Sandboarding di Parangkusumo, Seruuu…

Ketika berkunjung ke Gumuk Pasir medio 2013 yang lalu, kami belum sempat merasakan serunya bermain sandboarding di sana. Meski sebelum berkunjung pernah mendengar soal itu, namun waktu itu kami tidak menemukan spot di mana orang-orang memainkan olahraga tersebut. Maka, dalam kesempatan liburan akhir tahun 2016 yang lalu kami pun bertekad untuk bisa mencoba permainan tersebut. Terlebih, Fatih melihat video kiriman temannya yang tengah bermain di sana, bertambahlah hasrat kami untuk menjajalnya.

Seperti yang kuceritakan pada postingan 2013 yang lalu itu, bahwa Gumuk Pasir tersebut adalah sebuah kawasan berpasir yang terletak antara Pantai Depok dan Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta. Gumuk Pasir merupakan fenomena alam berupa gundukan-gundukan pasir menyerupai bukit akibat dari pergerakan angin. Istilah gumuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti gundukan atau sesuatu yang menyembul dari permukaan yang datar. Selengkapnya, monggo dibaca postingan lamaku itu ya.. 🙂

Karena tujuan kami ke Gumuk Pasir kali adalah untuk bermain, maka bernarsis ria sudah tidak kepikiran. Hehehe… Tapi setidaknya, adalah satu sebagai ucapan selamat datang.. 🙂

sandboarding-02

Begitu sampai di lokasi, kami langsung menuju ke tempat penyewaan papan seluncur yang akan digunakan untuk bermain sandboarding nanti. Harga yang dipatok untuk sewa papan seluncur tersebut adalah Rp. 70.000 dengan penggunaan tanpa batas waktu, alias bermain sepuasnya. Kami menyewa satu saja. Toh nanti bisa digunakan bergantian.

Memasuki kawasan Gumuk Pasir, terlihat di beberapa spot foto yang sudah disediakan agar terlihat lebih artistik. Rupanya hasrat bernarsis dan berswafoto masyarakat yang bergitu besar dipahami dengan baik oleh pengelola termpat tersebut. Spot-spot foto semacam ayunan kayu, gardu pandang, dan karangan bunga besar berbentuk hati pun tersedia. Sejujurnya, aku kurang suka dengan itu, karena mengurangi kenaturalan kawasan tersebut. Tapi, itu semua soal selera, bukan?

Tanpa menunggu lebih lama, kami pun segera mencari lokasi yang pas untuk bermain papan seluncur pasir tersebut. Di sebuah tempat yang berbentuk tebing, terlihat ramai orang berkumpul di sana. Mereka lagi asyik bermain sandboarding rupanya. Ke sanalah  kami menuju. Di sana, beberapa petugas ikut mendampingi. Mereka memberi sedikit arahan untuk bermain, dan membantu mengoleskan pelicin ke papan seluncur tersebut agar dapat meluncur dengan kencang.

sandboarding-01

Bermain sandboarding ini hanya dibutuhkan keseimbangan, keberanian, dan tentunya kegembiraan. Berkali-kali kami mencobanya. Awal-awalnya cukup sulit. Baru memulai sudah jatuh. Coba lagi, jatuh lagi. Hingga akhirnya benar-benar menemukan keseimbangan yang diharapkan. Suwer, bila berhasil meluncur hingga bawah tanpa jatuh, rasanya itu sungguh aduhay… Tapi, kalau pun jatuh di tengah-tengah, tetap asyik kok. Asyik buat tertawa lepas.. 😀

Berkunjung ke Gumuk Pasir harus memperhatikan cuaca. Tidak akan asyik sama sekali bila berkunjung ke sana pas habis hujan. Pasirnya menggumpal dan basah. Dan waktu yang paling baik adalah di sore hari. Tapi kalau mau berkunjung di siang hari juga boleh, asal rela kulitnya terpanggang… 😀

Gembos Membawa Nikmat

“Jika kau temukan kendala, jangan buru-buru merutuki keadaan. Yakinlah, itu cara Tuhan memperlihatkan keindahan dengan cara yang berbeda. Syukuri saja..”

Turun dari Embung Nglanggeran, hari sudah gelap. Beberapa pengunjung masih lagi bertahan di sana. Mereka sekedar duduk-duduk di warung-warung yang berjejeran di jalan turun dari embung. Makanan penyangga perut semacam mi instan ataupun gorengan, terlihat menggoda. Ada sedikit niat untuk mampir sejenak, tapi buru-buru kutepis, karena teringat rencana kami hendak nongkrong di Bukit Bintang menjelang pulang nanti.

Udara cukup dingin ketika kami mulai menelusuri jalan turun. Gerimis yang turun, semakin menambah rasa dingin itu. Jalanan yang kami lalui cukup mulus. Sepertinya pemerintah menaruh perhatian cukup besar terhadap obyek wisata tersebut, sehingga akses jalan dibuat cukup baik dan mulus. Entah karena jalanan yang mulus atau suasana yang gelap, kami sedikit kurang awas.

Tiba-tiba motor yang dikendarai Afif terkena lubang yang membuatnya terhenyak cukup keras. Dan tidak lama setelah itu, ban motornya mengalami kebocoran. Daerah asing dan gelap seperti itu, membuat kami sedikit kebingungan. Tidak tahu di mana ada tukang tambal ban. Maka, kami pun bersama-sama berjalan sambil menuntun sepeda motor.

Di sebuah pertigaan yang sedikit terang, kami bertemu sesosok pemuda tengah duduk santai.

“Mas, tukang tambal ban masih jauh dari sini?”

