Sabar dan Salat

Setiap kita, mestilah memiliki masalahnya masing-masing. Selagi nyawa dikandung badan, persoalan akan selalu menghampiri. Itulah dinamika kehidupan.

QS. Albaqarah ayat 45, mengajarkan kepada kita untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah dalam menghadapi permasalahan hidup. Caranya, dengan terus bersabar dan mendirikan salat. Namun, hanya orang-orang yang khusyu’ lah yang dapat merasakan nikmatnya kesabaran dan salat tersebut.

QS. Al Baqarah ayat 45

Siapakah orang-orang yang khusyu’ itu? QS. Albaqarah ayat 46 menjelaskannya:

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.

Sabar adalah upaya menahan diri dari luapan emosi dan salat adalah wujud penghambaan diri kepada Allah. Kesadaran penuh akan hal ini, membuat setiap persoalan akan terasa ringan, insya Allah.

Semoga bermanfaat

 

Jangan Pelihara Harimau di Hatimu

Doni datang menghampiriku dengan wajah yang sama sekali tidak sedap dipandang. Tampak sekali kekesalan di raut mukanya. Amarah yang membuncah di hati, tak dapat disembunyikan.

“Aku benar-benar kecewa, Bang”, ujarnya membuka percakapan.

“Memangnya ada apa?”

“Masa si bos lebih mempercayai si Adri ketimbang saya?

“Untuk menangani proyek baru itu?

“Iya… Saya kurang apa coba? Selama ini saya sudah lakukan banyak hal untuk bisa memperoleh proyek tersebut, dan bahkan beberapa hari yang lalu, si bos seperti memberi sinyal bahwa saya yang akan memimpinnya. Tapi nyatanya? Sekarang malah diberikan sama si anak ingusan itu..!”

“He he he… kalem Bro… kaleeem…”

“Nggak bisa, Bang.. Si Adri tidak pantas dapat proyek itu. Tau apa dia. Anak kemaren sore, belum punya pengalaman apa-apa. Lagian, yang membawa dia ke perusahaan ini kan saya. Saya tahu persis siapa dia..!”

“Eit… Stop…! Udah, Don, jangan diteruskan…!”

Segera kuhentikan sumpah serapah Doni. Aku bisa menebak, kemana arah pembicaraannya. Dia pasti akan menumpahkan segala kekesalan dengan mengatakan segala keburukan Adri; entah itu benar, entah itu dilebih-lebihkannya.

“Don… Tak perlulah kamu teruskan kata-katamu tadi. Tenang dan dinginkan pikiranmu. Kalau dalam kondisi amarah seperti ini, segala yang baik akan menjadi buruk, dan segala yang buruk akan semakin buruk. Nyamankan dulu hatimu”.

=====================

Barangkali sebagian kita pernah berada pada posisi Doni seperti cerita di atas. Rasa kecewa yang sangat besar karena yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebuah kejadian yang lumrah terjadi bukan?

Sesungguhnya, apapun yang kita terima di dunia ini, merupakan rahmat dari Allah swt; baik ataupun buruk. Bila yang kita terima itu baik, maka patut disyukuri. Namun bila itu buruk, saatnya untuk intropeksi, hingga kita dapat menangkap hikmah apa yang terkandung di dalamnya.

Oleh karenanya, kita perlu menjaga hati agar tetap lembut. Hati yang kasar, tidak akan dapat berdamai dengan sekitarnya. Hati yang kasar, akan menganggap dirinyalah yang paling baik, dan orang lain tidak pantas menerimanya.

Mari kita simak firman Allah dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 159:

harimau di hati-featured

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ القَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal. (Qs. Ali ‘Imran [3]: 159)

Di sini, Allah mengingatkan kepada kita untuk berlaku lemah lembut atas segala yang telah Ia berikan. Kekerasan sikap dan kekasaran hati, hanya akan membuat hidup kita tidak nyaman. Dan itu bisa berakibat, orang-orang akan menjauh dari kita.

Bagaimana cara mengatasinya? Dalam ayat di atas, sudah jelas. Yakni, maafkan mereka yang telah mengecewakan, mohonkan ampun atas dosa-dosa mereka, dan tetap bergaul dengan cara yang baik. Terakhir, serahkan semua urusan kepada Allah. Karena Dia Maha Tahu apa yang terbaik untuk hidup kita. Sebab, seringkali apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Tuhan. Percaya saja pada kuasaNya.

Semoga bermanfaat.
Selamat Hari Jum’at.
Semoga berkah selalu.. 🙂

Shalat Itu Berat?

Seorang sahabat yang akan melangsungkan pernikahannya, bertanya kepadaku tentang menjadikan seperangkat alat shalat sebagai mahar. Katanya, dari informasi yang ia dapat, sebaiknya tidak menjadikan benda-benda tersebut sebagai mahar, karena tanggung jawabnya berat.

Ini cukup menarik bagiku. Tanggung jawab seperti apa yang melekat di mahar berupa alat shalat tersebut sehingga ia menjadi begitu beratnya?

