dia mengerjakan pesanan berikutnya.

Sebetulnya, tidak terlalu sulit bagi kami mencari lokasi Umbul Ponggok. Di samping membaca informasi dari internet, kami juga menggunakan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar, tinggal tanya-tanya, sampai deh, hahaha.. 😀 Namun, karena padatnya kendaraan di jalanan, membuat kami terlambat sampai di lokasi dan terpaksa membatalkan janji dengan sang fotografer.

Tapi kekecewaan itu tidak berlangsung lama. Tepat di depan Umbul Ponggok, terpampang spanduk besar yang menawarkan jasa pemotretan under water dengan harga yang persis sama seperti yang ditawarkan fotografer tadi. Maka, setelah memarkirkan kendaraan, kami pun segera memesan untuk difoto. Paket yang ditawarkan adalah Rp. 100.000 selama satu jam untuk enam orang. Kalau sahabat hanya bertiga, bisa ambil paket yang setengah jam dengan harga Rp. 60.000.

Sayangnya, karena kami bookingnya on the spot, jadinya dapat jadwal yang agak lama. Kami baru dapat giliran pada pukul 11 siang. Kebetulan, pengunjung lumayan ramai juga pada hari itu. Tak apalah, toh masih bisa main-main air dulu.

Kami pun segera memasuki area umbul, rasanya sudah tak sabar merasakan berenang di mata air alami tersebut. Kami dikenakan biaya masuk Rp. 15.000 per orang dan mendapatkan satu botol minuman dengan merek yang sudah cukup terkenal. Tidak tahu, apakah harga tersebut memang sehari-harinya segitu, atau khusus harga di masa liburan saja.

Memasuki arena umbul, tanpa menunggu lama, anak-anakku segera menceburkan diri ke dalam air. Mau tahu teriakan mereka pertama kali? Dingiiiiiin….! 😀 Ternyata, air umbul tersebut benar-benar alami dan bersumber dari dalam bumi, sehingga terasa sangat dingin tapi sungguh menyegarkan. Satu lagi, airnya juga cukup jernih, sehingga kita dapat melihat ke dasar kolam dari atas.

Tersedia di sana penyewaan alat-alat renang. Kami menyewa snorkel seharga Rp. 15.000/biji dan pelampung seharga Rp. 7.000. Lagi-lagi aku tidak tahu, apakah itu harga khusus di masa liburan atau bukan. Sebab, di beberapa website yang kubaca, harganya di bawah itu.

umbul ponggok-07DCIM100GOPROGOPR3763.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Fotografer yang bertugas memotret mendatangi kami dan bersiap untuk melakukan pemotretan. Ada sedikit kekhawatiran, karena kami tidak jago-jago benar berenang, apalagi harus menyelam ke kedalaman kolam. Tapi kekhawatiran itu sirna. Sebab, sang fotografer sangat profesional dan bisa membantu kami untuk berani menyelam. Artinya, bagi sahabat yang tidak bisa berenang, jangan takut, semuanya akan aman terkendali.

Satu persatu kami difoto, dan beginilah hasilnya…

DCIM100GOPROGOPR3748.DCIM100GOPROGOPR3708.DCIM100GOPROGOPR3736.DCIM100GOPROGOPR3751.

Bagaimana? Lumayan keren bukan? 😀

Sepeda yang kami gunakan itu merupakan properti tambahan. Fungsinya di samping sebagai penambah antiknyo foto, juga sebagai media pegangan ketika menyelam. Untuk menggunakan sepeda tersebut, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000. Sebetulnya ada properti yang lain, seperti sepeda motor, becak, ayunan, dll. Tapi kayaknya sepeda lebih eksotis, hehe.. 😀

Setelah sesi berfoto selesai, kami pun membersihkan diri, shalat zuhur dan segera beranjak keluar untuk kembali pulang ke Jogja. Sebelum pulang, kami mampir ke konter foto tadi untuk membayar dan mengambil file foto-foto kami.

