masa lalu vs masa depan

Don’t waste your time on the past.

It’s time you look to the future

Michael Joseph Jackson [August 29, 1958 – June 25, 2009]

Tepat pukul 19.00 WIB, kereta Argo Wilis yang kutumpangi dari Jogja berhenti di stasiun Bandung. Tanpa menunggu lebih lama, akupun segera turun dari kereta tersebut dan menuju pintu masuk stasiun, tempat di mana aku membuat janji bertemu dengan Daniel Mahendra (DM).

“Aku sudah ‘mendarat’, kutunggu di pintu masuk ya…”, sebuah pesan singkat kukirim ke ponselnya.

“Aku tinggal beberapa meter dari stasiun, tunggu sebentar”, balasan dari DM kuterima.

Sambil menunggu, kuedarkan pandangan ke seluruh areal stasiun. Rapi dan bersih, itulah kesan yang berhasil kutangkap. Keramaian masih dalam batas wajar, kulihat. Barangkali, karena musim liburan sudah selesai, sehingga tidak banyak orang yang bepergian ke atau dari Bandung lagi.

“Apa kabar, Da? Sehat kan?”, sapa DM ketika kami bertemu.

“Alhamdulillah, sehat dan senang akhirnya bisa ke Bandung lagi”, balasku.

“Kita mau ke mana nih? Langsung ke hotel atau ke mana dulu?”

“Makan…!”

“Lho…? Kok?”

“Laper banget euy, hehehe..”

“Haha.. Ya udah, mau makan di mana?”

“Ini Bandung, kan?”

“Iya”

“Kalau gitu, kita makan Sate Mak Sukur”

“Hloh…??!!”

“Hahaha… ya makan khas Bandung dong, gimana sih? 😀 “

Setelah melihat alamat hotel tempatku menginap, Hotel Bumi Asih Jaya, Jl. Soekarno-Hatta, Bandung, DM pun menyarankan untuk makan pada malam itu di warung Ampera, yang terletak kira-kira sekocokan dadu dari sana.

Singkat cerita, kami pun sudah berada di depan meja dengan menu makan malam seperti ini:

Menu makan malam nan “aduhai” di Bandung 🙂

“Dan… Sekilas tadi di kereta, aku membaca tweet-mu. Aku tertarik sekali”

“Yang mana, Da?”

“Don’t waste your time on the past. It’s time you look to the future”

“Oooo itu…”

“Aku suka dengan quote itu. Kebetulan sekali aku tengah menghadapi sesuatu dan sepertinya kalimat itu bisa menjadi jawabannya”.

“Oya? Tapi, itu bukan kalimatku. Itu kalimatnya Michael Jackson. Tanggal 29 Agustus merupakan hari kelahirannya. Untuk sekedar memperingati, maka aku tuliskan kembali penggalan kalimatnya tersebut”.

“Tidak masalah itu kalimatnya siapa, yang penting aku suka sekali”

“Memangnya kenapa, Da? Lagi ada masalah dengan masa lalu?”

“Bukan aku, tapi kawanku”

“Ouw..”

“Dia tengah bermasalah dengan istrinya. Aku dimintai bantuan untuk ikut menengahi mereka berdua. Persoalan mereka sebetulnya tidak terlalu serius, hanya saja sang mertua ikut campur. Bukannya membantu memberi solusi, malah membuat masalah baru. Dan yang paling menyakitkan bagi kawanku itu adalah sang mertua sering mengungkapkan penyesalannya mengizinkan sang putri menikah dengan kawanku itu dulu”

“Semakin runyam dong”

“Iya.. Tapi parahnya, si istri ikut terpengaruh, dan kemudian malah semakin sering mengungkapkan keburukan kawanku itu di masa lalu. Keindahan berumah tangga yang pernah mereka lalui seolah terhapuskan begitu saja. Tak ada lagi romantisme seperti dulu lagi”

“Lantas, apa yang Uda lakukan untuk mereka?”

“Poin inilah yang aku sampaikan kepada mereka. Yakni, bahwa kita hidup di masa kini untuk masa yang akan datang. Pengalaman masa lalu tidak perlu dibahas lama-lama. Cukup jadikan sebagai pembelajaran bagi masa depan. Menangisi masa lalu, takkan merubah apapun yang terjadi di masa itu. Nah.. kutipan kalimatmu itu, sangat pas untuk mereka bukan?”

“Iya juga ya… 🙂 “

Obrolan kami pun berlanjut hingga hampir tengah malam. Untunglah warung itu buka 24 jam. Jadi, tak mungkin diusir dari sana karena keburu ditutup.

Sesampai di hotel, akupun menurukan barang-barang bawaan. DM cukup kaget melihat banyaknya bawaanku.

“Katanya pelatihan cuma sehari, Da. Kok bawaannya banyak banget”

“Sehabis dari sini, aku akan pulang kampung, Dan”

“Ke mana?”

“Ke Bukittinggi dan Payakumbuh. Beberapa hari setelah itu, lanjut ke Curup, memulai semester baru bersama mahasiswaku”

“Ouw… pantes… 🙂 “

“Dan.. dari pengalaman kawanku bersama mertuanya tadi itu, tahu tidak apa yang bisa kita pelajari?”

“Apaan, Da?”

Kita hanya boleh memberikan saran kepada orang lain, bukan memberikan penilaian atas keputusannya

Motivasi Berwarna untuk marsudiyanto.net

bersamamu..

BERSAMAMU

kau di sampingku..
berjalan sejajar denganku..
tidak di belakangku..
dan tidak pula di depanku..

kau di sampingku..
genggam erat tanganku..
bersama melangkah..
menunaikan amanah…

aku mencintaimu..
karena kau berada selalu..
bersamaku..
sepanjang waktu..

(kweni, januari 2012)

Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML