[HoTD] Menghidupkan Malam Hari Raya

Hadis of The Day #30

miniatur masjid baiturrahman banda aceh, yogyakarta(Miniatur Masjid Baiturrahman Aceh, Jl. Ringroad Selatan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta)

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الْمَرَّارُ بْنُ حَمُّويَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Ahmad Al Marrar bin Hammuyah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mushaffa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Baqiyyah bin Al Walid] dari [Tsaur bin Yazid] dari [Khalid bin Ma’dan] dari [Abu Umamah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menghidupkan (dengan ibadah) pada malam dua hari raya karena mengharap pahala Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari semua hati mati.” [HR. Ibnu Majah – 1772]

Di malam menjelang hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, takbir dan tahmid berkumandang, memenuhi langit dunia. Semua orang bergembira menyambutnya. Kegembiraan tersebut, menjadi semakin bermakna bila kita isi dengan ibadah, mengharap ridha dari Yang Maha Segala. Dengan begitu, Allah akan senantiasa menghidupkan hati kita, segelap apapun keadaan di sekeliling kita.

Mari sambut hari raya dengan penuh suka cita dan tetap meniatkan semua yang kita lakukan, dalam rangka ibadah kepadaNya. Insya Allah hari-hari kita akan semakin bahagia.

Semoga bermanfaat..
Selamat berpuasa dan selamat menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.. 🙂

p.s. Hadis of The Day lainnya dapat diklik [di sini]

Waduk Sermo; Pengorbanan Yang Tak Sia-Sia

CeritaLebaran #3

Setelah membongkar-bongkar tulisan di blog ini, akupun baru menyadari kalau ternyata kami belum sekalipun berwisata di salah satu kabupaten di Yogyakarta, yakni Kulon Progo. Padahal, di sana ada banyak potensi wisata yang layak dikunjungi. Maka, akupun putuskan untuk mengeksplorasi daerah tersebut dalam libur lebaran kali ini.

Destinasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Waduk Sermo. Yakni sebuah waduk yang berada di Kawasan Bukit Menoreh, tepatnya di Dusun Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Dari googlemap, aku lihat bahwa jarak dari Kweni-Bantul menuju ke sana lebih kurang memakan waktu 50 menit. Lumayanlah menurutku.

Dengan persiapan penuh, kami pun berangkat dari rumah pada pukul 9 pagi. Kami memilih menggunakan sepeda motor,mengingat jalur Jogja-Kulon Progo pada hari-hari Idul Fitri seperti sekarang ini sangat padat. Dengan sepeda motor, tentu akan lebih  leluasa dan bisa menghindar dari kemacetan.

Benar saja, sepanjang jalan dari menuju Wates, ibukota Kulon Progo, kendaraan roda empat maupun roda dua memenuhi jalanan. Semua padat merayap. Syukurnya kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Dan alhmadulillah, setelah berkendara hampir satu jam, kami menemukan arah petunjuk jalan menuju waduk Sermo terpampang besar-besar di pinggir jalan.

Dari situ, kami bergerak menuju waduk yang dimaksud. Jalanan mulai sepi. Kami pun bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang berkelok tersebut. Tepat pukul 10.30 wib, kami pun sampai di lokasi.

Kami pun tidak sabar ingin menikmati suasana waduk. Buru-buru kami parkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling waduk yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 November 1996 silam itu. Terlihat hamparan danau buatan yang dibuat dengan membendung Kali Ngrancah, terbentang dengan tenangnya

waduk sermo (02)

Dari informasi yang kudapat, waduk dengan luas genangan kurang lebih 157 Hektar dan dapat menampung air 25 juta meter kubik ini dibangun dengan tujuan sebagai sumber air bersih PDAM dan untuk air irigasi yang mengairi sawah di daerah Wates dan sekitarnya.

Namun, pembangunan waduk ini disamping menghabiskan biaya yang sangat besar, juga mengharuskan penduduk yang ada di situ bersedia berkorban kehilangan kampung halaman mereka. Penduduk yang mendiami lokasi waduk itu dulu, melakukan transmigrasi massal alias “bedol desa”. Sebanyak 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan 7 KK ditransmigrasikan ke Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit Riau.

waduk sermo (03)

Ketika memandangi hamparan air di waduk tersebut, terbayang olehku betapa besar pengorbanan warga kampung itu dulu. Aku tidak tahu, apa saja yang memotivasi mereka sehingga bersedia pergi dan meninggalkan tanah kelahiran mereka itu. Tapi yang jelas, pengorbanan mereka memberikan manfaat yang sangat besar bagi sekitarnya. Saat ini, Kulon Progo menjadi pemasok sayur dan buah yang sangat besar bagi Yogyakarta dan sekitarnya. Tentu saja perkebunan mereka tersebut bisa tumbuh baik berkat pengairan yang baik pula. Dan itu berasal dari waduk Sermo. Ini tentulah menjadi amal jariyah bagi para penduduk yang telah berkorban dulu itu. Selama waduk itu mengalirkan airnya, selama itu pulalah pahalanya mengalir kepada mereka.

Hal inilah yang kusampaikan kepada anak-anakku sembari mengitari waduk tersebut. Tidak ada salahnya bila kita rela mengorbankan sedikit yang kita punya demi kepentingan umum. Dan sebaliknya, tidak baik bila kita berkorban habis-habisan, hanya untuk kepentingan segelintir orang, demi memuaskan nafsu duniawinya.

waduk sermo (01)

Puas berkeliling dan berfoto-foto di sekitar waduk, kami pun segera beranjak ke destinasi selanjutnya, yakni Kalibiru yang terletak tidak seberapa jauh dari situ. Sebelum berangkat, Ajib sempat bertanya,

“Kita tidak naik perahu itu dulu, Pa?”

“Tidak usah ya. Kita cukup nikmati saja dengan melihatnya”

“Ok, kita lanjut lagi kalau begitu”

“Let’s goooo….!!!”

sebelumnya:

selanjutnya:

referensi:

Shalat Idul Fitri 1436 H di Altar

CeritaLebaran #1

Sejak tinggal di Kweni, belum sekalipun kami melaksanakan shalat Idul Fitri di tempat lain. Rasanya, ingin juga sesekali merasakan shalat di luar Kweni. Setidaknya, bisa merasakan nuansa yang berbeda. Maka, setelah kami diskusikan beberapa hari jelang Idul Fitri tiba, akhirnya kami sepakat untuk menunaikan shalat ‘Id kali ini di Altar, alias Alun-alun Utara Yogyakarta.

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat dari rumah. Sebab, berdasarkan pengumuman dari panitia, jamaah sudah diminta untuk bersiap pada pukul 06.30. Di samping itu, aku sudah dapat membayangkan betapa ramai dan macetnya lalu lintas ke sana nanti. Maka, berangkat lebih pagi tentu lebih baik.

Tidak sampai 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di lokasi. Terlihat jamaah sudah mulai memadati alun-alun kebanggaan warga Yogyakarta tersebut. Dengan sedikit bergegas, akhirnya kami pun bisa mendapatkan shaf di barisan-barisan depan. Selang beberapa menit saja setelah itu, jamaah benar –benar sudah memadati lapangan yang sangat luas tersebut.

jamaah shalat id di altar

Aku tidak mengenali tokoh-tokoh penting siapa saja yang hadir di situ. Yang kutahu hanya Sri Sultan dan Pak Din Syamsuddin yang kebetulan menjadi khatib pada hari itu. Pak Din inilah yang menjadi salah satu motivasi kami untuk bershalat ‘Id di sana.