Aku cukup senang dengan pengalaman hari itu. Setidaknya, sensasi menyelam dan bercengkrama dengan ikan-ikan sudah pernah kurasakan. Namun, keinginan untuk ke Wakatobi, masih tersimpan dengan kuat di hati ini. Semoga saja bisa terwujud.

Terlepas dari itu semua, sekali lagi aku saluti usaha warga yang kreatif atas potensi desanya. Sebagaimana yang kuceritakan pada postingan sebelum ini tentang Tebing Breksi, warga Ponggok juga telah berlaku kreatif. Sumber daya alam yang mereka miliki, dengan sedikit kreatifitas dan memanfaatkan media informasi yang ada, desa mereka telah menjadi terkenal dan mendapatkan masukan finansial yang tidak sedikit. Sungguh, aku pujikan sekali hal tersebut.

Tebing Breksi; Brown Canyon Ala Yogyakarta

Beberapa bulan belakangan, ramai kubaca ulasan mengenai sebuah destinasi wisata baru di Jogja. Namanya Tebing Breksi. Terletak di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Kurang lebih 1 kilometer sebelum Candi Ijo. Merupakan sebuah bukit kapur yang menjadi sumber mata pencaharian warga. Mereka biasa menambang batu sebagai bahan bangunan di sana. Namun, sejak tahun 2015, penambangan dilarang oleh Pemerintah dikarenakan dari hasil penelitian diketahui bahwa batuan kapur breksi di sana ternyata adalah endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Maka, kawasan ini masuk dalam cagar budaya dan harus dilestarikan.

Membaca ini, ingatanku kembali kepada pengalaman beberapa tahun silam ketika ketika berkunjung ke Candi Ijo. Aku sempat melihat di sepanjang jalan menuju ke sana, kesibukan warga dalam mengolah bebatuan alam. Karena hanya melihat sambil lewat, tak begitu kuperhatikan apa yang mereka olah. Pikirku itu hanya semacam kegiatan pengolahan batu biasa saja. Ternyata, itu adalah bebatuan alam yang sekarang sudah dilarang untuk ditambang.

Baca: Melihat Jogja Dari Candi Ijo

Larangan pemerintah tersebut, ternyata tak memutus kreativitas warga. Melihat tebing bekas penambangan, warga sekitar punya ide lain. Ide muncul, tatkala melihat bekas-bekas galian meninggalkan gurat-gurat yang indah. Perpaduan warna putih berkilau semburat kuning dan coklat dalam bidang tebing yang begitu luas, memberikan panoramik yang menarik. Maka, mulai Mei 2015, kawasan tersebut resmi dijadikan sebagai tempat wisata dengan nama Taman Bukit Breksi.

Libur Lebaran yang lalu, aku pun mengajak keluarga untuk berkunjung ke sana. Untuk menuju Tebing Breksi, tidaklah terlalu sulit. Dari Candi Prambanan, kami bergerak ke arah Piyungan atau Wonosari. Sekitar 3 km dari sana, kami menemukan papan petunjuk arah menuju Candi Ijo di kiri jalan. Kami pun berbelok mengarahkan kendaraan di situ.

Jalanannya ternyata sudah sangat bagus. Beda dengan ketika kami ke Candi Ijo dulu itu. Jalanan yang menanjak terus itu dulu masih aspal yang berlobang di sana sini. Sekarang, sudah dicor beton yang cukup tebal. Dengan demikian, perjalanan pun menjadi lancar dan nyaman.

Lebih kurang 1 km sebelum Candi Ijo, petunjuk menuju Tebing Breksi terlihat jelas di kiri jalan. Beberapa petugas yang kuyakin merupakan warga sekitar, menunjukkan kami jalan menuju kawasan wisata nan eksotis tersebut. Tidak ada biaya masuk yang perlu kami keluarkan. Petugas hanya meminta sumbangan seikhlasnya untuk biaya pengelolaan dan membayar jasa penitipan motor sebesar Rp 2.000,-/ motor dan Rp 5.000,- untuk mobil.

Memasuki kawasan tersebut, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menarik. Terpampang di hadapan kami sebuah bukit bukit kecil setinggi kurang lebih 20 m. Bekas tambang warga dulu itu, menyisakan guratan-guratan indah di sisi tebing. Dan untuk melengkapinya, tangga menuju puncak tebing pun dibuat dengan memahat salah satu sisi dinding tebing. Terlihat sangat indah dan alami. Kabarnya, tebing ini mirip dengan brown canyon yang ada di Semarang. Entahlah, aku belum pernah ke sana soalnya. 🙂

tebing breksi-01tebing breksi-10 tebing breksi-11 tebing breksi-02 tebing breksi-03 tebing breksi-04tebing breksi-09

Begitu sampai di puncak tebing, terlihat pemandangan lanskap yang luar biasa. Dari sini, kami melihat Candi Prambanan, dan Candi Barong yang dilatari oleh gagahnya Merapi. Tak hanya itu, di sisi lain terlihat alur sungai yang menembus bukit serta perkampungan warga dan hijaunya alam yang masih lestari.

Baca juga: Blusukan Ke Candi Barong

Karena kami datangnya pada siang hari, maka udara terasa cukup panas. Oleh karenanya, kami tidak ingin berlama-lama mengeksplorasi puncak bukit tersebut. Perlu berhati-hati bagi yang membawa anak kecil ke puncak bukit itu. Karena, ketika kami berkunjung ke sana, pagar pembatas di bibir bukit belum dibuat. Hanya baru dibatasi dengan tali. Sepertinya akan dibangun pagar permanen nantinya. Lobang-lobang untuk menanam tiang pagar sudah tersedia kulihat.

tebing breksi-07

Turun dari puncak bukit, kami segera menuju mushalla yang terlihat apik di salah satu sudut kawasan tersebut untuk melaksanakan shalat Ashar. Mushalla-nya cukup bersih dan tertata rapi. Kami pun dapat menunaikan ibadah shalat dengan nyaman di sana.

tebing breksi-08

Selepas menunaikan shalat, sayup-sayup kudengar suara musik dan lagu yang sangat khas. Rupanya itu berasal dari sebuah panggung terbuka yang terletak di kaki bukit. Setelah membeli beberapa botol minuman air mineral, kami segera melangkahkan kaki menuju ke sana. Area yang dinamakan Tlatar Seneng tersebut tengah menyuguhkan pertunjukan seni Jathilan alias kuda kepang. Sambil beristirahat dan menikmati senja yang mulai turun, kami pun ikut larut bersama penonton lainnya, menyaksikan petunjukan kesenian tersebut.

tebing breksi-13tebing breksi-12 tebing breksi-15

Sambil menonton, kuedarkan pandangan ke seluruh kawasan tersebut. Dalam hati aku mengagumi karya cipta alami ini. Alam semesta ini memang diperuntukkan bagi kita umat manusia. Namun, kita tidak boleh serakah. Ketika sudah terasa cukup, hentikanlah. Ada cara lain untuk bisa mengeksplorasinya dan menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Menjadikannya obyek wisata seperti yang dilakukan warga sekitar Tebing Breksi ini adalah salah satu contohnya. Semoga tetap lestari. 🙂

tebing breksi-14

Sribu Batu Songgo Langit; Destinasi Wisata Baru Yogyakarta

#WisataMurahDiJogja 02

Keluar dari kawasan Puncak Becici kami bermaksud langsung pulang ke Kweni. Namun, tak lama berselang setelah melewati Hutan Pinus Mangunan, beberapa pria paruh baya berteriak-teriak, “mari, mari mampir…!”.

Sekonyong kulirik ke arah para pria tersebut, dan mataku tertumpu pada spanduk yang terpasang di antara pohon dekat mereka berdiri, bertuliskan, “Selamat Datang di Wisata Alam Sribu Batu Songgo Langit, Sukarame, Mangunan, Dlingo, Bantul”. Spontan kuhentikan kendaraan di depan mereka.

sribu  batu songgo langit-09

“Baru ya Pak?”

“Iya, baru tiga bulan. Monggo mampir, Pak”

Tanpa berpikir dua kali, segera saja kuarahkan kendaraan menuju lokasi yang ditunjuk oleh bapak-bapak tadi.

Kawasan itu ternyata memang benar-benar baru dibuka untuk umum. Jalanan menuju ke lokasi masih berupa tanah. Di kiri-kanan jalan, terlihat bekas pohon-pohon yang baru ditebang dan ilalang yang baru dipotong. Hanya sekitar 100 meter dari jalan utama tadi, kawasan wisata baru tersebut berada.

Seperti halnya Hutan Pinus Mangunan dan Puncak Becici, di sini pun tidak dipungut biaya masuk. Pengunjung hanya dkenakan biaya parkir sepeda motor sebesar Rp. 3.000 dan mobil sebesar Rp. 10.000.

Sebagaimana namanya, maka yang terlihat di sana adalah gugusan batu-batu besar di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Pengelola tempat tersebut sudah menatanya dengan baik. Mereka sangat paham dengan trend wisata masa kini. Spot-spot cantik untuk berfoto, mereka siapkan dengan sangat baik.

sribu  batu songgo langit-08 sribu  batu songgo langit-02sribu  batu songgo langit-07 sribu  batu songgo langit-06

Kami tidak terlalu lama di situ. Di samping hari sudah mulai sore, juga karena tempat tersebut belum sepenuhnya selesai digarap, sehingga tidak banyak yang bisa kami eksplor.

Di jalan keluar, aku bertemu dengan salah seorang pengelola tempat tersebut. Rasa ingintahuku minta dipenuhi hajatnya.

“Sebenarnya ini tempat apa, Pak?”

“Ini adalah hutan pinus yang sama dengan Mangunan ataupun Becici. Hanya, di sini terdapat batu-batu dalam ukuran besar seperti yang Bapak lihat tadi”.

“Cuma batu yang itu saja?”

“Tidak.. Ada puluhan batu besar lagi yang seperti itu. Perlahan-lahan akan kami buka akses jalan ke batu-batu tersebut semuanya nanti. Ini masih dalam tahap pengerjaan”.

“Kenapa baru sekarang dibukanya, Pak?”

“Soalnya, pihak RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan sudah tidak memperbolehkan lagi penduduk menyadap karet dari pohon-pohon pinus. Dan sebagai gantinya, kami diperbolehkan mengelola hutan ini untuk wisata”.

“Berarti, pengelolanya warga desa Sukarame ini?”

“Iya, betul sekali”

“Semoga tempat ini bisa sesukses Hutan Pinus Mangunan dan Puncak Becici ya Pak”

“Amiiin…”

Kujabat erat tangan Bapak tersebut sambil memohon diri untuk kembali pulang.

“Oya Pak, satu lagi. Kenapa dinamakan Songgo Langit?”

“Kan batu-batunya besar, seolah-olah menyangga langit, hehe..”

“Ooo… kirain ada unsur-unsur mistisnya juga”

sribu  batu songgo langit-03

Pernyataanku yang terakhir hanya dijawab oleh si bapak dengan tawa kecil dan senyum di kulum. Aku tak hendak menebak-nebak makna tawa dan senyumnya itu. Yang jelas, tempat ini kuyakin suatu saat nanti tak kalah eksotisnya dengan pendahulunya di sekitar Mangunan tersebut.

Puncak Becici: Nikmati Yogyakarta dari Ketinggian

#WisataMurahDiJogja 01

Sebelumnya, aku haturkan “Selamat Idul Fitri 1437 H, mohon maaf lahir dan batin”. Bagaimana libur lebarannya? Tentu menyenangkan bukan? Apapun bentuk lebaran yang kita lewati kemarin, yang terpenting adalah dapat menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta.

Kali ini, aku akan bercerita tentang perjalanan liburan lebaran kami kemarin. Dan tema yang kuangkat kali ini adalah #WisataMurahDiJogja . Murah dalam artian yang sesungguhnya, yakni sedikitnya biaya yang kita keluarkan untuk bisa berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Tapi jangan salah. Murah di sini bukan berarti murahan ya. Justru, tempat-tempat tersebut memberikan kesan dan makna yang tak ternilai harganya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Puncak Becici yang terletak di Dusun Gunung Cilik, Desa Gunung Mutuk, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Hutan Pinus Mangunan seperti yang pernah kuceritakan beberapa waktu lalu.

Baca: Piknik-Gratis Romantis ala AADC2 di Hutan Pinus Mangunan

Dari Hutan Pinus Mangunan, butuh waktu lebih kurang 20 menit untuk sampai di kawasan Puncak Becici. Karena tempatnya ada di ketinggian, maka perlu diperhatikan kelaikan kendaraan yang kita bawa. Jalannya yang naik-turun, membutuhkan kendaraan dengan kondisi prima. Jangan sampai seperti beberapa pengunjung yang terpaksa berhenti di tengah jalan karena kendaraannya yang tidak kuat untuk meneruskan perjalanan.

Sampai di kawasan Becici, kami disambut dengan hamparan hutan pinus yang tak kalah indahnya dengan yang di Mangunan. Kuhirup nafas dalam-dalam. Terasa sangat menyegarkan. Aroma pinus pun menambah kenikmatan bernafas di area tersebut. Tidak ada biaya masuk ke kawasan tersebut. Kita hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp. 3.000 untuk sepeda motor dan Rp. 10.000 untuk mobil. Sangat murah bukan?

Kesejukan hutan membuat kami ingin bersantai untuk menikmatinya. Kusewa 3 buah hammock (ayunan) dan tikar seharga masing-masing Rp. 10.000. Petugas dengan sigap memasangkan hammock yang kami sewa tersebut di antara pohon-pohon pinus yang rindang itu. Sejurus kemudian, kami sudah duduk-duduk santai berkeliling sambil menikmati bekal yang kami bawa dari rumah.

vizon-puncak becici vizon-puncak becici vizon-puncak becici

Gerimis yang datang tiba-tiba memaksa kami untuk membubarkan diri sejenak. Kebetulan waktu shalat Zuhur pun sudah masuk. Sangat tepat jika kami segera beringsut dari tempat bersantai tersebut. Petugas penyewaan hammock mengatakan bahwa nanti kalau kami mau pakai lagi, boleh diambil, tanpa musti menyewa kembali. Aih… baik bener… 🙂

Selepas shalat zuhur dan makan mie instan di salah satu warung yang terdapat di kawasan tersebut, kami pun kembali bergerak masuk ke hutan, menuju puncak yang menjadi spot andalan kawasan tersebut. Namun sayang, sebelum sampai di di puncak, angin bertiup cukup kencang, dan hujan pun mulai turun. Beruntung, ada saung-saung kecil yang tersedia di sana, sehingga kami bisa berteduh.

Alhamdulillah, hujan turun tidak terlalu deras dan hanya sebentar. Dengan begitu, kami pun bisa segera melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sampai di puncak, meski masih agak gelap, namun pemandangan yang disuguhkan tetap menarik dan eksotis. Tentu saja hal tersebut tidak boleh dilewatkan untuk diabadikan dalam lensa kamera.. 🙂

vizon-puncak becicivizon-puncak becici vizon-puncak becici

Puas menikmati suasana di puncak, kami pun segera beranjak turun untuk keluar dari kawasan tersebut. Ada satu destinasi lagi yang tak kalah menariknya yang ingin kami tuju. Ikuti ceritanya pada postingan selanjutnya ya..

Oya, sebelum mengakhiri tulisan ini, aku ingin memberi sedikit peringatan. Mohon untuk tidak meniru adegan dalam foto di bawah ini. Hanya boleh dilakukan dengan pasangan halal saja ya. Bila melanggar, hati-hati bakal ada setan yang datang mengganggu.. #eaa 😉

vizon-puncak becici