Shalat Idul Fitri 1436 H di Altar

CeritaLebaran #1

Sejak tinggal di Kweni, belum sekalipun kami melaksanakan shalat Idul Fitri di tempat lain. Rasanya, ingin juga sesekali merasakan shalat di luar Kweni. Setidaknya, bisa merasakan nuansa yang berbeda. Maka, setelah kami diskusikan beberapa hari jelang Idul Fitri tiba, akhirnya kami sepakat untuk menunaikan shalat ‘Id kali ini di Altar, alias Alun-alun Utara Yogyakarta.

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat dari rumah. Sebab, berdasarkan pengumuman dari panitia, jamaah sudah diminta untuk bersiap pada pukul 06.30. Di samping itu, aku sudah dapat membayangkan betapa ramai dan macetnya lalu lintas ke sana nanti. Maka, berangkat lebih pagi tentu lebih baik.

Tidak sampai 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di lokasi. Terlihat jamaah sudah mulai memadati alun-alun kebanggaan warga Yogyakarta tersebut. Dengan sedikit bergegas, akhirnya kami pun bisa mendapatkan shaf di barisan-barisan depan. Selang beberapa menit saja setelah itu, jamaah benar –benar sudah memadati lapangan yang sangat luas tersebut.

jamaah shalat id di altar

Aku tidak mengenali tokoh-tokoh penting siapa saja yang hadir di situ. Yang kutahu hanya Sri Sultan dan Pak Din Syamsuddin yang kebetulan menjadi khatib pada hari itu. Pak Din inilah yang menjadi salah satu motivasi kami untuk bershalat ‘Id di sana.

Isi khutbah Pak Din menurutku cukup menarik. Ada banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

din syamsuddin khutbah di altar

Beberapa hal yang dapat kucatat antara lain:

  1. Idul Fitri merupakan momentum yang tepat untuk kembali kepada kesucian dan kekuatan. Kembali kepada kesucian artinya adalah kembali kepada kemurnian diri, tanpa dosa, tanpa tendensi apapun dalam hidup, hanya berharap kepada keridhaan Allah semata. Dan kekuatan maknanya adalah mengembalikan segala upaya kepada Sang Maha Kuasa dan tunduk pada aturanNya. Jika dua hal ini disatukan, maka kemenangan yang hakiki akan kita raih.

  2. Ibadah puasa sesungguhnya adalah ajang untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri itu tergambar dalam perilaku kita yang disebut dengan akhlak. Ada pepatah yang mengatakan:

اِنَّمَا الاُمَمُ الاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

 “Dengan akhlaq, suatu bangsa akan teguh. Bila akhlaqnya rusak, mereka pun rapuh

Saat ini, nilai-nilai moral bangsa Indonesia sudah banyak yang tergerus. Yang dulunya ramah, kini menjadi gampang marah. Kita sangat gampang tersulut emosi. Hanya dengan sedikit isu, kita pun saling beradu. Semangat kegotongroyongan yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini, sekarang tak lagi dapat dibanggakan. Kepentingan individual terasa begitu kentalnya. Sehingga, alih-alih membela kepentingan bangsa, justru kita terjebak dalam fanatisme buta.

  1. Kebanggaan kita, terutama generasi muda pada bangsa ini sudah memudar. Kita justru bangga dan mengagungkan bangsa lain. Banyak yang merasa malu dengan identitasnya sendiri. Ini tentu tidaklah baik. Untuk maju, suatu bangsa harus bangga dengan identitasnya. Dengan kebanggaan tersebut, kita akan mampu berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa lain.

Tiga hal dari banyak poin yang disampaikan dalam khutbah Pak Din tersebut di atas, menurutku patut untuk direnungkan sebagai bahan muhasabah bagi kehidupan kita kedepannya. Semoga saja setelah nilai-nilai puasa yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin dapat terus terimplementasi dalam keseharian kita. Amiin…

Setelah selesai semua prosesi ibadah shalat Idul Fitri tersebut, kami pun bubar dan kembali ke rumah. Namun, ada pemandangan kurang sedap terlihat pasca shalat tersebut. Koran-koran bekas yang tadinya digunakan sebagai alas sajadah, berserakan di mana-mana. Padahal, panitia sudah menyediakan tempat khusus untuk membuangnya, bahkan dengan menempelkan tulisan besar-besar di situ.

koran kebas di altar tempat pembuangan koran bekas di altar

Ah… ternyata, kebersihan masih belum menjadi bagian dari keimanan kita.. Sayang sekali.. 😦

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

 

selanjutnya:

pesan ramadhan

#CeritaLebaran 1

Idul Fitri 1435 H sudah lewat beberapa hari. Namun, belum terlambat untuk mengucapkan selamat lebaran bukan? 😀

Selamat Idul Fitri 1435 H sahabat narablog sekalian. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang terjadi dalam pergaulan kita selama ini. Semoga Allah meridhai setiap amal ibadah kita dan memberkahi persahabatan indah yang terjalin antar kita semua dan semoga kita dapat terus menebar manfaat bagi semesta ini.. 🙂

lebaran 2014-02

Tentu ada banyak cerita yang kita alami selama lebaran kali ini. Aku pun demikian. Aku akan bagi cerita-cerita tersebut dalam beberapa postingan ke depan. Semoga teman-teman berkenan menyimaknya..

========================

Kali ini, aku mendapat amanah dari pengurus Masjid An-Najwa, tempat aku tinggal sekarang, untuk menjadi imam dan khatib dalam shalat Idul Fitri 1435 H yang dilaksanakan di lapangan pedukuhan Kweni, Kelurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Ini merupakan kali kedua aku diberi kepercayaan seperti ini. Pertama kalinya dulu pada tahun 1428 H, tujuh tahun yang lalu.

lebaran 2014-590x339

Dalam khutbah kali ini, ada beberapa hal yang kusampaikan, utamanya adalah tentang pesan-pesan yang ditinggalkan Ramadhan untuk kita semua agar dapat diteruskan di bulan-bulan selanjutnya. Tiga hal di antaranya:

1. Pesan Moral

Ramadhan melatih kita untuk taat pada aturan yang Allah tetapkan. Segala sesuatu yang biasanya dihalalkan, malah selama menjalankan puasa, diharamkan. Di antaranya, makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari. Dengan landasan keimanan yang kuat, semua aturan tersebut akan bisa kita lalui dengan baik dan menyenangkan.

Sejak manusia dilahirkan, ada tiga naluri yang dibawa serta. Yakni. naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiganya, naluri syahwat lah yang paling sulit dikendalikan. Ada banyak orang yang jatuh ke dasar jurang kenisataan paling dalam, hanya karena ia tak mampu mengendalikan syahwatnya.

Karena telah terlatih mengendalikan syahwat selama Ramadhan, maka akan mudah bagi kita mengendalikannya di luar Ramadhan nanti. Dengan kemampuan tersebut, moral kita tentulah akan terjaga dengan baik.

2. Pesan Sosial

Di penghujung Ramadhan, sebuah pemandangan indah terlihat nyata di hadapan kita semua. Betapa setiap muslim menunaikan kewajibannya mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan bagi delapan golongan yang telah ditetapkan, terutama untuk fakir-miskin.

Di sini tampak bagaimana tali silaturrahim serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi serta tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan, tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah telah melahirkan kesadaran untuk tolong menolong antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan.

Kepedulian semacam ini, mestilah dilestarikan di luar Ramadhan. Bila itu terjadi, sungguh akan terasa indah sekali hidup dan kehidupan ini.

3. Pesan Jihad

Jihad hendaklah jangan dipahami dengan maknanya yang sempit; berperang. Sesungguhnya, jihad memiliki makna yang luas, yakni mengeluarkan segala kemampuan untuk menegakkan kebenaran di muka bumi dengan tujuan mendapat keridhaan dari Allah SWT.

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa, untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri sendiri dari perilaku dan tindakan yang akan merugikan sekeliling kita.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera, serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan Ramadhan ini bangsa Indonesia telah melakukan sebuah perhelatan besar, yakni pesta demokrasi, memilih presiden untuk periode 2014-2019 mendatang. Pergolakan politik ini menghiasi ibadah puasa kita. Berbagai intrik dan strategi politik dipertontonkan kepada kita semua. Dan nyaris membuat kita larut dalam perdebatan tak berkesudahan tersebut.

Namun, alhamdulillah, proses tersebut sudah kita lalui. Presiden baru pun sudah terpilih. Semoga dengan pemilihan yang kita lakukan di tengah ibadah puasa tersebut, benar-benar diberkahi oleh Allah SWT, sehingga hasil yang telah kita dapatkan sekarang ini, tidak justru menjadi pemicu pada perpecahan hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karenanya, mari kita menjernihkan hati dan pikiran. Jangan sampai mudah terpancing oleh isu-isu politik yang akan berakibat terpecahbelahnya kita sebagai bangsa yang besar. Puasa telah mengajarkan kita untuk menahan diri dari emosi dan amarah. Maka, pelajaran itu hendaknyalah kita praktekan dalam keseharian kita, di luar Ramadhan. Inilah jihad kita untuk negara tercinta ini.

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.