3 Catatan dari Film Iqro

Ada tiga hal yang ingin kubagikan di sini, selepas menonton Iqro, Petualangan Meraih Bintang, sebuah film yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, yaitu:

1. Review

Ini merupakan film anak-anak yang layak tonton. Berikut sinopsisnya yang kukutip dari laman resmi film tersebut:

iqro posterAqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an.  Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha.

Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, Kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Boscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat: Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya.

Saat di rumah kakeknya Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Al Qur’an dengan metode Iqro, yang fun, berirama dan dibawakan secara ringan

Pengalaman Aqila belajar Al Qur’an dan teladan dari kakeknya Inilah yang menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta

Film ini sarat informasi dan pengetahuan yang patut diketahui oleh kita semua, terutama anak-anak. Dialog-dialog yang cerdas dan bernas terlontar dengan manisnya. Sebagai contoh, ketika sang Oma (Neno Warisman) menjelaskan kepada Aqila (Aisha Nurra Datau) hubungan bangun subuh dan kecerdasan. Dengan bahasa anak-anak, sang Oma pun mengatakan bahwa di pagi hari, otak kita masih segar, sehingga dengan mudah bisa menerima pengetahuan. Belajar di subuh hari, akan mendapat lebih banyak pemahaman, ketimbang siang hari. Jika ingin lebih pintar, maka rajin-rajinlah bangun pagi.

Materi yang disampaikan sang Oma mungkin terasa biasa bagi kita. Tapi, akan lain rasanya, bila kita melihat bagaimana cara Oma menyampaikannya. Agaknya, ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita para orangtua, bagaimana berdialog yang baik dengan anak. Kata orang-orang bijak, metode lebih penting daripada materi. Seberat apapun materi pembelajaran, bila disampaikan dengan cara yang menarik, akan terasa ringan. Film ini mengajarkan kita akan hal tersebut.

Secara keseluruhan, film ini menarik dan bagus. Hanya saja, jalan cerita terasa lambat dan konfliknya kurang gereget. Tapi, menurutku itu sah-sah saja, karena yang disasar adalah anak-anak. Bila konfliknya terlalu berat, tentu akan sulit untuk dicerna oleh mereka. Namun, bila dibandingkan dengan Petualangan Sherina, film ini masih belum bisa disejajarkan.

Yang menarik juga adalah para aktor kawakan yang membintangi film ini. Ada nama-nama besar seperti Cok Simbara, Neno Warisman, dan Meriam Bellina. Jam terbang mereka memang tidak diragukan lagi. Akting mereka benar-benar top markotop. Dan, sebagai pendatang baru, akting Aisha Nurra Datau yang berperan sebagai Aqila, juga patut diperhitungkan.

2. Impresi

Meski konflik di dalam film ini tidak terlalu berat, namun ada beberapa adegan yang memberikan kesan mendalam bagiku. Salah satunya adalah ketika Profesor Widodo, Opa-nya Aqila yang diperankan Cok Simbara, mendapat sandungan berat dalam karirnya sebagai Kepala Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Pemerintah Pusat memutuskan untuk menutup observatorium tersebut karena sudah tidak produktif lagi menghasilkan penelitian di bidang astronomi. Karena tidak imbang antara anggaran yang disediakan dengan output yang dihasilkan, maka fasilitas penelitian bintang tersebut selayaknya ditutup.

Profesor Widodo dan timnya bukan tidak memiliki alasan. Masalah utama yang mereka hadapi adalah sudah semakin parahnya polusi cahaya di sekitar Boscha. Yakni, gemerlap lampu yang dihasilkan mulai dari rumah-rumah penduduk sampai konser musik yang menembakkan cahayanya ke langit Lembang. Hal tersebut, membuat pengamatan bintang jadi terhalang. Suasana yang gelap, sangat dibutuhkan untuk menghasilkan pengamatan bintang yang maksimal.

Ini pun semakin diperparah dengan didirikannya sebuah hotel berbintang yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Boscha. Secara aturan, pembangunan di sekitar situ memang dilarang. Tapi, apa yang tidak bisa dilakukan bila penguasa dan pengusaha bersekongkol? Ilmu pengetahuan, sama sekali tidak berdaya bila berhadapan dengan dua kekuatan ini.

Kemarahan dan kesedihan yang ditunjukkan oleh Profesor Widodo ini ngena banget. Sebagai akademisi, aku paham betul bagaimana rasanya sebuah idealisme yang lahir dari ilmu pengetahuan, tidak memiliki arti apa-apa ketika berhadapan dengan kepentingan pengusaha dan penguasa. Keserakahan dan kesewenang-wenangan, melumat habis semuanya.

Film ini dengan apiknya mempertontonkan ini semua.

3. Nobar

Awalnya, aku tidak mengetahui adanya film ini. Sepertinya film ini digarap dengan dana minim, sehingga nyaris tidak ada iklan di media massa. Aku justru tahu dari istriku yang rada sibuk mengurusi nobar (nonton bareng) film ini. Ada dua kali kegiatan nobar yang dilaksanakan. Pertama, nobar Fatih dan teman-teman sekelasnya (kelas 6 SDIT Al-Khairaat Yogyakarta), plus orangtua/wali murid, serta guru-guru. Kedua, nobar bagi anak-anak yatim yang didanai secara patungan oleh beberapa donatur.

nobar film iqro

Nobar dengan Fatih dan teman-temannya benar-benar bikin repot, sekaligus seru. Betapa tidak? Mereka adalah sekelompok anak kelas 6 SD yang mulai beranjak remaja. Energi mereka tidak ada habisnya. Mereka bergerak terus kian kemari. Pokoknya suasana bioskop dibikin heboh. Dan yang paling seru adalah, ketika film sudah berjalan separuh, Mereka yang tadinya duduk manis menonton, satu persatu mulai bikin keributan. Entah apa yang dibicarakan.

Mulanya satu-dua orang anak, kemudian menular ke yang lain, dan akhirnya hampir semua mereka sibuk ngobrol sendiri-sendiri. Tentunya hal tersebut membuat suasana bioskop sedikit gaduh dan mengganggu penonton yang lain. Aku jadi geli sendiri melihat itu semua. Seolah ada dua film yang tengah kutonton; film Iqro dan film keusilan Fatih dkk… 😀

nobar-02

Kalau nobar kedua, justru meninggalkan keharuan di hati. Kami mengajak anak-anak yatim yang berjumlah 60 orang. Mereka sangat tertib. Ibu panti benar-benar telah mendidik mereka dengan baik. Aku salut sekali. Anak-anak dengan beragam usia dan latarbelakang itu, bisa dengan mudah diatur, tidak berkeliaran ke sana kemari.

Namun, ada satu adegan yang cukup mengharukan. Seorang anak yang berusia sekitar 4 tahun, menangis di gendongan salah seorang guru pembina. Setelah kutanya, rupanya si anak kepengen bermain di arena permainan yang ada dekat bioskop tersebut. Beberapa anak yang berusia sedikit lebih besar, membantu menenangkan.

Duh.. makjleb banget rasanya. Anak-anak itu begitu sadar akan keterbatasan mereka, namun hasrat bermain sebagaimana anak-anak yang memiliki orangtua lengkap pun tetap ada. Rasanya aku ingin mengajak anak itu bermain ketika itu juga. Namun, langsung aku urungkan niat itu. Bagaiaman perasaan anak-anak yang lain jika hanya satu anak itu saja yang kuajak? Kalaupun yang lainnya juga kuajak, danaku tidak memungkinkan untuk itu. Ah.. semoga suatu saat kami bisa mengajak mereka bermain.. Aamiin..

30 Hari Bercerita

Sepanjang Januari 2017 kemarin, aku posting satu gambar dengan caption yang lumayan panjang di instagram. Ini demi memenuhi tantangan ngeblog selama 30 hari berturut-turut lewat event #30haribercerita yang diselenggarakan oleh pemilik akun @30haribercerita. Sampai tulisan ini diturunkan, aku sama sekali tidak tahu, siapa orang-orang yang ada di balik akun tersebut. [ sok misterius.. haha.. 😀 ]

Yang menarik bagiku adalah bahwa ini bukan lomba. Ini hanya tantangan rutin menulis setiap hari. Dengan demikian, tujuannya benar-benar menantang diri sendiri untuk rutin menulis, bukan mengejar sepaket hadiah. Ini penting bagiku yang sudah mulai menurun intensitas menulis di blog tercinta ini.. 🙂

Karena tidak ada aturan yang ditetapkan dalam rangka mengejar hadiah, maka aku pun menulis dengan apa yang terpikirkan di saat itu saja. Tulisan-tulisan yang kuturunkan pun tidak beraturan. Mulai dari cerita perjalanan, sampai kepada tulisan reflektif. Yang terpenting, menulis.

Hingga kemudian, aku membaca postingan penutup di hari ke 31 oleh sang admin. Di salah satu paragrafnya, mereka menulis: “Kami juga punya daftar nama-nama yang jangan di-regram lagi karena tanpa sadar sudah kami regram lebih dari 3 kali“. Spontan kutengok postingan-postinganku tersebut, dan ternyata, aku sudah 4 kali di-regram. Dengan demikian, aku adalah salah satu dari nama-nama yang “diblokir”, alias tidak boleh lagi di-regram. 😀 #bangga

Ini dia keempat postingan yang di-regram tersebut:

1. Hari ke 8

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1708 #30hbcsma @30haribercerita . SUNAN KUDUS & SAPI . "Perlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan". . Pesantren tempatku nyantri dulu, punya tradisi mengajak siswa kelas akhir (3 SMA) untuk melakukan kunjungan ke beberapa sentra industri skala kecil maupun menengah di daerah-daerah sekitar pondok. Ketika itu aku mendapat kesempatan di Kota Kudus Jawa Tengah. . Dalam suatu kesempatan, guru pendamping kami bertanya, "Tahukah kalian kalau di Kudus ini tidak ada soto sapi?". Hampir serentak kami menjawab, "Tidaaaaak". . Guru kami itu pun menceritakan bahwa masyarakat muslim di Kudus, dari dulu dilarang oleh Sunan Kudus untuk menyembelih sapi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun Idul Adha. Hal tersebut dilakukan demi menjaga perasaan masayarakat Hindu yang menjadikan sapi sebagai hewan suci mereka. Makanya, di Kudus yang disembelih adalah kerbau ataupun kambing ketika Idul Adha. . Jujur, aku kagum dengan sikap Sunan Kudus tersebut. Beliau berusaha menghargai orang lain, dan tetap konsisten dengan ajaran agama yang dianutnya. Kekagumanku itu semakin bertambah ketika melihat Masjid Menara Kudus yang arsitekturnya memadukan aneka budaya. Perbedaan yang disatukan dalam sebuah harmoni, tanpa harus menghilangkan jati diri, sungguh terlihat indah di mata dan di hati.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

2. Hari ke 12

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30hbc1712 @30haribercerita . TUGAS ANAK (?) . "Pak, bakiaknya bisa nyampai paling lambat Rabu? Soalnya, itu buat tugas anak saya di sekolah, Kamis harus dikumpul". . Entah sudah berapa kali kudapatkan pertanyaan semacam itu dari pelanggan @mainan.bocah , aku sudah tak ingat lagi. Sering banget soalnya. . Sebagai penjual, tentu aku tidak perlu peduli apa tujuan dari pelanggan membeli produk mainan dan alat peraga edukatif yang kami jual secara online di www.mainanbocah.com bukan? Tapi, hati kecilku tidak setuju dengan cara orangtua yang seperti itu. . Tugas dari sekolah, tentu bertujuan untuk memberi latihan bagi anak, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bila kemudian orangtua yang sibuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, dan bahkan membelinya, apakah ada gunanya tugas sekolah tersebut? . Belajar adalah soal proses, bukan semata hasil. Oleh karenanya, biarkan anak-anak kita berproses. Bila harus membantu, berilah bantuan secukupnya, bukan justru mengambil alih.. #pendidikan #mainananak #mainanbocah #anakmandiri #edutoys #alatperagaedukatif

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

3. Hari ke 19

#regram from @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1719 #30hbcbahagia @30haribercerita . BAHAGIA . There is only one happiness in this life, to love and be loved (Goerge Sand) . Daniel Mahendra, pernah menulis dalam salah satu novelnya, "berbahagialah dia yang tahu arti kata pulang". Sebagai penulis kisah-kisah perjalanan, tentu kalimat itu bukan sekedar kutipan pemanis tulisannya saja bukan? . Aku akuri kalimat novelis yang menggelari dirinya sebagai Penganyam Kata tersebut sepenuhnya. Ya… bagiku, bahagia adalah ketika kita punya tempat pulang. Pulang dalam arti sesungguhnya. Berada bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Menikmati segala lara bersama, dan melalui kegembiraan tanpa paksa . Kata kunci dari definisi bahagia adalah cinta. Mengapa setiap orang merindukan pulang? Karena di sana ada cinta. Dan cinta itu tumbuh atas dasar cinta pada Sang Maha . Bagaimana bila cinta itu tiada? Tentu, takkan ada bahagia dalam kata pulang.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

 4. Hari ke 20

Regram dari @hardivizon : #30haribercerita #30HBC1720 @30haribercerita . LUNGSURAN . Pernah dapat lungsuran? Minimal sekali dalam hidup, tentulah kita pernah mendapatkanya, entah dari kakak atau orangtua. Ada beragam rasa ketika menerimanya; senang atau malah kesal. Kesal karena keseringan dapat lungsuran, jarang dapat yang baru, hehe . Beberapa waktu lalu, aku melungsurkan sebuah jas buat putraku. Jas itu dibuat pada tahun 1988, ketika aku masih lagi duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak terasa, hampir 3 dekade usianya, jauh lebih tua dari usia putraku . Aku cukup surprise begitu mengetahui bahwa jas itu masih tersimpan rapi dan awet. Ibuku telah menyimpannya dengan sangat baik. Ada haru ketika melihat jas itu dikenakan putraku. Bukan semata karena dia terlihat gagah, tapi lebih karena ada cinta Ibuku di dalamnya . Huft… mendadak mataku berembun..

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

Entah apa yang menjadi pertimbangannya, sehingga admin @30haribercerita tersebut me-regram keempat postinganku ini. Yang jelas, aku cukup senang. Penghargaan kecil semacam ini, cukup besar dampaknya. Setidaknya,aku tetap ingin mengikuti program tersebut hingga akhir.

Semoga, semangat update blog, bisa tetap terjaga setelah ini.. Amiin.. 🙂

Garing

Bercanda adalah naluri manusia. Bahkan, kita butuh untuk bercanda, agar urat syaraf tidak terlalu tegang. Bercanda juga merupakan salah satu bentuk relaksasi. Terlalu serius dalam menjalankan kehidupan, malah tidak baik. Bercanda memang sangat kita butuhkan

Hanya saja, bercanda tetap ada batasannya. Berlebihan dalam bercanda, bisa fatal akibatnya. Nabi Muhammad SAW juga bercanda. Dalam salah satu riwayat dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa ia berkata: “Orang-orang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab: ‘Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) ” (HR. Tirmidzi nomor 1991)

Dalam hadisnya yang lain, Nabi Muhammad saw. sangat mengecam orang yang sengaja melakukan kedustaan hanya demi mendapatkan gelak tawa dari orang lain yang mendengarkannya. Hadis tersebut berbunyi:: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” [HR. Abu Daud Nomor 4338]

Saat ini, aplikasi chatting di telepon pintar sangat banyak. Kita akan dengan mudahnya ngobrol dengan siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Termasuk bercanda. Namun, menurutku, ada satu becandaan yang tidak lucu alias garing. Coba perhatikan gambar berikut ini:

broadcast wa tentang gaji guru

Postingan yang banyak dikirim melalui WA group seperti di gambar di atas, adalah sebuah becandaan yang tidak lucu. Para guru memang mengharapkan peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Haruskah itu semua dijadikan lelucon? Mungkin sulit merasakannya bagi yang tidak berprofesi sebagai guru. Tapi.. Ketika harapan tersebut dijadikan bahan olok-olokan, sungguh menyakitkan.. 😦

Seperti yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis beliau di atas, bahwa sengaja melakukan kebohongan agar dapat mengundang tawa, adalah perbuatan yang sangat dibenci. Oleh karenanya, tidak perlu bukan menyebar pepesan kosong seperti gambar di atas? 🙂

Good Mood, Good Move, Good Mouth

Ada tiga hal yang patut dijaga, agar kita bisa memberikan kenyamanan bagi sekitar dan tentu bagi diri sendiri. Tiga hal tersebut adalah:

1. Good Mood

good mood

Be grateful when your mood is high and graceful when it is low” [Richard Carlson]

Mood merupakan suasana hati yang dapat dipengaruhi karena adanya rangsangan dari luar yang kita terima; bisa baik (good mood), bisa buruk (bad mood).

Mood akan terlihat dari perilaku yang ditunjukkan seseorang. Ia akan berpengaruh pada emosi. Dengan kata lain, emosi kita seringkali terekspresikan sebagai akibat dari suasana hati yang tengah kita rasakan.

Ketahuilah, mood itu sebenarnya adalah diri kita sendiri. Kita-lah yang mengendalikan mood kita. Sebagai contoh, slide presentasi yang telah kita persiapkan dengan baik, tiba-tiba terkena virus dan membuatnya berantakan, sementara waktu presentasi tinggal beberapa menit lagi.

Jika dalam kondisi tersebut kita terbawa suasana, maka akan muncullah bad mood. Walhasil, semuanya akan berantakan. Tapi, bila kita bisa tetap enjoy dan tidak panik, maka good mood lah yang muncul, dan kemungkinan besar presentasi itu akan sukses besar.

Menjaga mood agar tetap baik adalah penting, karena ia akan menentukan seperti apa perilaku (move) yang akan kita lakukan.

2. Good Move

good move

Forgive yourself for your faults and move on” [Les Brown]

Mood yang kita rasakan, berpengaruh pada perilaku. Seseorang yang lagi bad mood, seringkali mengekspresikan suasana hatinya dalam perilaku yang kurang elok, mulai dari uring-uringan sampai merusak segala hal yang ada di sekitarnya.

Perilaku negatif, tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain, termasuk orang-orang terdekat kita. Sebaliknya, perilaku positif, akan membahagiakan semua kalangan.

Setiap kita, pasti pernah melakukan kesalahan. Meratapi kesalahan, hanyalah akan membuahkan kesia-siaan. Good move, akan merubah kesalahan itu menjadi kemenangan.

Maka, tetaplah berperilaku baik, demi kehidupan yang lebih baik. Salah satu perilaku baik itu adalah bertutur kata yang baik (good mouth).

3. Good Mouth

good mouth

We have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak” [Epictetus]

Tidak sedikit orang yang hancur kehidupannya karena tidak mampu menjaga tutur kata. Ujaran-ujaran yang kita lontarkan, kemudian menyakitkan hati orang lain, seringkali berbalik arah kepada kita, dan menjadi senjata penghancur yang sangat kejam.

Tutur kata yang baik (good mouth) tidak muncul dengan sendirinya. Ia lahir dari perilaku yang baik (good move). Perilaku yang baik, lahir dari mood yang baik. Maka, menjaga mood agar tetap baik, adalah sebuah keniscayaan. Dan semuanya, ada pada diri kita sendiri.

Salah satu cara agar dapat bertutur kata yang baik adalah dengan lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Kita diberi dua telinga dan satu mulut menunjukkan bahwa mendengar haruslah lebih banyak daripada berbicara.

.

Mood, move, dan mouth yang tetap terjaga kebaikannya, niscaya memberi kebahagiaan untuk semesta, terutama diri kita.

Semoga bermanfaat 🙂

Lillahi Ta’ala

Tetiba seorang kawan mengirimkan gambar ini di grup chatting alumni yang kuikuti.

pak hasan - lillahi taala- 01

Cukup lama kupekuri gambar ini. Sosok yang ada di gambar itu adalah guru yang sangat kukagumi. Beliau adalah KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sejenak kerinduanku membuncah. Ah.. lama nian sudah tak kukunjungi beliau. Sebait doa kulantunkan untuk kesehatan dan kebahagiaan beliau.

Beberapa kali aku pernah menurunkan tulisan tentang beliau di blog ini, antara lain Terima Kasih Guru, Motto Pembelajar, dan Semua Kita Adalah Guru. Tulisan-tulisan tersebut tidak cukup mewakili penghormatanku pada inspirasi yang beliau berikan. Keikhlasan yang beliau teladankan selama ini, begitu membekas sangat dalam di sanubariku. Bahkan sahabatku Ahmad Fuadi penulis novel Negeri 5 Menara itu pun mendapat inspirasi yang tidak sedikit dari beliau. Aku juga pernah menceritakan tentang hal tersebut dalam tulisan bertajuk Aura Keikhlasan.

Kembali ke gambar di atas. Sesungguhnya, bukan semata sosok yang ada di gambar itu yang membuatku terdiam cukup lama, tapi juga kata-kata yang tertulis di dalamnya.

“Jangan pernah merasa kecewa karena orang lain tidak menghargai dan berterima kasih atas jerih payah kita. Untuk siapa dan karena siapakah kita berbuat? Lillahi ta’ala”

Seratus persen kuakuri petuah tersebut. Betapa keikhlasanku masih jauh dari kata sempurna. Aku akan senang luar biasa ketika hasil kerjaku bertabur puja-puji. Dan sebaliknya, aku akan kesal sejadinya, ketika karyaku tak dianggap. Agaknya, perlu kuperbaharui lagi niat dalam berbuat. Untuk apa aku melakukannya? Demi puja-puji makhluk, ataukah untuk beroleh karunia dari Sang Penguasa Hidup?

Nasehat guruku ini, telah menyadarkanku akan arti sebuah keikhlasan..

Terima kasih, Pak Kiai.. 🙂

Semoga bermanfaat..

Sandboarding di Parangkusumo, Seruuu…

Ketika berkunjung ke Gumuk Pasir medio 2013 yang lalu, kami belum sempat merasakan serunya bermain sandboarding di sana. Meski sebelum berkunjung pernah mendengar soal itu, namun waktu itu kami tidak menemukan spot di mana orang-orang memainkan olahraga tersebut. Maka, dalam kesempatan liburan akhir tahun 2016 yang lalu kami pun bertekad untuk bisa mencoba permainan tersebut. Terlebih, Fatih melihat video kiriman temannya yang tengah bermain di sana, bertambahlah hasrat kami untuk menjajalnya.

Seperti yang kuceritakan pada postingan 2013 yang lalu itu, bahwa Gumuk Pasir tersebut adalah sebuah kawasan berpasir yang terletak antara Pantai Depok dan Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta. Gumuk Pasir merupakan fenomena alam berupa gundukan-gundukan pasir menyerupai bukit akibat dari pergerakan angin. Istilah gumuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti gundukan atau sesuatu yang menyembul dari permukaan yang datar. Selengkapnya, monggo dibaca postingan lamaku itu ya.. 🙂

Karena tujuan kami ke Gumuk Pasir kali adalah untuk bermain, maka bernarsis ria sudah tidak kepikiran. Hehehe… Tapi setidaknya, adalah satu sebagai ucapan selamat datang.. 🙂

sandboarding-02

Begitu sampai di lokasi, kami langsung menuju ke tempat penyewaan papan seluncur yang akan digunakan untuk bermain sandboarding nanti. Harga yang dipatok untuk sewa papan seluncur tersebut adalah Rp. 70.000 dengan penggunaan tanpa batas waktu, alias bermain sepuasnya. Kami menyewa satu saja. Toh nanti bisa digunakan bergantian.

Memasuki kawasan Gumuk Pasir, terlihat di beberapa spot foto yang sudah disediakan agar terlihat lebih artistik. Rupanya hasrat bernarsis dan berswafoto masyarakat yang bergitu besar dipahami dengan baik oleh pengelola termpat tersebut. Spot-spot foto semacam ayunan kayu, gardu pandang, dan karangan bunga besar berbentuk hati pun tersedia. Sejujurnya, aku kurang suka dengan itu, karena mengurangi kenaturalan kawasan tersebut. Tapi, itu semua soal selera, bukan?

Tanpa menunggu lebih lama, kami pun segera mencari lokasi yang pas untuk bermain papan seluncur pasir tersebut. Di sebuah tempat yang berbentuk tebing, terlihat ramai orang berkumpul di sana. Mereka lagi asyik bermain sandboarding rupanya. Ke sanalah  kami menuju. Di sana, beberapa petugas ikut mendampingi. Mereka memberi sedikit arahan untuk bermain, dan membantu mengoleskan pelicin ke papan seluncur tersebut agar dapat meluncur dengan kencang.

sandboarding-01

Bermain sandboarding ini hanya dibutuhkan keseimbangan, keberanian, dan tentunya kegembiraan. Berkali-kali kami mencobanya. Awal-awalnya cukup sulit. Baru memulai sudah jatuh. Coba lagi, jatuh lagi. Hingga akhirnya benar-benar menemukan keseimbangan yang diharapkan. Suwer, bila berhasil meluncur hingga bawah tanpa jatuh, rasanya itu sungguh aduhay… Tapi, kalau pun jatuh di tengah-tengah, tetap asyik kok. Asyik buat tertawa lepas.. 😀

Berkunjung ke Gumuk Pasir harus memperhatikan cuaca. Tidak akan asyik sama sekali bila berkunjung ke sana pas habis hujan. Pasirnya menggumpal dan basah. Dan waktu yang paling baik adalah di sore hari. Tapi kalau mau berkunjung di siang hari juga boleh, asal rela kulitnya terpanggang… 😀

Perlukah Mengeluh di Medsos?

Lama kelamaan, media sosial semakin membosankan. Tidak hanya dipenuhi oleh berita-berita bohong a.k.a hoax, juga oleh para pengeluh. Hampir setiap hari kita menemukan status-status berisi keluhan. Bentuknya pun bermacam-macam. Mulai dari mengeluarkan kata-kata kasar, sampai berdoa kepada Tuhan.

Dari yang kuamati, sepertinya para pengeluh di medsos tersebut, merasa terpuaskan ketika curhatannya dibaca oleh khalayak ramai, apalagi kemudian ada yang berkomentar seperti, “ada apa, say?”, “yang sabar ya“, atau “kamu harus tabah, aku tau kamu pasti bisa“. Bisa jadi, si pengeluh akan merasa diperhatikan dengan komentar-komentar semacam itu.

Salahkah perilaku seperti itu? Ah.. aku tidak berhak menghakimi itu salah apa benar. Hanya saja, aku bosan dengan hal tersebut. Menurutku, media sosial bisa dimanfaatkan dengan jauh lebih baik dari hanya sekedar mengeluh.

Dibutuhkan kedewasaan dalam hal ini. Kedewasaan di sini bukan dalam artian usia. Sebab, banyak juga orang-orang dengan usia matang, dan bahkan berpendidikan tinggi dengan jabatan publik yang disegani, melakukan keluhan dan curhatan di medsos.Tapi, kedewasaan dalam memahami maksud dan tujuan bermedsos, serta tentunya jam terbang di dunia maya. 🙂

Terlepas dari perilaku berkeluh kesah di medsos tersebut benar apa salah, menurutku ada yang lebih asasi dari itu semua. Sesungguhnya, dalam wujud apapun, berkeluh kesah itu tidaklah perlu. Sebab, itu hanya akan menurunkan semangat hidup dan mencerminkan rasa syukur kita yang rendah terhadap nikmat yang telah Tuhan berikan.

Jika kita hitung jumlah kenikmatan yang telah Tuhan berikan, tentu tak terbandingkan dengan kesulitan yang kita hadapi. Nikmat Tuhan itu sungguh tiada tara banyaknya. Mulai dari oksigen yang kita hirup, hingga gadget yang kita pegang saat ini. Coba simak firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 109 berikut ini:

QS Al-Kahfi 109

قُلْ لَوْ كَانَ البَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ البَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya ilmu Allah itu maha luas. Sekiranya air laut dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah yang menunjukkan ilmu dan hikmah-Nya, maka tinta itu akan habis sebelum habis kalimat Allah, meskipun ditambahkan lagi sebanyak itu. Kalimat Allah dalam hal ini berarti tanda-tanda kekuasaannya. Salah satunya adalah kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia.

Oleh karenanya, teruslah bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan. Masalah memang akan selalu hadir dalam hidup. Yang dibutuhkan adalah solusi dari masalah tersebut. Dan solusi itu tidak akan didapat dari berkeluh kesah.

Semoga bermanfaat.