Pantai Glagah; Antara Tenangnya Laguna dan Derasnya Ombak

CeritaLebaran #5

Awalnya, aku agak kurang bersemangat mengajak keluarga jalan-jalan ke Pantai Glagah yang terletak di desa Glagah, Kec. Temon, kab. Kulon Progo dan berjarak sekitar 41 km dari arah barat Kota Yogyakarta tersebut. Pasalnya, dalam pikiranku, berwisata ke pantai, ya begitu-begitu saja; melihat air laut, kejar-kejaran dengan ombak dan basah-basahan. Tapi, karena sudah sepakat dengan keluarga untuk mengeksplorasi wisata Kulon Proga dalam libur lebaran kali ini, maka mau tidak mau Pantai Glagah harus masuk dalam list.

Perjalanan dari Kweni menuju pantai tersebut lebih kurang 1 jam dengan sepeda motor. Tidak sulit menemukan pantai ini. Sebab, begitu memasuki kota Wates, petunjuk arah terlihat dengan jelas di beberapa tempat. Apalagi ini adalah pantai yang cukup terkenal, sehingga tidak pantai glagah-01sulit untuk mendapatkan informasi jalan kepada penduduk setempat.

Memasuki area pantai tersebut, kami “disambut” oleh jajaran pedagang di kiri-kanan jalan. Yang menarik adalah adanya pedagang buah sayuran di sana. Agaknya ini yang membedakan Glagah dengan pantai-pantai yang lain. Rupanya, aneka sayuran dan buahan yang dijual di sana berasal dari kebun penduduk setempat. Di dekat pantai tersebut, terdapat juga area agrowisata yang bisa kita kunjungi. Terdapat aneka tanaman buah di sana, terutama buah naga dan rosella.

Melewati beberapa kios pedagang, mataku tertumbuk pada jajaran kapal yang bersandar di bibir pantai serta beberapa orang yang tengah asyik berenang. Dan yang tak kalah menariknya adalah, air yang mengalir dengan sangat tenangnya. Sebelum kepenasaranku terjawab, sebuah papan besar terpampang di depanku dengan tulisan, “Wisata Laguna Glagah”. Oh, ternyata ini adalah laguna.

Yak.. salah satu yang menjadi ciri khas Pantai Glagah adalah keberadaan laguna, yakni sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya. Karena adanya penghalang tersebut, air di situ relatif lebih tenang, karena tidak begitu terpengaruh oleh deburan ombak.

Sejenak, kami pun menikmati ketenangan laguna tersebut dengan menaiki perahu wisata. Biayanya tidak terlalu mahal. Cukup dengan membayar Rp. 5.000 perorang, kami sudah bisa berkeliling selama lebih kurang 30 menit. Ada juga keinginan untuk menaiki kano atau berenag, tapi kupikir, nanti sajalah. Lebih baik nikmati saja keseluruhan pantai terlebih dahulu.

pantai glagah - lagunaLaguna yang tenang dan menenangkan

Puas berkeliling dengan perahu, kami pun segera menuju area utama di pantai tersebut, yakni dermaga wisata. Dermaga yang cukup kokoh tersebut, juga ditopang oleh ratusan tetrapod yang berjajar di sepanjang sisinya. Di sinilah pemandangan yang sangat kontras terlihat. Jika di laguna tadi suasanya tenang, kalau di si dermaga ini, hantaman ombak datang silih berganti dengan dahsyatnya. Pecahan ombak yang menghantam tetrapod memberikan pemandangan yang mengasyikkan. Percikan air raksasa tersebut, mampu membasahi pengunjung yang berada di sekitar situ. Gelak tawa pun pecah seketika.

pantai glagah-05

pantai glagah

Pecahan ombah yang dahsyat di Pantai Glagah

Tapi, jangan harap pecahan ombak raksasa itu hadir setiap saat. Sesekali saja munculnya. Dan oleh karenanya, butuh kesabaran menunggu kehadirannya. Bila kamera pas standbye langsung bisa menangkap momen tersebut. Yang bikin geregetan adalah ketika sudah menunggu cukup lama dengan posisi kamera siap jepret, sang ombak tak kunjung hadir, tapi begitu berpaling sedikit, tiba-tiba cipratan raksasa itu mengguyur dengan semena-mena. Huh… sakitnya itu terasa banget di ujung telunjuk… 😀

vizon's family at pantai glagahNarsis yang menjadi menu wajib.. 😀

Setelah melihat dan merasakan asyiknya berwisata di pantai Glagah, akhirnya aku pun bisa mengatakan bahwa berwisata ke sini, tidak “begitu-begitu saja”. Ada keasyikan tersendiri ternyata di sana. Keraguanku di awal sebelum berangkat, tereliminasi dengan sendirinya.

Yuk ah.. kita lanjut eksplorasi lagi pantai-pantai yang ada di Kulon Progo. Kita coba temukan lagi keasyikannya masing-masing..

sebelumnya:

referensi:

Kalibiru; Hutan Wisata Yang Narsisable

CeritaLebaran #4

Apa yang sahabat rasakan melihat foto berikut ini?

kalibiru (16)

Kalau aku, selalu merasa ngilu di ujung-ujung kaki. Rasa tersebut kurasakan sejak bernarsis ria di atas pohon di puncak bukit Menoreh di kawasan Hutan Wisata Kalibiru dengan ketinggian 450 mdpl, pada libur Lebaran tempo hari. Rasa tersebut, sampai hari ini masih saja tersisa. Sehingga, setiap kali melihat foto itu, baik yang aku sendiri yang memotretnya maupun aku yang sebagai modelnya, rasa ngilu itu selalu muncul.. 🙂

Sudah lama aku berniat untuk berkunjung ke kawasan hutan wisata yang terletak di atas Waduk Sermo – Kulon Progo tersebut, gegara melihat foto yang kurang lebih sama dengan di atas yang diunggah sahabatku Koelit Ketjil pada libur Idul Fitri tahun lalu di laman facebook-nya. Maka, ketika kami putuskan untuk berwisata ke Kulon Progo pada libur lebaran kali ini, Kalibiru menjadi pilihan utama kami.

Untuk mencapainya, cukup mudah. Ada penunjuk arah yang terpampang dengan jelas di dekat Waduk Sermo.

Dari sinilah petualangan menuju Kalibiru, dimulai..! 🙂

Jalanan yang harus dilewati ternyata tidaklah mudah. Sangat memacu adrenalin. Tanjakan-tanjakan tajam yang cukup tinggi, disertai kelokan ekstrim, membuatku benar-benar berkonsentrasi penuh. Tak dapat kubayangkan, bagaimana bila kendaraan kami tiba-tiba berhenti di tengah tanjakan. Hiii… bulu kudukku jadi berdiri memikirkannya.. 😀

blog-kalibiru-01Lebih kurang 30 menit perjalanan dari Waduk Sermo tadi, kami pun sampai di lokasi. Lega rasanya. Setelah memarkirkan kendaraan, kutenangkan diri sejenak dengan meneguk sebotol air mineral sambil mengakrabkan diri dengan suasana. Pengunjung pada hari itu lumayan ramai, barangkali karena bertepatan dengan libur lebaran sekaligus akhir pekan.

Dari parkiran, kami musti berjalan kaki, melewati jalanan yang menanjak cukup tajam juga, menuju pos retribusi. Sesampai di pos retribusi, aku lagi-lagi harus beristirahat. Pihak pengelola cukup arif dengan kondisi para pengunjung. Mereka menyediakan bergelas-gelas air mineral yang dibagikan secara gratis. Setelah membayar Rp. 3.000/orang untuk retribusi dan membasahi kerongkongan dengan segelas air mineral, petualangan kami di hutan wisata itu pun berlanjut..

blog-kalibiru-03 blog-kalibiru-04
Segelas air mineral menghapus dahaga setelah berjalan mendaki menuju pos retribusi

Kawasan wisata ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar yang tergabung dalam Komunitas Lingkar, yakni gabungan 7 Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (KTHKm). Motivasi mereka mendirikan kawasan wisata ini cukup menarik. Berikut aku kutipkan tujuan mereka tersebut yang termaktub di laman blog mereka:

Pembangunan Wisata Alam Kalibiru adalah salah satu kegiatan yang dikembangkan oleh Komunitas Lingkar sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat pengelola hutan, khususnya di Hutan Lindung Kabupaten Kulon Progo.

Bahwa dengan semakin rapatnya tegakan di kawasan hutan, masyarakat sudah tidak bisa menikmati lagi hasil tumpangsari yang semula menjadi andalan, karena tanaman semusim tersebut tidak bisa hidup dan menghasilkan lagi.

Dengan adanya Wisata Alam ini diyakini mampu menjadi kegiatan alternatif bagi masyarakat agar kelestarian hutan tetap terjaga, namun di sisi lain secara ekonomi ada peningkatan pendapatan, dengan tujuan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan.

Sebuah solusi yang arif dan bijaksana bukan?

Ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan di kawasan wisata ini, seperti outbond, treking dan bernarsis ria sambil menikmati pemandangan waduk Sermo dari ketinggian. Dan kegiatan yang terakhir inilah menjadi tujuan utama kami ke situ, haha.. 😀

Maka, tanpa berlama-lama lagi, kami segera menuju ke spot foto di atas pohon dengan mengikuti petunjuk arah yang disediakan. Aku segera membeli tiket untuk itu. Lumayan juga harganya. Per orang dikenakan biaya Rp. 15.000. Kita bisa berfoto menggunakan kamera sendiri. Tapi, bila ingin difoto oleh fotografer profesional, pengelola telah menyediakannya. Hanya saja, untuk mengkopi file foto tersebut, kita dikenakan biaya Rp. 5.000 per foto dan minimal yang dikopi 3 foto.

“Antre ya Mas?”, tanyaku pada penjual tiket.

“Iya, Pak. Lagi rame banget ini”

“Kami dapat nomer berapa?”

“Itu ada di tiketnya, nomer 173”

“Berapa lama lagi, kira-kira?”

“Lebih kurang 2 jam”

“Hah…? 2 jam? Alamak…!”

“Bapak silahkan jalan-jalan dulu aja. Nanti, sekitar dua jam lagi datang ke sini”

“Iya deh kalau begitu. Kami juga belum makan”

“Monggo, Pak.. Ada banyak warung di sekitar sini. Bapak bisa makan sambil menikmati pemandangan”

“Maturnuwun, Mas”

“Sama-sama, Pak”

Ternyata kemasyhuran Kalibiru sudah tersebar ke seantero jagat. Banyak orang dari berbagai penjuru datang ke sana, terutama pada musim liburan. Semuanya ingin merasakan sensasi bernarsis ria di puncak bukit tersebut. Beruntung kami datang masih agak siang dan segera membeli tiket untuk berfoto. Ada banyak pengunjung yang harus kecewa karena tidak bisa membeli tiket berfoto lagi. Pukul 4 sore sudah ditutup, karena antrian sudah cukup panjang dan diperkirakan baru habis pada pukul 6 sore. Toh, akan percuma saja bila berfoto bila hari sudah gelap, view yang diharapkan sudah tidak kelihatan lagi.blog-kalibiru-05

Kami pun beristirahat sejenak sambil mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Mau tau apa yang kami pesan? Mie instan… hahaha… 😀 Meski warung-warung di situ ada juga yang menyediakan menu makan yang lain, tapi aroma mie instan yang lagi dimasak, begitu menggoda. Sepertinya cocok dengan suasana hutan yang syahdu saat itu.

Selepas mengisi perut, kami pun berkeliling. Dan, bila ada spot menarik, bernarsis lah kami. Kalibiru benar-benar hutan wisata yang narsisable deh pokoknya.. 😉

hutan wisata kalibiruNarsis abeeessss… 😀

Sesuai dengan perkiraan waktu dari peetugas tadi, kami pun segera menuju pohon narsis tersebut. Tidak terlalu lama menunggu, giliran kami pun tiba. Setiap  kami dipasangi alat dan tali pengaman untuk memanjat. Dengan begitu, keberadaan kita di atas pohon, cukup aman. Namun, tetap saja ada sedikit kengerian, baik bagi yang lagi dipotret maupun yang memotret. Setiap orang diberikan waktu lebih kurang 10 menit, mengingat antrian yang cukup panjang.

pohon kalibiruUdah kayak film India aja ya, narsis di pohon… 😀

Puas menikmati hutan wisata Kalibiru, kami segera beranjak turun menuju parkiran dan pulang.

Dan… sebagai hidangan penutupnya, lagi-lagi adrenalin kami dipacu melalui jalan turun yang cukup curam. Untung rem sepeda motor kami cukup pakem, sehingga bisa menahan laju kendaraan dengan baik. Tapi, itu semua tidak bisa merem jantung yang berdegup dengan sangat kencangnya.. 😀

sebelumnya:

selanjutnya:

referensi:

Waduk Sermo; Pengorbanan Yang Tak Sia-Sia

CeritaLebaran #3

Setelah membongkar-bongkar tulisan di blog ini, akupun baru menyadari kalau ternyata kami belum sekalipun berwisata di salah satu kabupaten di Yogyakarta, yakni Kulon Progo. Padahal, di sana ada banyak potensi wisata yang layak dikunjungi. Maka, akupun putuskan untuk mengeksplorasi daerah tersebut dalam libur lebaran kali ini.

Destinasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Waduk Sermo. Yakni sebuah waduk yang berada di Kawasan Bukit Menoreh, tepatnya di Dusun Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Dari googlemap, aku lihat bahwa jarak dari Kweni-Bantul menuju ke sana lebih kurang memakan waktu 50 menit. Lumayanlah menurutku.

Dengan persiapan penuh, kami pun berangkat dari rumah pada pukul 9 pagi. Kami memilih menggunakan sepeda motor,mengingat jalur Jogja-Kulon Progo pada hari-hari Idul Fitri seperti sekarang ini sangat padat. Dengan sepeda motor, tentu akan lebih  leluasa dan bisa menghindar dari kemacetan.

Benar saja, sepanjang jalan dari menuju Wates, ibukota Kulon Progo, kendaraan roda empat maupun roda dua memenuhi jalanan. Semua padat merayap. Syukurnya kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Dan alhmadulillah, setelah berkendara hampir satu jam, kami menemukan arah petunjuk jalan menuju waduk Sermo terpampang besar-besar di pinggir jalan.

Dari situ, kami bergerak menuju waduk yang dimaksud. Jalanan mulai sepi. Kami pun bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang berkelok tersebut. Tepat pukul 10.30 wib, kami pun sampai di lokasi.

Kami pun tidak sabar ingin menikmati suasana waduk. Buru-buru kami parkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling waduk yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 November 1996 silam itu. Terlihat hamparan danau buatan yang dibuat dengan membendung Kali Ngrancah, terbentang dengan tenangnya

waduk sermo (02)

Dari informasi yang kudapat, waduk dengan luas genangan kurang lebih 157 Hektar dan dapat menampung air 25 juta meter kubik ini dibangun dengan tujuan sebagai sumber air bersih PDAM dan untuk air irigasi yang mengairi sawah di daerah Wates dan sekitarnya.

Namun, pembangunan waduk ini disamping menghabiskan biaya yang sangat besar, juga mengharuskan penduduk yang ada di situ bersedia berkorban kehilangan kampung halaman mereka. Penduduk yang mendiami lokasi waduk itu dulu, melakukan transmigrasi massal alias “bedol desa”. Sebanyak 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan 7 KK ditransmigrasikan ke Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit Riau.

waduk sermo (03)

Ketika memandangi hamparan air di waduk tersebut, terbayang olehku betapa besar pengorbanan warga kampung itu dulu. Aku tidak tahu, apa saja yang memotivasi mereka sehingga bersedia pergi dan meninggalkan tanah kelahiran mereka itu. Tapi yang jelas, pengorbanan mereka memberikan manfaat yang sangat besar bagi sekitarnya. Saat ini, Kulon Progo menjadi pemasok sayur dan buah yang sangat besar bagi Yogyakarta dan sekitarnya. Tentu saja perkebunan mereka tersebut bisa tumbuh baik berkat pengairan yang baik pula. Dan itu berasal dari waduk Sermo. Ini tentulah menjadi amal jariyah bagi para penduduk yang telah berkorban dulu itu. Selama waduk itu mengalirkan airnya, selama itu pulalah pahalanya mengalir kepada mereka.

Hal inilah yang kusampaikan kepada anak-anakku sembari mengitari waduk tersebut. Tidak ada salahnya bila kita rela mengorbankan sedikit yang kita punya demi kepentingan umum. Dan sebaliknya, tidak baik bila kita berkorban habis-habisan, hanya untuk kepentingan segelintir orang, demi memuaskan nafsu duniawinya.

waduk sermo (01)

Puas berkeliling dan berfoto-foto di sekitar waduk, kami pun segera beranjak ke destinasi selanjutnya, yakni Kalibiru yang terletak tidak seberapa jauh dari situ. Sebelum berangkat, Ajib sempat bertanya,

“Kita tidak naik perahu itu dulu, Pa?”

“Tidak usah ya. Kita cukup nikmati saja dengan melihatnya”

“Ok, kita lanjut lagi kalau begitu”

“Let’s goooo….!!!”

sebelumnya:

selanjutnya:

referensi:

Shalat Idul Fitri 1436 H di Altar

CeritaLebaran #1

Sejak tinggal di Kweni, belum sekalipun kami melaksanakan shalat Idul Fitri di tempat lain. Rasanya, ingin juga sesekali merasakan shalat di luar Kweni. Setidaknya, bisa merasakan nuansa yang berbeda. Maka, setelah kami diskusikan beberapa hari jelang Idul Fitri tiba, akhirnya kami sepakat untuk menunaikan shalat ‘Id kali ini di Altar, alias Alun-alun Utara Yogyakarta.

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat dari rumah. Sebab, berdasarkan pengumuman dari panitia, jamaah sudah diminta untuk bersiap pada pukul 06.30. Di samping itu, aku sudah dapat membayangkan betapa ramai dan macetnya lalu lintas ke sana nanti. Maka, berangkat lebih pagi tentu lebih baik.

Tidak sampai 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di lokasi. Terlihat jamaah sudah mulai memadati alun-alun kebanggaan warga Yogyakarta tersebut. Dengan sedikit bergegas, akhirnya kami pun bisa mendapatkan shaf di barisan-barisan depan. Selang beberapa menit saja setelah itu, jamaah benar –benar sudah memadati lapangan yang sangat luas tersebut.

jamaah shalat id di altar

Aku tidak mengenali tokoh-tokoh penting siapa saja yang hadir di situ. Yang kutahu hanya Sri Sultan dan Pak Din Syamsuddin yang kebetulan menjadi khatib pada hari itu. Pak Din inilah yang menjadi salah satu motivasi kami untuk bershalat ‘Id di sana.

Isi khutbah Pak Din menurutku cukup menarik. Ada banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

din syamsuddin khutbah di altar

Beberapa hal yang dapat kucatat antara lain:

  1. Idul Fitri merupakan momentum yang tepat untuk kembali kepada kesucian dan kekuatan. Kembali kepada kesucian artinya adalah kembali kepada kemurnian diri, tanpa dosa, tanpa tendensi apapun dalam hidup, hanya berharap kepada keridhaan Allah semata. Dan kekuatan maknanya adalah mengembalikan segala upaya kepada Sang Maha Kuasa dan tunduk pada aturanNya. Jika dua hal ini disatukan, maka kemenangan yang hakiki akan kita raih.

  2. Ibadah puasa sesungguhnya adalah ajang untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri itu tergambar dalam perilaku kita yang disebut dengan akhlak. Ada pepatah yang mengatakan:

اِنَّمَا الاُمَمُ الاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

 “Dengan akhlaq, suatu bangsa akan teguh. Bila akhlaqnya rusak, mereka pun rapuh

Saat ini, nilai-nilai moral bangsa Indonesia sudah banyak yang tergerus. Yang dulunya ramah, kini menjadi gampang marah. Kita sangat gampang tersulut emosi. Hanya dengan sedikit isu, kita pun saling beradu. Semangat kegotongroyongan yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini, sekarang tak lagi dapat dibanggakan. Kepentingan individual terasa begitu kentalnya. Sehingga, alih-alih membela kepentingan bangsa, justru kita terjebak dalam fanatisme buta.

  1. Kebanggaan kita, terutama generasi muda pada bangsa ini sudah memudar. Kita justru bangga dan mengagungkan bangsa lain. Banyak yang merasa malu dengan identitasnya sendiri. Ini tentu tidaklah baik. Untuk maju, suatu bangsa harus bangga dengan identitasnya. Dengan kebanggaan tersebut, kita akan mampu berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa lain.

Tiga hal dari banyak poin yang disampaikan dalam khutbah Pak Din tersebut di atas, menurutku patut untuk direnungkan sebagai bahan muhasabah bagi kehidupan kita kedepannya. Semoga saja setelah nilai-nilai puasa yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin dapat terus terimplementasi dalam keseharian kita. Amiin…

Setelah selesai semua prosesi ibadah shalat Idul Fitri tersebut, kami pun bubar dan kembali ke rumah. Namun, ada pemandangan kurang sedap terlihat pasca shalat tersebut. Koran-koran bekas yang tadinya digunakan sebagai alas sajadah, berserakan di mana-mana. Padahal, panitia sudah menyediakan tempat khusus untuk membuangnya, bahkan dengan menempelkan tulisan besar-besar di situ.

koran kebas di altar tempat pembuangan koran bekas di altar

Ah… ternyata, kebersihan masih belum menjadi bagian dari keimanan kita.. Sayang sekali.. 😦

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

 

selanjutnya:

Sederhana Bukan Berarti Miskin

Sepanjang Ramadhan 1436 H ini, Om Nh melalui blog The Ordinary Trainer milik beliau, mempublis kutipan-kutipan ayat al-Quran setiap hari. Aku mengikutinya terus, meski tidak membubuhkan sepatah dua patah komentar di sana. Pada hari ini, 14 Juli 2015, beliau memposting QS. Al-a’raf ayat 31.

Aku tertarik untuk membahas ayat ini lebih jauh, karena ayat ini bisa menjadi semacam mengingat buat kita di penghujung Ramadhan ini. Sebab, demi merayakan kegembiraan di Idul Fitri, kita sering terlupa akan batas kita dalam hal berpakaian, makanan maupun minuman.

Selengkapnya ayat ini berbunyi:

al-araf 31

Dalam Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam (manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu di setiap memasuki dan berada di masjid, baik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal, enak, bermanfaat lagi bergizi, dan berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan, tidak juga mengganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikian juga dalam makan dan minum atau apa saja, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.

Perintah makan dan minum yang tidak berlebih-lebihan, yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang, boleh jadi telah dinilai melampaui batas atau belum cukup buat orang lain. Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas: “Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.”

Selain itu, dengan mengutip riwayat dari Ibn Zaid, al-Thabari menafsirkan kata لاتسرفوا   dengan “tidak boleh memakan sesuatu yang haram”. Ia menjelaskan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batasan-Nya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaliknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya. Demikian itu merupakan keadilan yang Dia perintahkan.

Terkait dengan konsumsi, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan adanya larangan sikap berlebih-lebihan dan memperlihatkan kesombongan, tidak hanya dalam hal makan dan minum, tetapi juga dalam hal berpakaian dan bersedekah. Larangan sikap berlebih-lebihan ini juga berdasarkan beberapa hadis yang dikutip oleh Ibn Katsir, yaitu:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah, tanpa disertai kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya memanfaatkan nikmat-nikmat-Nya”.
  2. Hadis yang juga diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri”.
  3. Hadis yang yang diriwayatkan oleh al-Miqdam ibn Ma’di Karib al-Kindi, bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perutnya, cukuplah anak Adam makan dengan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang tubuhnya. Kalaupun ia harus melakukannya (memenuhi perutnya), maka hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan”.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlaku “sederhana”. Keserderhaan yang dimaksud di sini adalah proporsional. Yakni sesuai dengan batas kewajaran, tidak terlalu mewah dan tidak pula terlalu berkekurangan. Yang terpenting adalah sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya. Misalnya: bila dengan baju seharga seratus ribu kita sudah terlihat rapi dan pantas, mengapa pula harus mengenakan pakaian dengan harga satu juta?.

Aku sangat ingat dengan pesan Kyai kami ketika di pesantren dulu. Kalimat yang sering dilontarkan kepada kami adalah, “Sederhana Bukan Berarti Miskin”. Artinya adalah berlaku sewajarnya, tidak melebihi batas kepatutan.

Selamat mempersiapkan Hari Kemenangan, sahabatku. Mari kita tetap menjaga puasa kita dengan tidak mengumbar emosi dalam berbelanja jelang Idul Fitri ini. Berlakulah sederhana, sebagaimana yang Allah sabdakan dalam QS. Al-A’raf ayat 31 tersebut.. 🙂

hijrah, momentum peningkatan ibadah

Untuk seluruh sahabat, terkhusus yang Muslim, aku ucapkan:

tahun baru 1436 H

Hijrah tidak semata perpindahan Nabi Muhammad saw. beserta pengikut-pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, tapi ia juga menjadi titik tolak perubahan dalam bentuk dakwah Rasul Allah tersebut. Hal tersebut ditandai oleh para ulama dengan membagi surat-surat dalam al-Qur’an kepada dua kategori besar, yakni Makkiyah dan Madaniyah.

Makkiyah adalah ayat-ayat al-Qur’an yang turun sebelum Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah. Sementara Madaniyah adalah ayat-ayat al-Qur’an yang turun setelah beliau berhijrah. Dengan demikian, yang menjadi patokannya adalah momentum hijrah. Pembagian kategori ini bukan tanpa maksud. Salah satu aspek yang sangat mencolok yang membedakan keduanya adalah, Makkiyah lebih banyak berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, sementara Madaniyah berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah (sosial).

Dengan demikian, terlihat perbedaan yang sangat mendasar dalam bentuk dakwah yang dilakukan Rasulullah sebelum dan sesudah hijrah. Yakni, sebelum hijrah beliau lebih terfokus pada pemantapan aqidah (keimanan), dan setelah hijrah beliau sudah beranjak maju kepada perwujudan aqidah dalam bentuk ibadah.

Maka, momen tahun baru Hijriyah ini menurutku ada baiknya kita belajar dari perkembangan dakwah Rasulullah tersebut. Yakni menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah swt. dengan semakin memperbanyak ibadah kepadaNya. Ibadah adalah bentuk aktualisasi keimanan seseorang kepada Sang Khaliq. Semakin baik ibadahnya, tentu semakin baik kadar keimanannya tersebut.

Ibadah dalam Islam tidak semata yang menjadi kewajiban, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Tapi segala hal yang berkaitan dengan kebaikan yang kita lakukan dengan dilandasi keimanan, juga dipandang sebagai ibadah. Membuat tulisan di blog yang dapat memberi manfaat bagi pembacanya, merupakan salah satu bentuk ibadah tersebut. Seperti yang dikatakan Pakde Cholik, ngeblog untuk ibadah, adalah benar adanya.

Meski energiku untuk ngeblog tidak sebanyak dulu lagi, namun insya Allah aku akan berusaha untuk tetap menulis di sini. Karena aku yakin, seremeh apapun yang kita tulis dalam blog, pasti ada hikmah yang bisa didapat oleh orang lain, dan semoga itu menjadi ibadah untukku.

Selamat tahun baru, sahabat…
Selamat terus beribadah melalui blog.. 🙂