Choco Cornflakes d’Sabulsabuk

Hello August..!!

Seorang sahabat mengirimkan gambar bertuliskan kalimat di atas melalui aplikasi WhatsApp kepada aku dan teman-teman yang tergabung dalam sebuah group. Sejenak aku tersentak. Ah.. sudah 8 aja nih umur tahun 2015. Sungguh cepat sekali perjalanan waktu ini rasanya. Sepertinya harus bekerja lebih keras lagi agar tahun 2015 ini tidak berlalu begitu saja tanpa goresan prestasi yang berarti.

Tapi.. tak perlulah terlalu menggerutui waktu yang telah berlalu. Jika ada target yang masih jauh dari capaian, evaluasi saja cara kerja kita selama ini dan segera perbaiki. Masih tersedia banyak waktu kok. Target memang perlu dipasang, namun dalam menjalankannya tidak harus menyiksa diri. Jalankan saja dengan baik, fokus dan konsisten.

Ada seseorang yang sangat menginspirasiku dalam hal konsistensi menjalankan usaha untuk mengejar target yang dibuatnya. Beliau adalah Pakde Cholik. Blogger senior asal Surabaya ini mengikrarkan target beliau di awal tahun 2015 yakni menerbitkan satu buku dalam satu bulan yang beliau istilahkan dengan “SabulSabuk2015“.

Jujur, awalnya aku menyangsikan target yang dibuat Pakde ini. Rasanya berat sekali target itu. Namun, ternyata beliau benar-benar bisa mewujudkan impian tersebut. Dari Januari hingga Juli kemarin, buku beliau setiap bulannya terbit, tepat waktu. Sungguh luar biasa. Salut yang tak terhingga untuk itu. Inilah bukti konsistensi Pakde yang sangat menginspirasiku.

Aku sempat terpikir, apa yang dialamai Pakde setiap hari ketika menuliskan halaman demi halaman untuk buku-buku beliau tersebut? Apa tidak jenuh? Secara manusiawi, pastilah sesekali ada kejenuhan.

Berbicara mengenai kejenuhan, kalau lagi jenuh, apa yang sahabat lakukan untuk mengatasinya?

Kalau aku… ngemil… 😀

Tidak keren memang. Tapi, itu sangat mujarab bagiku, meski berakibat pada mekarnya badan ke depan dan samping.. 😉

Ada banyak jenis makanan yang aku suka buat camilan, salah satunya adalah Coklat Cornflakes. Coklat yang menenangkan dan cornflakes yang renyah, menjadi perpaduan yang maknyus bin pakjoss bagiku. Dan untuk Pakde, cocok sekali nih buat teman menulis dalam rangka SabulSabuk2015 itu.

Bagaimana cara membuatnya? Gampang sekali kok..

Bahan-bahan yang diperlukan adalah:

  • 100 gram dark chocolate
  • 150 gram cornflakes
  • springkle gula warna-warni secukupnya
  • paper cup

choco corn flakes-02

Cara membuatnya sebagai berikut:

  • Siapkan panci berisi air di atas kompor
  • Potong-potong kecil coklat, masukkan ke dalam mangkuk tahan panas, lalu tim dengan api kecil hingga meleleh di panci berisi air tadi.
  • Angkat, lalu masukkan cornflakes, aduk sampai benar-benar rata.
  • Sendokkan campuran coklat dan cornflakes secukupnya ke dalam paper cup.
  • Taburi dengan sprinkle gula warna-warni
  • Diamkan hingga mengeras

 choco corn flakes-01

And.. This is it..! Choco Cornflakes d’Sabulsabuk ala Chef Vizon…!

choco corn flakes-03

Bagaimana..? Mudah dan murah bukan? Selamat mencoba dan selamat mengejar target dengan gembira..! 😀

Buat Pakde Cholik… Semangat dan sehat selalu ya..

 Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Mini: Sepotong Kue Untuk Pakde

menangis di arafah

Sebagai muslim, aku sangat merindukan mendapat kesempatan untuk dapat melaksanakan ibadah haji. Selalu ada rasa yang tak terkatakan setiap kali melihat tayangan di televisi tentang pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut, terutama ketika pelaksanaan wukuf di Arafah. Entah mengapa, selalu saja ada butiran hangat yang mengalir tanpa kusadari dari sudut mata, setiap melihat itu semua.

Penamaan tempat wukuf itu dengan Padang Arafah sepertinya memiliki makna yang sangat dalam. Secara harfiah, “arafah” berarti mengetahui atau mengenal. Bila dikaitkan dengan ibadah haji, maka ‘arafah bisa dimaknai sebagai tempat untuk hening sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk mengidentifikasi diri sendiri tentang apa yang telah dilakukan selama hidup.

Oleh karenanya, kegiatan yang dilakukan oleh para jamaah di saat itu adalah memperbanyak zikir dan doa. Tak jarang kita lihat, jamaah yang membanjiri wajahnya dengan air mata. Barangkali karena mereka tengah mengingat dosa-dosa dan kesalahan di masa lampau dan memohonkan ampun kepada Allah atas semua itu.

Aku selalu terlarut dalam keharuan setiap kali melihat tayangan itu di televisi. Dan keharuanku semakin menjadi ketika membaca salah satu bab dalam buku terbarunya Pakde Cholik, Dahsyatnya Ibadah Haji, Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah. Bab tersebut berjudul “Menangis di Arafah“.

1412308319076

Buku terbaru Pakde Cholik ini merupakan catatan perjalanan ibadah haji beliau beberapa tahun silam. Gaya bercerita beliau di buku ini, tidak jauh beda dengan gaya beliau menulis di blog; ringan, renyah namun bernas. Tips-tips dalam melaksanakan haji, terpaparkan dengan apik. Guyonan khas beliau, akan mampu membuat pembaca terpingkal-pingkal. Dan, akupun ikut larut dalam alur cerita beliau itu.

Namun, ketika sampai pada bagian tengah buku dengan judul bab “Menangis di Arafah” tersebut, seketika kesan guyon itupun hilang, berganti dengan permenungan yang sangat mendalam. Aku benar-benar larut dalam penghayatan yang tengah diceritakan Pakde dalam bab itu. Tak terasa, airmataku menetes dengan kencangnya, seolah aku sendiri yang tengah mengalami kejadian itu. Ah.. Pakde benar-benar telah meruntuhkan egoku sebagai lelaki yang pantang meneteskan air mata.

Penjelasan dari para ulama tentang hakikat wukuf di Arafah dan ditambah dengan cerita Pakde Cholik di buku terbaru beliau ini, semakin memperdalam pemahamanku tentang salah satu rukun haji tersebut. Rasanya ingin segera bisa merasakan seperti yang pernah dirasakan oleh Pakde. Semoga Allah mempermudah semuanya..

Sahabat.. Tanpa bermaksud berlebih-lebihan dalam memuji, aku sangat merekomendasikan kita semua membaca buku ini. Pembelajaran di dalamnya sungguh banyak manfaat dan inspirasinya. Bagi yang pernah melaksanakan ibadah haji, buku ini akan bisa menjadi semacam memorabilila dan bagi yang belum, yakinlah buku ini akan membuat kerinduan untuk mengunjungi baitullah akan semakin membuncah. Aku tengah mengalaminya..

Terima kasih, Pakde untuk inspirasinya..

dua status @pepatah

Aku memiliki akun di Facebook sudah cukup lama, yakni sejak tahun 2007. Sepanjang kurun waktu lebih kurang 7 tahun tersebut, tentu sudah banyak sekali yang kualami bersamanya. Dari yang awalnya hanya sekedar nyetatus gak jelas, kemudian berlanjut menjadi media buat jualan, sampai akhirnya sekarang lebih banyak untuk membagi foto dan link blog.

Ketika Pakde Cholik membuat tantangan menuliskan sebuah artikel yang berdasarkan dua status kita di Facebook, aku agak sedikit kebingungan memilih yang mana. Bukan karena kebanyakan status yang kubuat, tapi justru karena aku sudah lama sekali tidak membuatnya. Meski timeline-ku cukup aktif, namun isinya didominasi oleh foto dan link blog. Terakhir kali aku menulis status pada tanggal 14 Januari 2014, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Untuk menjawab tantangan Pakde tersebut, aku pun membongkar lagi status-status yang pernah kubuat, dan menemukan dua status yang kutulis pada bulan November 2012. Cukup lama bukan? 🙂

Dua status tersebut kutulis dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dan keduanya kuambil dari quote yang dikirim oleh akun Twitter @pepatah. Aku mengikuti akun ini karena suka dengan kutipan-kutipan yang dikirimkannya. Kebetulan di bulan November 2012 yang lalu itu, ada sesuatu yang kualami bersama kawan-kawan di sebuah komunitas. Untuk melampiaskan apa yang kurasakan ketika itu, maka kutulislah status di Facebook dengan mengambil kutipan dari @pepatah.

Pada tanggal 28 November 2012, aku menulis: “Jangan pikirkan mereka yang membencimu, karena sebenarnya mereka tak peduli denganmu, mereka hanya peduli dengan diri mereka sendiri. @pepatah

Secara detail aku tidak hendak menceritakan apa yang terjadi. Tapi, secara umum yang bisa kugambarkan adalah, bahwa ketika itu, aku sering dipersalahkan atas apa yang kuperbuat dalam komunitas tersebut. Padahal, apa yang kubuat itu adalah hasil keputusan bersama.

Awalnya aku tidak habis pikir. Sesuatu yang kulakukan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula, tetap dianggap tidak benar oleh beberapa kawan. Ketika coba kutelusuri lagi, ternyata pangkalnya ada pada rasa tidak suka atau kebencian seseorang kepadaku dan itu kemudian merembet kepada kawan yang lain. Aku tidak tahu mengapa dia seperti itu. Cukup lama aku memikirkannya dan dibuat tidak nyaman oleh karenanya.

Di saat hati gundah gulana seperti itu, tanpa sengaja kutemukan quote tersebut yang sudah kusimpan dalam folder note Blackberry-ku. Rasanya pas sekali dengan apa yang tengah kurasakan. Maka, untuk menghibur diri sendiri, kutulislah quote ini di dinding laman Facebook-ku. Ada rasa sedikit nyaman ketika itu sudah kutuliskan. Sepetinya aku baru saja selesai curhat dengan seseorang.