Menurut sahabatku itu, jika seorang perempuan meminta seperangkat alat shalat untuk maharnya, dan setelah pernikahan ia tidak menunaikan kewajiban shalat, maka konsekwensi yang ia terima akan double, yakni dosa karena meninggalkan shalat dan mengkhianati maharnya itu sendiri.

Ada dua hal menarik bagiku dalam obrolan ini.

Pertama tentang hakikat mahar. Sependek pengetahuanku, mahar itu adalah hak perempuan dan kewajiban laki-laki. Calon istri, berhak meminta dan menentukan jumlahnya. Tidak ada patokan tertentu dalam Islam tentang besaran mahar. Ukurannya adalah kemampuan calon suami.

Mahar bukanlah simbol, tapi sesuatu yang memiliki nilai ataupun harga. Oleh karenanya, ia boleh berupa benda atau jasa. Dalam bentuk jasa, bisa seperti menghafalkan beberapa surat al-Quran atau mengajarkannya dalam waktu tertentu. Dalam bentuk benda, hakikatnya adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Seperangkat alat shalat, masuk dalam kategori ini.

Tentang benda yang bisa dimanfaatkan, ini penting untuk diperhatikan. Belakangan, sering kita lihat, mahar itu berupa uang yang dimodifikasi. Biasanya, pasangan pengantin itu mengambil angka bersejarah mereka. Misal, tanggal pernikahannya 5 Agustus 2016, maka dibuatlah mahar berupa uang tunai sebesar Rp. 582.016. Lantas, lembar-lembar uang tadi dimodifikasi sedemikian rupa dan dibingkai dalam sebuah pigura.

Menurutku, mahar seperti ini adalah mubazir dan sebaiknya tidak dilakukan. Apa yang bisa dimanfaatkan dari uang yang telah dipigura itu selain sebagai pajangan? Mahar adalah harta bagi istri, bukan simbol bagi hubungan suami dan istri. Maka, berikanlah sesuatu yang memang memiliki nilai atau harga dalam mahar.

Kedua tentang shalat. Ini yang paling menarik menurutku dari obrolan dengan sahabat tadi. Katanya, mahar berupa seperangkat shalat itu tanggungjawabnya berat. Yakni, harus konsekwen dengan ibadah shalat yang disimbolkan melalui mahar tersebut.

Mengapa ini menarik? Karena ternyata, bagi kawanku itu, ibadah shalat adalah sesuatu yang berat. Dengan berseloroh kutanyakan padanya, “Seberapa berat sih shalat itu? Lima ton ya?” 😀

Sesungguhnya, shalat itu bukanlah ibadah yang berat. Toh kita hanya perlu meluangkan waktu tidak lebih dari 5-10 menit untuk menunaikannya. Gerakannya pun tidak ada yang rumit. Memangnya yoga yang harus melipat-lipat anggota tubuh dalam gerakannya? 😉

Jadi, apa yang memberatkan?

Jawabannya, hati.

Ya.. hati kita yang memberatkannya. Hati yang tertutup oleh godaan duniawi, akan merasakan bahwa shalat itu sesuatu yang berat untuk dilakukan. Kesibukan pekerjaan atau kesempitan waktu seringkali jadi kambinghitamnya.

Dalam al-Quran surat Al-Baqarah ayat 45-46 Allah swt berfirman:

albaqarah ayat 45-46

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنهَّاَ لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الخَاشِعِيْنَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُوْا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya

Hati yang khusyuk, yang memahami hakekat shalat, tidak akan merasakan kalau shalat itu berat. Justru, hati yang khusyuk, akan merindukan saat-saat untuk shalat. Khusyuk adalah keadaan yang mana hati kita sejalan dengan pikiran dan gerakan yang dilakukan. Orang yang khusyuk, sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan, apa maksud dan tujuan dari ibadahnya tersebut. Dan orang yang khusyuk, akan sangat menikmati saat-saat pertemuannya dengan Tuhan-Nya, di dalam shalatnya.

Maka, mengapa harus menjadikan shalat itu sebagai sesuatu yang berat?

Semoga bermanfaat.
Selamat Hari Jum’at.
Semoga berkah selalu.. 🙂

sabar dan syukur

Karena lutut kiriku masih menyisakan nyeri akibat kecelakaan tempo hari, maka dokter menyarankanku untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis bedah orthopedi. Setelah mendapatkan hari yang tepat, akhirnya kemarin akupun meneruskan surat rujukan itu ke RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta.

Pukul 7 pagi aku sudah sampai di rumah sakit yang terletak di kawasan kampus UGM tersebut. Tujuanku datang lebih awal agar bisa cepat mendaftar dan mendapatkan pemeriksaan dengan segera. Sehingga, waktuku tidak banyak terbuang di rumah sakit besar tersebut. Namun, alangkah kagetnya diriku begitu memasuki ruang pendaftaran. Dalam ruangan itu kudapati sudah penuh sesak banyak manusia. Dari obrolan yang sempat terdengar olehku, mereka berdatangan dari berbagai daerah di Jogja dan sekitarnya. Bahkan, sudah ada yang datang sejak pukul 4 subuh tadi. Aih, rajin amat orang-orang itu ya, hehe… 😀Read More »

keterpaksaan berbuah keberkahan

Pernahkan anda dipaksa memilih sesuatu yang tidak anda inginkan? Pernahkan anda tidak bisa memilih apapun, selain menjalankannya dengan penuh keterpaksaan? Jika pernah, apa yang anda lakukan? Jawaban yang jamak mungkin akan kita lontarkan adalah bahwa kita akan berontak lalu keluar dari keterpaksaan itu atau menjalankannya dengan tidak sungguh-sungguh, tanpa rasa nikmat sedikitpun.

Adalah seorang putra Minangkabau asal desa Bayur di pinggir danau Maninjau, Bukittinggi, bernama Alif yang terjebak dalam situasi sulit itu. Ia dipaksa memilih jalur sekolah agama oleh ibunya. Beliau menginginkannya menjadi Buya Hamka, sementara ia sendiri sangat bercita-cita menjadi Habibie. Keterpaksaannya ternyata berbuah keberkahan. Pilihan yang dijalankannya atas dasar bakti kepada Bunda, telah membalikkan pandangannya terhadap pendidikan agama, terutama pesantren. Novel Negeri 5 Menara yang dikarang oleh Ahmad Fuadi yang baru saja kubaca, menunjukkan bahwa tidak selamanya keterpaksaan itu buruk. Sebaliknya, keterpaksaannya itu dapat berubah menjadi sebuah keberkahan luar biasa bila disikapi dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Novel ini bercerita tentang petualangan Alif, 15 tahun, yang harus merantau dengan setengah hati ke Jawa Timur untuk belajar di Pondok Madani. Di Pondok Madani (PM) dia berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Setiap orang datang ke PM dengan perangai, alasan dan mimpi berbeda. Dari setengah hati mulai jatuh hati, Alif menemukan berbagai prinsip hidup yang terang dan sangat kuat. Antara lain adalah: siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses (man jadda wa jada). Di PM juga dia mengecap kemajemukan Indonesia dan keindahan pengetahuan.  Semua ini diajarkan oleh Kiai Rais, Ustad Salman dan guru lain yang ikhlas mengajarkan ilmu dunia dan akhirat.

Di pokok menara masjid PM yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian, sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Kehidupan PM yang disiplin seperti kuil Shaolin membuat mereka harus saling mendukung agar kerasan menyelesaikan 4 tahun sekolah.  Bukannya patah dan mengkerut, tekanan hidup ini malah membuat mereka semakin kuat mental dan tahan banting. Hasilnya adalah kepribadian muda yang tegar, optimistis, percaya diri, dan fasih berbahasa Arab dan Inggris. Tapi di lain pihak, mereka juga tetap sosok yang khawatir dengan masa depan setelah lulus PM. Alif tetap ingin jadi Habibie dan dia tidak tahu bagaimana cara masuk ITB setelah lulus pondok.

Kiai Rais pernah berpetuah: bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Lima belas tahun kemudian, dengan anak kunci ini, 6 sekawan menemukan bahwa nasib secara ajaib mendaratkan mereka di 3 benua yang berbeda. Ini adalah realisasi mimpi-mimpi dan obrolan santai mereka ketika duduk-duduk di kaki menara PM. Baso, Atang, Raja dan Alif terdampar jauh di hiruk-pikuk kemodernan Jepang, Mesir, Inggris, dan Amerika. Sebaliknya Dulmajid dan Said memutuskan pulang kampung ke Madura dan Mojokerto. Menempuh jalan sunyi mengajar mengaji di surau dan madrasah. Tangan Tuhan, melalui mimpi, tekad bulat, kerja keras dan doa menuntun mereka ke “menara” hidup mereka  masing-masing.

Novel ini terinsipirasi dari kisah nyata perjalanan pendidikan penulisnya sendiri selama nyantri di Pondok Modern Gontor. Karena latarbelakang yang sama, maka ketika membaca halaman demi halaman novel ini, seolah aku sedang membaca halaman demi halaman kehidupanku sendiri. Aku benar-benar larut di dalamnya. Bayangan masa lalu kembali menyeruak di otakku. Seakan berada di mesin waktu, aku serasa ditarik kembali ke masa 20-25 tahun yang lalu.

Novel ini sangat layak untuk dibaca. Di samping karena di dalamnya terdapat banyak sekali hikmah, sekaligus juga menunjukkan bagaimana kehidupan damai di sebuah pesantren yang akan menggugurkan pandangan sebagian orang tentang citra negatifnya. Dan satu yang terpenting adalah bahwa untuk meraih mimpi, berliku jalan yang harus ditempuh, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci untuk berhasil meraihnya

Untuk Fuadi, aku ucapkan selamat dan salut atas upayanya ini. Terima kasih atas inspirasinya. Terima kasih telah mengajarkan kepadaku bahwa keterpaksaan itu akan dapat berubah menjadi keberkahan bila kita arif menghadapinya… 😀

Simak juga review lainnya: