Taqwa dan Kebaikan

#day1 #ramadan1438 #puasa2017

Tujuan berpuasa adalah menjadikan diri kita sebagai orang yang bertaqwa, yakni orang yang percaya kepada Allah dan mengindahkan segala aturanNya. Ketaqwaan akan semakin sempurna bila diikuti dengan kebaikan

Kebaikan itu sangat universal. Ia bisa dilakukan oleh siapa saja dan kepada siapa saja. Coba simak hadis berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah ra.: Rasûlullâh saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah mendapatkan ampunan. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dipinggir sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan, (melihat ini) si wanita pelacur itu melepas sepatunya lalu mengikatnya dengan penutup kepalanya lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya itu dia mendapatkan ampunan dari Allâh Azza wa Jalla. (HR. Bukhari)

 IMG_20170527_115750_660

Kebaikan yang dilakukan dengan segala keikhlasan, akan meningkatkan ketaqwaan. Dan Allah senantiasa bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik tersebut.

Semoga bermanfaat

Selamat berpuasa.

 

[HoTD] Membanggakan Diri

Hadis of The Day #14

masjid iain imam bonjol padang sumatera barat(Masjid Kampus IAIN Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat)

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَتْ الْعَضْبَاءُ لَا تُسْبَقُ فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَعُودٍ لَهُ فَسَابَقَهَا فَسَبَقَهَا الْأَعْرَابِيُّ فَكَأَنَّ ذَلِكَ شَقَّ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ

Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma’il] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Tsabit] dari [Anas] ia berkata, “Al Adhba (nama unta Rasulullah) tidak pernah terkalahkan saat lari. Lalu datanglah seorang Arab baduai dengan hewan tunggangannya. Unta nabi dapat mengalahkan unta Arab badui itu, namun kemudian unta Arab badui itu ganti mengalahkannya. Sehingga hal tersebut menjadikan hati para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa tidak nyaman, beliau lalu bersabda: “Sudah menjadi hak bagi Allah, bahwasanya tidaklah Ia meninggikan sesuatu di dunia ini kecuali Ia akan merendahkannya kembali.” Telah menceritakan kepada kami [An Nufaili] berkata, telah menceritakan kepada kami [Zuhair] berkata, telah menceritakan kepada kami [Humaid] dari [Anas] dengan kisah ini, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sungguh, telah menjadi hak bagi Allah, bahwasanya tidaklah Ia meninggikan sesuatu di dunia ini kecuali Ia akan merendahkannya kembali.” [HR. Abu Daud, 4169]

Hidup ini ibarat roda; kadang di atas, kadang di bawah. Ketika kita berada di atas, janganlah menyombongkan dan membanggakan diri secara berlebihan. Syukuri keadaan dan posisi kita. Sebab, akan sangat mudah bagi Allah untuk merendahkan atau menjatuhkan kita dalam waktu yang sangat singkat.

Semoga bermanfaat..
Selamat berpuasa.. 🙂

p.s. Hadis of The Day lainnya dapat diklik [di sini]

[HoTD] Menjaga Hubungan Baik

Hadis of The Day #13

masjid nurul iman padang sumatera barat(Masjid Nurul Iman, Padang, Sumatera Barat)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ رَجُلُ الْعَشِيرَةِ ثُمَّ قَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْقَوْلَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَنْتَ لَهُ الْقَوْلَ وَقَدْ قُلْتَ لَهُ مَا قُلْتَ قَالَ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ لِاتِّقَاءِ فُحْشِهِ

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Ibnul Munkadir] dari [urwah] dari [‘Aisyah] ia berkata, “Seorang laki-laki minta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu bersabda: “Ia adalah orang yang jelek dalam kaumnya, atau beliau mengatakan, “Ia adalah laki-laki jelek dalam kaumnya.” Setelah itu beliau mengatakan: “Biarkan ia masuk.” Dan ketika laki-laki tersebut telah masuk, beliau melembutkan tutur katakanya kepada laki-laki itu. ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melembutkan tutur kata kepadanya?, padahal engkau telah mengatakan tentang orang itu sebagaimana yang telah engkau katakan?” beliau menjawab: “Seburuk-buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang ditinggalkan oleh manusia karena ingin menghindari keburukkannya.” [HR. Abu Daud, 4159]

Kita sering menemukan seseorang yang kerap bermasalah dengan orang lain. Disebabkan dia tidak bisa menjaga hubungan baik dengan sekelilingnya. Sehingga, orang-orang memilih untuk menjauh darinya, karena tidak ingin terlibat masalah dengannya. Orang yang seperti ini, akan mendapatkan tempat yang buruk di hari kiamat kelak.

Oleh karrena itu, menjaga sikap baik dalam berhubungan dengan sesama, adalah sebuah keniscayaan. Jangan sampai, kita sudah dikucilkan di dunia, juga dikucilkan di akhirat kelak. Na’udzubillah..

Semoga bermanfaat..
Selamat berpuasa.. 🙂

p.s. Hadis of The Day lainnya dapat diklik [di sini]

[HoTD] Keutamaan Hari Jumat

Hadis of The Day #12

masjid al-jihad curup bengkulu(Masjid Al-Jihad, Curup, Rejang Lebong, Bengkulu)

وحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ يَعْنِي الْحِزَامِيَّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Dan Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa’id] Telah menceritakan kepada kami [Al Mughirah] yakni Al Hizami, dari [Abu Zinad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, karena pada hari itulah Adam diciptakan. Pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya. Dan hari kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jum’at.” [HR. Muslim, 1411]

Jum’at merupakan hari istimewa dalam Islam. Keistimewaan tersebut ditandai dengan diadakannya ibadah shalat Jum’at yang harus dilaksanakan berjamaah. Perbanyaklah zikir dan doa di hari Jum’at, agar kita bisa mendapatkan keberkahannya.

Semoga bermanfaat..
Selamat berpuasa.. 🙂

p.s. Hadis of The Day lainnya dapat diklik [di sini]

[HoTD] Puasa Adalah Perisai

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu..

Selamat menjalankan ibadah puasa 1437 H buat sahabatku umat Islam di seantero jagat. Semoga puasa kita kali ini dapat dijalankan dengan baik dan penuh kedamaian. Sehingga, tujuan ibadah puasa untuk menjadikan kita sebagai hamba Allah yang bertaqwa, dapat terwujud. Amiin..

Selama Ramadhan 1437 H ini, insya Allah setiap hari aku akan memposting satu kutipan dari hadis Nabi Muhammad saw. di bawah tajuk Hadis of The Day (HoTD). Semoga ini dapat memberi sedikit kontribusi bagi pengetahuan keislaman kita.

Hadis of The Day #1

hadis-puasa adalah perisai(Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنْ النَّارِ قَالَ لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ قَالَ ثُمَّ تَلَا { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ حَتَّى بَلَغَ يَعْمَلُونَ } ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abi Umar] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Mu’adz ash Shan’ani] dari [Ma’mar] dari [‘Ashim bin Abi an Najud] dari [Abu Wail] dari [Mu’adz bin Jabal] dia berkata; Saya pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, suatu pagi aku berada dekat dari beliau, dan kami sedang bepergian, maka saya berkata; ‘Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Beliau menjawab: “Kamu telah menanyakan kepadaku tentang perkara yang besar, padahal sungguh ia merupakan perkara ringan bagi orang yang telah Allah jadikan ringan baginya, yaitu: Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan pada pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai dan sedekah akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seorang laki-laki pada pertengahan malam.” Kemudian beliau membaca; “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (16) Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan pokok perkara agama, tiang dan puncaknya?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pokok dari perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad.’ Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku kabarkan dengan sesuatu yang menguatkan itu semua?” Aku menjawab; ‘Ya, wahai Nabi Allah.’ Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda: “‘Tahanlah (lidah) mu ini.” Aku bertanya; ‘Wahai Nabi Allah, (Apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan? ‘ Beliau menjawab; “(Celakalah kamu) ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz, Tidaklah manusia itu disunggkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” Abu Isa berkata; ‘Ini hadits hasan shahih.’ [HR. Timidzi : 2541]

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi dengan nomor hadis 2541, menjelaskan kepada kita bahwa puasa adalah salah satu dari tiga pintu kebaikan yang dapat kita raih. Puasa merupakan perisai atau tameng yang akan menjaga diri kita dari segala goda dan salah.

Semoga bermanfaat 🙂

 p.s. Hadis of The Day lainnya dapat diklik [di sini]

Sederhana Bukan Berarti Miskin

Sepanjang Ramadhan 1436 H ini, Om Nh melalui blog The Ordinary Trainer milik beliau, mempublis kutipan-kutipan ayat al-Quran setiap hari. Aku mengikutinya terus, meski tidak membubuhkan sepatah dua patah komentar di sana. Pada hari ini, 14 Juli 2015, beliau memposting QS. Al-a’raf ayat 31.

Aku tertarik untuk membahas ayat ini lebih jauh, karena ayat ini bisa menjadi semacam mengingat buat kita di penghujung Ramadhan ini. Sebab, demi merayakan kegembiraan di Idul Fitri, kita sering terlupa akan batas kita dalam hal berpakaian, makanan maupun minuman.

Selengkapnya ayat ini berbunyi:

al-araf 31

Dalam Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam (manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu di setiap memasuki dan berada di masjid, baik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal, enak, bermanfaat lagi bergizi, dan berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan, tidak juga mengganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikian juga dalam makan dan minum atau apa saja, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.

Perintah makan dan minum yang tidak berlebih-lebihan, yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang, boleh jadi telah dinilai melampaui batas atau belum cukup buat orang lain. Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas: “Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.”

Selain itu, dengan mengutip riwayat dari Ibn Zaid, al-Thabari menafsirkan kata لاتسرفوا   dengan “tidak boleh memakan sesuatu yang haram”. Ia menjelaskan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batasan-Nya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaliknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya. Demikian itu merupakan keadilan yang Dia perintahkan.

Terkait dengan konsumsi, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan adanya larangan sikap berlebih-lebihan dan memperlihatkan kesombongan, tidak hanya dalam hal makan dan minum, tetapi juga dalam hal berpakaian dan bersedekah. Larangan sikap berlebih-lebihan ini juga berdasarkan beberapa hadis yang dikutip oleh Ibn Katsir, yaitu:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah, tanpa disertai kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya memanfaatkan nikmat-nikmat-Nya”.
  2. Hadis yang juga diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri”.
  3. Hadis yang yang diriwayatkan oleh al-Miqdam ibn Ma’di Karib al-Kindi, bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perutnya, cukuplah anak Adam makan dengan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang tubuhnya. Kalaupun ia harus melakukannya (memenuhi perutnya), maka hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan”.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlaku “sederhana”. Keserderhaan yang dimaksud di sini adalah proporsional. Yakni sesuai dengan batas kewajaran, tidak terlalu mewah dan tidak pula terlalu berkekurangan. Yang terpenting adalah sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya. Misalnya: bila dengan baju seharga seratus ribu kita sudah terlihat rapi dan pantas, mengapa pula harus mengenakan pakaian dengan harga satu juta?.

Aku sangat ingat dengan pesan Kyai kami ketika di pesantren dulu. Kalimat yang sering dilontarkan kepada kami adalah, “Sederhana Bukan Berarti Miskin”. Artinya adalah berlaku sewajarnya, tidak melebihi batas kepatutan.

Selamat mempersiapkan Hari Kemenangan, sahabatku. Mari kita tetap menjaga puasa kita dengan tidak mengumbar emosi dalam berbelanja jelang Idul Fitri ini. Berlakulah sederhana, sebagaimana yang Allah sabdakan dalam QS. Al-A’raf ayat 31 tersebut.. 🙂

pesan ramadhan

#CeritaLebaran 1

Idul Fitri 1435 H sudah lewat beberapa hari. Namun, belum terlambat untuk mengucapkan selamat lebaran bukan? 😀

Selamat Idul Fitri 1435 H sahabat narablog sekalian. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang terjadi dalam pergaulan kita selama ini. Semoga Allah meridhai setiap amal ibadah kita dan memberkahi persahabatan indah yang terjalin antar kita semua dan semoga kita dapat terus menebar manfaat bagi semesta ini.. 🙂

lebaran 2014-02

Tentu ada banyak cerita yang kita alami selama lebaran kali ini. Aku pun demikian. Aku akan bagi cerita-cerita tersebut dalam beberapa postingan ke depan. Semoga teman-teman berkenan menyimaknya..

========================

Kali ini, aku mendapat amanah dari pengurus Masjid An-Najwa, tempat aku tinggal sekarang, untuk menjadi imam dan khatib dalam shalat Idul Fitri 1435 H yang dilaksanakan di lapangan pedukuhan Kweni, Kelurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Ini merupakan kali kedua aku diberi kepercayaan seperti ini. Pertama kalinya dulu pada tahun 1428 H, tujuh tahun yang lalu.

lebaran 2014-590x339

Dalam khutbah kali ini, ada beberapa hal yang kusampaikan, utamanya adalah tentang pesan-pesan yang ditinggalkan Ramadhan untuk kita semua agar dapat diteruskan di bulan-bulan selanjutnya. Tiga hal di antaranya:

1. Pesan Moral

Ramadhan melatih kita untuk taat pada aturan yang Allah tetapkan. Segala sesuatu yang biasanya dihalalkan, malah selama menjalankan puasa, diharamkan. Di antaranya, makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari. Dengan landasan keimanan yang kuat, semua aturan tersebut akan bisa kita lalui dengan baik dan menyenangkan.

Sejak manusia dilahirkan, ada tiga naluri yang dibawa serta. Yakni. naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiganya, naluri syahwat lah yang paling sulit dikendalikan. Ada banyak orang yang jatuh ke dasar jurang kenisataan paling dalam, hanya karena ia tak mampu mengendalikan syahwatnya.

Karena telah terlatih mengendalikan syahwat selama Ramadhan, maka akan mudah bagi kita mengendalikannya di luar Ramadhan nanti. Dengan kemampuan tersebut, moral kita tentulah akan terjaga dengan baik.

2. Pesan Sosial

Di penghujung Ramadhan, sebuah pemandangan indah terlihat nyata di hadapan kita semua. Betapa setiap muslim menunaikan kewajibannya mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan bagi delapan golongan yang telah ditetapkan, terutama untuk fakir-miskin.

Di sini tampak bagaimana tali silaturrahim serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi serta tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan, tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah telah melahirkan kesadaran untuk tolong menolong antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan.

Kepedulian semacam ini, mestilah dilestarikan di luar Ramadhan. Bila itu terjadi, sungguh akan terasa indah sekali hidup dan kehidupan ini.

3. Pesan Jihad

Jihad hendaklah jangan dipahami dengan maknanya yang sempit; berperang. Sesungguhnya, jihad memiliki makna yang luas, yakni mengeluarkan segala kemampuan untuk menegakkan kebenaran di muka bumi dengan tujuan mendapat keridhaan dari Allah SWT.

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa, untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri sendiri dari perilaku dan tindakan yang akan merugikan sekeliling kita.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera, serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan Ramadhan ini bangsa Indonesia telah melakukan sebuah perhelatan besar, yakni pesta demokrasi, memilih presiden untuk periode 2014-2019 mendatang. Pergolakan politik ini menghiasi ibadah puasa kita. Berbagai intrik dan strategi politik dipertontonkan kepada kita semua. Dan nyaris membuat kita larut dalam perdebatan tak berkesudahan tersebut.

Namun, alhamdulillah, proses tersebut sudah kita lalui. Presiden baru pun sudah terpilih. Semoga dengan pemilihan yang kita lakukan di tengah ibadah puasa tersebut, benar-benar diberkahi oleh Allah SWT, sehingga hasil yang telah kita dapatkan sekarang ini, tidak justru menjadi pemicu pada perpecahan hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karenanya, mari kita menjernihkan hati dan pikiran. Jangan sampai mudah terpancing oleh isu-isu politik yang akan berakibat terpecahbelahnya kita sebagai bangsa yang besar. Puasa telah mengajarkan kita untuk menahan diri dari emosi dan amarah. Maka, pelajaran itu hendaknyalah kita praktekan dalam keseharian kita, di luar Ramadhan. Inilah jihad kita untuk negara tercinta ini.

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.