Apa yang kutuliskan tersebut mendapat respon dari beberapa sahabat. Di antara yang paling berkesan adalah komentar yang disampaikan oleh Akbar Zainudin, “Pikirkan saja mereka yang menyayangimu…

Meski singkat, tapi komentar dari sahabatku ini sangatlah mengena di hati. Aku seolah tersadar dari kekeliruan. Sepertinya aku sudah menghabiskan banyak energi untuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukaiku, sementara aku luput dari orang-orang yang menyayangiku yang ternyata jauh lebih memberi energi positif.

Setelah menuliskan status tersebut dan mendapat masukan dari sahabat, aku pun merasakan kelegaan yang luar biasa dan bisa berpikir dengan lebih jernih lagi hingga Tuhan kemudian menunjukkan sebuah peristiwa yang membuatku paham dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Peristiwa itu menjelaskan dengan detail mengapa kawan itu membenciku. Aku bisa saja mengkonfrontasikan hal tersebut kepadanya. Namun kupikir itu tidak perlu. Di samping akan semakin menghabiskan energi, pun pula tak akan menyelesaikan masalah.

Maka, untuk menunjukkan sikap, aku pun menuliskan status yang kedua, sehari setelah status yang pertama di atas. Pada 29 November 2012, aku pun menulis: “Terkadang kita memilih tuk diam, bukan karena tak tahu apa-apa, namun karena diam lebih baik daripada memperkeruh suasana… @pepatah

Status ini sebetulnya kutuliskan semata untuk mempertegas sikapku bahwa aku tidak hendak terlibat dalam perdebatan tak berkesudahan. Meladeni pembicaraan yang menurunkan semangat, pikirku tak patut untuk diteruskan. Diam adalah pilihan terbaik. Dan aku pun memutuskan untuk pelan-pelan menarik diri dari komunitas tersebut.

Namun, sebuah komentar dari Zaldy Chan membuatku tertegun. Dia menuliskan, “bicara memilih diam tetap bukan diam, kan? Or penegasan sikap diam, tdk diam jg, kan?“.

Ah… benar juga kawan satu itu. Kalau memang aku memilih untuk diam, mengapa harus mengungkapkannya dalam sebuah tulisan yang bisa dibaca banyak orang? Artinya, aku juga tidak sedang diam bukan? Bolak-balik kupikirkan kata-kata kawanku itu, sehingga akhirnya kubalas komentarnya dengan mengatakan, “ini semata soal pilihan.. yakni sebuah sikap “mengalah” untuk sebuah kearifan“.

Begitulah… Ternyata sebuah tulisan, dapat memberi dampak besar bagi diri sendiri ataupun orang lain, meski itu hanya sekedar sebuah status di dinding Facebook kita. Apa yang kualami di atas sedikit banyaknya memberikan pembelajaran dan pencerahan untukku. Komentar dari sahabat, bisa memperkuat argumenku dan tidak jarang pula yang kemudian mengkritiknya. Namun, apapun itu, tetap tujuannya satu. Yakni, memperkaya pengalaman batin untuk mencapai kebijaksanaan.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp.

mendokumentasikan keluarga

Sudah beberapa kali aku merencakan pulang kampung ke Magek untuk sekedar melepas rindu dengan keduaorangtua. Tapi, setiap kali rencana itu akan diwujudkan, selalu saja ada halangannya. Sampai akhirnya pada awal November 2013 yang lalu, aku pun punya kesempatan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Aku benar-benar menikmati kehidupan di kampung tersebut selama tiga hari berada di sana, terutama berbincang tentang banyak hal dengan keduaorangtuaku. Momen tersebut terasa mahal sekali bagiku.

Pada hari kedua, aku berkunjung ke rumah keluarga besar Papa. Sebagai orang Minang yang matrillineal, maka rumah utama kami adalah rumah keluarga besar ibu, sementara rumah keluarga besar ayah, yang disebut sebagai rumah bako, menjadi rumah kedua. Setiap kali pulang kampung, aku akan pulang ke rumah keluarga besar Mama, baru kemudian pada hari berikutnya berkunjung ke rumah bako.

Meski demikian, sedari kecil aku justru lebih sering berada di rumah bako. Sebab, Papaku bersaudara banyak, yakni 8 orang. Sehingga, aku punya sepupu yang cukup banyak juga. Aku lebih betah bermain di rumah bako ketimbang rumah Mama. Meski Mama memiliki 4 orang saudara, namun mereka semua berada jauh di perantauan, sehingga terasa sepi sekali kalau berada di sana.

Saking seringnya aku berada di rumah bako semasa kecil dulu, aku pun jadi sangat akrab dengan para sepupu. Keakraban kami terus berlanjut hingga saat ini. Makanya, bila pulang kampung, kalau tidak mampir ke rumah tersebut, rasanya ada yang kurang.

Kebetulan, di rumah tersebut lagi ada pembangunan. Yakni, rumah lama (kami menyebutnya rumah usang) yang sudah tidak layak huni lagi, dirubuhkan dan diganti dengan rumah baru yang lebih kokoh. Kakak sepupuku yang mempelopori pembangunan tersebut berkeinginan agar bila anak-cucu pulang kampung, mendapatkan tempat yang nyaman dan aman tentunya.

 Rumah usang yang sudah nyaris roboh

 Rumah baru, pengganti rumah usang

Sambil menyaksikan tukang bekerja, aku berbincang-bincang dengan Maktuo, kakak perempuan tertua Papaku. Entah kenapa, obrolan kami sampai kepada “mengabsen” satu persatu anggota keluarga besar kami. Pada tahapan saudara-saudara Papa beserta keluarganya, aku masih ingat dan hafal nama-nama mereka. Tapi, sampai pada tahapan generasi di bawahku, dengan kata lain para keponakan, aku banyak yang tidak tahu namanya. Paling hanya tahu, si anu sudah punya anak segitu..

Hal ini kemudian menjadi pemikiran bagiku sendiri. Informasi tentang keluarga ini mestinya aku harus punya. Meski akan sangat jarang bertemu, tapi setidaknya aku punya informasi yang jelas tentang anggota keluarga tersebut. Semakin hari tentu jumlahnya semakin bertambah. Dan sudah bisa dipastikan bahwa generasi di bawahku akan tidak saling mengenal.

Di saat itulah aku jadi teringat dengan tulisannya Pakde Cholik tentang keberhasilan beliau menyusun buku trah keluarga besarnya. Dulu aku pernah berkeinginan untuk melakukan hal yang sama dengan Pakde. Namun, keinginan itu tinggal keinginan, karena berbagai alasan, tidak kunjung terealisasi.

Maka, dari pengalaman pulang kampung kemarin itu, aku jadi punya tekad untuk meneruskan rencana yang dulu pernah kucanangkan, yakni menyusun buku silsilah keluarga, baik dari jalur Mama maupun jalur Papa, syukur-syukur bisa dilanjutkan pada keluarga besar istriku. Tujuannya adalah agar informasi tentang keluarga tersebut dapat terdokumentasi dengan baik, sehingga generasi sesudahku, terutama anak-anakku bisa mengenal sanak familinya.

Untuk itu, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, aku mencanangkan rencana monumentalku untuk tahun 2014, yakni mendokumentasikan keluarga dalam sebuah buku trah. Karena proyek ini akan besar sekali, maka pada tahun 2014 ini aku targetkan menyelesaikan buku dari jalur Papaku saja dulu. Bila dari jalur Mama bisa terealisir juga, berarti itu bonus..

Doakan ya kawan-kawan, semoga bisa terwujud. Bila bisa terwujud, aku bisa mengajak sepupu-sepupuku untuk pulang kampung guna peluncuran buku tersebut sambil menikmaati indahnya alam Magek, dari rumah keluarga besar kami, tempat dulu kami pernah besar bersama-sama.. 🙂

 Semoga di rumah ini, pada akhir tahun kelak, buku silsilah keluarga kami bisa diluncurkan

 Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014

peci putih

Kupatut-patut wajahku di cermin yang sudah reot. Bayangan yang memantul, jauh lebih sepuh dari cermin tua tersebut. Namun, gurat-gurat kegagahan masa muda masih jelas membekas.

“Bagaimana kalau kusemir saja rambutku, aku pasti terlihat semakin seksi di usia tua”, bisikku.

Tiba-tiba..

“Ini pecinya, Pak.. Pengajiannya sudah dimulai..”

Segera kukenakan peci putih tersebut.

“Gagah sekali, Pak.. Makin cinta deh”

“Kayak anak muda saja, Ibu ini”

sks, jangan ditiru..!

Meski tidak suka, tapi aku sering sekali melakukan SKS, yaitu sistem kebut semalam alias mengerjakan sesuatu pada detik-detik terakhir batas waktu yang ditentukan. Apa yang dikerjakan secara terburu-buru tersebut biasanya memang jadi, tapi hasilnya tidak maksimal. Selalu saja ada kekurangan di sana-sini. Penyebabnya, tentu kurangnya waktu untuk mengevaluasi hasil pekerjaan tersebut.

Sebagai contoh paling anyar adalah ketika aku berpartisipasi dalam giveaway yang diadakan oleh Uni Evi beberapa waktu lalu. Tulisan berjudul “Dengarkan Curhatku“, adalah hasil dari SKS ini. Aku mengerjakannya sangat kilat, karena baru mengetahui event tersebut di hari terakhir penyelenggaraan melalui postingan di blog Bundo Adel berjudul “Batang Anau di Belakang Rumah“. Terengah-engah aku menyelesaikan tulisan tersebut dan setelah submit, ada rasa tidak puas dengan hasilnya.

Nah, satu lagi hasil kerja SKS ini yang baru saja aku lakukan adalah mengirim tulisan untuk diikutkan dalam proyek buku warung blogger yang digagas Pakde Cholik. Meski informasi tentang proyek buku ini sudah dikumandangkan sejak  bulan Februari 2013 yang lalu, namun aku baru mengirimkannya kemarin, tanggal 27 Mei 2013, padahal batas akhirnya adalah 31 Mei 2013. Benar-benar sebuah perilaku yang tak patut untuk ditiru.

Oya.. Apakah teman-teman sudah ikutan dalam proyek buku tersebut? Atau malah belum mengetahuinya? Info selengkapnya bisa dibaca di: http://proyekbukuwb.wordpress.com. Kalau mau ikutan, masih ada waktu lho.. 🙂

Sesungguhnya, aku sudah sangat berusaha agar perilaku SKS ini tidak kulestarikan, namun entah kenapa, selalu saja ada cela untuk melanggarnya.

Apakah sahabat juga punya kebiasaan SKS? Yuk kita mulai kurangi dari sekarang.. Pekerjaan yang direncanakan dengan baik dan kemudian dieksekusi dengan tenang, pastilah hasilnya akan paripurna, bukan? “)

*postingan ini sengaja dibuat sebagai pelecut bagi diriku sendiri*

cara mencegah dan menanggulangi tawuran; behind the scene

Perhelatan Kontes Indonesia Bersatu bertajuk Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran yang diadakan Pakde Cholik di blog www.tamanblogger.com sudah berakhir. Pemenangnya pun sudah diumumkan. Namun, sensasi yang ditinggalkannya masih membekas kuat dalam benakku.

Ada beberapa kejutan yang kualami selama proses penjurian, antara lain jumlah peserta yang di luar dugaanku. Ketika ditawari Pakde untuk menjadi juri, aku langsung bersedia saja. Kupikir, jumlahnya paling mencapai angka 60 – 70 artikel. Dan ini tentu berguna bagiku untuk bisa berkunjung ke blog sahabat. Namun, begitu Pakde mengirimkan email yang berisikan nama-nama peserta berikut url-nya masing-masing, aku terbelalak. 108 artikel..? Hahaha.. bukan jumlah yang sedikit itu.. 😀

Tapi, karena aku sudah bersedia, maka tentu harus kuterima dengan lapang dada. Apa pun keadaannya, penjurian harus tetap dilaksanakan. Untungnya, aku sudah mulai mencicil memberi penilaian sedari awal kontes dibuka. Sehingga, ketika kontes ditutup, aku sudah lebih dari separuh jalan.

Dari pengalaman menjadi juri dalam perhelatan Pakde tersebut, ada beberapa pengalaman berharga yang kualami. Di antaranya:

1. Sulitnya bersikap obyektif

Dari 108 peserta yang ikut, hampir setengahnya adalah orang-orang yang sering berinteraksi denganku di blog. Bahkan, tidak sedikit di antaranya yang sudah akrab denganku di dunia nyata. Sulit sekali rasanya untuk bersikap obyektif terhadap mereka. Subyektifitasku seringkali mendominasi. Ternyata, menilai tulisan seseorang yang kita kenal dengan belum kita kenal, memiliki kesulitan tersendiri.

Sahabat blogger yang sudah kukenal dengan baik itu, dengan mudah bisa kupahami maksud dari tulisannya. Oleh karenanya, aku berikhtiar untuk tidak memberikan penilaian dari sisi bahasa maupun cara penulisan. Sebab, di samping itu merupakan ciri khas masing-masing blogger, aku juga menyukai mereka lantaran cara penulisan di blog masing-masing. Untuk itu, poin yang kunilai hanyalah tentang ide mereka mengenai cara mencegah dan menanggulangi tawuran. Asal menurutku menarik, unik dan aku suka, maka aku akan berikan poin tinggi. Subyektif sekali bukan?

2. Pentingnya menghargai setiap kata yang dituliskan

Jujur saja, selama ini aku lebih sering menerapkan fast reading dalam membaca sebuah tulisan di blog sahabat. Aku tidak membaca satu persatu setiap kata yang dibubuhkan dalam tulisan tersebut. Aku hanya mencoba untuk menangkap inti dari tulisan itu. Cuma pada tulisan yang menurutku menarik saja yang kubaca sampai tuntas secara mendetail.

Namun, ketika membaca ke 108 artikel itu, aku baru menyadari bahwa ternyata kata-kata yang dipilih sahabat blogger di blognya masing-masing itu patut dihargai. Bukan hal yang mudah untuk memutuskan kata apa yang dipilih untuk dimasukkan dalam tulisan di blog. Dengan fast reading, tidak setiap kata bisa kita serap dan bisa dipahami maksud dan tujuan dari tulisan tersebut dengan baik. Dan, masing-masing dari 108 artikel tersebut kubaca secara mendetail satu persatu, minimal dua kali, bahkan ada yang sampai empat kali.

Dari pengalaman ini akhirnya aku berketetapan hati untuk tidak terlalu cepat membaca sebuah artikel di blog, agar setiap pilihan kata yang diambil oleh sahabat blogger dapat kuhargai. Dan yang terpenting, komentarku untuk tulisan tersebut “nyambung”, dan menunjukkan penghargaanku terhadap karyanya.

3. Bermaknanya tulisan yang dari hati

Aku sering mendengar istilah “tulisan bernyawa” dari beberapa sahabat blogger terhadap sebuah tulisan. Ungkapan tersebut ditujukan bagi tulisan yang baik dan dibuat secara sungguh-sungguh oleh penulisnya, tidak asal-asalan. Dari ke 108 artikel yang kunilai tersebut, ada banyak tulisan yang terasa sekali kesungguhan penulisnya dalam menuliskannya, namun tidak sedikit juga yang asal-asalan. Tulisan yang dengan kesungguhan tersebut, langsung mengena di hati.

Pengalaman tersebut mengajarkan kepadaku bahwa tulisan yang berasal dari hati akan mengena di hati dan tentu saja memberi dampak positif bagi pembacanya.

Begitulah pelajaran berharga yang kuperoleh dari pengalaman penjurian tersebut. Aku sangat bersyukur mendapat kesempatan itu. Sungguh, ini adalah pengalaman yang luar biasa. Terima kasih tentunya buat Pakde Cholik yang telah mempercayakan hal itu kepadaku. Semoga Pakde tidak kecewa atas hasil kerjaku.

Terakhir, aku berharap agar hasil penjurian tersebut dapat diterima dengan baik oleh semua khalayak, dan semoga tidak menjadi penyebab tawuran di kalangan blogger… 😀

bertemu komandan

Akhirnya, keinginanku untuk bertemu langsung dengan Pakde Cholik, sang Komandan Blogcamp terwujud juga. Kemarin, 19 Oktober 2012, bertempat di resto Pondok Cabe, Jl. Taman Siswa Yogyakarta, dengan ditemani istriku, Ajib dan Fatih, pertemuan hangat dan penuh kekeluargaan itu terjadi. Pakde Cholik, sosok blogger yang kukagumi dan hormati itu pun bisa kutemui secara nyata..

Beberapa hari sebelumnya, Pakde menghubungiku dan menanyakan kapan aku ada di Jogja. Beliau memang berencana untuk ke Jogja, bersilaturrahim dengan sahabat-sahabat blogger di situ dan  terkhusus ingin berbincang denganku soal penjurian Kontes Indonesia Bersatu bertajuk Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran yang tengah beliau gelar di blog tamanblogger.com. Dan, kami pun sepakat untuk bertemu di hari kemarin tersebut.

Sesungguhnya aku merasa tidak enak hati dengan beliau. Masa untuk sekedar membicangkan penjurian kontes tersebut harus jauh-jauh dari Surabaya ke Jogja? Tapi, siapa sih yang berani menolak dikunjungi Komandan? Bisa kualat nanti, hehehe… 🙂

Pakde menanyakan, kapan kita bisa bertemu. Kubilang, habis maghrib saja, sekitar jam 18.00 wib. Maka, selepas shalat magrib aku pun berangkat bersama istri dan Ajib-Fatih. Baru separuh jalan, tiba-tiba Pakde mengirimkan pesan singkat ke ponselku. Ternyata beliau sudah sampai di lokasi. Kulirik arloji, tepat pukul 18.00 wib! Alamak.. Alangkah tepat waktunya beliau.

Kupacu sepeda motorku sedikit lebih ngebut dari biasanya. Kukatakan pada istriku bahwa aku tidak enak hati, karena Pakde sudah menunggu dan waktunya pas seperti yang dijanjikan. Istriku maklum dan malah bergumam, “Disiplin banget Pakde itu ya..”. Aku membenarkan dalam hati.

Sampai di lokasi, langsung kutemui Pakde. Di sana juga sudah hadir Mas Akhmad Muhaimin Azzet, seorang penulis dan editor handal asli Jombang dan sekarang tinggal di Jogja. Pakde menyambutku dengan hangat. Kami bersalaman dan berpelukan, layaknya bapak dan anak. Sedikitpun beliau tidak mempersoalkan keterlambatanku. Malah menanyakan mengapa hanya dua anak saja yang kubawa. Akupun menyampaikan kalau Afif lagi UTS, jadi harus belajar, sedangkan Satira lagi di pondok.

Duo penguasa “tawuran” 😀

Tak lama kemudian, Mbak Cahya, seorang psikolog kelahiran Denpasar yang tengah menyelesaikan Magister Psikologi-nya di Jogja, datang bergabung. Disusul kemudian oleh Mas Furqan a.k.a MF. Abdullah, seorang mahasiswa asal Pontianak yang memiliki beberapa lapak online.

Beberapa menit kemudian, datang juga Mas Taufiq, seorang mahasiwa asli Jogja yang sekampus dan satu kos dengan Mas Furqan. Yang membuat aku cukup surprise adalah bahwa ternyata aku dan Taufiq berasal dari satu pesantren yang sama. Haha.. sebuah kebetulan yang manis.. 🙂

Satu orang lagi yang ditunggu-tunggu Pakde adalah Idah Ceris, seorang blogger berasal dari Wonosobo dan kebetulan sedang berada di Jogja dalam rangka konsultasi skripsinya, dikarenakan pembimbingnya tinggal di Jogja. Idah menjadi bulan-bulanan becandaan kami, karena dia melafalkan singkatan universitas tempat kuliahnya dengan unik.

Idah kuliah di Universitas Sains Al-Quran di Wonosobo, disingkat UNSIQ. Dalam melafalkan huruf “Q”, dia menekannya sedemikian rupa, sehingga terdengar seperti huruf “qaf” (bahasa Arab) yang dibaca qalqalah. Kira-kira terdengarnya adalah seperti “unsiqeq”. Agak susah memang menggambarkannya dalam tulisan, tapi setiap kali Idah mengucapkannya, kami tertawa lepas. Dan, Pakde pun berkata:

“Yo wis, Dah.. Unbow ae apek”

“Unbow apaan, Pakde”

“Universitas Wonosobo”

“Emoh.. Unsiq tetep..”

“Hahaha….” 😀

Obrolan hangat penuh kekeluargaan

Begitulah, obrolan kami mengalir dengan asyiknya, berpindah dari satu topik ke topik yang lain, seolah kami adalah orang-orang yang sudah sangat sering bertemu dan sudah kenal dengan baik. Blogging membuat kekakuan di antara kami mencair dengan begitu cepatnya..

Setelah lebih dari dua jam, segala kehebohan yang kami timbulkan di restoran tersebut, baik gara-gara obrolan maupun aksi narsis, akhirnya kami sudahi.

Aku sungguh beruntung akhirnya bisa bertemu Pakde Cholik. Kekaguman dan rasa hormatku kepada beliau semakin bertambah setelah pertemuan tersebut. Apa yang kupahami dari karakter beliau melalui blog ternyata sama persis seperti yang kulihat dalam kehidupan nyata. Tepat waktu, humble dan tanpa basa-basi adalah tiga hal penting yang kupelajari dari Pakde dari pertemuan tersebut.

Sahabat semua mau tahu apa oleh-oleh yang kami peroleh dari Pakde..? Ini dia… 😉

Sebuah buku berjudul “Yuk, Menulis Yukkk…” dan cokelat..! Hahaha.. Pakde memang kocak. Masing-masing kami yang hadir diberi sebungkus cokelat. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas, sebungkus cokelat itu menjadi perlambang manisnya persahabatan kita yang terjalin melalui blog. Maturnuwun sanget Pakde.. 🙂

Pakde, Mas Azzet, Mbak Cahya, Mas Furqan, Mas Taufiq dan Idah.. Terima kasih atas pertemuan kemarin itu ya.. Semoga suatu saat kita bisa berjumpa kembali.

Idah, Cahya, Icha, Vizon, Pakde Cholik, Furqon, Azzet dan Taufiq… Ajib-Fatih..? Ketiduran, haha… 😀

Sebelum kututup tulisan ini, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan Pakde kepada kami dan sepertinya menarik juga untuk sahabat semua di sini menjawabnya.

Begini..

Ada mitos yang disampaikan secara turun temurun dari para tetua kita tentang adab kesopanan. Sebagai contoh, anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu, akan bisa berakibat susah jodoh. Jika dipikirkan lebih jauh, mitos tersebut bisa dilogikakan. Pintu merupakan jalan masuk, jika duduk di depannya, tentu menghambat orang yang akan lewat. Jodoh di sini merupakan perlambang dari tamu atau orang yang akan masuk rumah.

Nah.. ada satu mitos lagi yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menyisakan makanan yang sedang kita makan. Mitosnya adalah jika makanan kita tidak habis, nanti ayam kita mati. Pertanyaannya, bagaimana melogikakan mitos ini? Sahabat punya ide..? 🙂

tidak cukup 300 kata

Seringkali, rasa cinta, sayang atau hormat membuat kita menutup mata atas segala keburukan yang ada pada diri seseorang. Sebaliknya, kebencian kita pada seseorang, pun seringkali mereduksi segala kebaikan yang telah dia buat. Untuk menjadi objektif memang sebuah perkara yang tidak mudah.

Begitu juga yang kualami ketika harus menulis tentang seseorang yang kuhormati, seperti Om Nh.

Pakde Cholik memintaku secara khusus untuk menuliskan sesuatu tentang Om Nh sebagai kado ulangtahun beliau yang jatuh pada hari ini, 18 September 2012. Pakde ingin menghadiahkan sebuah website untuk Om Nh. Karena Om Nh suka dengan angka 3, maka Pakde mengajakku bersama Nechan Imelda untuk membuat sebuah tulisan tentang pandangan kami terhadap Om Nh dan akan dipublis di blog baru tersebut secara bersamaan.

Dalam email-nya, Pakde meminta agar tulisan tersebut tidak lebih dari 300 kata.

Apa yang terjadi kemudian..?

Ternyata,  300 kata sepertinya tidak cukup untuk mewakili kekagumanku yang tumbuh menjadi rasa hormat terhadap Om Nh. Terlalu banyak dan mendalam rupanya kesan yang kudapat dari beliau. Sehingga, setelah diedit sana-sini, aku hanya bisa memotong sampai 400 kata lebih sedikit.

Dalam email, kukatakan pada Pakde: “Maaf ya Pakde, tulisannya lebih dari 300 kata. Terlalu banyak hal baik tentang Om Nh yang ingin saya ungkapkan, dan itu tidak bisa kurang dari 300 kata. Jadi, mohon dimaklumi ya Pakde, hehe..

Tahukah sahabat apa jawaban Pakde?

Tulisan saya dan jeng Imelda malah lebih dari 500 kata mas ha ha ha ha

Huahaha…  Ternyata Pakde melanggar sendiri aturannya. Dan itu eiylekhan sangat… 😀

Maka, jadilah tiga tulisan, yakni dari Pakde Cholik, Nechan Imelda dan aku sendiri yang terbit sekaligus dalam blog baru tersebut, di hari ulangtahun pemiliknya, hari ini..

Buat Om Nh.. Selamat ulangtahun ya.. Semoga semakin eiylekhan dan terus menginspirasi banyak khalayak. Doa kami, agar Om dan keluarga senantiasa dianugerahi kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT. Terima kasih atas persaudaraan indahnya selama ini..

Dan.. terimalah “kado” dari kami semua ya..
Kata Pakde, semoga dengan blog baru tersebut, Om semakin rajin menulis dan suatu saat bisa mewujudkannya dalam bentuk buku cetak. Kalau tidak, kami bakal keroyok rame-rame, hehehe… 🙂

We all love You, Om..

Nah, sahabat semua mau tahu tulisan “kado” kami untuk Om Nh? Sila kunjungi:

www.theordinarytrainer.com

Selamat Ulangtahun, Om… 🙂

mendadak jadi model

Senin pagi, 13 Agustus 2012, aku dalam perjalanan menuju Bandung ketika sebuah pesan  masuk ke inbox Facebook-ku. Ternyata dari sang Komandan Blogcamp, Pakde Cholik. Isinya, beliau meminta izin untuk menjadikanku model dadakan di blog barunya Kak Monda, www.mondasiregar.com. Ahai… Kupikir ini pasti lucu dan seru. Tanpa berpikir ulang, aku langsung mengiyakan permohonan izin Pakde tersebut.

Aku penasaran, foto mana yang bakal diambil Pakde. Sebab sebelumnya, beliau memuat fotoku berblangkon dalam blog beliau berjudul 3 Tahun Blogcamp: Bersahabat Tanpa Sekat. Aku saja sudah nyaris lupa dengan foto tersebut, eh malah beliau menemukannya. Kali ini, foto yang manakah yang akan beliau jadikan “korban”. Sungguh mati aku jadi penasaraaaaann (nyanyi dangdut ala Rhoma Irama) 😀

Karena masih dalam perjalanan, aku hanya bisa mengases internet melalui Blackberry. Dengan penampakan yang minimal, tak kurang membuatku ngakak abis-abisan demi melihat foto yang dijadikan sebagai “model” tersebut. Sebagian sahabat tentu sudah tahu foto yang mana bukan? Bagi yang belum tahu, sila simak di blog barunya Kak Monda dalam tulisan bertajuk Kuis Tebak Nama.

Foto tersebut seketika mengingatkanku dengan peristiwa konyol beberapa tahun lalu bersama kawan-kawanku. Kami melakukan sessi foto tengah malam di beberapa titik penting di Jogja. Salah satunya, pernah kumuat dalam postingan berjudul Pilihan. Cekidot..! 🙂

Dalam kuis tersebut, Kak Monda meminta sahabat blogger untuk menebak nama lengkap sang model. Dan hari ini, pemenang dari kuis tebak nama tersebut sudah diumumkan melalui postingan beliau berjudul Hardi Vizon: Mistery Guest Perdana Kisahku.

Dari beberapa komentar yang masuk di situ, ada yang perlu kujelaskan di sini. Sejatinya, namaku memang terdiri dari dua suku kata, yakni Hardi dan Vizon. Jika ada sahabat yang pernah membaca namaku tertulis dalam satu suku kata, yakni Hardivizon, maka itu sesungguhnya adalah sebuah kesalahan yang harus dibenarkan. 

Itu semua gara-gara petugas pembuat KTP di tempatku. Ketika KTP jadi, tertulis di situ namaku dalam satu suku kata. Karena malas untuk mengurus kembali, maka kubiarkan saja. Walhasil, semua rekening bank yang aku buat, mengikuti nama yang ada di KTP. Dan begitulah berlanjut hingga sekarang. Semestinya jika aku mau sedikit sabar untuk menunggu perbaikan KTP dulu, tentu tidak perlu ada dua versi penulisan namaku bukan?

But anyway… Selamat buat Kak Monda atas blog barunya. Semoga semakin semangat dalam ngeblog dan menebar sebanyak-banyaknya  manfaat tentunya. Terima kasih sudah menjadikan aku sebagai Mistery Guest Perdana di blognya. Dan yang tak kalah pentingnya, terima kasih buat Kak Monda dan Pakde Cholik atas hadiah bukunya. Semakin lengkap deh novel biografi Nabi Muhammad-ku.. 🙂

Dan terima kasih juga tentunya buat sahabat semua yang sudah dengan baik mengenal nama lengkapku. Kalau salah-slaah sikit, tak apa laahh… ha ha ha ha haaaaaaak (niru ketawanya Pakde) 😀