“Masih, Pak.. Tapi, kalau Bapak mau, saya bisa bantu telponkan, siapa tau dia bersedia datang kemari”

“Wah.. boleh juga tuh. Monggo pakai hape saya saja”

Sejenak kulihat pemuda tersebut terlibat dalam obrolan dengan seseorang di seberang sana melalui perangkat komunikasi yang kuberikan.

“Bisa, Pak. Sebentar lagi orangnya datang kemari. Bapak tunggu saja di sini”

“Dia nambal di sini?”

“Iya, dia bisa nambal di sini. Dia bawa alat-alatnya”

“Alhamdulillah…”, kutarik napas lega, bersyukur bahwa ada bantuan datang di saat kami benar-benar membutuhkannya. Sungguh, sebuah kesyukuran yang tiada tara rasanya.

Sambil menunggu tukang tambal ban datang, kami pun duduk-duduk dekat pemuda tadi.

“Mas ngapain di sini?”

“Saya tukang parkir, Pak”

“Markir apa di tempat sepi seperti ini?”

“Restoran itu, Pak”, jawabnya sambil menunjuk ke seberang jalan.

Akupun mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk. Terlihat sebuah plang restoran yang tidak terlalu mencolok. Lampu yang menerangi plang itu tidak terlalu terang, sehingga bila tidak diperhatikan benar, kita tidak akan tahu kalau itu sebuah restoran.

“Eh, ada restoran tho di sana. Kayaknya boleh juga nih buat nunggu”

“Monggo, Pak. Dilihat dulu”

Akupun segera berjalan ke arah yang ditunjuk. Awalnya terlihat temaram saja gang menuju ke dalam. Tapi, begitu sampai di dalam, terlihat halaman yang cukup luas untuk parkir kendaraan dan sebuah restoran yang tertata apik. Restoran tersebut terletak di bibir tebing, menyajikan pemandangan lepas ke seluruh kota Jogja dari ketinggian. Lampu-lampu yang menerangi rumah-rumah penduduk, terlihat bagaikan bintang bertaburan dari restoran tersebut.

Ahai… sepertinya ini tempat yang tepat buat kami beristirahat, sambil makan dan menikmati suasana indah malam itu. Dan jadilah akhirnya malam itu kami habiskan di restoran tersebut.

embung-09embung-22 embung-20 embung-21

Kalaulah bukan karena ban yang gembos, tentu kami tidak akan mengetahui resto dengan pemandangan indah tersebut, bukan?

Etapi.. begitu sampai di rumah, aku baru sadar. Ternyata aku tidak tahu apa nama restoran tersebut… 😀

Tebing Breksi; Brown Canyon Ala Yogyakarta

Beberapa bulan belakangan, ramai kubaca ulasan mengenai sebuah destinasi wisata baru di Jogja. Namanya Tebing Breksi. Terletak di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Kurang lebih 1 kilometer sebelum Candi Ijo. Merupakan sebuah bukit kapur yang menjadi sumber mata pencaharian warga. Mereka biasa menambang batu sebagai bahan bangunan di sana. Namun, sejak tahun 2015, penambangan dilarang oleh Pemerintah dikarenakan dari hasil penelitian diketahui bahwa batuan kapur breksi di sana ternyata adalah endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Maka, kawasan ini masuk dalam cagar budaya dan harus dilestarikan.

Membaca ini, ingatanku kembali kepada pengalaman beberapa tahun silam ketika ketika berkunjung ke Candi Ijo. Aku sempat melihat di sepanjang jalan menuju ke sana, kesibukan warga dalam mengolah bebatuan alam. Karena hanya melihat sambil lewat, tak begitu kuperhatikan apa yang mereka olah. Pikirku itu hanya semacam kegiatan pengolahan batu biasa saja. Ternyata, itu adalah bebatuan alam yang sekarang sudah dilarang untuk ditambang.

Baca: Melihat Jogja Dari Candi Ijo

Larangan pemerintah tersebut, ternyata tak memutus kreativitas warga. Melihat tebing bekas penambangan, warga sekitar punya ide lain. Ide muncul, tatkala melihat bekas-bekas galian meninggalkan gurat-gurat yang indah. Perpaduan warna putih berkilau semburat kuning dan coklat dalam bidang tebing yang begitu luas, memberikan panoramik yang menarik. Maka, mulai Mei 2015, kawasan tersebut resmi dijadikan sebagai tempat wisata dengan nama Taman Bukit Breksi.

Libur Lebaran yang lalu, aku pun mengajak keluarga untuk berkunjung ke sana. Untuk menuju Tebing Breksi, tidaklah terlalu sulit. Dari Candi Prambanan, kami bergerak ke arah Piyungan atau Wonosari. Sekitar 3 km dari sana, kami menemukan papan petunjuk arah menuju Candi Ijo di kiri jalan. Kami pun berbelok mengarahkan kendaraan di situ.

Jalanannya ternyata sudah sangat bagus. Beda dengan ketika kami ke Candi Ijo dulu itu. Jalanan yang menanjak terus itu dulu masih aspal yang berlobang di sana sini. Sekarang, sudah dicor beton yang cukup tebal. Dengan demikian, perjalanan pun menjadi lancar dan nyaman.

Lebih kurang 1 km sebelum Candi Ijo, petunjuk menuju Tebing Breksi terlihat jelas di kiri jalan. Beberapa petugas yang kuyakin merupakan warga sekitar, menunjukkan kami jalan menuju kawasan wisata nan eksotis tersebut. Tidak ada biaya masuk yang perlu kami keluarkan. Petugas hanya meminta sumbangan seikhlasnya untuk biaya pengelolaan dan membayar jasa penitipan motor sebesar Rp 2.000,-/ motor dan Rp 5.000,- untuk mobil.

Memasuki kawasan tersebut, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menarik. Terpampang di hadapan kami sebuah bukit bukit kecil setinggi kurang lebih 20 m. Bekas tambang warga dulu itu, menyisakan guratan-guratan indah di sisi tebing. Dan untuk melengkapinya, tangga menuju puncak tebing pun dibuat dengan memahat salah satu sisi dinding tebing. Terlihat sangat indah dan alami. Kabarnya, tebing ini mirip dengan brown canyon yang ada di Semarang. Entahlah, aku belum pernah ke sana soalnya. 🙂

tebing breksi-01tebing breksi-10 tebing breksi-11 tebing breksi-02 tebing breksi-03 tebing breksi-04tebing breksi-09

Begitu sampai di puncak tebing, terlihat pemandangan lanskap yang luar biasa. Dari sini, kami melihat Candi Prambanan, dan Candi Barong yang dilatari oleh gagahnya Merapi. Tak hanya itu, di sisi lain terlihat alur sungai yang menembus bukit serta perkampungan warga dan hijaunya alam yang masih lestari.

Baca juga: Blusukan Ke Candi Barong

Karena kami datangnya pada siang hari, maka udara terasa cukup panas. Oleh karenanya, kami tidak ingin berlama-lama mengeksplorasi puncak bukit tersebut. Perlu berhati-hati bagi yang membawa anak kecil ke puncak bukit itu. Karena, ketika kami berkunjung ke sana, pagar pembatas di bibir bukit belum dibuat. Hanya baru dibatasi dengan tali. Sepertinya akan dibangun pagar permanen nantinya. Lobang-lobang untuk menanam tiang pagar sudah tersedia kulihat.

tebing breksi-07

Turun dari puncak bukit, kami segera menuju mushalla yang terlihat apik di salah satu sudut kawasan tersebut untuk melaksanakan shalat Ashar. Mushalla-nya cukup bersih dan tertata rapi. Kami pun dapat menunaikan ibadah shalat dengan nyaman di sana.

tebing breksi-08

Selepas menunaikan shalat, sayup-sayup kudengar suara musik dan lagu yang sangat khas. Rupanya itu berasal dari sebuah panggung terbuka yang terletak di kaki bukit. Setelah membeli beberapa botol minuman air mineral, kami segera melangkahkan kaki menuju ke sana. Area yang dinamakan Tlatar Seneng tersebut tengah menyuguhkan pertunjukan seni Jathilan alias kuda kepang. Sambil beristirahat dan menikmati senja yang mulai turun, kami pun ikut larut bersama penonton lainnya, menyaksikan petunjukan kesenian tersebut.

tebing breksi-13tebing breksi-12 tebing breksi-15

Sambil menonton, kuedarkan pandangan ke seluruh kawasan tersebut. Dalam hati aku mengagumi karya cipta alami ini. Alam semesta ini memang diperuntukkan bagi kita umat manusia. Namun, kita tidak boleh serakah. Ketika sudah terasa cukup, hentikanlah. Ada cara lain untuk bisa mengeksplorasinya dan menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Menjadikannya obyek wisata seperti yang dilakukan warga sekitar Tebing Breksi ini adalah salah satu contohnya. Semoga tetap lestari. 🙂

tebing breksi-14

Sribu Batu Songgo Langit; Destinasi Wisata Baru Yogyakarta

#WisataMurahDiJogja 02

Keluar dari kawasan Puncak Becici kami bermaksud langsung pulang ke Kweni. Namun, tak lama berselang setelah melewati Hutan Pinus Mangunan, beberapa pria paruh baya berteriak-teriak, “mari, mari mampir…!”.

Sekonyong kulirik ke arah para pria tersebut, dan mataku tertumpu pada spanduk yang terpasang di antara pohon dekat mereka berdiri, bertuliskan, “Selamat Datang di Wisata Alam Sribu Batu Songgo Langit, Sukarame, Mangunan, Dlingo, Bantul”. Spontan kuhentikan kendaraan di depan mereka.

sribu  batu songgo langit-09

“Baru ya Pak?”

“Iya, baru tiga bulan. Monggo mampir, Pak”

Tanpa berpikir dua kali, segera saja kuarahkan kendaraan menuju lokasi yang ditunjuk oleh bapak-bapak tadi.

Kawasan itu ternyata memang benar-benar baru dibuka untuk umum. Jalanan menuju ke lokasi masih berupa tanah. Di kiri-kanan jalan, terlihat bekas pohon-pohon yang baru ditebang dan ilalang yang baru dipotong. Hanya sekitar 100 meter dari jalan utama tadi, kawasan wisata baru tersebut berada.

Seperti halnya Hutan Pinus Mangunan dan Puncak Becici, di sini pun tidak dipungut biaya masuk. Pengunjung hanya dkenakan biaya parkir sepeda motor sebesar Rp. 3.000 dan mobil sebesar Rp. 10.000.

Sebagaimana namanya, maka yang terlihat di sana adalah gugusan batu-batu besar di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Pengelola tempat tersebut sudah menatanya dengan baik. Mereka sangat paham dengan trend wisata masa kini. Spot-spot cantik untuk berfoto, mereka siapkan dengan sangat baik.

sribu  batu songgo langit-08 sribu  batu songgo langit-02sribu  batu songgo langit-07 sribu  batu songgo langit-06

Kami tidak terlalu lama di situ. Di samping hari sudah mulai sore, juga karena tempat tersebut belum sepenuhnya selesai digarap, sehingga tidak banyak yang bisa kami eksplor.

Di jalan keluar, aku bertemu dengan salah seorang pengelola tempat tersebut. Rasa ingintahuku minta dipenuhi hajatnya.

“Sebenarnya ini tempat apa, Pak?”

“Ini adalah hutan pinus yang sama dengan Mangunan ataupun Becici. Hanya, di sini terdapat batu-batu dalam ukuran besar seperti yang Bapak lihat tadi”.

“Cuma batu yang itu saja?”

“Tidak.. Ada puluhan batu besar lagi yang seperti itu. Perlahan-lahan akan kami buka akses jalan ke batu-batu tersebut semuanya nanti. Ini masih dalam tahap pengerjaan”.

“Kenapa baru sekarang dibukanya, Pak?”

“Soalnya, pihak RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan sudah tidak memperbolehkan lagi penduduk menyadap karet dari pohon-pohon pinus. Dan sebagai gantinya, kami diperbolehkan mengelola hutan ini untuk wisata”.

“Berarti, pengelolanya warga desa Sukarame ini?”

“Iya, betul sekali”

“Semoga tempat ini bisa sesukses Hutan Pinus Mangunan dan Puncak Becici ya Pak”

“Amiiin…”

Kujabat erat tangan Bapak tersebut sambil memohon diri untuk kembali pulang.

“Oya Pak, satu lagi. Kenapa dinamakan Songgo Langit?”

“Kan batu-batunya besar, seolah-olah menyangga langit, hehe..”

“Ooo… kirain ada unsur-unsur mistisnya juga”

sribu  batu songgo langit-03

Pernyataanku yang terakhir hanya dijawab oleh si bapak dengan tawa kecil dan senyum di kulum. Aku tak hendak menebak-nebak makna tawa dan senyumnya itu. Yang jelas, tempat ini kuyakin suatu saat nanti tak kalah eksotisnya dengan pendahulunya di sekitar Mangunan tersebut.

Puncak Becici: Nikmati Yogyakarta dari Ketinggian

#WisataMurahDiJogja 01

Sebelumnya, aku haturkan “Selamat Idul Fitri 1437 H, mohon maaf lahir dan batin”. Bagaimana libur lebarannya? Tentu menyenangkan bukan? Apapun bentuk lebaran yang kita lewati kemarin, yang terpenting adalah dapat menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta.

Kali ini, aku akan bercerita tentang perjalanan liburan lebaran kami kemarin. Dan tema yang kuangkat kali ini adalah #WisataMurahDiJogja . Murah dalam artian yang sesungguhnya, yakni sedikitnya biaya yang kita keluarkan untuk bisa berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Tapi jangan salah. Murah di sini bukan berarti murahan ya. Justru, tempat-tempat tersebut memberikan kesan dan makna yang tak ternilai harganya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Puncak Becici yang terletak di Dusun Gunung Cilik, Desa Gunung Mutuk, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Hutan Pinus Mangunan seperti yang pernah kuceritakan beberapa waktu lalu.

Baca: Piknik-Gratis Romantis ala AADC2 di Hutan Pinus Mangunan

Dari Hutan Pinus Mangunan, butuh waktu lebih kurang 20 menit untuk sampai di kawasan Puncak Becici. Karena tempatnya ada di ketinggian, maka perlu diperhatikan kelaikan kendaraan yang kita bawa. Jalannya yang naik-turun, membutuhkan kendaraan dengan kondisi prima. Jangan sampai seperti beberapa pengunjung yang terpaksa berhenti di tengah jalan karena kendaraannya yang tidak kuat untuk meneruskan perjalanan.

Sampai di kawasan Becici, kami disambut dengan hamparan hutan pinus yang tak kalah indahnya dengan yang di Mangunan. Kuhirup nafas dalam-dalam. Terasa sangat menyegarkan. Aroma pinus pun menambah kenikmatan bernafas di area tersebut. Tidak ada biaya masuk ke kawasan tersebut. Kita hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp. 3.000 untuk sepeda motor dan Rp. 10.000 untuk mobil. Sangat murah bukan?

Kesejukan hutan membuat kami ingin bersantai untuk menikmatinya. Kusewa 3 buah hammock (ayunan) dan tikar seharga masing-masing Rp. 10.000. Petugas dengan sigap memasangkan hammock yang kami sewa tersebut di antara pohon-pohon pinus yang rindang itu. Sejurus kemudian, kami sudah duduk-duduk santai berkeliling sambil menikmati bekal yang kami bawa dari rumah.

vizon-puncak becici vizon-puncak becici vizon-puncak becici

Gerimis yang datang tiba-tiba memaksa kami untuk membubarkan diri sejenak. Kebetulan waktu shalat Zuhur pun sudah masuk. Sangat tepat jika kami segera beringsut dari tempat bersantai tersebut. Petugas penyewaan hammock mengatakan bahwa nanti kalau kami mau pakai lagi, boleh diambil, tanpa musti menyewa kembali. Aih… baik bener… 🙂

Selepas shalat zuhur dan makan mie instan di salah satu warung yang terdapat di kawasan tersebut, kami pun kembali bergerak masuk ke hutan, menuju puncak yang menjadi spot andalan kawasan tersebut. Namun sayang, sebelum sampai di di puncak, angin bertiup cukup kencang, dan hujan pun mulai turun. Beruntung, ada saung-saung kecil yang tersedia di sana, sehingga kami bisa berteduh.

Alhamdulillah, hujan turun tidak terlalu deras dan hanya sebentar. Dengan begitu, kami pun bisa segera melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sampai di puncak, meski masih agak gelap, namun pemandangan yang disuguhkan tetap menarik dan eksotis. Tentu saja hal tersebut tidak boleh dilewatkan untuk diabadikan dalam lensa kamera.. 🙂

vizon-puncak becicivizon-puncak becici vizon-puncak becici

Puas menikmati suasana di puncak, kami pun segera beranjak turun untuk keluar dari kawasan tersebut. Ada satu destinasi lagi yang tak kalah menariknya yang ingin kami tuju. Ikuti ceritanya pada postingan selanjutnya ya..

Oya, sebelum mengakhiri tulisan ini, aku ingin memberi sedikit peringatan. Mohon untuk tidak meniru adegan dalam foto di bawah ini. Hanya boleh dilakukan dengan pasangan halal saja ya. Bila melanggar, hati-hati bakal ada setan yang datang mengganggu.. #eaa 😉

vizon-puncak becici

Meeting Point

masjid ambarrukmo plasa

Aku sering menjadikan masjid sebagai titik kumpul (meeting point). Sebab, sangat mudah dikenali dan ditemui. Dengan menunggu di masjid, ada keuntungan lebih. Yakni, bisa beribadah sambil menunggu kawan-kawan berkumpul semuanya. Pada tau kan, apa yang terjadi kalau kita janji ketemuan dengan banyak orang di suatu tempat? Adaaaa saja yang datang terlambat. Dengan berkumpul di masjid, orang-orang yang sudah datang duluan, bisa menunggu sambil menunaikan shalat wajib maupun sunnah.

Begitu juga yang kami lakukan tempo hari waktu akan nonton bareng film Surga Menanti di Plaza Ambarukmo Yogyakarta. Ketika ditanya tempat kumpul oleh teman-temannya, aku pun langsung menyebutkan, Masjid Rooftop Amplaz! 🙂

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog theordinarytrainer.com”

LombaFotoTheordinarytrainer-300x144

 

p.s. postingan lain yang kuikutkan dalam lomba ini: Remaja Kece di Masjid

Piknik Gratis-Romantis ala AADC2 di Hutan Pinus Mangunan

Udah pada nonton AADC2 kan? Belum..? Hmm… kayaknya perlu disegerakan deh. Mumpung euphorianya masih terasa sekali saat ini. Kurang seru kalau nonton sebuah film di saat orang sudah tidak lagi memperbincangkannya. Kurang jhoss kata Pakde Cholik, hehe.. 😀 Etapi, kalau belum sempat juga, tidak jadi soal. Sahabat bisa baca dulu ulasan Om Nh. Silahkan klik [di sini].

Salah satu daya tarik film AADC2 adalah lokasinya, Yogyakarta. Tempat-tempat yang dipilih adalah lokasi yang anti biasa. Anda tidak akan menemukan Malioboro, Stasiun Tugu ataupun Candi Prambanan dalam film tersebut. Yang ada adalah kawasan-kawasan romantik-eksotik seperti Prawirotaman, Punthuk Setumbu, Sate Klathak dll. Rata-rata, tempat tersebut mudah dijangkau, gratis namun romantis.

Nah.. hari minggu, 8 Meri 2016 kemarin, setelah suntuk di rumah selama 3 hari karena libur akhir pekan yang cukup panjang, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan sejenak keluar rumah. Agak bingung menentukan, kemana kami akan menuju. Di samping cuaca yang agak panas, juga karena Yogya dipenuhi para wisatawan yang memanfaatkan liburan mereka.

Setelah mencari-cari informasi di internet, maka kami pun putuskan untuk piknik ke Hutan Pinus di Mangunan-Imogiri-Bantul-Yogyakarta. Meski tempat ini tidak ada dalam film AADC2, tapi membaca informasinya, aku yakin tempat ini tak kalah romantisnya dibanding dengan yang ada di film tersebut.

Dari informasi yang kubaca melalui YogYes, aku dapatkan informasi bahwa Hutan Pinus Mangunan, adalah bagian dari hutan di kawasan RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan yang ditumbuhi tanaman Pinus Merkusii. Sebelum menjadi salah satu destinasi wisata, hutan di kawasan Mangunan adalah sebuah tanah tandus yang kemudian direboisasi. Tak hanya pinus, jenis pohon lain seperti mahoni, akasia, kemiri dan kayu putih juga ditanam di lahan yang luasnya kurang lebih 500 Ha ini. Kini kawasan Mangunan, terutama bagian yang ditanami pohon pinus tak hanya berfungsi sebagai hutan lindung namun juga dikelola sebagai salah satu tujuan wisata. Tak hanya suasana hutan nan asri yang menarik perhatian banyak wisatawan, keberadaan sumber mata air Bengkung yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai lokasi pertapaan Sultan Agung Hanyakrakusuma pun menarik para peziarah untuk datang berkunjung. Untuk menemukan situs mata air yang kemudian dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1925 hingga 1930 ini ada beberapa jalan yang bisa ditempuh, bisa dengan trekking dari tempat parkir menembus hutan yang rapat mengikuti jalur outbond Watu Abang atau jalan melingkar yang lebih jauh namun bisa ditempuh dengan sepeda atau sepeda motor.

Membaca informasi ini, aku pun semakin bersemangat untuk segera berkunjung ke sana. Jaraknya dari Kweni tidaklah terlalu jauh. Untuk menuju ke sana sangat mudah. Kalau dari Kota Jogja – Jl. Imogiri Timur – Imogiri – pertigaan Imogiri belok kiri ke arah Makam Raja-raja Imogiri – pertigaan belok kanan ke arah Mangunan – pertigaan Mangunan belok kiri ke arah hutan pinus – Hutan Pinus Mangunan. Ada banyak petunjuk arah menuju ke sana.

Tidak sampai 30 menit, kami sudah sampai di lokasi. Kesegaran udara sudah terasa sejak kami memasuki kawasan Mangunan. Jalan yang berliku juga menjadi penambah keasyikan perjalanan. Meski terlihat pengunjung agak ramai, namun tidaklah membuat kawasan itu menjadi sumpek dan sesak. Masih terasa keheningan dan tercium aroma khas pinus-nya.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun bergegas menuju hutan dan menikmati suasana yang ada serta tentunya tak lupa mengabadikannya dalam foto. Di gerbang masuk, kuraih kamera dan ingin mengambil gambar di spot tersebut. Ketika sudah siap akan memotret, aku heran, kok kamera tidak bisa berfungsi? Kuperhatikan dengan seksama kamera tersebut, dan oalaaaaah… ternyata memory card-nya ketinggalan. Alamaak… pupus sudah harapan untuk bernarsis-ria di hutan nan eksotis tersebut.

Akhirnya, harapan tinggal pada komputer tablet yang kubawa. Kulirik batrainya. Tinggal 50%. Ah, semoga saja cukup. Untuk berhemat batrai, maka kuatur tablet tersebut dalam posisi “airplane mode”. Lumayanlah bisa bertahan cukup lama.

hutan pinus mangunan

Kami pun segera memasuki kawasan hutan. Sebuah konter penyewaan hammock (ayunan) terlihat di pintu masuk. Dengan membayar Rp. 10.000, kita sudah bisa mendapatkan satu hammock dan bisa menggelantung manja di antara pohon-pohon pinus yang tinggi semampai itu. Tapi kami tidak ingin buru-buru bersantai-santai. Kami lebih memilih berkeliling dulu, menikmati suasana yang ada.

hutan pinus mangunan

Berjalan-jalan di sepanjang hutan pinus tersebut, aku kok jadi terbayang tengah berada di hutan tempatnya Harry Potter ya? Tidak salah bila ada yang mengatakan bahwa Hutan Pinus tersebut disebut-sebut seperti hutan di Forks atau kota-kota kecil lain di Evergreen State dalam film Hollywood. Indah dan menawan sekali. Sehingga, hutan itu pun menjadi sasaran empuk bagi foto-foto pre-wedding ataupun bagi para pecinta selfie. Spot-spot yang tersedia, sungguh eksotis dan tentunya romantis.

hutan pinus mangunan

Berapa biaya masuk ke situ? Tidak ada, alias gratisss… 😀

Yang cukup membuatku senang adalah kebersihan yang sangat terjaga. Pengunjung cukup arif untuk tidak membuang sampah sembarangan ataupun merusak pohon-pohon yang ada. Semoga hal itu dapat terus terjaga selamanya.

hutan pinus mangunan

Tertarik untuk ke situ? Monggo disempatkan kalau berkunjung ke Yogya ya. Yakin deh, nggak bakal kalah dengan tempat-tempat yang disuguhkan di film AADC2 itu.

Ah.. Yogya memang istimewa.. 🙂

Pantai Glagah; Antara Tenangnya Laguna dan Derasnya Ombak

CeritaLebaran #5

Awalnya, aku agak kurang bersemangat mengajak keluarga jalan-jalan ke Pantai Glagah yang terletak di desa Glagah, Kec. Temon, kab. Kulon Progo dan berjarak sekitar 41 km dari arah barat Kota Yogyakarta tersebut. Pasalnya, dalam pikiranku, berwisata ke pantai, ya begitu-begitu saja; melihat air laut, kejar-kejaran dengan ombak dan basah-basahan. Tapi, karena sudah sepakat dengan keluarga untuk mengeksplorasi wisata Kulon Proga dalam libur lebaran kali ini, maka mau tidak mau Pantai Glagah harus masuk dalam list.

Perjalanan dari Kweni menuju pantai tersebut lebih kurang 1 jam dengan sepeda motor. Tidak sulit menemukan pantai ini. Sebab, begitu memasuki kota Wates, petunjuk arah terlihat dengan jelas di beberapa tempat. Apalagi ini adalah pantai yang cukup terkenal, sehingga tidak pantai glagah-01sulit untuk mendapatkan informasi jalan kepada penduduk setempat.

Memasuki area pantai tersebut, kami “disambut” oleh jajaran pedagang di kiri-kanan jalan. Yang menarik adalah adanya pedagang buah sayuran di sana. Agaknya ini yang membedakan Glagah dengan pantai-pantai yang lain. Rupanya, aneka sayuran dan buahan yang dijual di sana berasal dari kebun penduduk setempat. Di dekat pantai tersebut, terdapat juga area agrowisata yang bisa kita kunjungi. Terdapat aneka tanaman buah di sana, terutama buah naga dan rosella.

Melewati beberapa kios pedagang, mataku tertumbuk pada jajaran kapal yang bersandar di bibir pantai serta beberapa orang yang tengah asyik berenang. Dan yang tak kalah menariknya adalah, air yang mengalir dengan sangat tenangnya. Sebelum kepenasaranku terjawab, sebuah papan besar terpampang di depanku dengan tulisan, “Wisata Laguna Glagah”. Oh, ternyata ini adalah laguna.

Yak.. salah satu yang menjadi ciri khas Pantai Glagah adalah keberadaan laguna, yakni sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya. Karena adanya penghalang tersebut, air di situ relatif lebih tenang, karena tidak begitu terpengaruh oleh deburan ombak.

Sejenak, kami pun menikmati ketenangan laguna tersebut dengan menaiki perahu wisata. Biayanya tidak terlalu mahal. Cukup dengan membayar Rp. 5.000 perorang, kami sudah bisa berkeliling selama lebih kurang 30 menit. Ada juga keinginan untuk menaiki kano atau berenag, tapi kupikir, nanti sajalah. Lebih baik nikmati saja keseluruhan pantai terlebih dahulu.

pantai glagah - lagunaLaguna yang tenang dan menenangkan

Puas berkeliling dengan perahu, kami pun segera menuju area utama di pantai tersebut, yakni dermaga wisata. Dermaga yang cukup kokoh tersebut, juga ditopang oleh ratusan tetrapod yang berjajar di sepanjang sisinya. Di sinilah pemandangan yang sangat kontras terlihat. Jika di laguna tadi suasanya tenang, kalau di si dermaga ini, hantaman ombak datang silih berganti dengan dahsyatnya. Pecahan ombak yang menghantam tetrapod memberikan pemandangan yang mengasyikkan. Percikan air raksasa tersebut, mampu membasahi pengunjung yang berada di sekitar situ. Gelak tawa pun pecah seketika.

pantai glagah-05

pantai glagah

Pecahan ombah yang dahsyat di Pantai Glagah

Tapi, jangan harap pecahan ombak raksasa itu hadir setiap saat. Sesekali saja munculnya. Dan oleh karenanya, butuh kesabaran menunggu kehadirannya. Bila kamera pas standbye langsung bisa menangkap momen tersebut. Yang bikin geregetan adalah ketika sudah menunggu cukup lama dengan posisi kamera siap jepret, sang ombak tak kunjung hadir, tapi begitu berpaling sedikit, tiba-tiba cipratan raksasa itu mengguyur dengan semena-mena. Huh… sakitnya itu terasa banget di ujung telunjuk… 😀

vizon's family at pantai glagahNarsis yang menjadi menu wajib.. 😀

Setelah melihat dan merasakan asyiknya berwisata di pantai Glagah, akhirnya aku pun bisa mengatakan bahwa berwisata ke sini, tidak “begitu-begitu saja”. Ada keasyikan tersendiri ternyata di sana. Keraguanku di awal sebelum berangkat, tereliminasi dengan sendirinya.

Yuk ah.. kita lanjut eksplorasi lagi pantai-pantai yang ada di Kulon Progo. Kita coba temukan lagi keasyikannya masing-masing..

sebelumnya:

referensi:

Mampir Sejenak di Candi Sambisari

CeritaLebaran #2

Di hari pertama Idul Fitri 1436 H, tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah seorang sahabat di daerah Tirtomartani, Sleman. Sahabat tersebut baru pindah ke Jogja. Sejak kepindahannya ke rumah tersebut, kami belum sempat berkunjung. Maka, tentu tepat bila silaturrahim pertama yang kami lakukan adalah ke tempatnya.

Sebagai sesama perantau, berkumpul seperti ini ternyata lumayan membuat kami senang. Setidaknya kami bisa merasakan nuansa kumpul keluarga sebagaimana yang seharusnya kami lakukan bersama keluarga besar di kampung. Kesenangan itu semakin lengkap dengan suasana kampung tempat sahabatku tersebut tinggal. Hamparan sawah terlihat sangat luas di dekat rumahnya. Kuhirup dalam-dalam kesejukan itu hingga ke relung hati sambil berdoa semoga tahun depan benar-benar bisa lebaran di kampung.. 🙂

“Sudah ke Candi Sambisari, Da?”, sahabatku itu membuyarkan lamunanku.

“Belum.. Tapi aku pernah baca tulisan soal itu di blognya Wijna“.

“Tidak pengen ke sana, Da?”

“Pengen lah.. Nanti dicari waktu yang tepat”

“Kenapa harus nanti-nanti, Da? Sekarang aja kenapa?”

“Kok sekarang?”

“Lha, jaraknya cuma selemparan sandal kok dari sini”

“Oya?”

“Kami sering jalan-jalan ke sana kalau sore. Tempatnya asyik”

“Wah, kalau begitu, selepas Jumatan nanti, sambil pulang, kita mampir ke sana. Kamu bisa nganterin kan?”

“Dengan senang hati…”

Begitulah, selepas Jumatan, kami pun segera bergerak menuju candi yang dimaksud sahabatku tersebut. Ternyata tempatnya memang dekat sekali dari rumahnya. Tidak sampai 10 menit, kami pun sampai. Candi tersebut berada di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, bersebelahan desa dengan kediaman sahabatku itu.

Dari kejauhan, hanya pucuk candi itu saja yang terlihat. Namun, setelah memasuki area candi dengan membayar Rp. 2.000 per orang, barulah keseluruhan candi terlihat. Ternyata, candi tersebut berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya, sehingga kita musti menuruni beberapa anak tangga untuk bisa memasukinya.

sambisari areaArea Candi Sambisari

Dari informasi yang kuperoleh, candi ini ditemukan oleh warga dusun Sambisari bernama Karyowinangun pada tahun 1966. Ketika itu, beliau tengah mencangkul tanah untuk menggarap sawahnya. Tanpa sengaja, cangkulnya membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Temuan Karyowinangun itu pun diceritakan kepada penduduk desa hingga akhirnya diketahui oleh Dinas Kepurbakalaan.

Dinas kepurbakalaan pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen sebuah candi.

Butuh waktu hampir 21 tahun untuk menyusun bebatuan tersebut hingga bisa menjadi sebuah candi yang indah seperti sekarang ini. Aku tidak bisa membayangkan, betapa sabar dan telitinya para ahli purbakala itu melakukan tugas mereka. Menyusun mainan puzzle saja rasanya sudah cape dan bisa membuat bosan. Namun, bebatuan yang bagaikan puzzle raksana tersebut, dapat disusun dengan baik sebagai warisan budaya bagi bangsa tercinta ini. Sunggu usaha yang patut disaluti dan diapresiasi dengan setinggi-tingginya.

sambisari arcaPuzzle-puzzle raksasa yang masih belum tersusun

Sebenarnya kami datang di waktu yang kurang tepat. Siang hari itu matahari bersinar sangat terik, sehingga cuaca terasa sangat panas. Apalagi saat ini musim kemarau berada pada puncaknya. Wajar saja bila rerumutan yang ada di sekeliling candi terlihat sangat kering. Kata sahabatku itu, bila tidak sedang musim kemarau, rumput di sana sangat segar dan membuat sejuk suasana.

Tanpa perlu berlama-lama merasakan terik matahari, kami pun segera turun ke area candi.

Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 – 838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin.

Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.

Karena panas yang begitu terik, kami pun tidak sanggup untuk mengeksplorasi candi itu lebih jauh. Kami hanya duduk-duduk di salah satu sudut candi induk yang agak terlindung. Dan di situlah akhirnya kami menyalurkan bakat narsistik kami sekeluarga, hehehe.. 😀

sambisari narsisWalaupun panas terik, tetap kudu narsis.. 😀

Meski hanya sekedar mampir sejenak, namun kami tetap bisa menikmati keindahan karya cipta nenek moyang kita tersebut. Keindahan Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati itu, merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama 21 tahun. Candi yang semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa silam. Tugas kitalah untuk menjaga dan memanfaatkannya demi kebesaran bangsa tercinta ini.

sebelumnya:

selanjutnya:

referensi:

Shalat Idul Fitri 1436 H di Altar

CeritaLebaran #1

Sejak tinggal di Kweni, belum sekalipun kami melaksanakan shalat Idul Fitri di tempat lain. Rasanya, ingin juga sesekali merasakan shalat di luar Kweni. Setidaknya, bisa merasakan nuansa yang berbeda. Maka, setelah kami diskusikan beberapa hari jelang Idul Fitri tiba, akhirnya kami sepakat untuk menunaikan shalat ‘Id kali ini di Altar, alias Alun-alun Utara Yogyakarta.

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat dari rumah. Sebab, berdasarkan pengumuman dari panitia, jamaah sudah diminta untuk bersiap pada pukul 06.30. Di samping itu, aku sudah dapat membayangkan betapa ramai dan macetnya lalu lintas ke sana nanti. Maka, berangkat lebih pagi tentu lebih baik.

Tidak sampai 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di lokasi. Terlihat jamaah sudah mulai memadati alun-alun kebanggaan warga Yogyakarta tersebut. Dengan sedikit bergegas, akhirnya kami pun bisa mendapatkan shaf di barisan-barisan depan. Selang beberapa menit saja setelah itu, jamaah benar –benar sudah memadati lapangan yang sangat luas tersebut.

jamaah shalat id di altar

Aku tidak mengenali tokoh-tokoh penting siapa saja yang hadir di situ. Yang kutahu hanya Sri Sultan dan Pak Din Syamsuddin yang kebetulan menjadi khatib pada hari itu. Pak Din inilah yang menjadi salah satu motivasi kami untuk bershalat ‘Id di sana.

Isi khutbah Pak Din menurutku cukup menarik. Ada banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

din syamsuddin khutbah di altar

Beberapa hal yang dapat kucatat antara lain:

  1. Idul Fitri merupakan momentum yang tepat untuk kembali kepada kesucian dan kekuatan. Kembali kepada kesucian artinya adalah kembali kepada kemurnian diri, tanpa dosa, tanpa tendensi apapun dalam hidup, hanya berharap kepada keridhaan Allah semata. Dan kekuatan maknanya adalah mengembalikan segala upaya kepada Sang Maha Kuasa dan tunduk pada aturanNya. Jika dua hal ini disatukan, maka kemenangan yang hakiki akan kita raih.

  2. Ibadah puasa sesungguhnya adalah ajang untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri itu tergambar dalam perilaku kita yang disebut dengan akhlak. Ada pepatah yang mengatakan:

اِنَّمَا الاُمَمُ الاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

 “Dengan akhlaq, suatu bangsa akan teguh. Bila akhlaqnya rusak, mereka pun rapuh

Saat ini, nilai-nilai moral bangsa Indonesia sudah banyak yang tergerus. Yang dulunya ramah, kini menjadi gampang marah. Kita sangat gampang tersulut emosi. Hanya dengan sedikit isu, kita pun saling beradu. Semangat kegotongroyongan yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini, sekarang tak lagi dapat dibanggakan. Kepentingan individual terasa begitu kentalnya. Sehingga, alih-alih membela kepentingan bangsa, justru kita terjebak dalam fanatisme buta.

  1. Kebanggaan kita, terutama generasi muda pada bangsa ini sudah memudar. Kita justru bangga dan mengagungkan bangsa lain. Banyak yang merasa malu dengan identitasnya sendiri. Ini tentu tidaklah baik. Untuk maju, suatu bangsa harus bangga dengan identitasnya. Dengan kebanggaan tersebut, kita akan mampu berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa lain.

Tiga hal dari banyak poin yang disampaikan dalam khutbah Pak Din tersebut di atas, menurutku patut untuk direnungkan sebagai bahan muhasabah bagi kehidupan kita kedepannya. Semoga saja setelah nilai-nilai puasa yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin dapat terus terimplementasi dalam keseharian kita. Amiin…

Setelah selesai semua prosesi ibadah shalat Idul Fitri tersebut, kami pun bubar dan kembali ke rumah. Namun, ada pemandangan kurang sedap terlihat pasca shalat tersebut. Koran-koran bekas yang tadinya digunakan sebagai alas sajadah, berserakan di mana-mana. Padahal, panitia sudah menyediakan tempat khusus untuk membuangnya, bahkan dengan menempelkan tulisan besar-besar di situ.

koran kebas di altar tempat pembuangan koran bekas di altar

Ah… ternyata, kebersihan masih belum menjadi bagian dari keimanan kita.. Sayang sekali.. 😦

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

 

selanjutnya: