30 Hari Bercerita

Sepanjang Januari 2017 kemarin, aku posting satu gambar dengan caption yang lumayan panjang di instagram. Ini demi memenuhi tantangan ngeblog selama 30 hari berturut-turut lewat event #30haribercerita yang diselenggarakan oleh pemilik akun @30haribercerita. Sampai tulisan ini diturunkan, aku sama sekali tidak tahu, siapa orang-orang yang ada di balik akun tersebut. [ sok misterius.. haha.. 😀 ]

Yang menarik bagiku adalah bahwa ini bukan lomba. Ini hanya tantangan rutin menulis setiap hari. Dengan demikian, tujuannya benar-benar menantang diri sendiri untuk rutin menulis, bukan mengejar sepaket hadiah. Ini penting bagiku yang sudah mulai menurun intensitas menulis di blog tercinta ini.. 🙂

Karena tidak ada aturan yang ditetapkan dalam rangka mengejar hadiah, maka aku pun menulis dengan apa yang terpikirkan di saat itu saja. Tulisan-tulisan yang kuturunkan pun tidak beraturan. Mulai dari cerita perjalanan, sampai kepada tulisan reflektif. Yang terpenting, menulis.

Hingga kemudian, aku membaca postingan penutup di hari ke 31 oleh sang admin. Di salah satu paragrafnya, mereka menulis: “Kami juga punya daftar nama-nama yang jangan di-regram lagi karena tanpa sadar sudah kami regram lebih dari 3 kali“. Spontan kutengok postingan-postinganku tersebut, dan ternyata, aku sudah 4 kali di-regram. Dengan demikian, aku adalah salah satu dari nama-nama yang “diblokir”, alias tidak boleh lagi di-regram. 😀 #bangga

Ini dia keempat postingan yang di-regram tersebut:

1. Hari ke 8

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1708 #30hbcsma @30haribercerita . SUNAN KUDUS & SAPI . "Perlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan". . Pesantren tempatku nyantri dulu, punya tradisi mengajak siswa kelas akhir (3 SMA) untuk melakukan kunjungan ke beberapa sentra industri skala kecil maupun menengah di daerah-daerah sekitar pondok. Ketika itu aku mendapat kesempatan di Kota Kudus Jawa Tengah. . Dalam suatu kesempatan, guru pendamping kami bertanya, "Tahukah kalian kalau di Kudus ini tidak ada soto sapi?". Hampir serentak kami menjawab, "Tidaaaaak". . Guru kami itu pun menceritakan bahwa masyarakat muslim di Kudus, dari dulu dilarang oleh Sunan Kudus untuk menyembelih sapi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun Idul Adha. Hal tersebut dilakukan demi menjaga perasaan masayarakat Hindu yang menjadikan sapi sebagai hewan suci mereka. Makanya, di Kudus yang disembelih adalah kerbau ataupun kambing ketika Idul Adha. . Jujur, aku kagum dengan sikap Sunan Kudus tersebut. Beliau berusaha menghargai orang lain, dan tetap konsisten dengan ajaran agama yang dianutnya. Kekagumanku itu semakin bertambah ketika melihat Masjid Menara Kudus yang arsitekturnya memadukan aneka budaya. Perbedaan yang disatukan dalam sebuah harmoni, tanpa harus menghilangkan jati diri, sungguh terlihat indah di mata dan di hati.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

2. Hari ke 12

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30hbc1712 @30haribercerita . TUGAS ANAK (?) . "Pak, bakiaknya bisa nyampai paling lambat Rabu? Soalnya, itu buat tugas anak saya di sekolah, Kamis harus dikumpul". . Entah sudah berapa kali kudapatkan pertanyaan semacam itu dari pelanggan @mainan.bocah , aku sudah tak ingat lagi. Sering banget soalnya. . Sebagai penjual, tentu aku tidak perlu peduli apa tujuan dari pelanggan membeli produk mainan dan alat peraga edukatif yang kami jual secara online di www.mainanbocah.com bukan? Tapi, hati kecilku tidak setuju dengan cara orangtua yang seperti itu. . Tugas dari sekolah, tentu bertujuan untuk memberi latihan bagi anak, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bila kemudian orangtua yang sibuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, dan bahkan membelinya, apakah ada gunanya tugas sekolah tersebut? . Belajar adalah soal proses, bukan semata hasil. Oleh karenanya, biarkan anak-anak kita berproses. Bila harus membantu, berilah bantuan secukupnya, bukan justru mengambil alih.. #pendidikan #mainananak #mainanbocah #anakmandiri #edutoys #alatperagaedukatif

