Berburu Foto Masjid Dengan Kamera Ponsel

Asus Zenfone Laser giveaway

Selama Ramadan yang lalu, aku menurunkan tulisan dengan tajuk Hadis of The Day (HoTD). Setiap hari aku mempublis sebuah postingan dengan mengutip satu hadis Nabi Muhammad saw. Tujuanku simpel saja, ingin berbagi manfaat dengan sesama di bulan yang penuh keberkahan tersebut.

Terus terang, baru kali ini aku melakukan one day one post. Lumayan ngos-ngosan juga ternyata. Apalagi yang kumuat adalah hadis Nabi. Itu perlu sedikit kerja keras untuk memastikan bahwa hadis-hadis tersebut adalah benar berasal dari Rasulullah saw. Tidak mungkin kan aku mempublikasi tulisan berisikan hadis palsu? Alih-alih manfaat yang kusebar, malah dosa yang kutuai.. 🙂

Oleh karenanya, riset pun kulakukan sesuai dengan metodologi penelitian hadis yang selama ini kupelajari. Awalnya agak kewalahan  karena harus setiap hari, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa dan suka. Jadilah kegiatan puasaku kemarin bertambah dengan riset hadis setiap hari.

Ada satu lagi yang membuatku kewalahan dengan rubrik HoTD tersebut. Yakni, foto masjid yang selalu kumuat di dalamnya. Kutipan hadis-hadis tersebut, kutempel di dalam foto masjid yang kumiliki. Tujuanku, di samping untuk mempercantik tampilan postingan, juga agar dapat kuunggah foto-foto tersebut di media sosial-media sosial yang kumiliki. Aku berharap, semakin banyak khalayak yang dapat kuraih untuk menyampaikan sabda Rasulullah saw. tersebut. Namun, setelah berjalan beberapa hari, baru kusadari, ternyata jumlah foto masjid yang kumiliki, tidaklah cukup untuk 30 postingan. Alamak.. Bisa gawat jadinya kalau begini.

masjid nurul iman padang sumatera baratContoh foto di rubrik Hadis of The Day

Mau tidak mau, aku harus menambah perbendaharaan foto masjid. Setelah kuhitung, ternyata kekurangannya lumayan banyak. Oleh karenanya, berburu foto masjid, harus segera dilaksakan. Beruntung selama di awal Ramadan aku berada di Curup,Bengkulu dan akhir Ramadan di Yogyakarta. Sehingga, masjid yang akan kufoto, bisa lebih berfariasi, tidak hanya dari satu daerah saja.

Selama di Curup, aku tidak secara khusus menyediakan waktu untuk berburu foto masjid. Aku hanya memotret sambil lewat. Begitu melihat ada masjid yang jepretable, langsung saja kukeluarkan gadget handalan dan beberapa foto masjid itu pun bisa kuperoleh.

Karena memang sambil lewat, seringkali ketika memotret aku masih berpakaian kerja. Pernah di satu masjid, ketika asyik memotret, seorang bapak paruh baya datang menemuiku.

“Dari kantor mana, Pak?”

“Maksudnya?”

“Apa Bapak dari instansi pemerintahan atau yayasan yang akan membantu pembangunan masjid kami?”

“Oh, bukan, Pak.. Maaf.. Saya motret masjid ini untuk koleksi pribadi saja”

“Ooo…”

Aku pun pamit setelah menjelaskan maksud dan tujuanku memotret masjid tersebut.

masjid darul hikmah saptamarga curup masjid syahida curupmasjid nurul huda curupSebagian foto-foto masjid yang kuambil di Curup, Bengkulu

Lain lagi kalau di Yogyakarta. Aku memang menyediakan waktu khusus untuk berburu foto masjid. Aku sengaja berkeliling ke beberapa tempat untuk mencari masjid-masjid yang menarik dan pas untuk keperluanku. Dengan alasan kepraktisan, aku lebih memilih menggunakan kamera ponsel ketimbang kamera pocket atau dslr.

Karena memang niat banget untuk memotret masjid, maka demi mendapatkan angle yang pas, aku rela mengambil posisi di mana saja. Yang paling sering adalah masuk ke dalam sawah. Coba perhatikan foto-foto berikut ini:

masjid baitul hikmah, yogyakartamasjid al'adn-yogyakartamasjid ar-rasul kotagede-yogyakartaSebagian foto masjid yang kuambil di Yogyakarta

Semua foto tersebut, kuambil dengan cara masuk ke dalam sawah. Bahkan, di foto yang terakhir, aku sempat kepleset dan kaki kiriku terbenam di dalam lumpur sawah. Hahaha… benar-benar pengalaman luar biasa.. 😀

Memperhatikan kembali postingan HoTD yang kubuat selama Ramadan yang lalu itu, aku merasa puas. Ada aliran hangat di dadaku. Entah apakah ada orang yang merasakan manfaat dari apa yang kutulis atau tidak. Yang penting bagiku adalah bisa menyampaikan sedikit dari pengetahuan yang kumiliki.

Namun, ketika melihat foto-foto masjid yang kumuat, ada sedikit rasa geregetan. Aku merasa masih kurang puas dengan hasilnya. Barangkali karena gadget yang kugunakan sudah mulai uzur, sehingga penglihatan kameranya sudah mulai kabur. Andai aku punya Zenfone 2 Laser ZE550KL, kemungkinan foto-foto yang kuhasilkan bisa lebih cihuy.. 😉

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Sepak Kaleng, Permainan Seru Masa Lalu

Sekelompok bocah usia 8-12 tahun tampak bergerombolan di lapangan tak jauh dari rumah kami. Mereka berdiri membentuk lingkaran, menjulurkan tangan kanan masing-masing ke depan dan sama-sama berteriak, “hompimpah”.

“Fatih yang jaga”, teriak salah seorang dari mereka.

Seketika, bocah yang dipanggil Fatih itu pun berdiri di depan pecahan batu bata yang mereka tumpuk membentuk sebuah menara kecil.

menara bata

“Fatih, siaaaap?”, seru salah satu bocah tersebut.

“Siaaaaaap…!”, tak kalah keras si Fatih berteriak, “Tapi jangan banter-banter lho, Jib..!”.

Bocah yang rupanya bernama Ajib itu pun tak menunggu lama lagi. Dengan semangat membara, ditendangnya menara bata tadi sehingga berserakan ke berbagai penjuru. Saat itu juga, bocah-bocah lainnya berlari berhamburan, mencari tempat persembunyian paling cihuy agar tak ketahuan oleh Fatih.

Sementara itu, Fatih bergegas menyusun kembali pecahan bata tadi. Begitu tersusun, ia pun segera mencari teman-temannya yang tengah bersembunyi.

“Dikaaaa…!”, seru Fatih begitu melihat seorang temannya yang tengah bersembunyi. Yang disebut namanya itu pun berlari kencang, menyusul Fatih yang sudah lari duluan ke arah menara bata tadi. Begitu sampai, Fatih langsung menyentuh ujung tumpukan bata disertai pekikan gembira seolah tengah memenangkan sebuah perlombaan, “Dika ketangkaaap…!”

Berturut-turut kemudian ia berhasil menemukan teman-temannya.

“Dodi…!”

“Apin…!”

“Ajib…!”

“Yogi..!”

Tinggal satu orang lagi yang belum ditemukannya, Febri..!

Kelima bocah yang sudah ketangkap itupun berteriak memanas-manaskan suasana. “Ayo Feb, jangan nongol-nongol….!”, teriak mereka disertai tawa yang sangat riuh dan renyah.

Fatih berupaya keras mencari Febri sambil tetap waspada menjaga menara batanya agar tetap berdiri kokoh. Matanya awas menyapu setiap sudut lapangan. Dan tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara gaduh karena seseorang berlari kencang ke arah menara batanya.

Owh… ternyata Febri keluar dari persembunyiannya, berlari secepat yang ia mampu dengan tujuan merubuhkan menara bata tersebut. Fatih pun tak mau kalah. Dipacunya langkah dan berlari sangat kencang, berupaya mempertahankan menara batanya.

Adegan kejar-kejaran itupun dimenangkan oleh Febri. Ia berhasil mendahului Fatih dan merubuhkan menara bata tersebut sehingga berserakan di mana-mana. Teman-temannya yang sudah tertangkap tadi, langsung bebas dan kembali mencari tempat persembunyian. Tinggal Fatih yang berupaya secepatnya menyusun kembali bata-bata tersebut.

Gerakan Fatih cukup lincah. Dalam sekejap ia sudah berhasil membangun kembali menara batanya. Dan, teman-temannya yang belum berhasil menemukan tempat persembunyian, tak ayal lagi, langsung jadi sasaran tangkapannya.

Aku tak bisa menahan tawa melihat permainan bocah-bocah itu. Mereka benar-benar menikmatinya. Keringat yang bercucur deras di sekujur tubuh, tak mereka hiraukan. Sepertinya, mereka tak mengenal kata “cape” dan “berhenti”. Mereka terus mengulangi-ulangi permainan tersebut hingga senja menjelang.

“Seru banget, Tih mainnya tadi”, sapaku ketika Fatih pulang ke rumah dengan badan yang super kotor karena bercampur keringat dan debu.

“Iyaaa…. seru bangeeet…”

“Papa juga ada permainan kayak gitu dulu”

“Oya? Pakai susun bata juga?”

“Iya… Tapi, lebih seringnya pakai kaleng”

“Kaaaleng…?”

“Iya.. kaleng bekas susu atau makanan lainnya”

“Cara mainnya?”

“Sama kayak Fatih tadi. Disusun, ditendang, trus sembunyi”

“Enakan mana pakai kaleng apa bata?”

“Kalau menurut Papa sih, enakan pakai kaleng”

“Kok..?”

“Kalau ditendang, kan rame, ada bunyinya. Kalau bata, nggak ada bunyinya, kurang seru”

“Iya juga ya… Besok Fatih mau pake kaleng juga ah..”

“Hehehe… sip…”

Sesaat kemudian…

“Pa, abis maghrib nanti, ke supermarket ya”

“Ngapain?”

“Beli susu kaleng 10 biji”

“Buat apa?”

“Ya buat diambil kalengnya lah, biar besok Fatih bisa main sepak kaleng

“Oalaaaaah…..”

(Papa tepok jidat)

 Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

Choco Cornflakes d’Sabulsabuk

Hello August..!!

Seorang sahabat mengirimkan gambar bertuliskan kalimat di atas melalui aplikasi WhatsApp kepada aku dan teman-teman yang tergabung dalam sebuah group. Sejenak aku tersentak. Ah.. sudah 8 aja nih umur tahun 2015. Sungguh cepat sekali perjalanan waktu ini rasanya. Sepertinya harus bekerja lebih keras lagi agar tahun 2015 ini tidak berlalu begitu saja tanpa goresan prestasi yang berarti.

Tapi.. tak perlulah terlalu menggerutui waktu yang telah berlalu. Jika ada target yang masih jauh dari capaian, evaluasi saja cara kerja kita selama ini dan segera perbaiki. Masih tersedia banyak waktu kok. Target memang perlu dipasang, namun dalam menjalankannya tidak harus menyiksa diri. Jalankan saja dengan baik, fokus dan konsisten.

Ada seseorang yang sangat menginspirasiku dalam hal konsistensi menjalankan usaha untuk mengejar target yang dibuatnya. Beliau adalah Pakde Cholik. Blogger senior asal Surabaya ini mengikrarkan target beliau di awal tahun 2015 yakni menerbitkan satu buku dalam satu bulan yang beliau istilahkan dengan “SabulSabuk2015“.

Jujur, awalnya aku menyangsikan target yang dibuat Pakde ini. Rasanya berat sekali target itu. Namun, ternyata beliau benar-benar bisa mewujudkan impian tersebut. Dari Januari hingga Juli kemarin, buku beliau setiap bulannya terbit, tepat waktu. Sungguh luar biasa. Salut yang tak terhingga untuk itu. Inilah bukti konsistensi Pakde yang sangat menginspirasiku.

Aku sempat terpikir, apa yang dialamai Pakde setiap hari ketika menuliskan halaman demi halaman untuk buku-buku beliau tersebut? Apa tidak jenuh? Secara manusiawi, pastilah sesekali ada kejenuhan.

Berbicara mengenai kejenuhan, kalau lagi jenuh, apa yang sahabat lakukan untuk mengatasinya?

Kalau aku… ngemil… 😀

Tidak keren memang. Tapi, itu sangat mujarab bagiku, meski berakibat pada mekarnya badan ke depan dan samping.. 😉

Ada banyak jenis makanan yang aku suka buat camilan, salah satunya adalah Coklat Cornflakes. Coklat yang menenangkan dan cornflakes yang renyah, menjadi perpaduan yang maknyus bin pakjoss bagiku. Dan untuk Pakde, cocok sekali nih buat teman menulis dalam rangka SabulSabuk2015 itu.

Bagaimana cara membuatnya? Gampang sekali kok..

Bahan-bahan yang diperlukan adalah:

  • 100 gram dark chocolate
  • 150 gram cornflakes
  • springkle gula warna-warni secukupnya
  • paper cup

choco corn flakes-02

Cara membuatnya sebagai berikut:

  • Siapkan panci berisi air di atas kompor
  • Potong-potong kecil coklat, masukkan ke dalam mangkuk tahan panas, lalu tim dengan api kecil hingga meleleh di panci berisi air tadi.
  • Angkat, lalu masukkan cornflakes, aduk sampai benar-benar rata.
  • Sendokkan campuran coklat dan cornflakes secukupnya ke dalam paper cup.
  • Taburi dengan sprinkle gula warna-warni
  • Diamkan hingga mengeras

 choco corn flakes-01

And.. This is it..! Choco Cornflakes d’Sabulsabuk ala Chef Vizon…!

choco corn flakes-03

Bagaimana..? Mudah dan murah bukan? Selamat mencoba dan selamat mengejar target dengan gembira..! 😀

Buat Pakde Cholik… Semangat dan sehat selalu ya..

 Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Mini: Sepotong Kue Untuk Pakde

self reflection: the power of we

self reflection

Tahun 2014 sudah hampir berakhir. Kesibukan menjalani kehidupan membuat perjalanan waktu terasa begitu cepatnya. Ada banyak yang ingin diraih di tahun 2014 ini. Namun, sebagai manusia biasa, tidak semua bisa dilakukan secara maksimal. Salah satu yang tidak bisa kujalani dengan maksimal tahun ini adalah ngeblog!

Ya.. aktifitas ngeblog-ku tahun 2014 ini semakin menurun. Tidak banyak postingan yang kuhasilkan. Bahkan, bersilaturrahmi ke blog sahabat pun cukup jarang kulakukan. Sehingga, banyak moment-moment yang kulewatkan.

Dari sedikit tulisanku sepanjang tahun 2014 ini, ada beberapa yang memiliki kesan khusus di hati dan pikiran. Salah satunya adalah tulisan berjudul Dipikul dan Dijinjing Bersama. Tulisan yang mulai tayang pada 23 Januari 2014 yang lalu itu menceritakan tentang kegiatan pengajian akbar yang diadakan di kampung tempat tinggalku, Kweni-Bantul.

Pengajian tersebut dilaksanakan di areal Pondok Pesantren dan Panti Asuhan An-Najwa yang tengah kami bangun. Di antara tujuan pengajian akbar itu adalah menggalang dana untuk kelanjutan pembangunan panti asuhan anak yatim tersebut. Dan alhamdulillah, di hari itu tergalang dana lebih  kurang Rp. 200 juta. Angka yang lumayan besar, bukan?

Lantas, apa yang menjadi menarik bagiku dari tulisan tersebut?

Bila dilihat dari pemilihan diksi dan cara bertuturku dalam tulisan tersebut, sesungguhnya tidak ada yang istimewa. Bahkan aku sendiri memiliki kesan kalau tulisan itu tidak lebih dari sekedar laporan pelaksanaan kegiatan kampung. Tapi, yang membuatku suka dengan tulisan itu adalah bahwa di dalamnya terkandung emosi kebahagiaan dan keharuan atas apa yang terjadi.

Setiap kali membacanya, aku seolah terseret kembali ke saat kegiatan itu dilakukan. Ada getaran yang teramat dahsyat yang kurasakan di hati setiap kali membacanya.Selalu terbayang di benakku semangat kebersamaan dan gotong royong antara warga kampungku. Aku patut pujikan kekompakan warga kampung Kweni. Semangat gotong royong yang di sebagian besar belahan negara kita tercinta ini sudah semakin menurun, namun mereka tetap mempertahankan dan menumbuhsuburkannya. Semangat itulah yang menggelora ketika tulisan itu kubuat.

Dan, semangat serta kebahagiaan itu semakin bertambah setiap kali melihat perkembangan pembangunan panti, sebagaimana terlihat di gambar di bawah ini..

an-najwa-02an-najwa-01
Gedung Pantia Asuhan An-Najwa Kweni-Bantul yang tengah dibangun

Tulisan tersebut, tidak sekedar menjadi refleksi bagiku dalam ngeblog, tapi juga menjadi semacam pengingat  untuk terus berupaya menuntaskan pembangunan panti. Kekompakan dan kebersamaan yang telah terjalin dengan baik selama ini di masyarakat, mestilah terus dipertahankan dan ditingkatkan. Agar, segala pekerjaan yang berat, akan terasa ringan sekali bila dikerjakan secara gotong royong.

Bagaimana di tempat sahabat? Semangat gotong royong masih terus menggelora, bukan? 🙂

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Pengumuman Pemenang Lomba Foto “Aku dan Ayah”

Lomba foto dengan tema Aku dan Ayah yang kugelar di blog ini pada 12 – 22 November 2014 yang lalu, adalah ide yang muncul secara spontan. Sebagaimana yang kuceritakan di awal postingan tersebut, bahwa pada 12 November 2014, Google mempersembahkan doodle yang menunjukkan kebersamaan anak dan ayahnya. Hal itu dibuat dalam rangka memperingati Hari Ayah di Indonesia. Aku benar-benar tidak mengetahui tentang adanya hari ayah tersebut. Aku pun berdiskusi dengan Pakde Cholik dan Om Nh tentang hal ini.

doodle hari ayah dari google

Hari Ayah memang tidak sepopuler Hari Ibu di negara kita tercinta ini. Oleh karenanya, perlu ada upaya untuk mempopulerkannya. Dan akhirnya muncullah ide mengadakan lomba foto ini dengan konsep foto blogger dengan ayahnya. Dengan harapan, semakin banyak blogger yang bicara mengenai Hari Ayah, akan semakin populer peringatan hari tersebut di Indonesia.

Setelah postingan tersebut aku publikasikan, beberapa sahabat mendaftarkan diri untuk ikut serta. Hingga lomba ditutup, ada 26 blogger yang tercatat sebagai peserta. Secara jumlah memang tidak fantastis, tapi itu sudah sangat membuatku gembira. Setidaknya, pengetahuan tentang adanya hari ayah di Indonesia, sudah mulai berkembang di kalangan blogger. Semoga saja di tahun depan, peringatan hari ayah ini akan meningkat popularitasnya. Dan secara tidak langsung, peran-peran ayah pun akan semakin mengemuka dalam kehidupan kita.

Untuk menilai lomba ini, aku meminta bantuan dua blogger kawakan, Pakde Cholik dan Om Nh, Penjurian meliputi foto dan narasi yang menyertainya. Dari akumulasi nilai dari kedua juri itu, diputuskanlah tiga orang peserta yang masing-masing berhak mendapatkan hadiah berupa 1 novel karya Daniel Mahendra berjudul 3360 + 1 buku karya Pakde Cholik berjudul Menulis Gaya Pakde + paket barang. Ketiga sahabat blogger tersebut adalah:

  1. Argalitha dengan tulisan berjudul Sayang Abi Tanpa Tapi
  2. Abi Sabila dengan tulisan berjudul Ada Keringatmu di Aliran Darahku
  3. Ummi Bindya dengan tuisan berjudul Bapak Yang Tangguh

Kepada ketiga sahabat blogger di atas, mohon untuk mengirimkan alamat beserta nomor ponsel melalui email ke: blog@hardivizon.com.

Terima kasih yang tak terhingga kuhaturkan kepada sahabat yang telah berpartisipasi dalam lomba ini, baik yang ikut maupun belum sempat ikut, atau bahkan terlambat untuk ikut. Perhatian sahabat sekalian, sangat berarti bagiku.. 🙂

Dan terkhusus aku haturkan juga terima kasih kepada Pakde Cholik dan Om Nh yang telah bersedia meluangkan waktu untuk menilai postingan sahabat yang ikut di sini. Semoga Allah swt. membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Amiin..

Oya… Bagi yang masih punya kesempatan, yuk berfoto bareng dengan ayahanda tercinta.. 🙂

aku dan ayah

Lomba Foto: Aku dan Ayah

Barangkali tidak banyak di antara kita yang tahu bahwa hari ini, 12 November 2014 adalah Hari Ayah Nasional. Aku pun tidak mengetahuinya, hingga ketika membuka halaman Google tadi pagi aku tersadarkan oleh sebuah gambar. Inilah gambar itu:

  doodle hari ayah dari google

Ya.. Google mengingatkan kita melalui doodle itu, bahwa hari ini, 12 November 2014, di Indonesia merupakan peringatan Hari Ayah Nasional. Menurut informasi yang kuperoleh dari Wikipedia maupun Sidomi.com bahwa ada 75 negara di dunia yang memperingati hari ayah (father’s day). Tanggal yang diambil berbeda-beda. Kebanyakan pada minggu ketiga Juni. Untuk Indonesia, ditetapkan tanggal 12 November .

Pendeklarasian Hari Ayah dilakukan di Pendapa Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah pada 12 November 2006. Adalah Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP), komunitas komunikasi lintas agama yang menjadi motor penggerak perayaan hari spesial tersebut. PPIP berangkat dari fakta bahwa ayah sebagai bagian dari keluarga memegang peran sangat penting dalam pembentukan karakter keluarga. Peringatan Hari Ayah juga menunjukkan bahwa orang tua merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika ada Hari Ibu untuk mengenang jasa ibu, maka sewajarnya sebagai penyeimbang ada Hari Ayah.

Peringatan hari ayah di Indonesia memang tidak sepopuler peringatan hari Ibu. Bahkan, di televisi pun sama sekali tidak ada tanda-tanda itu. Sepertinya peringatan hari ayah belum mendapat perhatian yang serius dari banyak kalangan. Dan ini juga bisa menunjukkan bahwa perhatian terhadap peran ayah belum menjadi hal yang penting bagi bangsa kita.

Nah, dalam rangka peringatan hari ayah ini, sekaligus untuk semakin mempopulerkan hari penting ini, aku bermaksud mengadakan Giveaway . GA ini berupa lomba foto di blog sahabat masing-masing. Dengan semakin banyak blog yang memuat tentang peringatan hari ayah ini, semoga saja bisa semakin menarik perhatian banyak khalayak untuk semakin memberikan perhatian terhadap ayah.

aku dan ayah

Baiklah, berikut informasi, syarat dan ketentuan dari lomba ini:

Tema Lomba : “Aku dan Ayah”

Tugas Peserta :

  1. Membuat POSTINGAN BARU di blog masing-masing, yang berisi SATU FOTO. Foto yang dimaksud adalah foto sahabat blogger dengan sang ayah. Foto tidak harus baru. Dengan kata lain, foto jadul pun, okelah.. 🙂
  2. Tuliskan UNGKAPAN CINTA KEPADA AYAH dalam bahasa Indonesia maksimal 100 kata.
  3. Pada bagian akhir postingan mohon ditulis :

“Foto ini untuk memperingati Hari Ayah Nasional dan diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog “Aku dan Ayah” di Surau Inyiak”

(diberi link hidup ke postingan ini)

  1. Daftarkan postingan anda pada kolom komentar di artikel ini. Dengan contoh sbb :

               Nama : Hardi Vizon

               Url       : http://hardivizon.com/2014/11/12/ayahku-pahlawanku /

Syarat Peserta :

  1. Lomba ini terbuka bagi Seluruh Blogger Warga Negara Indonesia yang memiliki blog aktif berplatform apapun.
  2. Di blognya minimal sudah ada 10 postingan.
  3. Memiliki alamat di Indonesia. (untuk pengiriman hadiah, jika nanti menang)
  4. Satu blog hanya boleh mengikut-sertakan 1 (satu) foto saja.
  5. ika seorang nara blog mempunyai lebih dari satu blog, maka dia boleh mengikuti kepesertaan sebanyak blog yang dipunyainya.

Syarat Foto :

  1. Harus Orisinal. Foto milik sendiri bukan mencuri karya orang lain. Kami tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari ada protes/tuntutan hukum dari pihak lain terhadap karya yang diikut sertakan.
  2. Tidak boleh bertentangan dengan hukum dan tata nilai yang berlaku. Baik hukum agama maupun hukum negara.
  3. Belum pernah dipublikasikan di blog dan belum pernah diikut sertakan dalam lomba apapun.
  4. Upaya pengaturan watermark, framing, brightness, contrast, cropping, auto correct, color enhancement masih diperkenankan. Namun tidak diperkenankan untuk melakukan montase dan memanipulasi foto secara berlebihan.

Periode Lomba :

  1. Kontes dimulai saat artikel ini ditayangkan, 12 November 2014 dan akan ditutup pada tanggal 22 November 2014 (jam 23.59 wib)
  2. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada tanggal 29 November 2014

Kriteria Penilaian :

  1. Kualitas foto dan narasi.
  2. Kesesuaian foto dan narasi dengan tema, syarat, dan ketentuan kontes.
  3. Keunikan ide dan kreatifitas

Juri :

  1. Foto: Om Nh18
  2. Narasi : Pakde Cholik

Pemenang diambil dari akumulasi nilai kedua juri ini. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah :

Akan dipilih tiga pemenang dan masing-masing akan mendapatkan 1 buku berjudul “3360” karya Daniel Mahendra + tandatangan asli penulisnya + paket barang.

3360 daniel mahendra

Update hadiah..!

3 buku Menulis Gaya Pakde karangan Abdul Cholik, sumbangan dari Pakde sendiri (maturnuwun, Pakde : ) )

menulis gaya pakde

(hadiah mungkin akan berubah jika ada tambahan rezeki … atau kalau ada sumbangan dari sponsor, hehe.. 🙂  )

Ayo kawan-kawan kirimkan foto terbaikmu bersama ayahanda tercinta. Beliau juga adalah bagian terpenting dalam hidup kita bersama Ibu. Aku tunggu ya… 🙂

cinta sepenuh hati

“Jangan mencari yang besar-besar, cukup mengerjakan yang kecil-kecil dengan cinta yang besar. Makin kecil yang kita hadapi harus makin besar cinta yang kita berikan” 
(Mother Teresa)

Karena alasan pekerjaan, beberapa tahun belakangan ini aku sering meninggalkan keluarga. Kelelahan fisik sudah pasti kurasakan. Tapi yang lebih dahsyat adalah kelelahan menjaga hati dari berbagai macam godaan, terutama godaan terhadap kesetiaan cinta. Alhamdulillah, sejauh ini semuanya dapat kuatasi dengan baik. Sehingga berbagai bentuk godaan tersebut, berguguran dengan sendirinya.

Cinta sepenuh hati, itulah yang menjadi benteng pertahananku.

Berkeluarga adalah amanah terbesar yang Tuhan berikan pada seorang lelaki. Kemampuannya menjaga keutuhannya menjadi pertarungan yang luar biasa. Sebagai kepala keluarga, kepemimpinan seorang lelaki dipertaruhkan. Kesuksesannya dalam karir tidak akan bernilai apa-apa bila ia tidak sukses memimpin keluarganya.

Keluarga memang sebuah element kecil dalam kehidupan di dunia ini. Namun, keberadaanya sangat penting. Baik buruknya sebuah keluarga, seringkali memberi pengaruh terhadap kehidupan di sekelilingnya. Maka, menjadi sebuah keniscayaan untuk menciptakan keluarga yang memberi dampak positif bagi sekitarnya.

Untuk bisa menciptakan itu semua, rasa cinta yang besar terhadap keluarga kecilnya, harus dimiliki dengan utuh oleh seorang lelaki. Hendaknya ia tidak menyisakan sedikit pun ruang di hatinya untuk mencintai selain keluarga yang menjadi amanahnya. Bila sedikit saja dia membuka hatinya untuk cinta yang lain, maka perlahan tapi pasti, kehancuran akan menghampiri keluarga kecilnya.

Belakangan, aku dikejutkan dengan banyaknya sahabat yang mengalami masalah dalam keluarganya. Dan tidak sedikit yang berujung pada perceraian. Celakanya, kebanyakan yang menjadi penyebab adalah masalah kesetiaan cinta. Sepertinya hampir benar apa yang disangkakan khalayak bahwa usia empatpuluhan rentan terhadap godaan hawa dan nafsu.

Maka, belajar dari pengalaman sahabat-sahabatku itu, membangun kesadaran diri tentang cinta sepenuh hati adalah penting bagi setiap lelaki yang sudah berkeluarga, menurutku. Cinta sepenuh hati itu kuncinya adalah keikhlasan.

Menerima keadaan pasangan kita dengan ikhlas dan seutuhnya, adalah sebuah kemestian. Bila sepasang suami istri menjalankan rumah tangganya dengan ikhlas, tentulah anak-anak yang menjadi buah cinta mereka pun akan tumbuh dalam kebahagiaan yang utuh.

Inilah yang menjadi tekadku. Yakni ingin tetap terus mencintai keluargaku sepenuh hati. Meski secara fisik kami tidak bisa berkumpul setiap hari, namun hatiku tetap bersama mereka, di setiap detik kehidupan mereka. Dan cinta sepenuh hati ini adalah sebagai wujud kesyukuranku kepada anugerah luar biasa yang telah Allah berikan kepadaku, yakni keluarga kecilku.

lebaran 1434-590x339

Hari ini, 4 Juni 2014, usia pernikahanku sudah memasuki tahun ke 19. Tidak banyak yang kuharapkan selain untuk terus merasakan kebahagiaan bersama keluarga kecilku. Istri dan anak-anakku adalah harta paling berharga yang kumiliki di dunia ini. Seperti yang dikatakan Mother Teresa dalam kutipan di atas, bahwa aku tidak hendak menghabiskan energiku untuk mengerjakan hal yang besar-besar, tapi aku hanya ingin berbuat semaksimal mungkin untuk keluarga kecilku dengan cinta yang BESAR.

Lagu Bidadari Surgaku yang dilantunkan oleh almarhum Ust. Jefri Al-Bukhori selalu menggetarkan hatiku, sekaligus menjadi pengingatku untuk selalu memberikan CINTA SEPENUH HATI untuk istri dan anak-anakku. Monggo disimak..

Setiap manusia punya rasa cinta 
Yang musti dijaga kesucianya
Namun ada kala insan tak berdaya, 
Saat dusta mampir bertahta

Ku inginkan dia yang punya setia 
Yang mampu menjaga kemurnianya
Saat ku tak ada ku jauh darinya 
Amanahpun jadi penjaga

Hatimu tempat berlindungku 
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu, 
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah bidadari surgaku…

Tiada yang memahami segala kekukaranganku 
Kecuali kamu bidadariku
Maafkanlah aku dengan kebodohkanku 
Yang tak bisa membimbing dirimu

Hatimu tempat berlindungku 
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestuai itu, 
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah bidadari surgaku…

 

“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”

dua status @pepatah

Aku memiliki akun di Facebook sudah cukup lama, yakni sejak tahun 2007. Sepanjang kurun waktu lebih kurang 7 tahun tersebut, tentu sudah banyak sekali yang kualami bersamanya. Dari yang awalnya hanya sekedar nyetatus gak jelas, kemudian berlanjut menjadi media buat jualan, sampai akhirnya sekarang lebih banyak untuk membagi foto dan link blog.

Ketika Pakde Cholik membuat tantangan menuliskan sebuah artikel yang berdasarkan dua status kita di Facebook, aku agak sedikit kebingungan memilih yang mana. Bukan karena kebanyakan status yang kubuat, tapi justru karena aku sudah lama sekali tidak membuatnya. Meski timeline-ku cukup aktif, namun isinya didominasi oleh foto dan link blog. Terakhir kali aku menulis status pada tanggal 14 Januari 2014, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Untuk menjawab tantangan Pakde tersebut, aku pun membongkar lagi status-status yang pernah kubuat, dan menemukan dua status yang kutulis pada bulan November 2012. Cukup lama bukan? 🙂

Dua status tersebut kutulis dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dan keduanya kuambil dari quote yang dikirim oleh akun Twitter @pepatah. Aku mengikuti akun ini karena suka dengan kutipan-kutipan yang dikirimkannya. Kebetulan di bulan November 2012 yang lalu itu, ada sesuatu yang kualami bersama kawan-kawan di sebuah komunitas. Untuk melampiaskan apa yang kurasakan ketika itu, maka kutulislah status di Facebook dengan mengambil kutipan dari @pepatah.

Pada tanggal 28 November 2012, aku menulis: “Jangan pikirkan mereka yang membencimu, karena sebenarnya mereka tak peduli denganmu, mereka hanya peduli dengan diri mereka sendiri. @pepatah

Secara detail aku tidak hendak menceritakan apa yang terjadi. Tapi, secara umum yang bisa kugambarkan adalah, bahwa ketika itu, aku sering dipersalahkan atas apa yang kuperbuat dalam komunitas tersebut. Padahal, apa yang kubuat itu adalah hasil keputusan bersama.

Awalnya aku tidak habis pikir. Sesuatu yang kulakukan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula, tetap dianggap tidak benar oleh beberapa kawan. Ketika coba kutelusuri lagi, ternyata pangkalnya ada pada rasa tidak suka atau kebencian seseorang kepadaku dan itu kemudian merembet kepada kawan yang lain. Aku tidak tahu mengapa dia seperti itu. Cukup lama aku memikirkannya dan dibuat tidak nyaman oleh karenanya.

Di saat hati gundah gulana seperti itu, tanpa sengaja kutemukan quote tersebut yang sudah kusimpan dalam folder note Blackberry-ku. Rasanya pas sekali dengan apa yang tengah kurasakan. Maka, untuk menghibur diri sendiri, kutulislah quote ini di dinding laman Facebook-ku. Ada rasa sedikit nyaman ketika itu sudah kutuliskan. Sepetinya aku baru saja selesai curhat dengan seseorang.

Apa yang kutuliskan tersebut mendapat respon dari beberapa sahabat. Di antara yang paling berkesan adalah komentar yang disampaikan oleh Akbar Zainudin, “Pikirkan saja mereka yang menyayangimu…

Meski singkat, tapi komentar dari sahabatku ini sangatlah mengena di hati. Aku seolah tersadar dari kekeliruan. Sepertinya aku sudah menghabiskan banyak energi untuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukaiku, sementara aku luput dari orang-orang yang menyayangiku yang ternyata jauh lebih memberi energi positif.

Setelah menuliskan status tersebut dan mendapat masukan dari sahabat, aku pun merasakan kelegaan yang luar biasa dan bisa berpikir dengan lebih jernih lagi hingga Tuhan kemudian menunjukkan sebuah peristiwa yang membuatku paham dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Peristiwa itu menjelaskan dengan detail mengapa kawan itu membenciku. Aku bisa saja mengkonfrontasikan hal tersebut kepadanya. Namun kupikir itu tidak perlu. Di samping akan semakin menghabiskan energi, pun pula tak akan menyelesaikan masalah.

Maka, untuk menunjukkan sikap, aku pun menuliskan status yang kedua, sehari setelah status yang pertama di atas. Pada 29 November 2012, aku pun menulis: “Terkadang kita memilih tuk diam, bukan karena tak tahu apa-apa, namun karena diam lebih baik daripada memperkeruh suasana… @pepatah

Status ini sebetulnya kutuliskan semata untuk mempertegas sikapku bahwa aku tidak hendak terlibat dalam perdebatan tak berkesudahan. Meladeni pembicaraan yang menurunkan semangat, pikirku tak patut untuk diteruskan. Diam adalah pilihan terbaik. Dan aku pun memutuskan untuk pelan-pelan menarik diri dari komunitas tersebut.

Namun, sebuah komentar dari Zaldy Chan membuatku tertegun. Dia menuliskan, “bicara memilih diam tetap bukan diam, kan? Or penegasan sikap diam, tdk diam jg, kan?“.

Ah… benar juga kawan satu itu. Kalau memang aku memilih untuk diam, mengapa harus mengungkapkannya dalam sebuah tulisan yang bisa dibaca banyak orang? Artinya, aku juga tidak sedang diam bukan? Bolak-balik kupikirkan kata-kata kawanku itu, sehingga akhirnya kubalas komentarnya dengan mengatakan, “ini semata soal pilihan.. yakni sebuah sikap “mengalah” untuk sebuah kearifan“.

Begitulah… Ternyata sebuah tulisan, dapat memberi dampak besar bagi diri sendiri ataupun orang lain, meski itu hanya sekedar sebuah status di dinding Facebook kita. Apa yang kualami di atas sedikit banyaknya memberikan pembelajaran dan pencerahan untukku. Komentar dari sahabat, bisa memperkuat argumenku dan tidak jarang pula yang kemudian mengkritiknya. Namun, apapun itu, tetap tujuannya satu. Yakni, memperkaya pengalaman batin untuk mencapai kebijaksanaan.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp.

semaikan cinta dengan nonton bioskop

Karena pertimbangan pendidikan anak-anak, maka sampai saat ini keluargaku masih tetap tinggal di Jogja, meski aku sudah kembali menjalankan kewajiban sebagai dosen di Curup, Bengkulu sejak 2009 yang lalu, setelah masa tugas belajarku selesai.  Dengan demikian, hampir 4 tahun sudah aku harus bolak-balik Curup-Jogja.

Ada rencana untuk mengakhirinya dan memboyong keluargaku kembali ke kampung. Namun keraguan selalu membayangi kami. Ada semacam bisikan di dalam hati, “Aku saja jauh-jauh ke Jogja untuk sekolah, masak anak-anakku yang sudah bersekolah di Jogja, harus ditarik lagi?”. Labil bener deh… 🙂

Hidup memang soal pilihan. Itu sebuah kepastian. Dan setiap pilihan pasti juga memiliki konsekwensi-konsekwensinya. Memilih untuk menjalankan hidup seperti saat ini, konsekwensinya adalah aku sering terpisah lama dari keluarga.

Berat..? Ya pastilah.. Terutama berat di ongkos, hehe..

Yang terberat sebenarnya adalah menjaga hati kami untuk tetap saling tertaut satu sama lain; bagaimana agar antara aku dan istri senantiasa bisa terjaga hati dan pikiran kami, dan bagaimana agar antara aku dan anak-anak tetap terjaga cinta dan respek. Kondisi sering terpisah seperti ini tentu berpotensi besar untuk terserang fitnah, entah dari diri sendiri maupun dari luar diri kita.

Sebagai dosen, setiap hari aku dihadapkan dengan pemandangan yang bening-bening. Terus terang, meski banyak mahasiswiku yang penampakannya bikin eneg, tapi tidak sedikit juga yang bikin betah mata memandangnya. Sekali saja kubuka kesempatan, akan ada mahasiswi yang berubah statusnya menjadi MTM alias mahasiswi tapi mesra. Na’udzubillah..!

Apakah aku berlebihan dalam berpikiran? Kurasa tidak. Ada beberapa orang kawan sesama dosen yang kuketahui melakukan hal tersebut. Kalau statusnya masih bujangan, kurasa tidak jadi soal, tapi kalau sudah berpasangan? Masalah besar tentunya..

Perilaku tidak setia semacam itu, menurutku sepenuhnya berasal dari dalam diri kita sendiri. Kemampuan dalam mengendalikan diri adalah kunci dari itu semua. Seperti yang pernah aku sebutkan dalam tulisan berjudul 29 Februari, bahwa cinta itu adalah tanggungjawab, maka bila seorang suami yang memiliki rasa tanggungjawab besar terhadap keluarga yang dipimpinnya, tentu takkan terjerumus dalam jurang perselingkuhan atau penyelewengan sama sekali. Jangankan melakukan, berpikir ke arah sana saja sebetulnya tidak perlu dilakukan.

Kata-kata, pikiran dan sikap yang baik adalah tiga elemen penting yang mampu menjaga cinta dalam keluarga agar dapat tetap terjalin dengan utuh. Mari simak falsafah hidup yang disampaikan oleh Lao Tzu berikut ini:

Kebaikan dalam kata-kata menciptakan keyakinan,
Kebaikan dalam berpikir menciptakan kebesaran hati,
Kebaikan dalam tindakan menciptakan cinta

Di samping kemampuan merangkai kata-kata yang baik, seorang suami/istri harus senantiasa berpikiran baik kepada pasangannya dan juga melakukan perbuatan-perbuatan baik, agar cinta yang mereka semaikan itu dapat senantiasa terjaga dan utuh selamanya.

Salah satu cara yang aku dan istri lakukan kalau lagi bersama adalah nonton bioskop..!  🙂

Ya, kami memiliki hobby yang sama, yakni nonton film di bioskop. Setiap kali aku pulang ke Jogja setelah bepergian jauh atau kembali dari Curup, adalah menonton berdua ke bioskop. Hal ini kurasakan cukup efektif. Dengan memiliki waktu berduaan saja beberapa saat sambil menjalankan hobby bersama, fikiran jadi segar kembali dan hubungan pun terasa semakin hangat dan mesra.

Bagaimana dengan anak-anak? Menonton film di bioskop juga salah satu caranya agar hubungan antar kami kembali menghangat. Setiap kali ada film anak-anak yang tayang dan waktunya pun pas, maka kami akan ajak mereka bersama-sama. Biasanya setelah itu, kami akan mampir ke toko buku atau makan-makan di rumah makan. Sehabis melakukan kegiatan tersebut, rasanya hati dan pikiran kami kembali segar dan siap menjalankan rutinitas berikutnya.

Nah.. saat ini sebenarnya kami lagi menunggu kesempatan untuk menonton bersama-sama. Filmnya sudah lama diputar, tapi karena putriku Satira baru pulang liburan dari pesantrennya besok, Kamis 27 Juni 2013, maka kami tunda terus. Semoga Jumat nanti filmnya masih diputar.

Mau tau film apa itu?

Coboy Junior The Movie….!  😀 😀 😀

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

Giveaway #1 “Me and Jogja” : Candi Prambanan

Gara-gara dimention sama Idah dan Mas Furqon di Twitter, aku jadi punya ide untuk update. Dalam kondisi mentok ide, mengikuti kontes adalah salah satu cara eiylekhan untuk mengatasinya. Tapi, masa berturut-turut postingan kontes melulu? Temanya tentang foto pulak semua.. Hadeh… 😀

Tapi ya sudahlah.. daripada diomelin sama Komandan gara-gara tidak update, lebih baik ikutan kontes lagi bukan?

Kontes yang kuikuti kali ini adalah yang diadakan oleh Jogja Circles dengan tema “Me and Jogja”. Di sini, kita diminta untuk meletakkan foto kita dengan latarbelakang salah satu tempat wisata di Jogja dan sedikit keterangan di bawahnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan untuk mengikuti kontes ini.

Tapi, tahukah sabahat, apa yang kualami setelah mulai menuliskannya? Ternyata kontes ini mudah, sekaligus menyusahkan bagiku.

Lho, apa maksudnya?

Sebagai orang yang tinggal di Jogja dan suka jalan-jalan pulak, tentu kontes ini mudah sekali bagiku. Namun, begitu mengobrak-abrik perbendaharaan foto-fotoku, aku merasa kesusahan. Masalahnya adalah, fotoku dengan latarbelakang wisata Jogja itu tidak banyak, tapi buaaanyaaaaaakkkk banget, hahaha… Jadinya, bingung mau milih yang mana.. 😀

Maka, setelah berpikir panjang dan mengerahkan segala kemampuan (halah, lebay…), akupun putuskan untuk memasang foto berikut ini:

 

Foto ini diambil di salah satu dari tiga candi utama yang ada di kompleks Candi Prambanan.

Candi Prambanan yang juga disebut sebagai Candi Rara Jonggrang adalah sebuah kompleks candi Hindu yang dibangun pada abad ke-9 Masehi. Candi ini memiliki 3 candi utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Candi ini terletak di desa Prambanan, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta,  yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten. Dengan demikian, Candi ini terletak di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berkunjung ke Jogja, tidak lengkap jika tidak berwisata ke candi ini yang oleh UNESCO sudah dimasukkan sebagai salah satu situs warisan dunia. Candi ini adalah candi Hindu terbesar di Indonesia dan terindah di Asia Tenggara. Tidak percaya..? Datang saja ke sana dan buktikan.. 🙂

Bagaimana cara sampai ke sana?

Gampang… Naik saja bus Trans Jogja. Dengan ongkos Rp. 3.000 Anda akan sampai di depan candi megah tersebut.. 🙂