Isi khutbah Pak Din menurutku cukup menarik. Ada banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

din syamsuddin khutbah di altar

Beberapa hal yang dapat kucatat antara lain:

  1. Idul Fitri merupakan momentum yang tepat untuk kembali kepada kesucian dan kekuatan. Kembali kepada kesucian artinya adalah kembali kepada kemurnian diri, tanpa dosa, tanpa tendensi apapun dalam hidup, hanya berharap kepada keridhaan Allah semata. Dan kekuatan maknanya adalah mengembalikan segala upaya kepada Sang Maha Kuasa dan tunduk pada aturanNya. Jika dua hal ini disatukan, maka kemenangan yang hakiki akan kita raih.

  2. Ibadah puasa sesungguhnya adalah ajang untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri itu tergambar dalam perilaku kita yang disebut dengan akhlak. Ada pepatah yang mengatakan:

اِنَّمَا الاُمَمُ الاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

 “Dengan akhlaq, suatu bangsa akan teguh. Bila akhlaqnya rusak, mereka pun rapuh

Saat ini, nilai-nilai moral bangsa Indonesia sudah banyak yang tergerus. Yang dulunya ramah, kini menjadi gampang marah. Kita sangat gampang tersulut emosi. Hanya dengan sedikit isu, kita pun saling beradu. Semangat kegotongroyongan yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini, sekarang tak lagi dapat dibanggakan. Kepentingan individual terasa begitu kentalnya. Sehingga, alih-alih membela kepentingan bangsa, justru kita terjebak dalam fanatisme buta.

  1. Kebanggaan kita, terutama generasi muda pada bangsa ini sudah memudar. Kita justru bangga dan mengagungkan bangsa lain. Banyak yang merasa malu dengan identitasnya sendiri. Ini tentu tidaklah baik. Untuk maju, suatu bangsa harus bangga dengan identitasnya. Dengan kebanggaan tersebut, kita akan mampu berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa lain.

Tiga hal dari banyak poin yang disampaikan dalam khutbah Pak Din tersebut di atas, menurutku patut untuk direnungkan sebagai bahan muhasabah bagi kehidupan kita kedepannya. Semoga saja setelah nilai-nilai puasa yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin dapat terus terimplementasi dalam keseharian kita. Amiin…

Setelah selesai semua prosesi ibadah shalat Idul Fitri tersebut, kami pun bubar dan kembali ke rumah. Namun, ada pemandangan kurang sedap terlihat pasca shalat tersebut. Koran-koran bekas yang tadinya digunakan sebagai alas sajadah, berserakan di mana-mana. Padahal, panitia sudah menyediakan tempat khusus untuk membuangnya, bahkan dengan menempelkan tulisan besar-besar di situ.

koran kebas di altar tempat pembuangan koran bekas di altar

Ah… ternyata, kebersihan masih belum menjadi bagian dari keimanan kita.. Sayang sekali.. 😦

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

 

selanjutnya:

Sederhana Bukan Berarti Miskin

Sepanjang Ramadhan 1436 H ini, Om Nh melalui blog The Ordinary Trainer milik beliau, mempublis kutipan-kutipan ayat al-Quran setiap hari. Aku mengikutinya terus, meski tidak membubuhkan sepatah dua patah komentar di sana. Pada hari ini, 14 Juli 2015, beliau memposting QS. Al-a’raf ayat 31.

Aku tertarik untuk membahas ayat ini lebih jauh, karena ayat ini bisa menjadi semacam mengingat buat kita di penghujung Ramadhan ini. Sebab, demi merayakan kegembiraan di Idul Fitri, kita sering terlupa akan batas kita dalam hal berpakaian, makanan maupun minuman.

Selengkapnya ayat ini berbunyi:

al-araf 31

Dalam Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam (manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu di setiap memasuki dan berada di masjid, baik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal, enak, bermanfaat lagi bergizi, dan berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan, tidak juga mengganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikian juga dalam makan dan minum atau apa saja, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.

Perintah makan dan minum yang tidak berlebih-lebihan, yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang, boleh jadi telah dinilai melampaui batas atau belum cukup buat orang lain. Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas: “Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.”

Selain itu, dengan mengutip riwayat dari Ibn Zaid, al-Thabari menafsirkan kata لاتسرفوا   dengan “tidak boleh memakan sesuatu yang haram”. Ia menjelaskan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batasan-Nya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaliknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya. Demikian itu merupakan keadilan yang Dia perintahkan.

Terkait dengan konsumsi, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan adanya larangan sikap berlebih-lebihan dan memperlihatkan kesombongan, tidak hanya dalam hal makan dan minum, tetapi juga dalam hal berpakaian dan bersedekah. Larangan sikap berlebih-lebihan ini juga berdasarkan beberapa hadis yang dikutip oleh Ibn Katsir, yaitu:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah, tanpa disertai kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya memanfaatkan nikmat-nikmat-Nya”.
  2. Hadis yang juga diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri”.
  3. Hadis yang yang diriwayatkan oleh al-Miqdam ibn Ma’di Karib al-Kindi, bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perutnya, cukuplah anak Adam makan dengan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang tubuhnya. Kalaupun ia harus melakukannya (memenuhi perutnya), maka hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan”.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlaku “sederhana”. Keserderhaan yang dimaksud di sini adalah proporsional. Yakni sesuai dengan batas kewajaran, tidak terlalu mewah dan tidak pula terlalu berkekurangan. Yang terpenting adalah sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya. Misalnya: bila dengan baju seharga seratus ribu kita sudah terlihat rapi dan pantas, mengapa pula harus mengenakan pakaian dengan harga satu juta?.

Aku sangat ingat dengan pesan Kyai kami ketika di pesantren dulu. Kalimat yang sering dilontarkan kepada kami adalah, “Sederhana Bukan Berarti Miskin”. Artinya adalah berlaku sewajarnya, tidak melebihi batas kepatutan.

Selamat mempersiapkan Hari Kemenangan, sahabatku. Mari kita tetap menjaga puasa kita dengan tidak mengumbar emosi dalam berbelanja jelang Idul Fitri ini. Berlakulah sederhana, sebagaimana yang Allah sabdakan dalam QS. Al-A’raf ayat 31 tersebut.. 🙂

pesan ramadhan

#CeritaLebaran 1

Idul Fitri 1435 H sudah lewat beberapa hari. Namun, belum terlambat untuk mengucapkan selamat lebaran bukan? 😀

Selamat Idul Fitri 1435 H sahabat narablog sekalian. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang terjadi dalam pergaulan kita selama ini. Semoga Allah meridhai setiap amal ibadah kita dan memberkahi persahabatan indah yang terjalin antar kita semua dan semoga kita dapat terus menebar manfaat bagi semesta ini.. 🙂

lebaran 2014-02

Tentu ada banyak cerita yang kita alami selama lebaran kali ini. Aku pun demikian. Aku akan bagi cerita-cerita tersebut dalam beberapa postingan ke depan. Semoga teman-teman berkenan menyimaknya..

========================

Kali ini, aku mendapat amanah dari pengurus Masjid An-Najwa, tempat aku tinggal sekarang, untuk menjadi imam dan khatib dalam shalat Idul Fitri 1435 H yang dilaksanakan di lapangan pedukuhan Kweni, Kelurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Ini merupakan kali kedua aku diberi kepercayaan seperti ini. Pertama kalinya dulu pada tahun 1428 H, tujuh tahun yang lalu.

lebaran 2014-590x339

Dalam khutbah kali ini, ada beberapa hal yang kusampaikan, utamanya adalah tentang pesan-pesan yang ditinggalkan Ramadhan untuk kita semua agar dapat diteruskan di bulan-bulan selanjutnya. Tiga hal di antaranya:

1. Pesan Moral

Ramadhan melatih kita untuk taat pada aturan yang Allah tetapkan. Segala sesuatu yang biasanya dihalalkan, malah selama menjalankan puasa, diharamkan. Di antaranya, makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari. Dengan landasan keimanan yang kuat, semua aturan tersebut akan bisa kita lalui dengan baik dan menyenangkan.

Sejak manusia dilahirkan, ada tiga naluri yang dibawa serta. Yakni. naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiganya, naluri syahwat lah yang paling sulit dikendalikan. Ada banyak orang yang jatuh ke dasar jurang kenisataan paling dalam, hanya karena ia tak mampu mengendalikan syahwatnya.

Karena telah terlatih mengendalikan syahwat selama Ramadhan, maka akan mudah bagi kita mengendalikannya di luar Ramadhan nanti. Dengan kemampuan tersebut, moral kita tentulah akan terjaga dengan baik.

2. Pesan Sosial

Di penghujung Ramadhan, sebuah pemandangan indah terlihat nyata di hadapan kita semua. Betapa setiap muslim menunaikan kewajibannya mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan bagi delapan golongan yang telah ditetapkan, terutama untuk fakir-miskin.

Di sini tampak bagaimana tali silaturrahim serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi serta tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan, tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah telah melahirkan kesadaran untuk tolong menolong antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan.

Kepedulian semacam ini, mestilah dilestarikan di luar Ramadhan. Bila itu terjadi, sungguh akan terasa indah sekali hidup dan kehidupan ini.

3. Pesan Jihad

Jihad hendaklah jangan dipahami dengan maknanya yang sempit; berperang. Sesungguhnya, jihad memiliki makna yang luas, yakni mengeluarkan segala kemampuan untuk menegakkan kebenaran di muka bumi dengan tujuan mendapat keridhaan dari Allah SWT.

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa, untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri sendiri dari perilaku dan tindakan yang akan merugikan sekeliling kita.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera, serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan Ramadhan ini bangsa Indonesia telah melakukan sebuah perhelatan besar, yakni pesta demokrasi, memilih presiden untuk periode 2014-2019 mendatang. Pergolakan politik ini menghiasi ibadah puasa kita. Berbagai intrik dan strategi politik dipertontonkan kepada kita semua. Dan nyaris membuat kita larut dalam perdebatan tak berkesudahan tersebut.

Namun, alhamdulillah, proses tersebut sudah kita lalui. Presiden baru pun sudah terpilih. Semoga dengan pemilihan yang kita lakukan di tengah ibadah puasa tersebut, benar-benar diberkahi oleh Allah SWT, sehingga hasil yang telah kita dapatkan sekarang ini, tidak justru menjadi pemicu pada perpecahan hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karenanya, mari kita menjernihkan hati dan pikiran. Jangan sampai mudah terpancing oleh isu-isu politik yang akan berakibat terpecahbelahnya kita sebagai bangsa yang besar. Puasa telah mengajarkan kita untuk menahan diri dari emosi dan amarah. Maka, pelajaran itu hendaknyalah kita praktekan dalam keseharian kita, di luar Ramadhan. Inilah jihad kita untuk negara tercinta ini.

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.

mengukur ketulusan

Seorang sahabat melontarkan pertanyaan lebih kurang seperti ini:

“…apakah tolak ukur kualitas permohonan maaf? agar maaf itu senantiasa tulus, bukan karena kultur, formalitas sebuah moment, atau sekedar menu utama Idul Fitri, bahkan rutinitas jelang Ramadhan?…”

Secara bercanda, aku jawab seperti ini:

“…tolok ukurnya adalah hati si pemohon maaf itu sendiri.. dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati, siapa yang tahu? bagi saya, mau tulus atau tidak, mau karena kultur atau bukan, jika ada orang yang meminta maaf, berikan saja, toh gratis ini.. 🙂 “

Permintaan maaf adalah hak setiap manusia. Dalam terminologi Al-Quran, kata maaf diterjemahkan melalui kata “al-‘afwu (العفو). Kata tersebut terulang sebanyak 34 kali dalam ayat-ayat al-Quran, antara lain:

Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syura [42]: 40)

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24): 22).

Menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, “Tiada maaf bagimu”, karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt.

Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa ketulusan bukanlah syarat yang patut dipertanyakan dari seseorang yang meminta maaf. Ketulusan berada pada wilayah abu-abu yang sulit untuk kita lihat dengan mata telanjang. Ia merupakan bahasa hati dan hanya akan dirasakan oleh hati juga.

Dewasa ini, permohon maaf di kalangan umat Islam menemukan bentuk baru. Pada momen-momen seperti menjelang Ramadhan atau di hari raya Idul Fitri dan belakangan juga menjelang malam Nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), umat Islam di negara kita ramai-ramai menyampaikan permohonan maaf kepada handai taulan, sanak keluarga dan sahabat-sahabat di mana saja berada. Caranya banyak macam, dan yang ngetrend saat ini adalah melalui sms massal, BBM broadcasting atau menulis di status Facebook. Sebuah cara yang tentu praktis dan bisa menjangkau banyak kalangan hanya dengan satu klik.

Salahkah cara demikian?

Menurutku, tidak ada yang salah. Sebab, itu hanyalah cara, bukan esensi. Inti dari permohonan maaf adalah ekspresi yang benar-benar keluar dari hati. Dan yang bisa mengetahui kadarnya, apakah tulus atau sekedar mengikuti trend, itu hanya si pengirim pesan yang tahu. Oleh karenanya, aku sangat menyarankan agar ketika kita mengirimkan pesan permohonan maaf melalui aneka media tersebut, hendaklah diikuti dengan ketulusan hati. Dengan demikian, insya Allah permohohan maaf kita tidak berlalu dengan sia-sia dan dianggap orang sebagai rutinitas belaka.

Karena ketulusan tersebut hanya kita yang tahu, maka untuk mengukurnya juga hanya kita yang bisa. Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita jadikan untuk mengukur ketulusan kita dalam melontarkan permohonan maaf tersebut, yakni:

  1. Disampaikan dengan sungguh-sungguh, copy-paste adalah indikasi ketidaksungguhan.
  2. Tidak mengharapkan balasan apapun dari manusia, balasan yang diharapkan hanyalah pahala dari Allah SWT.
  3. Dilakukan dengan ikhlas, tanpa tendensi apapun, tidak ada paksaan maupun niat terselubung di baliknya, dorongannya adalah dari dalam diri sendiri, bukan dari yang lainnya.

So.. apakah masih enggan memberi maaf kepada orang lain dan terus mempertanyakan ketulusannya? Maafkan sajalah, tidak ada ruginya, bukan? 🙂

melompatlah

Lebaran kedua, kami bingung mau kemana lagi. Kalau jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Jogja, sepertinya sudah ditempuh semua. Tapi, kalau berdiam diri saja di rumah, tentulah sebuah tindakan yang mubazir. Maka, ketika anak-anak bertanya akan jalan kemana, akupun menjawab sekenanya: “kemana roda akan berputar saja…” 😀

Entah malaikat apa yang menuntun, tiba-tiba kami sudah sampai di pelataran Monumen Jogja Kembali (MONJALI). Dengan perasaan sedikit malas, kamipun beringsut menuju pintu masuk. Secara mengejutkan, kami melihat di pelataran monumen itu sebuah event yang cukup spesial. Terlihat beberapa wahana permainan yang memacu adrenalin terpasang dengan gagahnya di sana. Ada balon raksasa, trampolin, euro bungee, flying fox, dll. Sontak rasa gembira menjalari tubuh kami. Sepertinya kali ini akan lebih mengasyikkan. Alhamdulillah… 😀Read More »