30 Hari Bercerita

Sepanjang Januari 2017 kemarin, aku posting satu gambar dengan caption yang lumayan panjang di instagram. Ini demi memenuhi tantangan ngeblog selama 30 hari berturut-turut lewat event #30haribercerita yang diselenggarakan oleh pemilik akun @30haribercerita. Sampai tulisan ini diturunkan, aku sama sekali tidak tahu, siapa orang-orang yang ada di balik akun tersebut. [ sok misterius.. haha.. 😀 ]

Yang menarik bagiku adalah bahwa ini bukan lomba. Ini hanya tantangan rutin menulis setiap hari. Dengan demikian, tujuannya benar-benar menantang diri sendiri untuk rutin menulis, bukan mengejar sepaket hadiah. Ini penting bagiku yang sudah mulai menurun intensitas menulis di blog tercinta ini.. 🙂

Karena tidak ada aturan yang ditetapkan dalam rangka mengejar hadiah, maka aku pun menulis dengan apa yang terpikirkan di saat itu saja. Tulisan-tulisan yang kuturunkan pun tidak beraturan. Mulai dari cerita perjalanan, sampai kepada tulisan reflektif. Yang terpenting, menulis.

Hingga kemudian, aku membaca postingan penutup di hari ke 31 oleh sang admin. Di salah satu paragrafnya, mereka menulis: “Kami juga punya daftar nama-nama yang jangan di-regram lagi karena tanpa sadar sudah kami regram lebih dari 3 kali“. Spontan kutengok postingan-postinganku tersebut, dan ternyata, aku sudah 4 kali di-regram. Dengan demikian, aku adalah salah satu dari nama-nama yang “diblokir”, alias tidak boleh lagi di-regram. 😀 #bangga

Ini dia keempat postingan yang di-regram tersebut:

1. Hari ke 8

View this post on Instagram

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1708 #30hbcsma @30haribercerita . SUNAN KUDUS & SAPI . "Perlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan". . Pesantren tempatku nyantri dulu, punya tradisi mengajak siswa kelas akhir (3 SMA) untuk melakukan kunjungan ke beberapa sentra industri skala kecil maupun menengah di daerah-daerah sekitar pondok. Ketika itu aku mendapat kesempatan di Kota Kudus Jawa Tengah. . Dalam suatu kesempatan, guru pendamping kami bertanya, "Tahukah kalian kalau di Kudus ini tidak ada soto sapi?". Hampir serentak kami menjawab, "Tidaaaaak". . Guru kami itu pun menceritakan bahwa masyarakat muslim di Kudus, dari dulu dilarang oleh Sunan Kudus untuk menyembelih sapi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun Idul Adha. Hal tersebut dilakukan demi menjaga perasaan masayarakat Hindu yang menjadikan sapi sebagai hewan suci mereka. Makanya, di Kudus yang disembelih adalah kerbau ataupun kambing ketika Idul Adha. . Jujur, aku kagum dengan sikap Sunan Kudus tersebut. Beliau berusaha menghargai orang lain, dan tetap konsisten dengan ajaran agama yang dianutnya. Kekagumanku itu semakin bertambah ketika melihat Masjid Menara Kudus yang arsitekturnya memadukan aneka budaya. Perbedaan yang disatukan dalam sebuah harmoni, tanpa harus menghilangkan jati diri, sungguh terlihat indah di mata dan di hati.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

2. Hari ke 12

View this post on Instagram

Regram dari @hardivizon – #30haribercerita #30hbc1712 @30haribercerita . TUGAS ANAK (?) . "Pak, bakiaknya bisa nyampai paling lambat Rabu? Soalnya, itu buat tugas anak saya di sekolah, Kamis harus dikumpul". . Entah sudah berapa kali kudapatkan pertanyaan semacam itu dari pelanggan @mainan.bocah , aku sudah tak ingat lagi. Sering banget soalnya. . Sebagai penjual, tentu aku tidak perlu peduli apa tujuan dari pelanggan membeli produk mainan dan alat peraga edukatif yang kami jual secara online di www.mainanbocah.com bukan? Tapi, hati kecilku tidak setuju dengan cara orangtua yang seperti itu. . Tugas dari sekolah, tentu bertujuan untuk memberi latihan bagi anak, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bila kemudian orangtua yang sibuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, dan bahkan membelinya, apakah ada gunanya tugas sekolah tersebut? . Belajar adalah soal proses, bukan semata hasil. Oleh karenanya, biarkan anak-anak kita berproses. Bila harus membantu, berilah bantuan secukupnya, bukan justru mengambil alih.. #pendidikan #mainananak #mainanbocah #anakmandiri #edutoys #alatperagaedukatif

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

3. Hari ke 19

View this post on Instagram

#regram from @hardivizon – #30haribercerita #30HBC1719 #30hbcbahagia @30haribercerita . BAHAGIA . There is only one happiness in this life, to love and be loved (Goerge Sand) . Daniel Mahendra, pernah menulis dalam salah satu novelnya, "berbahagialah dia yang tahu arti kata pulang". Sebagai penulis kisah-kisah perjalanan, tentu kalimat itu bukan sekedar kutipan pemanis tulisannya saja bukan? . Aku akuri kalimat novelis yang menggelari dirinya sebagai Penganyam Kata tersebut sepenuhnya. Ya… bagiku, bahagia adalah ketika kita punya tempat pulang. Pulang dalam arti sesungguhnya. Berada bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Menikmati segala lara bersama, dan melalui kegembiraan tanpa paksa . Kata kunci dari definisi bahagia adalah cinta. Mengapa setiap orang merindukan pulang? Karena di sana ada cinta. Dan cinta itu tumbuh atas dasar cinta pada Sang Maha . Bagaimana bila cinta itu tiada? Tentu, takkan ada bahagia dalam kata pulang.. 🙂

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

 4. Hari ke 20

View this post on Instagram

Regram dari @hardivizon : #30haribercerita #30HBC1720 @30haribercerita . LUNGSURAN . Pernah dapat lungsuran? Minimal sekali dalam hidup, tentulah kita pernah mendapatkanya, entah dari kakak atau orangtua. Ada beragam rasa ketika menerimanya; senang atau malah kesal. Kesal karena keseringan dapat lungsuran, jarang dapat yang baru, hehe . Beberapa waktu lalu, aku melungsurkan sebuah jas buat putraku. Jas itu dibuat pada tahun 1988, ketika aku masih lagi duduk di bangku sekolah menengah atas. Tak terasa, hampir 3 dekade usianya, jauh lebih tua dari usia putraku . Aku cukup surprise begitu mengetahui bahwa jas itu masih tersimpan rapi dan awet. Ibuku telah menyimpannya dengan sangat baik. Ada haru ketika melihat jas itu dikenakan putraku. Bukan semata karena dia terlihat gagah, tapi lebih karena ada cinta Ibuku di dalamnya . Huft… mendadak mataku berembun..

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

Entah apa yang menjadi pertimbangannya, sehingga admin @30haribercerita tersebut me-regram keempat postinganku ini. Yang jelas, aku cukup senang. Penghargaan kecil semacam ini, cukup besar dampaknya. Setidaknya,aku tetap ingin mengikuti program tersebut hingga akhir.

Semoga, semangat update blog, bisa tetap terjaga setelah ini.. Amiin.. 🙂

Garing

Bercanda adalah naluri manusia. Bahkan, kita butuh untuk bercanda, agar urat syaraf tidak terlalu tegang. Bercanda juga merupakan salah satu bentuk relaksasi. Terlalu serius dalam menjalankan kehidupan, malah tidak baik. Bercanda memang sangat kita butuhkan

Hanya saja, bercanda tetap ada batasannya. Berlebihan dalam bercanda, bisa fatal akibatnya. Nabi Muhammad SAW juga bercanda. Dalam salah satu riwayat dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwa ia berkata: “Orang-orang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab: ‘Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) ” (HR. Tirmidzi nomor 1991)

Dalam hadisnya yang lain, Nabi Muhammad saw. sangat mengecam orang yang sengaja melakukan kedustaan hanya demi mendapatkan gelak tawa dari orang lain yang mendengarkannya. Hadis tersebut berbunyi:: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” [HR. Abu Daud Nomor 4338]

Saat ini, aplikasi chatting di telepon pintar sangat banyak. Kita akan dengan mudahnya ngobrol dengan siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Termasuk bercanda. Namun, menurutku, ada satu becandaan yang tidak lucu alias garing. Coba perhatikan gambar berikut ini:

broadcast wa tentang gaji guru

Postingan yang banyak dikirim melalui WA group seperti di gambar di atas, adalah sebuah becandaan yang tidak lucu. Para guru memang mengharapkan peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Haruskah itu semua dijadikan lelucon? Mungkin sulit merasakannya bagi yang tidak berprofesi sebagai guru. Tapi.. Ketika harapan tersebut dijadikan bahan olok-olokan, sungguh menyakitkan.. 😦

Seperti yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis beliau di atas, bahwa sengaja melakukan kebohongan agar dapat mengundang tawa, adalah perbuatan yang sangat dibenci. Oleh karenanya, tidak perlu bukan menyebar pepesan kosong seperti gambar di atas? 🙂

Good Mood, Good Move, Good Mouth

Ada tiga hal yang patut dijaga, agar kita bisa memberikan kenyamanan bagi sekitar dan tentu bagi diri sendiri. Tiga hal tersebut adalah:

1. Good Mood

good mood

Be grateful when your mood is high and graceful when it is low” [Richard Carlson]

Mood merupakan suasana hati yang dapat dipengaruhi karena adanya rangsangan dari luar yang kita terima; bisa baik (good mood), bisa buruk (bad mood).

Mood akan terlihat dari perilaku yang ditunjukkan seseorang. Ia akan berpengaruh pada emosi. Dengan kata lain, emosi kita seringkali terekspresikan sebagai akibat dari suasana hati yang tengah kita rasakan.

Ketahuilah, mood itu sebenarnya adalah diri kita sendiri. Kita-lah yang mengendalikan mood kita. Sebagai contoh, slide presentasi yang telah kita persiapkan dengan baik, tiba-tiba terkena virus dan membuatnya berantakan, sementara waktu presentasi tinggal beberapa menit lagi.

Jika dalam kondisi tersebut kita terbawa suasana, maka akan muncullah bad mood. Walhasil, semuanya akan berantakan. Tapi, bila kita bisa tetap enjoy dan tidak panik, maka good mood lah yang muncul, dan kemungkinan besar presentasi itu akan sukses besar.

Menjaga mood agar tetap baik adalah penting, karena ia akan menentukan seperti apa perilaku (move) yang akan kita lakukan.

2. Good Move

good move

Forgive yourself for your faults and move on” [Les Brown]

Mood yang kita rasakan, berpengaruh pada perilaku. Seseorang yang lagi bad mood, seringkali mengekspresikan suasana hatinya dalam perilaku yang kurang elok, mulai dari uring-uringan sampai merusak segala hal yang ada di sekitarnya.

Perilaku negatif, tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain, termasuk orang-orang terdekat kita. Sebaliknya, perilaku positif, akan membahagiakan semua kalangan.

Setiap kita, pasti pernah melakukan kesalahan. Meratapi kesalahan, hanyalah akan membuahkan kesia-siaan. Good move, akan merubah kesalahan itu menjadi kemenangan.

Maka, tetaplah berperilaku baik, demi kehidupan yang lebih baik. Salah satu perilaku baik itu adalah bertutur kata yang baik (good mouth).

3. Good Mouth

good mouth

We have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak” [Epictetus]

Tidak sedikit orang yang hancur kehidupannya karena tidak mampu menjaga tutur kata. Ujaran-ujaran yang kita lontarkan, kemudian menyakitkan hati orang lain, seringkali berbalik arah kepada kita, dan menjadi senjata penghancur yang sangat kejam.

Tutur kata yang baik (good mouth) tidak muncul dengan sendirinya. Ia lahir dari perilaku yang baik (good move). Perilaku yang baik, lahir dari mood yang baik. Maka, menjaga mood agar tetap baik, adalah sebuah keniscayaan. Dan semuanya, ada pada diri kita sendiri.

Salah satu cara agar dapat bertutur kata yang baik adalah dengan lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Kita diberi dua telinga dan satu mulut menunjukkan bahwa mendengar haruslah lebih banyak daripada berbicara.

.

Mood, move, dan mouth yang tetap terjaga kebaikannya, niscaya memberi kebahagiaan untuk semesta, terutama diri kita.

Semoga bermanfaat 🙂

Lillahi Ta’ala

Tetiba seorang kawan mengirimkan gambar ini di grup chatting alumni yang kuikuti.

pak hasan - lillahi taala- 01

Cukup lama kupekuri gambar ini. Sosok yang ada di gambar itu adalah guru yang sangat kukagumi. Beliau adalah KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sejenak kerinduanku membuncah. Ah.. lama nian sudah tak kukunjungi beliau. Sebait doa kulantunkan untuk kesehatan dan kebahagiaan beliau.

Beberapa kali aku pernah menurunkan tulisan tentang beliau di blog ini, antara lain Terima Kasih Guru, Motto Pembelajar, dan Semua Kita Adalah Guru. Tulisan-tulisan tersebut tidak cukup mewakili penghormatanku pada inspirasi yang beliau berikan. Keikhlasan yang beliau teladankan selama ini, begitu membekas sangat dalam di sanubariku. Bahkan sahabatku Ahmad Fuadi penulis novel Negeri 5 Menara itu pun mendapat inspirasi yang tidak sedikit dari beliau. Aku juga pernah menceritakan tentang hal tersebut dalam tulisan bertajuk Aura Keikhlasan.

Kembali ke gambar di atas. Sesungguhnya, bukan semata sosok yang ada di gambar itu yang membuatku terdiam cukup lama, tapi juga kata-kata yang tertulis di dalamnya.

“Jangan pernah merasa kecewa karena orang lain tidak menghargai dan berterima kasih atas jerih payah kita. Untuk siapa dan karena siapakah kita berbuat? Lillahi ta’ala”

Seratus persen kuakuri petuah tersebut. Betapa keikhlasanku masih jauh dari kata sempurna. Aku akan senang luar biasa ketika hasil kerjaku bertabur puja-puji. Dan sebaliknya, aku akan kesal sejadinya, ketika karyaku tak dianggap. Agaknya, perlu kuperbaharui lagi niat dalam berbuat. Untuk apa aku melakukannya? Demi puja-puji makhluk, ataukah untuk beroleh karunia dari Sang Penguasa Hidup?

Nasehat guruku ini, telah menyadarkanku akan arti sebuah keikhlasan..

Terima kasih, Pak Kiai.. 🙂

Semoga bermanfaat..