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

3. Hari ke 19

#regram from @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1719 #30hbcbahagia @30haribercerita . BAHAGIA . There is only one happiness in this life, to love and be loved (Goerge Sand) . Daniel Mahendra, pernah menulis dalam salah satu novelnya, "berbahagialah dia yang tahu arti kata pulang". Sebagai penulis kisah-kisah perjalanan, tentu kalimat itu bukan sekedar kutipan pemanis tulisannya saja bukan? . Aku akuri kalimat novelis yang menggelari dirinya sebagai Penganyam Kata tersebut sepenuhnya. Ya… bagiku, bahagia adalah ketika kita punya tempat pulang. Pulang dalam arti sesungguhnya. Berada bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Menikmati segala lara bersama, dan melalui kegembiraan tanpa paksa . Kata kunci dari definisi bahagia adalah cinta. Mengapa setiap orang merindukan pulang? Karena di sana ada cinta. Dan cinta itu tumbuh atas dasar cinta pada Sang Maha . Bagaimana bila cinta itu tiada? Tentu, takkan ada bahagia dalam kata pulang.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

 4. Hari ke 20

Regram dari @hardivizon : #30haribercerita #30HBC1720 @30haribercerita . LUNGSURAN . Pernah dapat lungsuran? Minimal sekali dalam hidup, tentulah kita pernah mendapatkanya, entah dari kakak atau orangtua. Ada beragam rasa ketika menerimanya; senang atau malah kesal. Kesal karena keseringan dapat lungsuran, jarang dapat yang baru, hehe . Beberapa waktu lalu, aku melungsurkan sebuah jas buat putraku. Jas itu dibuat pada tahun 1988, ketika aku masih lagi duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak terasa, hampir 3 dekade usianya, jauh lebih tua dari usia putraku . Aku cukup surprise begitu mengetahui bahwa jas itu masih tersimpan rapi dan awet. Ibuku telah menyimpannya dengan sangat baik. Ada haru ketika melihat jas itu dikenakan putraku. Bukan semata karena dia terlihat gagah, tapi lebih karena ada cinta Ibuku di dalamnya . Huft… mendadak mataku berembun..

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

Entah apa yang menjadi pertimbangannya, sehingga admin @30haribercerita tersebut me-regram keempat postinganku ini. Yang jelas, aku cukup senang. Penghargaan kecil semacam ini, cukup besar dampaknya. Setidaknya,aku tetap ingin mengikuti program tersebut hingga akhir.

Semoga, semangat update blog, bisa tetap terjaga setelah ini.. Amiin.. 🙂

Advertisements

Berburu Foto Masjid Dengan Kamera Ponsel

Asus Zenfone Laser giveaway

Selama Ramadan yang lalu, aku menurunkan tulisan dengan tajuk Hadis of The Day (HoTD). Setiap hari aku mempublis sebuah postingan dengan mengutip satu hadis Nabi Muhammad saw. Tujuanku simpel saja, ingin berbagi manfaat dengan sesama di bulan yang penuh keberkahan tersebut.

Terus terang, baru kali ini aku melakukan one day one post. Lumayan ngos-ngosan juga ternyata. Apalagi yang kumuat adalah hadis Nabi. Itu perlu sedikit kerja keras untuk memastikan bahwa hadis-hadis tersebut adalah benar berasal dari Rasulullah saw. Tidak mungkin kan aku mempublikasi tulisan berisikan hadis palsu? Alih-alih manfaat yang kusebar, malah dosa yang kutuai.. 🙂

Oleh karenanya, riset pun kulakukan sesuai dengan metodologi penelitian hadis yang selama ini kupelajari. Awalnya agak kewalahan  karena harus setiap hari, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa dan suka. Jadilah kegiatan puasaku kemarin bertambah dengan riset hadis setiap hari.

Ada satu lagi yang membuatku kewalahan dengan rubrik HoTD tersebut. Yakni, foto masjid yang selalu kumuat di dalamnya. Kutipan hadis-hadis tersebut, kutempel di dalam foto masjid yang kumiliki. Tujuanku, di samping untuk mempercantik tampilan postingan, juga agar dapat kuunggah foto-foto tersebut di media sosial-media sosial yang kumiliki. Aku berharap, semakin banyak khalayak yang dapat kuraih untuk menyampaikan sabda Rasulullah saw. tersebut. Namun, setelah berjalan beberapa hari, baru kusadari, ternyata jumlah foto masjid yang kumiliki, tidaklah cukup untuk 30 postingan. Alamak.. Bisa gawat jadinya kalau begini.

masjid nurul iman padang sumatera baratContoh foto di rubrik Hadis of The Day

Mau tidak mau, aku harus menambah perbendaharaan foto masjid. Setelah kuhitung, ternyata kekurangannya lumayan banyak. Oleh karenanya, berburu foto masjid, harus segera dilaksakan. Beruntung selama di awal Ramadan aku berada di Curup,Bengkulu dan akhir Ramadan di Yogyakarta. Sehingga, masjid yang akan kufoto, bisa lebih berfariasi, tidak hanya dari satu daerah saja.

Selama di Curup, aku tidak secara khusus menyediakan waktu untuk berburu foto masjid. Aku hanya memotret sambil lewat. Begitu melihat ada masjid yang jepretable, langsung saja kukeluarkan gadget handalan dan beberapa foto masjid itu pun bisa kuperoleh.

Karena memang sambil lewat, seringkali ketika memotret aku masih berpakaian kerja. Pernah di satu masjid, ketika asyik memotret, seorang bapak paruh baya datang menemuiku.

“Dari kantor mana, Pak?”

“Maksudnya?”

“Apa Bapak dari instansi pemerintahan atau yayasan yang akan membantu pembangunan masjid kami?”

“Oh, bukan, Pak.. Maaf.. Saya motret masjid ini untuk koleksi pribadi saja”

“Ooo…”

Aku pun pamit setelah menjelaskan maksud dan tujuanku memotret masjid tersebut.

masjid darul hikmah saptamarga curup masjid syahida curupmasjid nurul huda curupSebagian foto-foto masjid yang kuambil di Curup, Bengkulu

Lain lagi kalau di Yogyakarta. Aku memang menyediakan waktu khusus untuk berburu foto masjid. Aku sengaja berkeliling ke beberapa tempat untuk mencari masjid-masjid yang menarik dan pas untuk keperluanku. Dengan alasan kepraktisan, aku lebih memilih menggunakan kamera ponsel ketimbang kamera pocket atau dslr.

Karena memang niat banget untuk memotret masjid, maka demi mendapatkan angle yang pas, aku rela mengambil posisi di mana saja. Yang paling sering adalah masuk ke dalam sawah. Coba perhatikan foto-foto berikut ini:

masjid baitul hikmah, yogyakartamasjid al'adn-yogyakartamasjid ar-rasul kotagede-yogyakartaSebagian foto masjid yang kuambil di Yogyakarta

Semua foto tersebut, kuambil dengan cara masuk ke dalam sawah. Bahkan, di foto yang terakhir, aku sempat kepleset dan kaki kiriku terbenam di dalam lumpur sawah. Hahaha… benar-benar pengalaman luar biasa.. 😀

Memperhatikan kembali postingan HoTD yang kubuat selama Ramadan yang lalu itu, aku merasa puas. Ada aliran hangat di dadaku. Entah apakah ada orang yang merasakan manfaat dari apa yang kutulis atau tidak. Yang penting bagiku adalah bisa menyampaikan sedikit dari pengetahuan yang kumiliki.

Namun, ketika melihat foto-foto masjid yang kumuat, ada sedikit rasa geregetan. Aku merasa masih kurang puas dengan hasilnya. Barangkali karena gadget yang kugunakan sudah mulai uzur, sehingga penglihatan kameranya sudah mulai kabur. Andai aku punya Zenfone 2 Laser ZE550KL, kemungkinan foto-foto yang kuhasilkan bisa lebih cihuy.. 😉

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Antara Aku, Al dan Tebu

Tiga puluh tahun, waktu yang cukup lama bagiku dan Al untuk kembali bertemu. Sepupuku itu tinggal di Jakarta, sementara aku masih betah wira-wiri Jogja-Bengkulu. Meski aku sering ke Jakarta, tapi tidak pernah sekali pun aku punya kesempatan bertemu kembali dengannya. Hingga akhirnya, acara pernikahan salah seorang saudara, menjadi ajang reuni kami. Pertemuan itu sangat membahagiakan. Banyak cerita yang ingin kami bagi. Dan cerita paling hangat adalah kenangan masa kecil di kampung halaman.

Kenangan paling berkesan adalah ketika aku dan Al berjualan tebu potong di pelataran masjid Darussalam, Tilatang Kamang, Magek, Sumatera Barat, setiap bulan Ramadan. Sebetulnya yang berjualan adalah Al, aku hanya menemani saja. Al kurang beruntung, dia ditinggal ayahnya sedari kecil, sehingga ia pun harus ikut banting tulang membantu perekonomian keluarga. Berjualan di bulan Ramadan adalah salah satu cara yang ia lakukan.

masjid darussalam magek

Setiap hari aku menemani Al, mulai dari mengambil tebu yang dibeli dari kebun orang, mengupas, memotong-motong, hingga menjualnya. Proses itu sangat kunikmati. Meski Al sering melarang karena takut dimarahi orangtuaku, aku tak peduli, Kegigihan Al dalam berjualan, mengalir dengan deras kepadaku. Dan ini, menjadi inspirasiku hingga saat ini.

“Kabarnya usahamu sukses sekarang, Al”

“Alhamdulillah.. pengalaman berjualan di masa kecil berdampak besar untukku”

“Termasuk berjualan tebu di pelataran masjid..?”

“Pastinya…”

😀 😀 😀

Jumlah kata: 205

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

lombamenulis

Meeting Point

masjid ambarrukmo plasa

Aku sering menjadikan masjid sebagai titik kumpul (meeting point). Sebab, sangat mudah dikenali dan ditemui. Dengan menunggu di masjid, ada keuntungan lebih. Yakni, bisa beribadah sambil menunggu kawan-kawan berkumpul semuanya. Pada tau kan, apa yang terjadi kalau kita janji ketemuan dengan banyak orang di suatu tempat? Adaaaa saja yang datang terlambat. Dengan berkumpul di masjid, orang-orang yang sudah datang duluan, bisa menunggu sambil menunaikan shalat wajib maupun sunnah.

Begitu juga yang kami lakukan tempo hari waktu akan nonton bareng film Surga Menanti di Plaza Ambarukmo Yogyakarta. Ketika ditanya tempat kumpul oleh teman-temannya, aku pun langsung menyebutkan, Masjid Rooftop Amplaz! 🙂

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog theordinarytrainer.com”

LombaFotoTheordinarytrainer-300x144

 

p.s. postingan lain yang kuikutkan dalam lomba ini: Remaja Kece di Masjid

Kado Unik

Beberapa tahun silam, pesta pernikahan identik dengan kado. Tetamu undangan, datang membawa kado aneka bentuk berupa barang-barang yang sekiranya berguna bagi sepasang suami istri yang baru menikah, seperti gelas, piring, dll. Tradisi tersebut sekarang sudah mulai ditinggalkan. Demi kepraktisan dan azaz manfaat, kita lebih sering membawa amplop berisi sejumlah uang alias angpao untuk hadiah bagi pasangan baru tersebut.

Aku masih ingat, dalam pesta pernikahan kami dulu, hadiah berupa kado ini masih banyak yang memberi, meski tidak sedikit juga yang memberi angpao. Di antara kado-kado tersebut, ada beberapa yang unik. Yang aku masih ingat, ada yang memberi seperangkat bahan untuk membuat sambal lado, yakni beberapa buah cabe merah, bawang dan garam. Hahaha… kok nggak sekalian ikan teri ya, biar dibikin teri balado.. 😀

Kado unik lainnya yang masih aku ingat adalah berupa sandal jepit..! Iya, sandal jepit.. Waktu itu, rasanya aneh sekali menerima kado berupa sepasang sandal yang dipakai untuk bersantai itu.

Nah… beberapa hari yang lalu, aku kembali menerima sebuah kiriman dari seseorang. Mau tahu apa isinya?

Isinya adalah sandal jepit..! Hahaha… ingatan ke peristiwa kado pernikahan dulu itu kembali menyeruak. Sempat terpikir ketika menerimanya, siapa pulak yang iseng mengirimkan sandal jepit kepadaku?

Tapi tidak, aku justru bahagia menerimanya. Mau tahu kenapa? Karena itu bukan sandal jepit biasa. Ia adalah sandal jepit istimewa.

Ini dia penampakannya..

sandal ukir-03

Yak.. itu adalah sandal jepit yang diukir dengan sangat baik oleh seorang sahabat blogger. Beliau adalah Mbak Susindra, pemilik blog www.susindra.com. Aku dikirimi sandal tersebut, karena tulisanku yang berjudul “Tips dan Info Wisata: Waspada di Coban Rondo” terpilih sebagai salah satu yang mendapat penghargaan dari Warung Blogger dalam Gerakan PKK: Tips dan Info Wisata.

Akupun penasaran dengan sandal tersebut, terutama tentang pembuatannya. Setelah bertanya langsung kepada Mbak Susi, barulah kutahu, bahwa ternyata yang mengukir itu adalah suami beliau sendiri. Dan rupanya, beliau sudah pernah menuliskan soal ini di blognya dengan judul “Sandal Ukir: Kado Unik Untuk Sahabat“. Oalah.. kudet juga aku rupanya, baru tahu tentang hal tersebut.. 😀

Sahabat tertarik untuk memiliki sandal ukir seperti itu? Bisa dipesan dengan aneka gambar lho. Gambar wajah sendiri juga bisa. Monggo dilihat-lihat melalui postingan Mbak Susi di atas, atau langsung saja kontak ke ybs di WA 085293310666 atau BBM 555CF42E atau langsung mengunjungi Facebook page beliau, Susindra Handmade.

Di tangan orang-orang kreatif, barang-barang yang awalnya dianggap sepele dan bahkan dijadikan bahan olok-olokan, bisa berubah menjadi barang yang sangat berharga. Sandal jepit ukir ini contohnya. Dari barang remeh, menjadi barang mewah.

Pertanyaannya, kira-kira aku tega nggak ya memakai sandal ini? 😉

Sepak Kaleng, Permainan Seru Masa Lalu

Sekelompok bocah usia 8-12 tahun tampak bergerombolan di lapangan tak jauh dari rumah kami. Mereka berdiri membentuk lingkaran, menjulurkan tangan kanan masing-masing ke depan dan sama-sama berteriak, “hompimpah”.

“Fatih yang jaga”, teriak salah seorang dari mereka.

Seketika, bocah yang dipanggil Fatih itu pun berdiri di depan pecahan batu bata yang mereka tumpuk membentuk sebuah menara kecil.

menara bata

“Fatih, siaaaap?”, seru salah satu bocah tersebut.

“Siaaaaaap…!”, tak kalah keras si Fatih berteriak, “Tapi jangan banter-banter lho, Jib..!”.

Bocah yang rupanya bernama Ajib itu pun tak menunggu lama lagi. Dengan semangat membara, ditendangnya menara bata tadi sehingga berserakan ke berbagai penjuru. Saat itu juga, bocah-bocah lainnya berlari berhamburan, mencari tempat persembunyian paling cihuy agar tak ketahuan oleh Fatih.

Sementara itu, Fatih bergegas menyusun kembali pecahan bata tadi. Begitu tersusun, ia pun segera mencari teman-temannya yang tengah bersembunyi.

“Dikaaaa…!”, seru Fatih begitu melihat seorang temannya yang tengah bersembunyi. Yang disebut namanya itu pun berlari kencang, menyusul Fatih yang sudah lari duluan ke arah menara bata tadi. Begitu sampai, Fatih langsung menyentuh ujung tumpukan bata disertai pekikan gembira seolah tengah memenangkan sebuah perlombaan, “Dika ketangkaaap…!”

Berturut-turut kemudian ia berhasil menemukan teman-temannya.

“Dodi…!”

“Apin…!”

“Ajib…!”

“Yogi..!”

Tinggal satu orang lagi yang belum ditemukannya, Febri..!

Kelima bocah yang sudah ketangkap itupun berteriak memanas-manaskan suasana. “Ayo Feb, jangan nongol-nongol….!”, teriak mereka disertai tawa yang sangat riuh dan renyah.

Fatih berupaya keras mencari Febri sambil tetap waspada menjaga menara batanya agar tetap berdiri kokoh. Matanya awas menyapu setiap sudut lapangan. Dan tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara gaduh karena seseorang berlari kencang ke arah menara batanya.

Owh… ternyata Febri keluar dari persembunyiannya, berlari secepat yang ia mampu dengan tujuan merubuhkan menara bata tersebut. Fatih pun tak mau kalah. Dipacunya langkah dan berlari sangat kencang, berupaya mempertahankan menara batanya.

Adegan kejar-kejaran itupun dimenangkan oleh Febri. Ia berhasil mendahului Fatih dan merubuhkan menara bata tersebut sehingga berserakan di mana-mana. Teman-temannya yang sudah tertangkap tadi, langsung bebas dan kembali mencari tempat persembunyian. Tinggal Fatih yang berupaya secepatnya menyusun kembali bata-bata tersebut.

Gerakan Fatih cukup lincah. Dalam sekejap ia sudah berhasil membangun kembali menara batanya. Dan, teman-temannya yang belum berhasil menemukan tempat persembunyian, tak ayal lagi, langsung jadi sasaran tangkapannya.

Aku tak bisa menahan tawa melihat permainan bocah-bocah itu. Mereka benar-benar menikmatinya. Keringat yang bercucur deras di sekujur tubuh, tak mereka hiraukan. Sepertinya, mereka tak mengenal kata “cape” dan “berhenti”. Mereka terus mengulangi-ulangi permainan tersebut hingga senja menjelang.

“Seru banget, Tih mainnya tadi”, sapaku ketika Fatih pulang ke rumah dengan badan yang super kotor karena bercampur keringat dan debu.

“Iyaaa…. seru bangeeet…”

“Papa juga ada permainan kayak gitu dulu”

“Oya? Pakai susun bata juga?”

“Iya… Tapi, lebih seringnya pakai kaleng”

“Kaaaleng…?”

“Iya.. kaleng bekas susu atau makanan lainnya”

“Cara mainnya?”

“Sama kayak Fatih tadi. Disusun, ditendang, trus sembunyi”

“Enakan mana pakai kaleng apa bata?”

“Kalau menurut Papa sih, enakan pakai kaleng”

“Kok..?”

“Kalau ditendang, kan rame, ada bunyinya. Kalau bata, nggak ada bunyinya, kurang seru”

“Iya juga ya… Besok Fatih mau pake kaleng juga ah..”

“Hehehe… sip…”

Sesaat kemudian…

“Pa, abis maghrib nanti, ke supermarket ya”

“Ngapain?”

“Beli susu kaleng 10 biji”

“Buat apa?”

“Ya buat diambil kalengnya lah, biar besok Fatih bisa main sepak kaleng

“Oalaaaaah…..”

(Papa tepok jidat)

 Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

Tips dan Info Wisata: Waspada di Coban Rondo

Akhir tahun 2015 kemarin, kami berlibur ke Batu, Malang, Jawa Timur. Ini adalah kunjungan kami yang kedua setelah 2011 yang lalu. Awalnya aku tidak terlalu antusias dengan tawaran teman-teman untuk liburan bareng ke Malang. Bagiku, tidak menarik lagi jika harus mengulang kembali berwisata ke tempat yang sama. Namun, setelah kutimbang-timbang, aku melihat sisi yang lain, kami kali ini bukan sekedar liburan, tapi juga mempererat tali silaturrahmi dengan teman-teman dan keluarganya.

Di samping itu, teman-teman yang diamanahi menjadi panitia, sudah bekerja keras untuk mewujudkan rencana tersebut. Tidak elok tentunya, bila aku lebih mementingkan egoku ketimbang jalinan persaudaraan. Toh, tidak ada aturannya kalau berwisata ke suatu tempat tidak boleh lebih dari sekali, bukan? 🙂

Aku ingat obrolan dengan seorang sahabat beberapa waktu silam. Katanya, kita bisa saja melakukan perjalanan ke tempat yang sama berulang-ulang, namun cerita yang melingkupi perjalanan itu, akan selalu baharu, dan itulah yang akan membuat perjalanan menjadi menarik untuk diikuti.

Maka, pada 23-26 Desember 2015 yang lalu, kami pun liburan di Kota Batu nan sejuk dan indah tersebut.

Salah satu tempat wisata yang kami kunjungi kemarin adalah Coban Rondo. Sebuah air terjun yang terletak 12 Km dari Kota Batu, tepatnya berada di desa Pandansari, Kecamatan Pujon. Air terjun tersebut memiliki ketinggian sekitar 84 m dan berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut. Airnya berasal dari sumber di Cemoro Dudo, lereng Gunung Kawi dengan debit 150 liter per detik pada musim hujan dan 90 liter per detik di musim kemarau.

Aku tidak tahu persis jalan menuju ke sana, karena kami berangkat menggunakan bus pariwisata. Jadi, tinggal terima beres. Tapi, dari yang kuamati, jalan yang dilewati adalah jalan raya Batu-Kediri. Sepanjang jalan, ada banyak petunjuk arah menuju ke sana. Sehingga, kecil kemungkinan pengunjung akan nyasar.

Setelah membayar Rp. 15.000/orang, kami pun memasuki kawasan tersebut. Hawa sejuk dan aroma hutan yang khas, menjadi seolah ucapan selamat datang kepada para pengunjung. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Aku ingin menikmati pemandangan nan hijau lagi indah tersebut. Tetiba mataku terserobok dengan sebuah papan informasi yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk.

Aku bergegas menuju papan tersebut. Sepertinya ada informasi mengenai kawasan air terjun tersebut tertulis di sana.

Dugaanku benar. Ternyata isinya adalah info mengenai legenda penamaan Coban Rondo bagi air terjun tersebut. Monggo dibaca:

 tips & info wisata : coban rondoLegenda Coban Rondo

Menarik juga ya legendanya.. 🙂

Selesai membaca, kami pun melangkahkan kaki menuju air terjun. Tak sabar rasanya ingin menikmati pemandangan indah dan suasana segar nan menyejukkan di sana. Dan… begitu sampai di sana, suasana ramai bak pasar malam terpampang nyata. Hahaha.. Hanya bisa tertawa bahagia saja melihat situasinya. Bukankah ini musim liburan, dan setiap orang berhak untuk menikmati liburan di situ? Jadi, jangan protes kalau kondisinya ramai.

tips & info wisata : coban rondoCoban Rondo

Setelah melewati sedikit perjuangan, akhirnya kami pun mendapatkan spot foto yang lumayan lah. Cekidot..

“Udah yuk Pa, capek”, Satira mengajakku untuk keluar dari kawasan tersebut.

“Hayuk”.

Sambil berjalan, kuperhatikan sekeliling. Ternyata, ada banyak hewan monyet berkeliaran di sekitar situ. Belum selesai aku memperhatikan hewan-hewan tersebut, tetiba suara gelak Fatih pecah dan cukup membuat kaget.

“Eh, Fatih, kenapa?”

“Hahaha… 😀 “

“Fatiiih…”

“Hahaha… itu lho..”, Fatih masih tetap tidak bisa menahan tawanya sambil menunjuk ke seorang gadis kecil yang berdiri tidak seberapa jauh dari kami.

Setelah kuperhatikan dengan seksama, barulah kumengerti kalau bungkusan berisi makanan yang ditenteng gadis kecil itu, dirampas paksa oleh seekor monyet yang kulihat tengah menikmati hasil rampasannya, tidak jauh dari posisi kami.

“Fatih… hush.. nggak baik menertawai orang”

“Habis gimana, lucu ngeliatnya..”

Dasar si Fatih… 😀

tips dan info wisata : coban rondoIni dia si tersangka..! 😀

Dari pengalaman ini, maka tips yang bisa kuberikan bagi sahabat yang berkunjung ke Coban Rondo suatu saat kelak, agar jangan menenteng makanan di kawasan tersebut. Para monyet di sana cukup agresif dengan makanan, tapi tidak sampai pada tahap menyerang manusia. Oleh karenanya, waspada tetap kudu dilakukan..

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger