3 Catatan dari Film Iqro

Ada tiga hal yang ingin kubagikan di sini, selepas menonton Iqro, Petualangan Meraih Bintang, sebuah film yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, yaitu:

1. Review

Ini merupakan film anak-anak yang layak tonton. Berikut sinopsisnya yang kukutip dari laman resmi film tersebut:

iqro posterAqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an.  Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha.

Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, Kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Boscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat: Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya.

Saat di rumah kakeknya Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Al Qur’an dengan metode Iqro, yang fun, berirama dan dibawakan secara ringan

Pengalaman Aqila belajar Al Qur’an dan teladan dari kakeknya Inilah yang menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta

Film ini sarat informasi dan pengetahuan yang patut diketahui oleh kita semua, terutama anak-anak. Dialog-dialog yang cerdas dan bernas terlontar dengan manisnya. Sebagai contoh, ketika sang Oma (Neno Warisman) menjelaskan kepada Aqila (Aisha Nurra Datau) hubungan bangun subuh dan kecerdasan. Dengan bahasa anak-anak, sang Oma pun mengatakan bahwa di pagi hari, otak kita masih segar, sehingga dengan mudah bisa menerima pengetahuan. Belajar di subuh hari, akan mendapat lebih banyak pemahaman, ketimbang siang hari. Jika ingin lebih pintar, maka rajin-rajinlah bangun pagi.

Materi yang disampaikan sang Oma mungkin terasa biasa bagi kita. Tapi, akan lain rasanya, bila kita melihat bagaimana cara Oma menyampaikannya. Agaknya, ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita para orangtua, bagaimana berdialog yang baik dengan anak. Kata orang-orang bijak, metode lebih penting daripada materi. Seberat apapun materi pembelajaran, bila disampaikan dengan cara yang menarik, akan terasa ringan. Film ini mengajarkan kita akan hal tersebut.

Secara keseluruhan, film ini menarik dan bagus. Hanya saja, jalan cerita terasa lambat dan konfliknya kurang gereget. Tapi, menurutku itu sah-sah saja, karena yang disasar adalah anak-anak. Bila konfliknya terlalu berat, tentu akan sulit untuk dicerna oleh mereka. Namun, bila dibandingkan dengan Petualangan Sherina, film ini masih belum bisa disejajarkan.

Yang menarik juga adalah para aktor kawakan yang membintangi film ini. Ada nama-nama besar seperti Cok Simbara, Neno Warisman, dan Meriam Bellina. Jam terbang mereka memang tidak diragukan lagi. Akting mereka benar-benar top markotop. Dan, sebagai pendatang baru, akting Aisha Nurra Datau yang berperan sebagai Aqila, juga patut diperhitungkan.

2. Impresi

Meski konflik di dalam film ini tidak terlalu berat, namun ada beberapa adegan yang memberikan kesan mendalam bagiku. Salah satunya adalah ketika Profesor Widodo, Opa-nya Aqila yang diperankan Cok Simbara, mendapat sandungan berat dalam karirnya sebagai Kepala Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Pemerintah Pusat memutuskan untuk menutup observatorium tersebut karena sudah tidak produktif lagi menghasilkan penelitian di bidang astronomi. Karena tidak imbang antara anggaran yang disediakan dengan output yang dihasilkan, maka fasilitas penelitian bintang tersebut selayaknya ditutup.

Profesor Widodo dan timnya bukan tidak memiliki alasan. Masalah utama yang mereka hadapi adalah sudah semakin parahnya polusi cahaya di sekitar Boscha. Yakni, gemerlap lampu yang dihasilkan mulai dari rumah-rumah penduduk sampai konser musik yang menembakkan cahayanya ke langit Lembang. Hal tersebut, membuat pengamatan bintang jadi terhalang. Suasana yang gelap, sangat dibutuhkan untuk menghasilkan pengamatan bintang yang maksimal.

Ini pun semakin diperparah dengan didirikannya sebuah hotel berbintang yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Boscha. Secara aturan, pembangunan di sekitar situ memang dilarang. Tapi, apa yang tidak bisa dilakukan bila penguasa dan pengusaha bersekongkol? Ilmu pengetahuan, sama sekali tidak berdaya bila berhadapan dengan dua kekuatan ini.

Kemarahan dan kesedihan yang ditunjukkan oleh Profesor Widodo ini ngena banget. Sebagai akademisi, aku paham betul bagaimana rasanya sebuah idealisme yang lahir dari ilmu pengetahuan, tidak memiliki arti apa-apa ketika berhadapan dengan kepentingan pengusaha dan penguasa. Keserakahan dan kesewenang-wenangan, melumat habis semuanya.

Film ini dengan apiknya mempertontonkan ini semua.

3. Nobar

Awalnya, aku tidak mengetahui adanya film ini. Sepertinya film ini digarap dengan dana minim, sehingga nyaris tidak ada iklan di media massa. Aku justru tahu dari istriku yang rada sibuk mengurusi nobar (nonton bareng) film ini. Ada dua kali kegiatan nobar yang dilaksanakan. Pertama, nobar Fatih dan teman-teman sekelasnya (kelas 6 SDIT Al-Khairaat Yogyakarta), plus orangtua/wali murid, serta guru-guru. Kedua, nobar bagi anak-anak yatim yang didanai secara patungan oleh beberapa donatur.

nobar film iqro

Nobar dengan Fatih dan teman-temannya benar-benar bikin repot, sekaligus seru. Betapa tidak? Mereka adalah sekelompok anak kelas 6 SD yang mulai beranjak remaja. Energi mereka tidak ada habisnya. Mereka bergerak terus kian kemari. Pokoknya suasana bioskop dibikin heboh. Dan yang paling seru adalah, ketika film sudah berjalan separuh, Mereka yang tadinya duduk manis menonton, satu persatu mulai bikin keributan. Entah apa yang dibicarakan.

Mulanya satu-dua orang anak, kemudian menular ke yang lain, dan akhirnya hampir semua mereka sibuk ngobrol sendiri-sendiri. Tentunya hal tersebut membuat suasana bioskop sedikit gaduh dan mengganggu penonton yang lain. Aku jadi geli sendiri melihat itu semua. Seolah ada dua film yang tengah kutonton; film Iqro dan film keusilan Fatih dkk… 😀

nobar-02

Kalau nobar kedua, justru meninggalkan keharuan di hati. Kami mengajak anak-anak yatim yang berjumlah 60 orang. Mereka sangat tertib. Ibu panti benar-benar telah mendidik mereka dengan baik. Aku salut sekali. Anak-anak dengan beragam usia dan latarbelakang itu, bisa dengan mudah diatur, tidak berkeliaran ke sana kemari.

Namun, ada satu adegan yang cukup mengharukan. Seorang anak yang berusia sekitar 4 tahun, menangis di gendongan salah seorang guru pembina. Setelah kutanya, rupanya si anak kepengen bermain di arena permainan yang ada dekat bioskop tersebut. Beberapa anak yang berusia sedikit lebih besar, membantu menenangkan.

Duh.. makjleb banget rasanya. Anak-anak itu begitu sadar akan keterbatasan mereka, namun hasrat bermain sebagaimana anak-anak yang memiliki orangtua lengkap pun tetap ada. Rasanya aku ingin mengajak anak itu bermain ketika itu juga. Namun, langsung aku urungkan niat itu. Bagaiaman perasaan anak-anak yang lain jika hanya satu anak itu saja yang kuajak? Kalaupun yang lainnya juga kuajak, danaku tidak memungkinkan untuk itu. Ah.. semoga suatu saat kami bisa mengajak mereka bermain.. Aamiin..

Surga Menanti

Aku sama sekali tidak mengetahui tentang adanya sebuah film religi Islami terbaru yang tayang di bioskop mulai 2 Juni 2016 lalu kalau bukan diberitahu oleh istriku. Film tersebut berjudul Surga Menanti. Beberapa hari yang lalu, istriku tampak sedikit sibuk dengan perangkat komunikasinya. Sesekali menelpon, tak  lama kemudian berkirim sms ataupun chatting via BBM atau WA.

Setelah kutanya, barulah kutahu kalau istriku tengah berkoordinasi dengan wali murid kelasnya Fatih dan juga beberapa orang temannya di kelompok pengajian. Mereka berencana akan mengajak teman-teman sekelas Fatih dan juga anak-anak yatim yang ada di dekat sekolah mereka untuk nonton bareng film tersebut.

Rupanya, yang memotivasi istriku dan kawan-kawannya untuk melakukan nonton bareng adalah di samping karena tema filmnya menarik, juga karena keuntungan dari film ini diperuntukkan bagi kelanjutan proyek pengadaan Al-Quran braille bagi penghafal tuna netra di Indonesia. Pantaslah kalau ada sedikit motivasi lebih dalam menonton film ini.

Akhirnya, pada hari Minggu, 5 Juni 2016 yang lalu, nonton berjamaah itu pun terwujud. Aku dan keluarga pun ikut serta dalam kegiatan itu.

Poster-film-Surga-Menanti

Film ini berkisah tentang Dafa (Syakir Daulay) remaja yang bercita-cita menjadi seorang Hafizh Qur’an. Disaat keinginannya hampir tercapai, cobaan berat datang. Sang ibu, Humaira (Umi Pipiek Dian Irawati) mendapat vonis dokter menderita leukimia. Sang ayah, Yusuf (Agus Kuncoro) akhirnya meminta Dafa untuk pulang dan menemani ibunya yang dalam keadaan kritis. Demi baktinya pada ibunya, Dafa kembali kerumah dan sekolah di kampungnya. Babak baru kehidupan Dafa dimulai. Dengan segala cobaan yang dihadapi, Dafa pun berhasil mewujudkan cita-citanya, menjadi seorang penghafal Al-Quran.

Dari sinopsisnya sudah dapat diduga kalau cerita film ini bakal beruraikan air mata. Bagi yang mau menontonnya, bawa tissue yang banyak ya.. 😀

Ada beberapa hal yang menarik menurutku dari film tersebut.

Pertama, tentang pemerannya. Syakir Daulay yang didapuk sebagai Dafa, tokoh sentral film ini, sangat berhasil mencuri perhatian. Kemampuannya melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan sangat indah, sungguh terasa luar biasa. Di samping itu, dia juga merupakan seorang santri yang tengah menghafal Al-Quran dan sudah mendapat 10 juz. Yang tak kalah menariknya adalah, penampilannya yang good looking. Sosok menantu ideal banget deh, hehe.. Tapi tidak hanya itu, kemampuannya beradu akting dengan aktor sekelas Agus Kuncoro, patut diacungi jempol.

Syakir Daulay

Kedua, tentang menghafal al-Quran. Dalam film ini, Dafa diceritakan bertetangga dengan Eben. Keduanya lahir di hari yang sama. Namun, keduanya dididik dengan cara berbeda. Orangtua Dafa mengarahkannya untuk menghafal al-Quran, sementara Eben diarahkan untuk menjadi artis. Terlihat kontras sekali kehidupan mereka. Namun, ketika Ibunya Eben (Della Puspita) mendapat kabar bahwa seorang tokoh di kampung itu akan memberi hadiah bagi anak-anak yang bisa hafal al-Quran, dia pun memaksa anaknya untuk ikut mengaji di masjid.

Poin ini sangat cerdas menurutku. Saat ini, tidak bisa kita pungkiri kalau gerakan menghafal al-Quran sudah mulai marak di tengah-tengah masyarakat. Mulai banyak kita temukan anak-anak penghafal al-Quran. Tentu ini sangat menggembirakan. Namun, tidak bisa dipungkiri pula bahwa itu lama-lama bisa menjadi trend atau gaya hidup. Akhirnya, kemurnian niat para penghafal tereduksi dan berubah menjadi materialistis. Cuplikan film ini memberi peringatan kepada kita untuk benar-benar meluruskan niat dalam menghafal al-Quran.

Ketiga, tentang lokasi. Pemilihan lokasinya cukup baik menurutku. Pemandangan alami yang disuguhkan, terlihat menawan. Meski bagi sebagian yang kenal dengan tempat-tempat itu, agak terasa janggal. Karena, secara nyata, masing-masing tempat itu berjauhan satu sama lain. Namun, di film ini, tempat-tempat itu dilihatkan cukup dekat, sehingga bisa ditempuh hanya dalam beberapa menit. Tapi, sungguhpun demikian, itu tidaklah mengganggu jalan cerita.

Secara keseluruhan, aku menilai film ini layak tonton bagi kita semua. Bukan hanya karena ceritanya yang mendidik, juga karena tujuan dari pembuatan film ini sendiri, untuk menggalang dana seperti yang kusampaikan di atas. Maka, dengan tujuan itu, tentu sangat layak jika sahabat menyempatkan untuk menonton bersama keluarga.. 🙂

Ngemall di JCM, Pulang Bawa Mobil

Akhir pekan kemarin, aku berencana mengajak keluarga melihat kebun bunga Amaryllis yang lagi ngehits di Jogja. Kebun bunga milik Bapak Sukadi yang terletak di desa Puspa Pathuk Gunung Kidul tersebut menyedot perhatian banyak orang setelah foto-foto narsis pengunjung bertebaran di linimasa jejaring sosial. Momen ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja, apalagi letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami.

Namun, tidak berselang lama, postingan dari Mas Novi  (pelatih marcingband Satira, Ajib dan Fatih ketika mereka Taman Kanak-Kanak dulu) di akun Facebooknya, membuatku langsung mengurungkan niat untuk berkunjung ke sana. Dalam postingan yang sudah dibagikan hampir 20.000 kali tersebut, Mas Novi menceritakan tentang betapa tidak terkontrolnya para pengunjung dalam menyalurkan hasrat narsisme mereka. Akibatnya, bunga-bunga nan cantik menawan itu pun rusak dan tak dapat dinikmati lagi keindahannya. Sungguh disayangkan sekali.. 😦

kebun amaryllis puspa pathuk gunung kidul

“Trus, kita jadinya jalan-jalan kemana , Pa?”, tanya Fatih.

“Fatih punya ide?”

“Jogja City Mall aja”, timpal Ajib.

“Iya, Pa. Ke JCM aja. Udah lama kita ndak ke sana”, Fatih menambahkan.

Akhirnya, kami pun sepakat untuk mengisi libur akhir pekan kemarin dengan jalan-jalan di Jogja City Mall atau yang biasa disebut JCM.

Sebetulnya, kami sudah cukup sering berkunjung ke mall ini. Di samping tempatnya yang tidak terlalu jauh dari rumah, yakni di Jl. Magelang  KM.5.8 Sinduadi Mlati Sleman, juga karena desain gedungnya yang apik dan fasilitas berbelanja dan hiburan yang sangat memadai.

jogja city mall

Minggu, 29 November 2015 selepas shalat Zuhur kami pun berangkat menuju pusat perbelanjaan tersebut. Agenda pertama kami adalah makan siang..! Yak, perut kami sudah sangat keroncongan. Istriku sengaja tidak masak, karena memang kami berencana makan siang di mall tersebut, juga karena paginya kami kerja bakti bersih-bersih rumah dan halaman.

Lebih kurang dua puluh menit perjalanan, kami pun sampai di pusat perbelanjaan tersebut. Sempat khawatir ketika hendak berangkat, sebab cuaca terlihat mendung. Beruntung, kami sampai, hujan belum turun.

Setelah sedikit bermusyawarah, kami sepakat untuk makan di salah satu gerai kuliner di lantai dasar. Rupanya, rasa lapar kami benar-benar tidak tertahankan lagi. Begitu pesanan tersaji, kami pun segera melahap habis makanan tersebut.. 😀

jogja city mall-kuliner

“Mau bayar pakai uang tunai atau tidak, Pak?” tanya kasir ketika aku hendak membayar .

“Non tunai saja ya, Mbak. Tadi saya tidak sempat ambil uang dulu di ATM. Habis, lapar banget, hehe.. Lagian, membawa-bawa uang tunai saat ini kurang aman, rawan copet”

“Benar sekali, Pak.. Pakai kartu apa, Pak? Sebaiknya BCA”

“Kok BCA? Kenapa, Mbak?”

“JCM lagi ada program, Pak. Kalau Bapak bayar pakai kartu kredit atau debit BCA, nanti bisa dapat kupon untuk nanti diiundi dan dapat hadiah mobil”

“Wah.. keren juga tuh.. Boleh, Mbak, saya bayar pakai debit BCA ya”.

Aku pun melungsurkan kartu debit BCA ke mbak kasir tersebut. Tidak berselang lama, transaksi pun selesai.

“Ini kartu Bapak, struk belanja dan struk pembayaran BCA-nya. Bapak bisa tukarkan poinnya di meja informasi di lantai dasar ini juga”.

Kuambil kartu dan struk yang dimaksud sambil mengucapkan terima kasih. Segera saja kuseret langkah menuju meja informasi seperti yang disarankan si mbak kasir tadi. Di meja informasi, kudapati seorang petugas dan langsung saja kuajukan pertanyaan kepadanya:

“Permisi, Mbak. Tadi saya diberitahu kasir tempat saya makan untuk menukarkan poin belanja saya di sini. Saya masih kurang paham sebetulnya. Bisa jelaskan lagi kepada saya?”

“Ohya, baik Pak.. Jadi begini.. 

  • Mulai 1 November 2015 hingga 31 Oktober 2016, Jogya City Mall menggelar sebuah program bertajuk Shopping Wonders. Setiap belanja Rp. 100.000, pengunjung mendapatkan satu kupon bila membayar secara tunai. Tapi, bila membayar dengan kartu kredit atau debit BCA, akan mendapat 3 kupon.
  • Untuk toko jewellry, property, gadgetdan elektronik, berlaku kelipatan hingga Rp 5 juta dalam satu struk pembelian.
  • Kupon hadiah dapat ditukarkan dengan batas waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal transaksi. Jangan lupa untuk menyertakan bon asli pembelanjaan dan struk transaksi Kartu Debit BCA atau Kartu Kredit BCA, serta tunjukkan Kartu JCM yang sudah Anda miliki.

“Jadi, saya harus bikin kartu JCM?

“Iya.. Silahkan Bapak isi formulir ini”

jcm-02

Aku pun segera mengisi formulir yang diberikan petugas tersebut. Tidak berselang lama, kartu JCM itu pun sudah resmi menjadi milikku dan dapat digunakan untuk transaksi-transaksi selanjutnya guna mendapatkan kupon dalam program tersebut.

jcm - shopping wonder - bca

“Terima kasih, Bapak untuk kunjungannya. Sering-sering ya Pak, biar kuponnya semakin banyak, dan semakin besar peluang untuk menangkan hadiah”

“Sama-sama, Mbak.. Doain ya, semoga Toyota Fortuner jadi milik saya”

“Amiiin…” 🙂

Nah, sahabat sekalian, bila di musim libur nanti anda berkunjung ke Jogja, silahkan mampir ke JCM dan ikuti program Shopping Wonder ini serta bayar pakai kartu kredit atau debit BCA ya. Siapa tahu sahabat beruntung dapat kesempatan untuk membawa pulang 1 (satu) unit Honda Brio Satya Type, 2 (dua) unit Honda Revo, 2 (dua) unit LED TV 40″ Samsung, 2 (dua) unit Smarphone Samsung Galaxy A5, 2 (dua) unit Lemari Es Panasonic, 2 (dua) unit Microwave Samsung, dan 2 (dua) unit Magic Com Miyako, yang akan diundi pada bulan Mei 2016, dan hadiah Grand Prize berupa 1 (satu) unit Toyota Fortuner, yang akan diundi pada bulan November 2016.

======================

Menjelang maghrib, kami pun beranjak pulang. Dalam perjalanan, aku membayangkan pada bulan Desember 2016 nanti, aku dan keluarga berkunjung ke kebun Amyrillis miliknya Pak Sukadi di desa Puspa Pathuk Gunung Kidul yang sudah tertata dengan apik, dengan mengendarai Toyota Fortuner. Semoga saja menjadi kenyataan..  (yang bilang “amin”, pasti cakep) 😀

segar sepanjang hari berkat infused water

Pemandangan yang lazim di kampusku saban pagi adalah berkumpulnya rekan-rekan dosen dan staff di lobby gedung rektorat. Urusan mereka hanya satu. Yakni, menempelkan salah satu jari mereka di sebuah mesin yang setelah itu sang mesin berujar, “thank you”. Mesin itu bernama finger print alias absen sidik jari. (Padahal cuma mau bilang kalau mereka pada absen. Malah berputar-putar ngomongnya, haha..).

Pagi itu, aku melewati kerumunan rekan-rekan tersebut dan bergegas hendak menuju kelas, karena aku ada jadwal mengajar di jam pertama. Kusapa dan kusalami beberapa orang yang kebetulan berpapasan denganku. Mengingat waktuku tinggal sedikit, buru-buru kutinggalkan mereka. Namun, seseorang menahanku dengan sebuah pertanyaan.

“Itu yang dibawa apaan, Pak?”

“Yang mana?”

“Itu, di botol air minum di ransel yang Bapak sandang”.

“Ooo.. ini… ya air minum lah”

Rupanya kawan itu penasaran dengan air minum yang kubawa. Karena kutaruh di kantung samping ransel, bentuknya jadi mudah terlihat.

 

infused water-01 Perlengkapan perang mengajarku saban hari 🙂

“Iya, saya tahu, itu air minum. Tapi, kok ada buahnya?”

“Ini namanya infused water. Masa Bapak belum tahu?”

“Wah, kudet nih saya. Apa pulak itu infused water?”

Infused water adalah air putih yang telah diberi tambahan potongan buah atau herbal sehingga memberikan sensasi rasa air tertentu dan bermanfaat bagi kesehatan. Secara teknis, infused water dibuat dengan memasukan irisan buah-buahan ke dalam air putih, kemudian didiamkan beberapa jam sampai sari buahnya keluar dan air akan berubah rasanya”.

“Khasiatnya apa, Pak?”

“Ada banyak. Yang jelas, yang saya rasakan selama ini tubuh menjadi lebih segar dan fit. Biasanya, saya kalau mengajar tiga kelas berturut-turut, rasanya badan ini mau rontok. Tapi, sejak rajin mengkonsumsi infused water, berjam-jam saya bicara di depan kelas, tidak terlalu capek rasanya”.

“Jadi kayak minuman berenergi gitu ya?”

“Ya kurang lebih begitu lah.. Tapi ini kan alami, tanpa bahan kimiawi. Dan di samping itu, air ini juga membantu proses detoksifikasi (mengeluarkan racun) tubuh, serta memperlancar buang air kecil maupun besar”.

“Hmm.. menarik nih, Pak. Buah apa saja yang bisa dipakai untuk itu?”

“Tidak ada aturan yang kaku. Namun, usahakan buah yang memiliki rasa asam (acid) atau netral, karena rasa manis cenderung menimbulkan rasa bosan jika diminum dalam jumlah banyak. Beberapa buah yang bisa digunakan adalah anggur, apel, belimbing, buah naga, jeruk nipis, kiwi, lemon, nanas, mangga, mentimun, jeruk atau orange”.

“Apa bisa dicampur dengan bahan lain?”

“Bisa.. Infused water pada prinsipnya tidak hanya berisi irisan buah tapi juga bisa dimasukan herbal atau rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, daunt mint, daun kemangi, serai dan lain sebagainya”.

“Bagaimana cara bikinnya, Pak?”

“Gampang banget.. Cuci bersih buah yang akan kita gunakan, potong-potong, masukkan ke dalam botol, tambahkan air matang, diamkan selama beberapa jam–lebih baik lagi kalau didiamkan di dalam lemari es–setelah itu, tinggal diminum”.

“Iya, gampang banget kelihatannya. Buahnya bisa dicampur-campur gitu ya?”

“Yak, benar sekali. Biar cihuy, buahnya bisa dicampur. Misalnya strawbery dengan jeruk nipis, atau nanas dengan daun mint, atau juga semangka dengan seledri. Tergantung selera dan kreatifitas kita saja..”.

 infused water Aneka varian infused water yang kerap kubawa

“Jadi bersemangat mau mencobanya nih Pak”

“Silahkan.. Untuk sehat tidak perlu mahal kan? Hehehe…”

“Benar sekali, Pak. Di sekitar kita ada banyak bahan alami yang bisa dimanfaatkan. Apalagi di Curup ini, kota penghasil sayur dan buah yang sangat baik”.

“Okay, selamat mencoba ya. Saya keburu mau ke kelas nih, udah telat”

“Oh iya, maaf Pak, udah bikin telat”

“Nggak apa-apa, santai aja. Cabut dulu ya..”

“Okay..”

Baru beberapa langkah ku ayunkan kaki, rekan itu tetiba memanggilku.

“Pak, sebentar..!”

“Iya, ada apa?”

“Itu botolnya beli di mana?”

“Kalau yang ini, saya diberi teman. Tapi, beberapa botol yang di rumah, saya beli secara online. Coba Bapak cari di situs ecommerce ini, ada banyak di situ”, terangku sambil menunjuk ke layar ponselku.

blanjadotcom

“Terpercaya dan gampang tidak belanja di situ?”

“Insya Allah.. Bapak tidak akan pernah tahu kalau belum mencobanya, bukan? Dicoba saja ya.. Udah ah.., saya udah telat nih..”

“Haha.. iya iya, sorry… Makasih ya Pak informasinya.. Selamat mengajar”

“Ok, thanks..”

sedia makanan sebelum lapar

Setiap kali Kota Curup (Bengkulu) diguyur hujan deras di malam hari, aku selalu teringat dengan pengalaman kurang menyenangkan beberapa waktu silam. Sebuah pengalaman yang sebenarnya lucu, tapi memberi pembelajaran sangat berharga bagiku.

Ceritanya begini..

Sahabatku Indra (bukan nama sebenarnya), mengajakku untuk menemaninya di laboratorium komputer sore hari selepas kegiatan perkuliahan di kampus kami selesai. Indra yang bertugas sebagai kepala labor, berencana akan me-install ulang semua komputer yang ada di situ. Dia sengaja memilih waktu sore hari, karena siangnya, labor tersebut sangat aktif digunakan oleh dosen dan mahasiswa.

Akupun menyanggupi ajakan tersebut. Toh aku juga tidak buru-buru amat mau pulang. Lagian, dengan berada di labor komputer, aku akan bisa menikmati akses internet yang paripurna. Bagi aktivis dunia maya (halah, istilah apaan tuh), tentu hal tersebut benar-benar bagaikan surga.. 🙂

Pukul lima sore, kegiatan itupun kami mulai. Indra mulai me-install ulang satu persatu komputer yang berjumlah 40 unit tersebut, sementara aku, mulai berselancar di dunia maya dengan bebas merdeka. Kecepatan akses internet sungguh memuaskanku.

Selepas shalat Maghrib, Indra menanyakan, mau beli makanan sekarang atau nanti.

Nanti aja deh, Ndra, habis Isya. Saya belum begitu lapar”

Ok, Bang. Kalau begitu, saya lanjut install lagi ya”

Sip…”

Kami pun larut dalam kegiatan masing-masing, Indra meng-install dan aku berselancar di dunia maya. Dan tanpa kami sadari, hujan pun turun dengan derasnya.

Di tengah keasyikanku, tiba-tiba suara Indra mengagetkanku.

Bang, saya udah lapar nih, nyari makan yuk”

Hayuk…”

Aku segera berdiri mengikuti Indra. Sesampai di pintu, langkah kami terhenti. Ternyata hujan masih belum reda.

Wah, hujannya lumayan deras nih Bang”

Di motormu ada jas hujan-nya kan, Ndra?”

Itu dia masalahnya.. Ketinggalan di rumah, saya lupa bawa”

Hahaha.. ya udah, kita tunggu aja sampai hujannya reda”

Kami pun kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Tapi, karena rasa lapar sudah semakin mendera, kami pun tidak konsentrasi lagi. Bolak-balik kubuang pandangan ke luar, ternyata hujan tak kunjung berhenti, bahkan semakin bersemangat turun dengan derasnya, disertai angin pulak. Ampun deh.. 😦

Dan, penderitaan kami pun semakin bertambah. Air minum di dispenser ternyata sudah kering kerontang. Lengkap sudah, lapar dan haus..

Malam semakin larut, hujan belum juga berhenti, dan rasa lapar semakin mendera. Kulihat Indra bisa mengatasi situasi tersebut dengan terus menyelesaikan pekerjaannya, sementara aku, sudah kehilangan gairah untuk melihat laptop. Lapar ini benar-benar membunuh konsentrasiku. Aku hanya mondar-mandir tanpa tujuan apapun. Kucoba untuk tiduran, tapi tak bisa. Menyiksa sekali..

Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya hujan pun reda, dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kami segera beranjak pergi menuju warung terdekat, memenuhi hajat kelaparan yang melanda tadi.

=================

Mengingat kejadian tersebut, aku suka tertawa geli sendiri. Andai peristiwa itu terjadi di kota besar semacam Jakarta atau Jogja, tentu akan dengan mudah kami mendapatkan makanan. Ada banyak gerai penjual makanan yang menyediakan fasilitas delivery. Tapi, kami di kota Curup. Sebuah kota kecil di Propinsi Bengkulu yang belum mengenal istilah delivery untuk pemesanan makanan.

Pengalaman tersebut kembali menyeruak ketika aku diperkenalkan oleh seorang rekan dengan sebuah situs penyedia jasa pengantar makanan yakni www.foodpanda.co.id. Situs ini memberikan layanan delivery makanan dari restauran-restauran terkemuka seperti Es Teller 77 dan Papa Ronz Pizza. Dengan memesan melalui situs tersebut, makanan yang kita inginkan akan diantar ke alamat. Begitu makanan datang, tinggal bayar, dan kita pun bebas dari lapar yang mengganggu tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan pekerjaan kita.

foodpanda-01Delivery makanan melalui www.foodpanda.co.id

Hebatnya lagi, bagi pengguna smarphone, Foodpanda sudah ada aplikasinya. Tentu saja ini sangat memudahkan kita untuk mengaksesnya. Sehingga, di mana pun berada, kita bisa memesan makanan lezat kesukaan kita dan tidak perlu khawatir terancam oleh kelaparan.

foodpanda-02Pasang aplikasi Foodpanda di smarphone Anda!

Hanya sayangnya, Foodpanda baru melayani beberapa kota besar di Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, Medan, Bali dan Makassar. Semoga ke depannya, bisa menjangkau seluruh kota di Indonesia.

=================

Sahabat.. pernah terjebak dalam sebuah situasi yang mana anda tidak bisa ke mana-mana, sementara perut keroncongan? Boleh cerita? 🙂

3360; novel ber-soundtrack

Aku sudah rencanakan untuk membaca novel 3360 karya Daniel Mahendra dalam perjalanan Jogja-Jakarta dengan menaiki kereta api. Rasanya akan pas sekali membacanya dalam situasi seperti itu. Pasalnya, novel DM ini berkisah tentang perjalanan Namara mewujudkan impian terbesarnya, yaitu menyusuri jalur kereta api di seluruh dunia. Namun, kenyataan berkata lain. Karena suatu alasan, aku pun kembali menumpang pesawat terbang untuk perjalanan Jogja-Jakarta-Bengkulu. Jadilah akhirnya novel tersebut tetap kubaca, menemani perjalananku, meski tidak mengendarai kereta api.

Cerita utama dari novel ini adalah tentang Namara, gadis tomboy yang memutuskan untuk meninggalkan karir dan keluarganya, demi mengejar impiannya berkeliling dunia. Kepergiannya itu dilatarbelakangi oleh kekecewaannya terhadap sang kekasih, Damar, yang tidak kunjung memberi keputusan tentang hubungan mereka. Alih-alih memberi kepastian, Damar malah menghilang, tanpa kabar berita.

Rawian sebelum Namara melakukan perjalanannya, menjadi cerita yang menarik dan mampu mematik emosi pembaca. Aku ikut larut dalam cerita tentang Namara dan ibunya. DM cukup piawai merawikan kisah yang melankolis semacam itu. Tapi, jangan khawatir, kesedihan yang diumbar, tidak lebay sama sekali seperti sinetron-sinetron itu, kok.. 🙂

Membaca bagian-bagian awal aku merasakan sedikit kejenuhan. Cerita dengan setting perjalanan ke Tibet, kembali disuguhkan DM di novel ini. Tentunya ini adalah kali ketiga novel karya DM berlatarkan Tibet, setelah sebelumnya Perjalanan Ke Atap Dunia dan Niskala. Juga tentang keputusan sang tokoh untuk bertualang keliling dunia setelah kecewa dengan kekasihnya, juga sedikit banyaknya pernah menjadi latar belakang cerita di novel Niskala.

Namun, kejenuhan itu tidak berlangsung lama. Keseruan pengalaman yang dialami Namara dalam menempuh 3.360 km perjalanan kereta api dari Chengdu, Cina menuju Lhasa, Tibet, membuatku mengerti apa sesungguhnya yang ingin disampaikan DM melalui novelnya ini. Pengalaman Namara dalam perjalanan kereta api selama 44 jam tersebutlah yang menjadi inti ceritanya. Ada kegembiraan, kemarahan dan juga ketegangan yang dialaminya, hingga akhirnya Namara sampai di Lhasa dan mengatakan, “Aku ingin pulang”.

Bagaimana itu bisa terjadi? Baca saja sendiri novelnya ya… 😀

novel 3360 - Daniel Mahendra Novel 3360 dengan soundtrack Son of Man (Phil Collins)

Ada yang menarik dari novel 3360 ini. Yakni, judul semua babnya, diambil dari judul-judul lagu populer. Sebut saja misalnya Tears of The Dragon (Bruce Dickinson), Bunda (Melly Goeslaw), dan I Will Always Return (Bryan Adams). Pemuatan judul-judul lagu ini bukan tanpa alasan. Di setiap akhir bab, lirik lagu tersebut dimuat secara utuh dan menjadi semacam soundtrack bagi kisah yang dirawikan.

Ketika membaca pertama kali novel ini, aku tidak merasakan efek yang terlalu besar dari lagu-lagu yang dimuat tersebut. Namun, ketika kembali kubaca novel ini beberapa hari yang lalu, dengan mendengarkan lagu-lagu tersebut melalui Youtube sambil membaca lirik yang dituliskan, aku merasakan sensasi yang berbeda. Ada sebuah rasa yang muncul di hati dan menautkannya dengan emosi cerita. Ah.. pintar sekali DM meramunya, apalagi lagu-lagu yang dipilih benar-benar pas dengan plot cerita.

Salah satu soundtrack yang aku suka adalah lagu berjudul That’s the Way It Is yang dipopulerkan oleh Celine Dion. Lagunya benar-benar bagus dan pas sekali dengan cerita, terutama pada bait:

When you want it the most there’s no easy way out
When you’re ready to go and your heart’s left in doubt
Don’t give up on your faith
Love comes to those who believe it
And that’s the way it is


That’s the Way It Is oleh Celine Dion

Novel ini sangat layak untuk dibaca, terutama bagi yang masih belum memahami makna “pulang” yang sesungguhnya.. Tidak percaya? Buktikan saja.. 😉

di balik 98 : the movie

di balik 98 posterPenasaran dengan iklan film Di Balik 98 yang bertubi-tubi muncul di layar televisi, aku pun akhirnya memutuskan untuk menontonnya. Rasa penasaran itu semakin bertambah karena ingin melihat, bagaimana debut Lukman Sardi sebagai sutradara dan tentunya akting Chelsea Islan, salah satu aktris dalam serial televisi kesukaannya Om Nh.. 🙂

Film ini bercerita tentang kisah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Bagus (seorang tentara), Salma (staff rumahtangga di istana negara) dan adik mereka Diana (mahasiswi Trisakti). Konflik terjadi antara ketiganya karena Diana terlibat aktif dalam demonstrasi mahasiswa pada tahun 1998, ketika krisis moneter yang melanda Indonesia mencapai puncaknya.

Sebagai mahasiswa yang penuh idealisme, Diana turun ke jalan bersama kawan-kawannya, menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Bagus dan Salma berusaha untuk mencegah Diana terlibat dalam aksi tersebut karena khawatir akan keselamatannya. Hal tersebut justru dipahami berbeda oleh Diana. Menurutnya, pelarangan kedua kakaknya itu dikarenakan mereka bekerja sebagai tentara dan staff istana yang dia anggap sebagai kaki tangannya rezim penguasa ketika itu.

Diana memiliki seorang kekasih bernama Daniel, mahasiswa keturunan Tionghoa. Mereka bersama-sama menjadi aktivis dan terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi. Kekacauan terjadi ketika demonstrasi berujung kerusuhan dan penjarahan. Salma yang tengah hamil tua, nekat keluar dari istana negara, turun ke jalan untuk mencari Diana begitu mengetahui bahwa beberapa mahasiswa Trisakti terbunuh dalam aksi demonstrasi mereka. Salma terjebak dalam arena kerusuhan, jatuh pingsan dan tidak diketahui lagi nasibnya setelah itu.

Di pihak lain, Bagus dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit; antara tugas dan keluarga. Di satu sisi, ia harus menjalankan tugasnya sebagai tentara menjaga keamanan negara dan di sisi lain ia mencemaskan kondisi istrinya yang hilang kontak dengannya. Sementara itu, Daniel, kekasih Diana, kehilangan keluarganya. Ketika pulang, isi rumahnya sudah berantakan. Barang-barang dijarah dan yang paling mengguncang emosi, di dinding rumahnya tertuliskan, “Cina Biadab”.

Daniel memutuskan untuk meninggalkan Diana, mencari ayah dan adik perempuannya sambil tetap menjaga keselamatan dirinya, karena di berbagai tempat tengah terjadi aksi sweeping terhadap warga keturunan Tionghoa oleh warga yang sudah kehilangan akal sehatnya. Suasana benar-benar mencekam dan emosi sangat tersulut.

Sampai di sini, aku sangat menikmati film ini. Alur cerita dan emosi yang dimainkan lumayan terasa. Lukman Sardi patut diacungi jempol untuk debutnya ini, dan Chelsea Islan, lumayan baik memerankan karakternya. Hanya saja, di sela-sela cerita utama tersebut, beberapa cerita yang berkaitan dengan peristiwa 98 tersebut ditampilkan pula secara detail. Bahkan para tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut disebutkan pula secara jelas dengan menuliskan nama mereka di layar. Ini menurutku cukup memecahkan konsentrasi dan fokus cerita.

Sebut saja misalnya adegan diskusi Presiden Soeharto dengan Wapres BJ Habibie atau dengan Mbak Tutut maupun Pak Harmoko. Semua tersajikan secara detail, seolah itu menjadi cerita utama. Inilah yang menurutku menjadi kelebihan sekaligus kekurangan film ini. Menjadi kelebihan karena peristiwa-peristiwa itu dimainkan secara apik pula oleh para aktor senior yang memerankannya, namun menjadi kekurangan karena fokus cerita menjadi berlarian ke sana kemari. Andai saja peristiwa sejarah tersebut ditampilkan secara sepintas saja, dan konflik batin Diana dengan keluarganya serta Daniel dieksplorasi secara lebih dalam, tentunya akan lebih dapat gregetnya.

Namun menurutku, film ini layak tonton. Keseriusan penggarapan sangat terlihat dari set dan properti yang digunakan. Istana negara, Jl. Cendana, Gedung MPR/DPR dan tank yang memenuhi ibukota benar-benar asli ditampilkan. Dan suasana 1998 cukup terasa. Mobil, iklan dan logo stasiun televisi masa itu, benar-benar diperhatikan secara detail. Salut untuk penggarapannya.

Film ini juga membuatku merenung. Semangat juang mahasiswa di masa itu sangat terasa. Dengan kekuatan aksi dan narasi mereka, rezim yang tengah berkuasa akhirnya bisa tumbang. Bagaimana dengan mahasiswa zaman sekarang? Hmm… menurutku, mereka musti menontonnya, agar tak lagi sibuk dengan urusan galau dan selfie.. 😉